
Beberapa menit kemudian, Mila sadarkan diri, Ia menoleh ke arah Gondo," ayah, kok aku ada di sini?" Mila celingukan ke sana kemari.
Melihat Mila sudah sadarkan diri, Gondo segera memencet tombol yang ada di dinding tepat berada di atas Mila berbaring. Hingga tak lama kemudian datanglah seorang dokter dan seorang perawat untuk memeriksa kondisi Mila lebih intensif lagi.
"Bagaimana kondisi anak saya, dok?" tanya Gondo penasaran dan ia khawatir terjadi luka yang serius dengan Mila.
"Kondisi anak bapak, Alhamdulillah setelah kami memeriksanya tidak ada luka yang serius. Hanya saja kami minta maaf karena tidak bisa menyelamatkan janin yang berada di dalam kandungan pasien. Karena pada saat kecelakaan terjadi benturan yang sangat keras mengenai perut pasien, hingga mengakibatkan pasien mengalami keguguran dan terpaksa kami melakukan kiret terhadap pasien. Mohon yang sabar ya mbak, ikhlaskan saja. Janin yang sudah berujud seorang bayi laki-laki, sebaiknya nanti di makamkan secara layak. Janin sudah kami letakkan dalam sebuah tempat, nanti bapak bisa ambil dengan bantuan salah satu perawat kami."
Setelah dokter mengatakan banyak hal kepada Mila dan Gondo, dokter berpamitan meninggalkan ruang rawat tersebut untuk menangani pasien yang lain.
"Ayah, anakku meninggal dunia. Bagaimana ini ayah?" Mila menitikkan air matanya.
"Dasar bodoh, untuk apa kamu menangis? justru ini kabar yang baik, cepat hapus air matamu!" perintah Gondo kesal.
Sontak saja Mila heran," ayah ini bagaimana sih? aku ini kehilangan calon anakku loh, masa iya ayah tidak merasa sedih kehilangan calon cucu ayah?" protes Mila sangat kesal dengan sikap Gondo.
"Ayah sama sekali tidak merasa sedih, karena justru ini jalan yang terbaik supaya kita lebih mudah menjalankan rencana kita. Apa kamu tidak ingat rencana awal dirimu menikah dengan Nelson hanya untuk menguras habis semua hartanya setelah itu kita pergi. Kalau kamu masih hamil, pasti waktu kita lebih lama karena menunggu kamu sampai melahirkan di usia sembilan bulan," bisik Gondo.
Mila pun tersenyum, seraya menghapus airmatanya," yang ayah katakan benar, maafkan aku ya ayah."
"Hem, ya sudah nggak apa-apa. Nanti jika kamu sudah agak baikan. Kita jenguk Nelson di ruangannya," ucap Gondo.
Sementara saat ini Bu Eka dan Dina berada di ruangan Nelson. Mereka merasa iba melihat kondisi Nelson yang kedua kakinya di balut dengan perban. Sementara mereka hanya mengalami luka ringan dikepala mereka. Hingga hanya kepala mereka yang dibalut oleh kain perban.
__ADS_1
"Mah, kita alami kecelakaan kok Mas Sony dan Jeselin nggak kemari ya?" ucap Dina celingukan kesana kemari.
"Kamu lupa ya, jika Sony itu sudah tidak akur dengan Nelson? semua gara-gara Sasa, sudah selingkuh dengan Nelson eh dia minggat begitu saja!" ucap Bu Eka lirih.
Selagi mereka asyik bercengkerama, Nelson pun sadarkan diri.
"Aahhhh kepalaku sakit sekali, dan kenapa wajahku di balut kain perban seperti ini, mah?" tanya Nelson lirih.
Melihat Nelson sudah sadarkan diri, Dina langsung memencet tombol yang ada di atas kepala, tepatnya di dinding di dekat brankar dimana saat ini Nelson berbaring tak berdaya.
Kini Nelson yang sedang di periksa secara intensif oleh dokter.
"Dok, kenapa dengan wajah saya dan kaki saya?" tanya Nelson lirih.
