
"Mobil kamu Mama sita!" pekik Sasti lantang yang seketika membuat Ilana melakukan perlawanan verbal.
"Mama gak berhak—"
"Mama punya hak! Kamu masih punya hutang sama Mama. Kamu pikir duit yang kamu pakai pas hari pernikahan itu punya Papa kamu! Ingat ya Lana, sebelum meninggal Papa kamu gak ninggalin warisan sepeser pun! Selain hutang!"
Ilana serasa tertampar ketika mendengar ucapan sang Mama.
"M—maksud Mama?"
"Mama udah capek pura-pura Lana, sekarang sudah saatnya kamu tahu semuanya!"
"Papa kamu itu ... punya wanita simpanan Lana! Bertahun-tahun Mama menahan semua rasa sakit akan kelakuan bejat Papamu!"
"Mama bohong!" Ilana berteriak tak percaya.
"Mama mengatakan yang sebenarnya Lana, Papa kamu bahkan punya anak haram hasil dari hubungan gelap dia dengan wanita murahan itu!"
"Cukup, Ma. Cukup! Mama udah cukup membual sama Lana ... " serak, suara Ilana parau. Ia tak lagi dapat menahan air yang berdesakan mengucur dari kelopak matanya.
"Ini kunci mobilnya, surat-surat mobil ada di lemari kamar Lana. Silakan Mama ambil sendiri, Lana mau pergi dari rumah ini Ma. Lana capek, sekarang Mama bebas mau ngelakuin apa aja!" Berderai air mata Ilana meninggalkan rumah besarnya untuk kesekian kali. Kalau saja bukan karena ia ingin mengambil kandang untuk Mio-mio, ia mungkin tak akan mau menginjakkan kaki ke rumahnya lagi.
Mio-mio adalah nama yang ia berikan pada kucing liar yang terjebak di rooftop kemarin.
Brakk!!
__ADS_1
Ilana membanting pintu depan, dengan langkah tergopoh ia keluar dari area rumah. Mbok Sayem coba menahannya tapi ia tak lagi mau mendengarkan siapapun. Tangan kirinya menenteng kandang yang lumayan berat itu saat tangan kanannya mengusap buliran bening yang jatuh membasah.
Ia berjalan menjauh dari blok perumahan, dan putuskan berhenti ketika sampai halte bis yang di dalamnya sudah berjejer beberapa orang.
Setelah sekian tahun, ini adalah kali pertama ia naik bis lagi. Memilih bis tua akan lebih baik baginya karena ia membawa kandang berukuran lumayan besar. Bis baru dengan sistem pembayaran e-money tentu tak akan mengijinkannya masuk, karena membawa benda terlarang tersebut.
Ini jam makan siang yang harusnya ia lewatkan sambil bercengkerama dengan kedua sahabatnya, Hani dan Tesa. Tapi karena keras kepala ia malah menolak tawaran Hani yang sebenarnya ingin mengantarkannya pulang. Bodoh! Kalau tahu akan berakhir seperti ini, ia pasti lebih memilih untuk datang dengan Hani ataupun Tesa. Sehingga ia tak perlu kehilangan mobil kesayangannya.
Kekejaman sang Mama melebihi debt collector. Bahkan tak lagi peduli bagaimana Ilana akan menjalani hari bila tanpa alat transportasi.
Bis model lama datang, ia segera naik saat sang kenek merapalkan nama daerah kosnya sebagai salah satu tempat destinasi. Dengan gesit Ilana masuk ke dalam bis yang berbau kurang sedap dan bersuara berisik itu. Ia melangkah menuju bangku paling belakang.
"Mbak, itu taruh sini aja. Tapi bayarnya dobel ... " tawar sang kenek. Tanpa banyak bicara Ilana segera menyodorkan selembar lima puluh ribuan sambil mengangguk.
"Ambil aja kembaliannya, Bang!" tukas Ilana yang tentu saja disambut bahagia oleh sang kenek dengan wajah gelap karena terbakar matahari itu.
Tiba-tiba ia teringat kembali akan kata-kata sang Mama tentang Papanya. Ini bukan kali pertama ia mendengarnya, tapi ... ini adalah kali pertama sang Mama mengungkapkannya. Anak haram? Hutang Papa? Om Timo, adik Mama yang kini hidup di luar pulau pernah memberitahukan perihal ini kepadanya. Saat itu Ilana masih duduk di bangku SMA. Pada mulanya ia sangat dekat dengan Om Timo, akan tetapi suatu hari kedekatan, kepercayaan yang ia bangun runtuh berkeping-keping be saat laki-laki itu mencoba melecehkannya secara seksual.
