
"Sempurna!" cetus Hani pada pulasan pamungkas yang ia sapukan di bibir Ilana.
"Gue jamin, bidadari bakalan insecure kalo liat kecantikan lo, " decak Hani mengagumi keelokan paras perempuan dengan riasan paripurna di depannya.
Hani meletakkan kedua tangannya di pundak Ilana. Lengkungan bulan sabit terbentuk di wajah mereka.
"Makasih ya Han, lo emang my honey," perempuan yang terpana menatap pantulan dirinya di kaca itu bersuara.
"Anytime babe," jawab Hani dengan senyum berbinar dan kilatan bahagia di matanya tampak jelas.
"Gue gak akan sampe kesini tanpa support lo Han," perempuan bernama lengkap Ilana Aretta Jensen itu berbalik kemudian memeluk sahabatnya erat. Titikan lembut menetes dari ujung matanya.
"Sama-sama Na,"
Dua sahabat itu pun berpelukan haru.
"Jangan nangis Na, ntar riasan lo rusak" Hani cekatan mengambil beberapa lembar tisu dan buru-buru mengelap tetesan yang mengalir pelan.
Hani membantunya mengenakan kebaya yang telah ia desain khusus untuk sahabatnya itu.
Kebaya klasik berbahan beludru dengan ukiran benang emas menghiasi sepanjang sisinya. Ilana tampak menawan dalam balutan pakaian adat berwarna maroon itu. Hani tersenyum puas melihat Ilana tampil maksimal di hari paling bersejarah dalam perjalanan hidupnya.
"Han mama kemana sih? dari tadi gak keliatan?" tanya Ilana mengernyitkan dahi.
"Tante lagi sibuk, tadi abis gue rias tante langsung ke bawah nemuin temen-temen sok-sial-litanya" cengir Hani yang seketika membuat Ilana terbahak.
"Maksud lo, ibu-ibu arisan Rete?"
Hani mengangguk cepat,
"Eh Na, gue kebawah dulu ya, ada sesuatu yang hampir kelupaan gue siapin, " kata Hani sembari melangkah menuju pintu kamar.
"Yah Han, jangan tinggalin gue sendiri donk,"
rengek Ilana.
"Gue tau lo nervous, tapi ada yang harus gue siapin. ntar gue bilangin tante deh biar kesini nemenin lo,"
Ilana melenguh kesal mengingat mamanya lebih memilih menemui teman-teman arisan sosialita, daripada menemani anaknya yang akan mengikrarkan janji pernikahan di depan penghulu.
__ADS_1
"Na, daripada lo bosen di kamar sendirian jalan-jalan sono gih, emangnya lo gak pengen ngintip Saddam di ruang rias?" usul Hani jahil mengangkat sebelah alisnya.
"Ih, apaan sih lo Han, mama gue bilang pamali, kita kan lagi dipingit, " sungut Ilana.
"Yang pamali tuh, calon mempelai cemberut gini!" balas Hani mencubit dagu Ilana gemas.
tok tok tok
"Han, cepetan turun!" teriak Ditto sambil terus mengetuk-ngetuk pintu kamar keras.
"Iya, iya bentar!"
"Tuh Na, Ditto udah ngasih kode tuh, gue kebawah dulu yaa, jangan kuatir ntar gue bilangin tante buat kesini nemenin lo,"
Mendengar racauan Hani, ia hanya dapat mengangguk-angguk.
Lima belas menit menunggu, namun nihil,tak seorangpun datang ke kamarnya.
Seperti dugaannya, sang mama terlalu sibuk menemui para tamu undangan terhormatnya. Hingga lupakan anak gadisnya yang butuh genggaman tangan.
Ilana hanya dapat mendengus kesal, mamanya tak pernah berubah bahkan setelah kepergian sang papa, dari dulu ia selalu lebih sibuk mengurus perkumpulan sosialitanya daripada mengurusi keluarga.
****
Perempuan berperangai tomboi itu tak bisa duduk diam, ia terus saja berjalan mondar mandir meski balutan kebaya dan bawahan batik membelit langkah kakinya.
Degup jantungnya melaju cepat, telapak tangannya basah. Matanya berkali-kali melirik jam yang tergantung di dinding.
"Lima puluh menit," gumam Ilana mulai menghitung mundur jam menuju akad nikah.
Rasa excited, nervous, menguasai tubuhnya. Seakan kupu-kupu sedang berterbangan memenuhi rongga perutnya. Melesak penuhi dadanya dengan kebahagiaan yang tak dapat dijabarkan dengan kata-kata.
