Bang Ojek I Love You

Bang Ojek I Love You
Penyesalan


__ADS_3

"Kalau hujannya kayak gini terus, terpaksa Zal gue gak bisa benerin mobilnya sekarang. Kalau gitu mau gak mau kite harus pinjem mobil dereknya Samsul," celetuk Kang Iman tiba-tiba sambil menyesap kopi hitam yang disuguhkan Royana untuk keduanya.


"Waduh, bisa berabe nih." Rizal menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba saja terasa gatal.


Ia kemudian berdiri, "biar saya bilangin yang punya mobil dulu deh kalau gitu, Kang. Masa dia mau nginep sama mobilnya sekalian, kan gak lucu."


Rizal masuk ke dalam rumah Kang Iman dan langsung berjalan ke ruang TV, tempat dimana Ilana sedang tergeletak lemas. Enyak terlihat sedang memijit leher Ilana.


"Waduh, enak banget Mbak. Dapat pijitan gratis dari Enyak saya." Mulut pedas Rizal mulai bekerja. Ilana menoleh ke arah asal suara, dilihatnya pemuda dengan kaus putih itu berdiri di samping kursi tempatnya merebahkan diri.


"Hussh ... kagak boleh gitu, Jal. Kasihan, si eneng lagi sakit," timpal Enyak.


"Yeee ... Enyak, Rizal sakit aja gak pernah dipijitin. Boro-boro dipijitin, yang ada malah ditabuhin ma pantat panci," protes Rizal yang kemudian dibalas Enyak dengan lemparan botol plastik minyak kayu putih tepat mengenai dahinya. "Waduh!"


"Zal, gimana mobil saya?" Ilana membuka pembicaraan.


"Oh iya, Mbak. Saya juga baru mau ngomongin itu, jadi gini ... kalau ujannya gak mau berhenti juga. Terpaksa baru besok tuh bannya bisa dibenerin. Nah sekarang tinggal gimana Mbak Ilana maunya?"


"Ya saya ngikut aja sih, Zal. Hmmm ... boleh pinjem hape kamu gak?"


"Ngikut gimana?!" Rizal kesal dengan jawaban Ilana yang sebenarnya lempeng saja tanpa ada maksud apa-apa.


"Jal, kagak boleh gitu ahh, ngomong sama wanita itu harus lembut." Enyak menengahi.


"Lha emang, Mbaknya wanita? Tuh Enyak lihat, daster putih, rambut panjang awut-awutan udah mirip kayak kuntilanak," sungut Rizal yang langsung disambut jeweran kuping oleh Enyak.


"Aduh ... duh ... Nyak, sakit ... lepasin ... " Melihat pemandangan itu bukannya marah Ilana justru senang. Ilana menutupi mulut dengan tangan, menahan tawa. Enyak pun pamit buat ke teras. Bergabung dengan Kang Iman dan istrinya.


"Saya mau pinjem hape kamu, buat telepon temen saya Zal." Rizal kemudian memberikan ponselnya, " jangan lama-lama, pulsanya mahal."

__ADS_1


"Iya, iya, bentar aja kok." Ilana kemudian mencoba menghubungi nomor telepon rumah Tesa. Namun nihil tak ada yang menjawab. Dia kemudian mengembalikan ponsel Rizal.


"Kok manyun mbak? Kenapa?"


"Gak ada yang jawab telepon saya,"


"Mbak ini udah mau jam sebelas malam, orang-orang udah pada tidur kali. Kalau gitu mau gak saya pesenin Yocar aja?" Rizal mencoba membantu.


"Gak mau, saya takut kalau harus naik Yocar sendirian. Ogah ah ... "


"Terus gimana? Ini udah malem Mbak? Bukan Mbak aja yang capek saya juga capek, apalagi Enyak saya tuh ... tuh yang dari tadi ngerawat Mbak." Seperti biasa Rizal kembali nyolot. Seketika Ilana sadar kalau ia sudah terlalu banyak merepotkan Rizal.


"Kalau gitu, biarin saya tidur di mobil aja. Maaf udah ngerepotin," Ilana seketika berdiri dan meninggalkan Rizal. Dia menemui Kang Iman yang sedang ngobrol dengan Enyak di depan. Rizal terperangah dengan tanggapan Ilana yang diluar perkiraan, dia tak menyangka perempuan itu akan senekat itu. Dia segera mengejar Ilana.


"Jangan Neng, sebaiknya Eneng tidur aja dirumah Enyak. Entar biar Rijal tidur sama Randy, terus Eneng tidur di kamarnya Rijal." Pemandangan yang Rizal lihat sungguh tidak mengenakkan. Enyak sedang membelai Ilana dengan sayang. Sang Enyak malah menawari perempuan itu untuk menginap dirumahnya. Mengorbankan Rizal yang harus menahan segala ketidak-nyamanan saat tidur dengan Randy yang terkenal suka ngorok, ngiler, dan tukang ngigau. Sempurna!