"Neng ... udah sampai atuh." Suara sang kenek membuatnya kembali ke dunia nyata setelah beberapa menit tenggelam dalam lamunan masa lalu.
"Eh ... i—iya Pak. Makasih ... " Ilana bergegas turun tak lupa membawa kandang itu.
'Wah gila aja, gue harus jalan kaki nih buat sampek ke kost!' batinnya mengeluh.
****
__ADS_1
"Loh Zal kenapa kamu balikin itu sama aku? Aku tuh ikhlas ngasih ini ke kamu ... " Aura menyodorkan balik benda itu ke arah Rizal. Pada mulanya Rizal hanya meminta bertemu tanpa ada rencana untuk pergi kemanapun. Namun, Aura memaksanya untuk masuk ke mobil dengan alasan pengen makan siang bareng. Dan disinilah mereka sekarang, duduk berdua di sebuah kafe bergaya Western dengan makanan ala-ala negeri Paman Sam.
"M—maaf ya, Ra? Bukannya apa-apa, aku cuma merasa kalau pemberian ini terlalu berlebihan. Kamu kan masih kuliah, mending uangnya buat ditabung aja. Daripada buat beliin aku, nih hape jadulku juga masih kerja dengan bagus. Untuk sementara ini masih bisa dipake—"
"Zal ... " Aura meraih jemari Rizal dan menatapnya lekat.
"Please kamu terima ini. Aku beneran tulus ngasih ini buat kamu?"
"Ra ... Ra ... please, aku mohon ... jangan," Rizal bersikeras menolaknya.
"Zal ... aku cuma pengen kalau nanti aku ajak kamu ketemu temen-temen kuliah aku, mereka gak liat kamu sebelah mata. Kamu tahu kan kalau anak kuliahan jaman sekarang tuh lihatnya pasti dari penampilan dulu ... " rengek Aura.
"Ohhh ... jadi kamu malu punya pacar kayak aku? Yang hapenya cuma hape jadul murahan?"
"Zal ... nggak kayak gitu, kamu jangan salah paham."
"Gue gak nyangka lho, Ra ... kamu berubah kayak gini. Apa kamu gak inget gimana kita dulu habisin waktu sepulang sekolah sambil makan jajanan dua rebuan di pinggir jalan? Sekarang apaan? Cemen banget, maunya kafe western kayak gini. Handphone pun harus yang merk buah itu ya? Hape gue keluaran negeri tirai Bambu, Ra ... gak kelas banget ya? Basi tau Ra!" racau Rizal sembari memakai jaketnya. Tanpa basa-basi lagi ia langsung angkat kaki dari kafe dua lantai yang terkenal sebagai tempat nongkrong hedon itu.
Aura langsung bangkit lalu mengejar langkah Rizal yang cepat.
"Zal please ... dengerin penjelasan aku dulu ... " Aura meraih lengan Rizal.
"Gak ada yang perlu dijelasin, Ra."
"Zal, aku ngelakuin ini karena aku sayang sama kamu ... "
__ADS_1
"Udah lah, Ra. Gue tahu kok dimana tempat gue. Kamu itu out of my league ... sebaiknya mulai sekarang kamu fokus nyari cowok yang sekiranya sesuai dengan kriteria temen-temen kuliah kamu itu. Apa juga sih yang kamu harapin dari cowok miskin macem gue? Cowok putus kuliah yang sekarang kerjaannya cuma jadi office boy. Gaji gue gak akan bisa Ra bahagiain kamu. Gak akan bisa ngajak kamu makan-makan di tempat mahal kayak gini ... " Aura kehilangan kata, lidahnya kelu. Meski berat ia akhirnya membiarkan Rizal pergi. Perlahan menjauh dari tempatnya berdiri. Pun Rizal, ia tak bisa menahan rasa kecewa akan cara berpikir Aura yang menurutnya tak benar. Memberinya barang mewah hanya agar dirinya tak dipandang rendah di hadapan orang-orang terdekat Aura, hanya akan membuat harga diri Rizal seolah direndahkan. Itu sungguh melukai batinnya sebagai seorang laki-laki.