Bang Ojek I Love You

Bang Ojek I Love You
Kerang pedas


__ADS_3

Rambut panjang Ilana berkibar, angin laut membelai uraian hitam itu dengan lembut. Waktu masih menunjukkan pukul tiga sore, cahaya matahari sudah tak sesilau siang tadi. Bau deburan ombak yang memecah karang merasuk rongga pernafasan. Meski harus berjalan lumayan jauh, karena pantai ini terletak agak jauh dari jalanan aspal yang tadi dilampaui bis, Rizal tak menyesal. Sejenak ia tertegun, memikirkan sedang apa mereka berdua disini? Hanya untuk makan kerang pedaskah? Atau untuk mencari udara segar, agar kesesakan yang menghimpit rongga dada mereka terlepaskan.


Baik Rizal ataupun Ilana tak mengerti, yang pasti kerang pedas adalah tujuan awal mereka. Setelah puas menyantap empat porsi makanan sari laut dengan level pedas tertinggi. Keduanya lalu berlari menuju pantai dengan kaki telanjang. Rizal memilih berhenti di sebuah bangku yang memang khusus disiapkan untuk pengunjung. Namun Ilana tak berhenti, ia terus belari ke arah pantai, kemudian menari. Beberapa saat kemudian ia berteriak tak jelas, lalu rentangkan kedua tangannya seolah menyambut kebebasan. Kedua netra Rizal mengawasi tingkah Ilana dari kejauhan. Ia tak ingin mengganggu ritual yang dilakukan perempuan itu.


'Cewek gila, tapi cantik ... ' gumam Rizal dalam hati.


Ilana yang sadar kalau dari tadi pandangan Rizal memaku padanya, kemudian menoleh. Tangannya melambai ke arah Rizal seperti mengundang agar Rizal bergabung bersamanya. Sepertinya ia tak mau terlihat gila sendirian.


"Apa?"


"Sini!"


Rizal mengibas tangan tanda penolakan, tapi Ilana sepertinya tak menerima itu. Dengan setengah berlari ia mendatangi Rizal. Sedikit paksaan, dan tarikan lalu Rizal pun bangkit lalu ikuti langkah Ilana menuju bibir pantai.


"Lo takut air ya?"


"Enggak ... bukannya gitu, saya cuma capek. Duduk sambil menikmati keindahan pantai lebih asyik, daripada harus melakukan ritual gila—"


"Apa?! Ritual gila?"


Waduh ... Rizal keceplosan.


"Eng— nggak ... maksud saya—"


BYUURRR ....


Hantaman ombak menabrak keduanya. Rizal memekik kasar, karena ia tak suka berbasah-basah. Berbalik seratus delapan puluh derajat dengan Ilana yang malah tertawa-tawa bahagia bak anak kecil yang diijinkan bermain air.


Seperti adegan di film-film dengan gerakan lambat, Rizal menyadari betapa polos perempuan muda di sampingnya. Tawa lepas yang Ilana tampakkan sekarang belum pernah ia lihat sebelumnya. Perempuan ketus nan galak seketika berubah seperti malaikat bersayap di mata Rizal.


Saking pecicilannya, Ilana hampir saja jatuh terpeleset.


Zzzet!


Tangan Rizal sigap menangkap tubuh Ilana yang oleng, hampir saja terjengkang. Netra dua sejoli itu bersirobok. Nafas Ilana naik turun karena kejadian yang hampir menimpanya itu cukup menaikkan adreanalin.


Satu, dua, tiga, empat, hingga hitungan ke lima belas detik keduanya seperti ditelan waktu yang membeku. Berbagai perasaan berkecamuk.


"Lepasin!" Ilana menjerit saat sadar kalau tubuhnya sedang ditopang tangan pemuda yang tak terlalu kekar tapi bertubuh tegap itu.


Byur!!

__ADS_1


Dasar Rizal tidak peka, ia malah melepaskan tubuh Ilana begitu saja tanpa aba-aba. Hingga membuat tubuh perempuan itu jatuh ke pasir basah dibawahnya.


"Aduh! Kalau mau lepasin ngomong dulu napa!" wajah bak malaikatnya kembali menjadi garang.


"Yaaa ... katanya suruh lepasin, ya saya lepasin," Rizal cemberut.


"Bodo!" Ilana menjeritkan kata itu tepat di depan muka Rizal kemudian pergi ke arah lain.


Rizal tak marah meski Ilana kembali menjadi macan galak seperti biasanya. Ia mengekor langkah cepat Ilana menuju ke sebuah kios penjual pernik pantai.


"Buk baju yang ini berapa?" tanya Ilana sambil menunjuk salah satu kaos pantai berwarna biru dengan tulisan 'I LOVE B for BEACH' di depan.


"Kalau satu seratus lima puluh rebu, Neng. Tapi kalau eneng belinya sepasang ama pacarnya, saya kasih diskon deh ...  " jawab si Ibu penjual sambil mengedipkan mata ke Rizal.


