
"Kowe tak sayang-sayang, ning nyatane kowe ilang ... " dendang Randy meski dengan suara serak khas kaleng diseret nan memekak gendang telinga ia begitu percaya diri bernyanyi. Gagang sapunya pun berubah fungsi jadi gitar dadakan. Tubuhnya pun meliuk-liuk bak penari ular.
"Kunyuk ... berisik banget sih lo!" teriak Rizal yang baru keluar dari kamar mandi menghampiri Randy hanya untuk menoyor kepalanya.
"Apaan sih abang!" Randy merajuk hendak membalas toyoran Rizal namun urung ketika menangkap gelagat tak beres dari abangnya.
"Napa lo bang? kusut amat mukanye," tanya Randy, lalu dengan santai duduk disamping Rizal tanpa meneruskan ritual nyapunya. Dengan seksama ia mengamati pemuda yang empat setengah tahun dua bulan enam jam lebih tua darinya itu.
"Bukannya elo harusnya kerja yak?" Randy menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Gue gak bisa kerja, Nyuk!" seru Rizal sambil mengembus nafas berat.
"Loh emangnya kenapa Bang?"
"Akun Yo-jek gue diblokir, kayaknya kali ini gue bakal diputus jadi mitra, Nyuk," keluh Rizal dengan pandangan menerawang membayangkan kemungkinan buruk yang sepertinya akan jadi kenyataan.
"Kan yang waktu itu abang gak salah, abang kan cuma nolongin orang kejambret aja sampe nelantarin pelanggan. Lagian kan cuma sepuluh menit,"
"Kali ini kasusnye beda, Nyuk. Gue kemaren marahin customer gue, Nyuk!" jelasnya Rizal.
"Maksudnya?" si loading lambat alias Randy tetap tak bisa paham dengan situasi berat yang harus dihadapi abangnya. Jika memang benar ia akan diputus kontrak, itu berarti dia harus siap- siap mencari pekerjaan lain.
Rizal melirik Randy dengan tatapan kesal, tanpa menjelaskan apapun ia kemudian beranjak dari duduknya dan masuk ke kamar. Sesaat kemudian Rizal keluar lagi, kali ini ia menggunakan celana jeans biru panjang dengan atasan kemeja biru yang dulu sering ia pakai pas masih kuliah.
"Nyuk, kalo Enyak balik bilangin ye, abang keluar dulu. Trus ntar malam kagak usah nungguin abang buat makan, lo ama Enyak makan duluan aje ye? " teriak Rizal dari luar rumah sambil memanasi motor matiknya.
"Lo mau kemana Bang?"
"Gue mau cari angin dulu, Nyuk. Sumpek gue dirumah," jawab Rizal yang kemudian langsung menuntun motornya keluar dari gang rumahnya.
****
__ADS_1
Rizal menuju rumah kacung alias Andri. Mereka memang sahabat dekat semenjak sama-sama jadi penarik ojek online. Andri sering kali membantu kesulitan Rizal.
"Eh, Mas Rizal. Mau nyariin Mas Andri ya?" sambut Miranti, istri Andri.
"Eh iya mbak, "
"Masuk gih, Mas Andri lagi mandi. " Miranti langsung mempersilakan Rizal masuk. Kemudian menyuguhkan secangkir kopi hitam dan pisang goreng yang masih mengepulkan asap juga.
"Zal, sori gue kagak bisa balas Wa lo. Bini gue pagi-pagi minta diobras ... " bisik Andri lirih. Pria itu baru saja keluar dari kamar mandi, bertelanjang dada dengan rambut yang masih basah.
Mendengar penuturan Andri, sontak Rizal pun tergelak. Buru-buru Andri langsung menangkupkan tangannya ke mulut Rizal.
"Ssssh ... jangan keras-keras!" Andri berbisik sembari mengawasi keadaan sekitar takut kalau Miranti menguping percakapan mereka.
"Sori ... sori ... gue kagak tahan kalau lo pake istilah ngobras." lirih Rizal menahan tawa.
"Gini Zal, tadi gue udah ngomong sama Miranti soal masalah elo. Terus terang kalo minjemin duit, gue gak bisa. Tapi tadi Miranti cerita kalo di kantornya Mas Handoko, abangnya Miranti. Lagi buka lowongan buat office boy. Lo kan punya ijazah SMA tuh, jadi lo buat surat lamarannya dulu aja. Ntar gue anterin lo ke kontrakannya Mas Handoko. Biar disampein tuh surat lo ke bos dia." tawar Andri dengan nada serius.
