Bang Ojek I Love You

Bang Ojek I Love You
Mabuk


__ADS_3

"Wah, beruntung banget sih lo Zal. Ajakin gue donk, kalau gaji segitu gue mah juga mau ... " ujar Bambang sembari menyeruput kopi hitam di hadapannya.


"Yah ... gue juga gak nyangka, Beng. Tapi gue heran kenapa gue yang kepilih? Apa mungkin Abang ipar si kacung ya yang bantuin gue?"


"Maksud lo Bang Handoko?" balik Bambang.


"Iya,"


"Lha kenapa lo gak tanya langsung sama orangnya?"


"Ya tadi gue cepet-cepet balik kantor lagi lah. Kerjaan masih banyak, Beng. Padahal gue mau tanya sama si kacung, eh dianya malah gak bisa dateng. Oh ya Beng, gue mau balik dulu ya? Ada urusan nih penting banget," pamit Rizal sembari beranjak dari kursinya.


"Lo mau kemana?"


"Ada urusan nih, penting ... "


"Waduh gaya banget lo, Zal!" Bambang tertawa-tawa.


"Ya udah deh, sono pergi ... pergi ... pergi ... ehh lo udah bayarin belom nih kopi ama nasgornye?" teriak Bambang sebelum Rizal keburu pergi.


"Udah!" jawab Rizal sambil mengacungkan jempolnya, "gue duluan ya?!" pamitnya lagi sebelum memutar gas motor untuk menuju sebuah tempat yang dari tadi menyita pikirannya.


Ilana ... entah kenapa pikirannya terus terpatri kepada perempuan itu. Beberapa kali bertemu dan bahkan pergi bersama, tapi kenapa tak sekalipun Rizal mencoba bertanya tentang nomor ponsel perempuan cantik itu.


Masih dalam perjalanan ponselnya berbunyi-bunyi. Rizal segera meminggirkan motornya.


AURA


Sebuah panggilan masuk dari nomor yang selama beberapa hari ini ia abaikan. Terpaksa, kali ini ia mengangkat panggilan itu. Perlahan rasa marah juga telah hilang dari hatinya. Meskipun rasa kecewa tak semudah itu sirna.


"Halo, Ra ... "


"Zal ... "


"Iya, Ra. Ada apa?"


"Zal ... " suara Aura serak, sepertinya ia habis menangis.

__ADS_1


"Ra ... Ra ... kamu gak apa-apa, kan?" suara Rizal berubah khawatir.


"Tolongin gue, Zal." Aura menahan tangis.


"A—ada apa? Lo dimana?"


"G—gue di hotel Feromone, please Zal ... dateng, t—tolongin gue ... "


"Gue takut banget,"


"Hotel?!" Rizal bertanya-tanya tentang apa yang Aura lakukan disana.


"Cepetan, Zal ... "


"G—gue telponin polisi ya, Ra?"


"Jangan, Zal ... "


Klek ... Tut ... Tut ... Tut ... Sambungan telepon terputus. Tak ada sahutan lagi. Gamang dan bingung, Rizal tak tahu harus bagaimana. Ia tahu betul tempat yang bernama Hotel Feromon, beberapa hari lalu kasusnya ramai jadi pemberitaan di media. Karena menjadi tempat para pelaku prostitusi online menjalani bisnisnya. Hotel bintang lima itu bukan tempat yang murah, tentu saja menjadi sorotan karena kalangan ataslah yang jadi pelanggan tetap bisnis itu. Mengerikan.


Rizal tak tahu harus bagaimana, ia masih duduk diatas jok motor dengan mesin yang masih menyala.  Sepuluh menit kemudian, ia mendapatkan telepon lagi, dari nomor tak dikenal.


"Ya, Pak?"


"Saya dari kepolisian ingin mengabarkan kalau, Nona Aura tertangkap dan sekarang sedang dibawa ke kantor polisi."


"Hah?! Ditangkap?"


"Nona Aura menyetir dalam keadaan mabuk, mobilnya menabrak taman pembatas jalan. Dia meminta kami untuk memberitahukan hal ini kepada anda. Oleh karena itu kami mohon anda datang ke kantor secepatnya. Terima kasih."


"B—baik, Pak."


Tangan Rizal bergetar, apalagi ini.


