Bang Ojek I Love You

Bang Ojek I Love You
Rumit


__ADS_3

Jam masih menunjukkan pukul enam pagi, tapi suara ribut-ribut di depan kamar kost-nya membuat Ilana terhenyak dari mimpi indah. Padahal baru saja ia akan bertemu dan dinner bersama Park Seo-Joon, ya paling tidak keinginan mustahilnya tercapai walau hanya lewat mimpi.


Tok ... tok ... tok ...


"Mbak Ilana!" suara Tante Mira—pemilik kost, membuat Ilana terkesiap, antara setengah sadar ia bangun dari ranjang dan berjalan menuju pintu kamar. Tangan kanannya memutar kenop pintu sedangkan tangan kirinya sibuk mengucek mata yang masih terasa berat.


Seseorang yang sedang berdiri di depan pintu kamar membuat dirinya hampir terjungkal kalau ia tak segera menguasai diri.


Saddam dan Mamanya sedang menatap Ilana dengan piyama bergambar hello kitty bolongnya dan muka acak-acakan.


"Ilana!" Sasti, Mama Ilana berteriak kencang begitu melihat penampakan Ilana yang terlihat tak berkelas baginya. Dua orang dengan karakter bertolak belakang itu tak pernah seia sejalan. Sasti yang menyukai kemewahan tak pernah mendukung pilihan Ilana yang lebih suka tampil sederhana dan apa adanya.


Bahkan mereka pernah bertengkar hebat kala Ilana memutuskan untuk ikut organisasi pecinta alam di kampus. Ia ingin Ilana lebih menekuni kursus modelling bertarif puluhan juta yang sama sekali tak ingin Ilana jalani. Bagi Sasti, wanita seharusnya anggun dan berkelas, pakaian, skincare, hingga pernik yang dikenakan haruslah yang branded.


"M—mama?!" Ilana tak kalah kaget dengan kehadiran sang Mama di pagi buta. Ilana sengaja tak mau melihat ke arah Saddam. Meski tak mudah, ia berusaha agar terlihat acuh dan tak perhatikan lelaki yang kini berdiri di belakang Sang Mama.


"Lana ... " lirih namun jelas suara Saddam menyapanya, namun enggan menjawab.


"Lana, ganti baju kamu! Mama ingin bicara sama kamu,"


"Bicara aja sekarang, Ma. Buat apa juga Ilana ganti baju,"


"Baju compang-camping kayak gitu dipakek, mana baju tidur sutra yang Mama belikan dari Prancis kemarin?!" sergah Sasti.


"Yang mana?" Ilana mengerutkan dahi, ia benar-benar lupa baju mana yang Mamanya maksud.


"Capek bicara sama kamu!" dengus Sasti kesal. Ilana menyengir kuda melihat Mamanya sebal.


Ilana menarik Mamanya ke dalam kamar, " Lo diluar aja!" teriaknya pada Saddam yang mau tak mau terpaksa mematuhi Ilana.


Brakk ... Ilana menutup pintu kamar dengan sedikit bantingan. Hanya sekedar untuk menunjukkan kalau ia sebenarnya tak suka dengan kehadiran Saddam di sana.


"Lepasin Mama!" Sedikit berteriak Sasti mencoba mengibaskan tangannya dari genggaman Ilana.


"Sekarang Mama jelasin sama Lana, apa maksud kedatangan Mama dan cowo brengsek itu kesini?"


"Lana kenapa kamu ngomong kasar gitu sama Mama?!" protes Sasti.

__ADS_1


Ilana menghela nafas panjang sebelum meneruskan kata-katanya, "Ada apa Mama kesini? Terus siapa yang ngasih tahu Mama tentang kost-an ini?" Sedikit melembutkan ucapan membuat wajah Sasti yang tadinya terlihat marah, melunak.


"Mama mau kamu pulang, kita perbaiki semua. Saddam janji sama Mama kalau bakal memperlakukan kamu dengan adil."


Ilana hempaskan bokongnya ke ranjang dengan keras, "Hah?! Adil? M—maksud Mama—"


"Iya, dia bersedia menikahi kamu, Lana. Menjamin hidup kamu, sehingga kamu gak perlu lagi capek-capek kerja. Soal perempuan yang ia hamili kemarin akan dia nikahi setelah dia menikahi kamu. Jadi ... kamu akan tetap—"


"Mama udah gak waras ya!" sentak Ilana penuh kemarahan.


"Lana! Jaga ucapan kamu!" Sang Mama tak mau kalah.