Nelson begitu shock mendengarnya," apa dok, amputasi?"
"Iya mas, kami harus segera melakukan tindakan cepat demi menolong nyawa mas," ucap sang dokter sembari sibuk memeriksa Nelson.
"Seharusnya dokter minta persetujuan terlebih dahulu pada saya, bukan langsung melakukan tindakan amputasi seperti ini! kembalikan kaki saya dok!" Nelson bagai orang kesetanan tanpa sadar membentak dokter.
"Saya minta maaf, karena menurut prosedur kedokteran. Jika kondisi pasien parah dan itu sangat berakibat fatal dengan keselamatan. Kami melakukan tindakan darurat karena demi keselamatan nyawa anda."
"Alasan kami melakukan amputasi adalah karena kaki anda cidera parah yang mengakibatkan luka. Sementara kami menemukan di dalam diri anda terdapat riwayat penyakit gula basah."
__ADS_1
"Dimana jika anda alami suatu luka, tidak akan bisa sembuh dengan sendirinya. Luka anda tidak akan bisa kering. Justru karena riwayat diabetes tersebut, luka anda bisa semakin parah dan bisa menjalar kebagian tubuh yang lain."
"Karena seringkali anggota tubuh tersebut tidak memiliki cukup aliran darah. Hingga kami memutuskan mengamputasi kedua kaki anda."
"Tidak bisa terbayangkan jika kaki anda yang terluka tidak di amputasi, penyakit bisa menjalar ke bagian tubuh yang lain. Dan ini justru berbahaya, anda bahkan bisa tidak bisa beraktifitas sama sekali dengan kondisi seluruh tubuh memiliki luka yang luka tersebut tidak bisa mengering karena riwayat diabetes anda."
Setelah mendengar penjelasan dari dokter, Nelson tidak bisa membantah lagi. Dia hanya diam saja, tiba-tiba datang Sony pada saat dokter selesai memeriksa Nelson.
Dokter pergi meninggalkan ruang rawat Nelson. Dan kini Sony menghampiri Nelson, ia tersenyum sinis," rasakan karma dari perbuatanmu! sekarang kamu lumpuh total tidak bisa berjalan karena dua kakimu sudah hilang. Itu suatu azab karena kamu telah selingkuh dengan Sasa," bisik Sony di telinga Nelson, karena ia tidak ingin Jeselin mendengar apa yang ia katakan.
"Mas, kenapa kamu jahat padaku? apa kamu sudah lupa jika aku yang selalu mencukupi kebutuhanmu dan Jeselin pada saat aku masih beristrikan Zie?" ucap Nelson sangat terpukul dengan ejekan Sony.
Sony sama sekali tidak merespon kata-kata Nelson, ia menuntun Jeselin dan mengajaknya pergi dari ruang rawat Nelson.
"Sony, kamu mau kemana?" tegur Bu Eka mengejar langkah kaki anak sulungnya.
Sejenak Sony menghentikan langkahnya," aku mau ngojek mah, nyari duit. Aku sudah turuti kemauan mamah untuk menjenguk Nelson. Sekarang apa lagi sih?" ucap Sony kesal.
"Kalau kamu pulang, siapa yang menjaga Nelson? mamah dan Dina juga butuh istirahat," protes Bu Eka.
"Minta saja ayah mertua Nelson dan istrinya kan bisa, kenapa harus aku sih mah? jika aku yang menjaganya, lantas siapa yang kerja dan kita mau makan apa? sudah tahu sekarang Nelson pelit tidak pernah memberi kita jatah bukan? apa lagi mamah juga tahu, aku sudah putus persaudaraan dengannya!" ucap Sony kesal.
Dan ia pun segera pergi dari rumah sakit tersebut dengan menuntun Jeselin tanpa menghiraukan Bu Eka.
__ADS_1
Dengan langkah gontai, Bu Eka kembali ke ruang rawat Nelson. Ia pun pasang wajah murung," ini semua gara-gara Mila! jika tidak, mamah tidak repot seperti ini! kedepannya mamah nggak mau tahu ya Nelson, yang mengurus kamu Mila saja loh!"