Tiba-tiba ia merasa kamar besarnya tak memberinya cukup oksigen untuk bernafas, ini selalu terjadi, Ilana mengalami semacam hyperventilating jika berada dalam keadaan terlalu bergairah seperti sekarang ini.
Mungkin aku harus keluar sebentar mencari udara segar.
Ikuti kata hati, Ilana pun langkahkan kaki keluar kamar. Suasana luar ternyata sudah sangat ramai. Dari lantai atas ia bisa melihat para undangan hadir memenuhi halaman belakang rumah besarnya. Dari kejauhan ia bisa melihat betapa sibuknya Hani mempersiapkan pernikahannya bertema taman impiannya.
Bunga-bunga segar memenuhi taman belakang tempat dilaksanakannya akad, sesuai permintaan Ilana. Menara yang terbuat dari ratusan gelas champagne impian Saddam pun tertata apik disana. Segalanya terasa sempurna!
__ADS_1
Saddam El barak, lelaki keturunan timur tengah itu mempunyai mata indah dan tajam, ditambah lagi bulu mata lentik dan alis tebal bertaut, hidung mancung beserta lesung pipi yang mencuat ketika ia tersenyum, membuat ketampanannya berada di level maksimal.
Wanita manapun pasti bangga jika bisa bersanding dengan Saddam. Karir yang dimilikinya pun cemerlang, di usia muda ia telah berhasil membawahi salah satu perusahaan internasional di bidang farmasi.
Menuju pernikahan ia dan Saddam 'dipingit', tak bisa saling bertemu selama seminggu. Ilana tentu sangat merindukan laki-laki yang akan segera jadi suaminya itu.
Ngintip dikit boleh kali ya?
Ilana teringat ide usil Hani, cengiran jahil terulas di bibir yang berpulas warna merah itu. Ragu-ragu ia mulai mendekat ke ruangan kamar yang dipakai Saddam untuk mempersiapkan diri.
Suara ketukan dari hak tinggi yang dipakainya seakan mengganggu misi 'pengintipan' yang sedang ia jalani, tak ingin ketahuan stalking calon mempelai pria, ia lepaskan hak tinggi yang dipakainya, lalu menentengnya.
Ruangan rias untuk mempelai laki-laki berada di lantai dua, namun letaknya terpisah dari kamar-kamar lainnya.
Entah mengapa, langkah kaki telanjangnya malah terhenti di depan kamar kosong milik Ghibran, kakak laki-laki Ilana yang tak pernah pulang lagi setelah pertengkaran besar dengan kedua orang tuanya enam tahun lalu.
Kabar terakhir yang ia dapat, Ghibran sekarang tinggal di Singapura.
Mengingat peristiwa itu wajah bahagia Ilana berubah muram.
Untuk beberapa saat ia berdiri diam. Kedua matanya menatap hampa pada kamar dengan pintu yang selalu tertutup itu.
Hingga sadari ada yang aneh dengan kamar yang tak pernah dimasuki siapapun kecuali dia dan mbok Sayem pembantu mereka, itupun untuk sekedar bersih-bersih.
Pintu kamar yang tak tertutup rapat tersebut, membuat suara samar seorang lelaki yang berasal dari dalam kamar Ghibran terdengar sayup-sayup ditelinga Ilana. Ia pun memelankan langkah dan menempelkan telinga ke pintu.
"Gue gak pernah ngeluarin di dalem, sebulan lalu saat kita terakhir ML-pun gue pake pengaman Janice!"
"Tapi gue sekarang hamil Saddam, dan gue yakin ini anak lo! Karena gue gak pernah ngelakuin itu selain sama lo!" timpal sang perempuan dengan suara parau.
Saddam! Apakah ini mimpi?
Kaki Ilana bergetar, darah berdesir cepat memenuhi kepalanya yang seakan mau meledak. Dadanya bergemuruh dan sesak. Nafas Ilana tersengal menahan beban yang dihantam tepat ke ulu hatinya.
Perlahan ia dorong pintu kamar tersebut dengan tenaga yang masih tersisa. Dua sejoli yang sedang beradu mulut itu pun seketika membisu.
Sepatu hak tinggi yang berada di genggaman tangan Ilana melayang tepat mengenai wajah pucat Saddam.
"Dasar br*ngs*k lo Dam!" hardik Ilana seraya mendorong tubuh Saddam kuat hingga tersungkur.
__ADS_1
"Mbak! ambil aja kalo mau, gue gak sudi nikah sama bajingan kayak dia," berang Ilana kemudian membuang cincin berlian pemberian Saddam ke lantai.