****


Ilana mengangguk sambil membalas senyum ramah wanita berusia lima puluh tahunan itu. Enyak kemudian meninggalkan Ilana di ruang tamu, menyusul Rizal yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam.


Ilana menjatuhkan tubuh ke atas kursi ruang tamu berbahan kayu berpelitur coklat. Matanya menyapu ruangan yang didominasi warna biru. Tabrakan warna antara perabotan, cat tembok, sampai kusyen terjadi di ruangan berukuran sempit itu. Ilana memperhatikan satu per satu perabotan yang diatur rapi di atas lemari kayu tua, ada beberapa piala terpajang disana. Dia berdiri, langkahnya tertuju pada sebuah foto keluarga, ada Rizal, Enyak, seorang anak laki-laki, dan tentu saja pria berbaju koko putih dan kopyah hitam, Babe.


Ilana tersentak saat menyadari kalau Rizal sudah memperhatikannya dari tadi.


"Itu almarhum Babe saya, Mbak."


Ilana menoleh, "sorry," hanya kata itu yang mampu ia ucapkan. Pikirannya seketika kembali pada momen dimana ia kehilangan Papanya. Seandainya malam itu ia tak meminta Papanya untuk membelikannya benda itu. Mungkin saat ini Papanya masih bersamanya.


"Hey, Mbak! Malah ngelamun, dipanggil Enyak tuh." Rizal menepuk bahu Ilana.

__ADS_1


"Semua udah takdir, Mbak. Babe saya udah selesaiin tugasnya di dunia, makanya dipanggil sama Allah. Lahir, mati, jodoh, itu udah ditentukan dari kita orok Mbak."


"Kamu bener, Zal. Saya aja yang sampe sekarang masih belum bisa menerima kepergian Papa. Saya juga gak menyangka kalau ternyata harus kehilangan dua orang pria yang sangat saya sayangi dalam satu waktu yang berdekatan," urai Ilana dengan senyum kecut. Ia kemudian pamit untuk masuk ke dalam, dimana Enyak sudah menunggunya.


"Selamat tidur ya, Zal. Makasih buat pertolongannya."


****


Pagi-pagi sekali sudah terdengar suara obrolan beberapa orang. Ilana segera melompat keluar kamar, meskipun belum sepenuhnya sadar.


"Mbak gak ke kantor?" Rizal sudah berpakaian rapi dengan segelas teh hangat di tangan.


"Jam berapa sekarang?!" Ilana mendengus kesal.


"Jam enam,"  jawab Rizal dengan santai sambil menikmati menu sarapannya.


"Eh, Eneng sudah bangun. Neng tadi pagi-pagi banget Kang Iman nitipin kunci mobil ke Enyak. Semuanya udah beres, Neng."


"Makasih banget, Buk." Ilana menerima kunci itu.


"Kalau gitu saya harus pergi sekarang, Buk. Saya harus kerja soalnya, ini Buk ada sedikit uang jajan buat Randy. Titip ya, Buk."


Rizal melirik ke tempat dimana Enyak dan Ilana sedang bercakap-cakap. Melihat Ilana sedang memberikan sesuatu pada Enyaknya, Rizal segera bertindak.


"Nggak Mbak, ma-ka-sih! Alhamdulillah meskipun miskin kami baik-baik saja, dan masih menolong siapapun dengan ikhlas tanpa mengharapkan imbalan." Rizal mengambil kembali segenggam uang berwarna merah dari tangan Enyak, dan mengembalikan kepada Ilana.


 


Ilana tampak tak senang dengan perlakuan Rizal padanya, namun demi menjaga perasaan Enyak ia memilih diam. Ilana kemudian menyalami wanita berdaster batik itu dan berpamitan untuk pulang.

__ADS_1


Sambil sesekali menyeka air mata Ilana memacu mobilnya menuju kosnya. Ia merasa sangat sakit hati dengan cara Rizal, tapi ia tak dapat menyalahkan Rizal sepenuhnya.


Semua berawal dari kesalahannya. Tindakan yang ia lakukan ternyata berdampak besar untuk seseorang. Seandainya Rizal tak segera mendapatkan pekerjaaan lain, mungkin rasa bersalah Ilana akan lebih besar lagi. Karena yang Ilana dengar dari Enyak, sejak meninggalnya sang suami, Rizal sebagai anak sulung harus jadi tulang punggung ekonomi keluarga.


__ADS_2