"Lo tahu sendiri gue harus idupin Enyak sama Randy kalo gue nganggur bisa berabe. Alhamdulillah emang kalo udah rejeki kagak bakal kemana." imbuh Rizal lagi. Kemudian dengan lahap memakan tiga buah pisang goreng yang tadi dihidangkan Miranti.
"Buset, kapan lo terakhir makan? sisain satu buat gue napa? " protes Andri yang diacuhkan Rizal. Bahkan sekarang ia sudah memegang pisang ke empat tanpa rasa berdosa sedikitpun.
****
Ilana tak hiraukan pandangan mata sinis beberapa rekan kerjanya. Ia terus berjalan menuju kubikelnya. Ia bekerja seperti biasa, bersikap seperti biasa. Seakan tidak terjadi
apa-apa sebelumnya.
"Hah ... itu kan si Ilana sang perawan abadi ... yang udah dua kali gagal kewong cyinn ... " Saipul pria berperangai wanita itu lirih mengejek Ilana. Lirih namun menusuk telinga hingga ulu hati Ilana.
"Hah ... dua kali?" perempuan lain disamping Saipul ikut nimbrung.
__ADS_1
"iya, yang first si calon suami dia kan metong cyin, eh yang sekarang hamidunin temen dese ... " cerocos Saipul sembari melirik Ilana yang berjalan di depan mereka.
"Waduh kalo kayak gitu dia harus diruwat cyinnn ... diruwat. Dimandiin gitu di laut selatan ... hahahaha" seorang perempuan lain lagi yang baru datang menanggapi. Mengeraskan suara , ia dengan sengaja melakukannya agar Ilana mendengar.
Ilana tetap memasang wajah datar tanpa ekspresi. Telinganya sudah kebal mendengar suara sumbang soal dirinya. Apalagi sejak kematian Alvanno-putra direktur di perusahaan tempat ia bekerja sekarang. Dari menuduhnya sebagai penyebab kematian hingga pembawa sial disematkan padanya. Tapi Pak Rakas-direktur yang juga ayah dari Alvanno tetap menyayangi Alana bak Putri sendiri.
Ilana segera menghempas tubuhnya di kursi putar dalam kubikelnya. Menyalakan komputer dan segera menyelesaikan beberapa tugas-tugas yang sempat terbengkalai karena persiapan pernikahan gagalnya kemarin.
"Lana!" teriak Tesa berusaha mengagetkan Ilana, namun sepi tanpa respon mata Ilana tetap fokus pada layar komputer yang berkedip-kedip. Tesa curiga, dengan paksa ia memutar kursi Ilana hingga menghadap padanya.
Ternyata Ilana sedang menangis, tanpa suara, tapi aliran air matanya terus meluncur tanpa jeda.
"Lana ... " lirih Tesa kemudian memeluk tubuh Ilana erat. Ia mengambil beberapa lembar tisu yang tergeletak di meja. Mengusapkannya pada kedua pipi dan mata sahabatnya.
"Gue tahu ini berat Lana, t-tapi gue yakin lo bisa ngelewatin ini. Gue akan selalu disini buat nyupport elo," Tesa mengeratkan pelukannya.
Dada Ilana terasa sesak, seolah memikul beban yang berat, atau lebih berat dari sebelumnya. Apalagi setelah kegagalan pernikahannya dengan Saddam.
"Mbak Ilana, mbak ... " panggil Pak Rusdi, OB yang bekerja di kantornya. Keduanya menoleh, melihat Pak Rusdi yang tangannya memegang sebuket besar mawar merah dan sebuah kotak beludru di tangan sebelah lain.
"S-saya disuruh seseorang memberikan ini buat mbak Ilana, " ujar Pak Rusdi menjelaskan.
"Dari siapa Pak?" tanya Tesa dengan kedua tangan menerima Bunga dan kotak itu.
"M-mas Saddam mbak,"
"Buang aja Pak!" ketus Ilana.
"Loh ... gak sayang ya mbak kalo dibuang?" tanya Pak Rusdi ragu-ragu.
"Ambil aja kalo gitu, bunga mawarnya kasihin istri bapak aja. Trus nih yang dikotak ini balikin aja. Saya gak mau nerima. Bilangin sama dia!" pungkas Ilana kemudian menyerahkan balik semua yang dibawa Pak Rusdi padanya.
__ADS_1