"Mama sudah perjuangkan hubungan kamu dengan Saddam. Kamu pikir buat siapa Mama ngelakuin ini?!"


"Buat diri Mama sendiri! Yang jelas Ilana udah gak mau lagi  menjalin hubungan sama cowo brengsek kayak dia. Mending Ilana gak nikah sampai mati, daripada harus nikah sama Saddam."


Plakkk ... Sang Mama kalap dan mendaratkan tamparan di wajah Ilana.


"Kamu itu keras kepala! Sama kayak Papa dan Abangmu!"


"Mama-lah yang egois! Mama-lah yang hanya mementingkan ego tanpa memikirkan perasaan orang lain. Mama selalu memaksakan kehendak demi kepentingan Mama sendiri. Jadi jangan tanya kenapa Papa lebih memilih Tante Sandra dibanding Mama!"


"Kenapa?! Mama malu ya dengerin semua dosa-dosa Mama?!"


Sasti tampaknya tak kuat lagi menahan segala ucapan Ilana, tanpa menunggu detik berganti ia langsung berlari menuju pintu keluar dan meninggalkan kamar Ilana. Mereka sama-sama menangis, keduanya sama-sama terluka karena pertengkaran tadi.


****


Hampir dua jam terpekur tanpa melakukan apapun Ilana akhirnya sadar kalau hari ini ia ada rencana untuk menjenguk Rizal. Hari ini kebetulan tanggal merah, kantor libur.


"Sa ... " sapanya sambil menempelkan smartphone ke telinga.


"Hmm ... " sahutan Tesa terasa tak meyakinkan.


"Jangan bilang ... kalau elo masih molor!"


"Iya Lan, emang kenapa? Gue gak tidur semalaman, Reynold dateng ke apartemen gue. Seperti biasa dia ngajakin lembur, " seloroh Tesa.

__ADS_1


Ilana membelalakkan mata lebar-lebar seolah akan copot dari tempatnya.


"What the f**k!" umpatnya.


"Lo balikan sama Reynold?!"


"Santai ... santai ... gue kagak balikan ama cowo bangsat kayak dia kok."


"Terus ngapain dia ke apartemen lo?!"


"Kebutuhan Lan," Jawaban Tesa sungguh enteng meskipun Ilana menepuk dadanya berkali-kali mendengarkan pengakuan sahabatnya yang terdengar sangat salah itu.


"Lo gila ya!"


"Bukan gila, Lana sayang. Kami de-wa-sa!"


"Gak waras ya lo!"


"Anyway, ngapain lo nelpon gue pagi-pagi?"


"Yang harusnya gue tanya itu elo, Sa. Bukannya lo janji buat nganterin gue jengukin si Rizal kemaren?"


"Astaganagaa .... suer Lan. Gue gak bermaksud, tapi gue bener-bener lupa. Aduh gimana ya? Reynold bentar lagi dateng lagi,"


"Hah? Ngapain lagi?!"


"Dia ngajakin gue milihin cincin,"


"L—lo mau nikah ama dia?"


"Ya kagak lah, Reynold kan udah nikah kali. Dia suruh gue milihin cincin berlian buat hadiah istrinya,"


'Ni anak emang gak waras kayaknya," batin Ilana dalam hati.


"Yaudah deh, enakin aja kalau gitu Sa. Bye!" Ilana menutup panggilannya kepada Tesa. Membanting ponselnya ke ranjang, kemudian menjatuhkan diri seraya menghembus nafas kasar.


Beragam pemikiran muncul dalam benaknya, mulai dari bagaimana bisa seorang Tesa  begitu mudah menjalin hubungan lagi dengan mantan kekasih yang sudah menikahi perempuan lain. Mereka hanya bertemu saat saling membutuhkan pemuasan hasrat. Sedangkan baginya itu adalah tindakan salah yang justru dianggap sah-sah saja oleh Tesa.

__ADS_1


Ia yang saat itu hampir menjadi istri sah Saddam saja seketika merasa jijik ketika tahu kalau lelaki yang akan dinikahinya ternyata berselingkuh hingga menghamili selingkuhannya. Jangankan untuk kembali bersama, melihatnya saja membuat Ilana ingin muntah. Namun Ilana tak punya hak untuk menghakimi Tesa ataupun Reynold. Mereka manusia dewasa yang tau baik dan buruk. Segala keputusan. Segala yang dilakukan datang dengan segala resiko dan tanggung jawab. Ilana hanya berharap agar suatu hari seseorang dapat menyadarkan Tesa kalau yang dilakukannya hanyalah kesia-siaan.


__ADS_2