"Diskon berapa nih?!" sahut Ilana cepat.


"Pacar?!" sahut Rizal hampir bersamaan dengan Ilana.


"Kalau beli sepasang alias kapelan (couple), saya kasih murah Neng. Dua ratus ma puluh rebu deh ... " tukas Si Ibu penjual.


"Ya deh, bungkusin ya Buk. Nih uangnya," ujar Ilana sambil menyodorkan tiga lembar uang berwarna merah.


"Nih buat elo!" kata Ilana sambil menyodorkan


****


"Nooooo .... " pekik Ilana setelah selesai memakai baju couple tadi. Matanya membulat saat melihat tulisan 'mengerikan' yang tersablon di belakang kaus tersebut. 'I Love Her' dengan tanda panah, pada kaus Rizal. Dan 'I Love Him' pada kaus yang ia pakai.


"Kalau malu, dibalik aja kausnya!" Rizal cekikikan melihat ekspresi kesal Ilana.


"Diem lo!!"


"Ya habis gini aja udah overreacting ... lebay!" Rizal melenggang duluan meninggalkan Ilana yang manyun sembari ngomel-ngomel tak jelas di belakangnya.


"Udah sore nih, pulang gak?" tanya Rizal.


"Tadi saya tanya-tanya sama penjual es degan itu, kata bapaknya kalau udah diatas jam enam udah gak ada bis yang lewat sini loh. Kecuali kalau kamu mau kemping di sini!" ujar Rizal sambil terus melangkahkan kaki cepat menuju jalanan aspal dimana terdapat halte.


Meski dengan mulut cemberut mengerucut seolah bisa dikuncir, Ilana akhirnya berjalan mengikuti Rizal. Hampir tiga puluh menit mereka menunggu kedatangan bis, akhirnya datang juga.


Ilana terlihat lelah, hingga tak sadari sandarkan kepala di pundak Rizal.

__ADS_1


"Lana ... sshhh ... Lana ... " panggil Rizal lirih.


"Bisnya dateng," bisik Rizal lirih.


"Hah? Apa?" Akhirnya Ilana terbangun meski terkaget-kaget.


"Bisnya dateng ... "


"Mana ... mana?"


"Tuh!" Tunjuk Rizal ke sebuah bis yang sedang berjalan lambat menuju ke halte mereka.


Dasar sedang tidak beruntung, keduanya tak dapat tempat duduk. Akhirnya Rizal dan Ilana harus ikhlas untuk berdiri dan berdesakan dengan penumpang lainnya. Bau rokok menyengat tercium dari seorang penumpang pria yang berdiri di belakang Ilana. Dari tadi ia sudah merasa tak nyaman dengan cara pria itu memandanginya. Pria tersebut berusia sekitar empat puluh tahunan, badannya bongsor, dengan wajah yang sebagian tertutup jambang tipis.


Sedari Ilana naik si pria itu terus memandangi, dengan tatapan aneh. Bahkan terkadang tersenyum sendiri. Membuat Ilana bergidik dan merasa takut.


"Kenapa Lan?" Rizal peka akan raut wajah Ilana yang berubah sejak menaiki bis.


Ilana menunjuk pria di belakang dengan gerakkan ekor matanya. Rizal peka dan segera meminta Ilana untuk berganti posisi.


"Kamu pindah sini aja," Rizal melangkah dan kini ialah yang berada di depan pria bongsor tadi. Bukannya berhenti memandangi pria itu malah berdiri dan menyuruh Rizal untuk duduk agar ia bisa dekat-dekat dengan Ilana.


"Duduk lo!" ucapnya kasar, tanpa sopan.


Rizal pura-pura tak mendengar apa yang pria itu ucapkan.


"Heh ... lo budeg ya?!" Pria itu memelototinya. Rizal cuek.


"Oh ... abang ngajak saya bicara ya?"


Pria itu memegang kerah baju Rizal dan hendak meninjunya, "Lo nantangin gue ya?!"


"Bang, kalau anda buat kekacauan di bis ini. Saya gak segan-segan lho buat nyuruh abang turun!" suara kenek memecah keributan yang terjadi. Pria kasar itu akhirnya pergi menuju pintu belakang atas perintah sang kenek.


"Mas, mas gak apa-apa kan?" tanya Pak kenek.


"Nggak apa-apa kok, Pak. Makasih ya?" Rizal menjawab dengan ramah.


Perjalanan bis diteruskan, tapi kini Ilana dapat duduk dengan tenang karena pria tadi menyingkir.


"Zal ... makasih ya?" bisik Ilana sebelum turun dari bis. Rizal mengangguk dan membalasnya dengan senyuman.

__ADS_1


Keduanya berpisah di halte dekat kos Ilana dengan perasaan hangat yang diam-diam menyelubungi hati mereka.


__ADS_2