'Aura mabuk?' Sejak kapan ia menjadi pemabuk, kenapa ia melakukan hal ini. Rizal cepat-cepat memutar gasnya menuju kantor polisi. Rencananya gagal total, padahal sebelumnya ia berencana untuk datang ke kos Ilana. Untuk sekedar menanyakan keadaannya.


****

__ADS_1


Rizal memarkir motornya di depan Polsek, lengang. Hanya tampak beberapa mobil patroli dan Bapak-bapak berseragam yang berjaga Langkahnya cepat menuju loket informasi, setelah memastikan kalau Aura ada disana. Ia diarahkan oleh seorang Polisi wanita untuk menuju ruang pemeriksaan.


Baru beberapa langkah masuk, Aura langsung menghambur kepadamu. Memeluk Rizal erat, aroma minuman keras tercium dari tubuh Aura.


"Ra, apa yang terjadi?"


"Aku stress, Zal. Kamu ninggalin aku ... " erangnya.


"Astaghfirullah ... Ra!" Rizal melepaskan pelukan Aura dengan paksa.


"Kamu duduk dulu, biar saya bicara sama Bapak petugas." Rizal meminta Aura duduk di kursi panjang.


Rizal geleng-geleng melihat tingkah Aura, ia tidak seperti Aura yang Rizal kenal. Pakaiannya, make up tebal yang menempel di wajahnya. Apalagi setelah polisi menjabarkan kejadian yang menimpa Aura. Mabuk sambil berkendara, untung saja tidak ada korban jiwa.


Terpaksa, Rizal mengurusi masalah Aura. Tak ada keluarga dekat Aura di kota ini. Ia pula yang harus menandatangi surat wajib lapor Aura. Mobilnya disita pihak kepolisian. Untuk sementara Aura masih diperbolehkan pulang. Epiknya lagi, Rizal tak pernah tahu tempat tinggal gadis itu.


Aura masih sempoyongan, Rizal memapahnya keluar dari kantor Polisi.


"Sekarang saya harus bawa kamu pulang, tapi masalahnya saya gak tahu tempat tinggal kamu," jelas Rizal sambil mendudukkan Aura di jok motor.


"Zal ... gue gak mau pulang! Bawa gue pulang ke rumah elo!" logat lidah terbelit karena berada di bawah pengaruh minuman keras.


"Kamu jangan ngaco, Ra!"


"Gue gak ngaco, gue serius ... Zal. Gue mau banget lo bawa gue pulang ke rumah elo, terus besoknya lo bawa gue ke penghulu. Terus ... kita nikah!" cerocos Aura yang tentu saja membuat Rizal geleng-geleng kepala.


"Ra, kamu harus pulang. Besok saya harus kerja Ra. Oh ya Ra, kenapa kamu mabuk kayak gini?"


"Gue kagak mabuk, Zal! Gue cuma minum dikit ... dikit ... banget!" Aura menjelaskan dengan menyatukan telunjuk dan jempolnya.


"Mana ponsel kamu? Biar saya telepon orang tua kamu?"


"Nggak! Jangan telepon mereka, gue udah gak komunikasi lagi sama mereka. Lagian Mama gue udah meninggal, lalu Papa gue malah nikah lagi sama wanita lain yang kejam kayak iblis!"


"Sekarang yang gue punya itu cuma lo, Zal. Cuma elo!! Gue bisa mati Zal kalau lo ninggalin gue."


Tak mau menjadi pusat perhatian karena tingkah mabuk Aura dan omongannya yang ngelantur tak tentu arah, Rizal memutuskan segera membawa Aura pergi dari parkiran depan Polsek.

__ADS_1


Bingung, dan tak tahu kemana. Sementara ia akan membawa Aura dengan mengajaknya berkeliling hingga pengaruh minuman itu sedikit menghilang. Ia berhenti sejenak untuk membeli air kelapa muda kemasan, yang katanya bisa menetralisir racun aka alkohol dalam darah. Meski pada mulanya Aura menolak, karena bujukan Rizal ia akhirnya mau meminum. Walaupun akhirnya sebagian ia muntahkan. 


Sudah hampir satu setengah jam Rizal berputar-putar tak tentu arah, akhirnya Aura yang mulai sadar berkata, "apartemen Bougenville Rayya, nomor 2114, blok 7. Itu tempat gue tinggal, anterin gue pulang Zal." Kemudian mengeratkan kedua tangannya di pinggang Rizal. Aura tersenyum simpul, rencananya kali ini untuk membuat Rizal mau dengannya lagi. Berhasil.


__ADS_2