
"Han ... lo dirumah gak?" Ilana sambil menyetir dengan sebelah tangan.
"Hu-uhmm ... " Suara Hani di seberang terdengar malas.
"Lo masih gak enak badan, Han?" tanya Ilana.
"Gak tahu nih, udah beberapa hari ini gue mual-mual terus. Kepala gue juga pusing, udah gitu badan gue lemes banget." Keluh Hani.
"Lo udah jadi periksa ke dokter belum?"
"Hah?! Gak ah, gue udah minum obat yang dibeliin Tesa tiga hari lalu. Palingan besok juga udah baikan. Anyway, kenapa lo tanya gue di rumah gak?Lo mau kesini ya?"
"Iya, gue mau kesana,"
"Kalau gitu, beliin gue asinan ya? Ke warungnya Nyak Niah, lo tau kan tempatnya? Deket kafe murbei tempat kita biasa nongkrong itu lohh ... " Hani menjelaskan dengan antusias.
"Hah, tumben-tumbenan lo pengen asinan, ngidam lo ya?" celetuk Ilana sekenanya.
"Lanaaaaaa .... mulut lo ya?!" teriak Hani memekakkan gendang telinga.
Tanpa aba-aba, Ilana memutus percakapan karena ia sudah sampai di warung Nyak Niah. Bergegas keluar dari mobil dan masuk untuk mengantri asinan.
Entah dewa sial apa yang mengikuti langkahnya, saat ia memindai seluruh isi warung pandangannya malah bersirobok dengan sesosok perempuan berambut coklat. Janice.
Detak di dadanya seolah berhenti, rasa panas menjalari urat nadinya. Rasa marah mungkin telah hilang dari pikirannya. Namun, rasa kecewa tak terelakkan membuatnya mati rasa. Janice Dewanti, dia bukan orang asing bagi Ilana. Mereka bersahabat dari sejak bangku SMA. Bahkan dialah yang memperkenalkan Saddam kepada Ilana. Kebetulan Janice dulu pernah bekerja di sebuah perusahaan yang sama dengan pria brengsek itu.
Sadar kalau Janice melangkah ke arahnya, refleks Ilana segera mundur menjauh. Ia berencana untuk pergi saja dari sana, tapi panggilan Janice terlebih dahulu menggaung di telinganya.
"Lana ... "
'Sial!' Umpat Ilana dalam hati.
Sedikit berlari Janice menyusul Ilana yang merangsek keluar dari warung.
"Ada hal yang harus kita bicarakan, Lana." Janice memelas. Perutnya sudah terlihat membuncit. Penampilannya sama sekali berbeda dengan Janice yang ia kenal.
Tak lagi terlihat Janice yang glamor, sexy, dan penuh semangat. .
"Gue rasa gak ada lagi yang perlu dijelaskan, Sye." Ilana menjawab dengan emosi sedikit naik, tapi mulutnya masih memanggil Janice dengan nama kesayangan, Asye.
__ADS_1
"Lan, please. Ini penting banget," Janice tak mau melepaskan genggaman tangannya.
"Paling gak, biarin gue mati dengan tenang Lan."
"Gue gak akan pernah mati dengan tenang sebelum menjelaskan semua ini sama Lo," Janice memohon.
'Ilana, lo gak gak boleh lagi percaya sama pengkhianat macam Asye." Hatinya ikut bicara.
"Saddam bukan cowo baik, Lan ... " serak suara Janice bergetar, bahkan matanya tak mampu lagi menatap Ilana. Pandangannya lurus kebawah.
"Buset, Mbak mau beli kagak? Kalau kagak jangan ikutan antri donk!" teriak seorang pria berseragam sambil melotot ke arah mereka berdua.
"M—maaf, Pak ... " sungkan, Ilana akhirnya keluar dari antrian diikuti Janice yang terus berusaha menyusul langkhnya.
"Please, Lana ... sebelum gue pergi jauh. Tolong dengerin gue!"
Ilana menoleh, perasaannya gusar. Tak tahu harus bagaimana dan mengambil langkah apa. Wajar jika kepercayaannya pada Janice hilang sepenuhnya setelah apa yang terjadi.
"Sepuluh menit!" Dengan wajah masam ia membalas Janice, sambil menunjuk kafe murbei yang terletak tak jauh dari sana.
****
"Lo mau pesan apa Lan?" Janice menawarinya dengan tulus.
Janice sangat memaklumi dan menerima perlakuan kasar Ilana padanya. Baginya, ia pantas mendapatkan itu.
"Gue dan Saddam, gak pernah punya hubungan special Lan." Buka Janice yang seketika membuat mata Ilana membelalak lebar.
"Lo jangan main-main, ya, Sye! Gue denger sendiri apa yang lo berdua bicarakan di kamar abang gue!" Ilana membalas dengan nada tinggi hingga orang-orang di sekitarnya melihat ke arah mereka berdua.
"Gue ngomong jujur, Lan. Gue gak main-main, ada fakta yang harus lo ketahui tentang Saddam dan Alvanno." lirih Janice.
"Alvan?! Kenapa lo bawa-bawa nama dia?!" Ilana hampir kehilangan kesabaran kalau saja ia tak ingat dengan keadaan Janice yang sedang hamil.
"Lan ... please dengerin gue." Janice meraih tangan Ilana, " dua hari lagi gue berangkat ke Belanda. Gue nyusul pacar gue. Dia bersedia menanggung hidup gue dan anak gue,"
"Bukannya lo mau nikah sama cowok bangs*t itu?" Ilana masih dikuasai kemarahan.
"Gak akan pernah ada pernikahan antara kami, Lan."
__ADS_1
"Hubungan kita gak lebih dari hubungan seorang customer dan penyedia jasa aja,"
"Gue pusing ya dengerin elo! Jangan muter-muter deh, to the point aja!" Sergah Ilana.
"Okay, gue akan ceritain. Gue harap lo percaya sama gue Lan. Karena sebenarnya gue gak mau kehilangan seorang sahabat kayak elo Lan ... " mata Janice memerah tampaknya tak mampu lagi menahan rasa pedih dan sesak di dadanya.
Ilana mengulurkan tangan, dan memberi tisu kepada Janice, "Lo jangan nangis gini, entar orang ngiranya gue ngapa-ngapain lo lagi!"
"Thanks," Janice meraih tisu dan membersihkan lelehan di pipinya.
Tak berapa lama seorang waiter datang membawakan strawberry smoothie pesanan Janice. Terpaksa keduanya menghentikan percakapan.
"Are you okay, Miss?" waiter dengan wajah bule itu menyapa mereka.
"Yeah, I am. I was just too happy to see my old friend, again. After many years ... " jawab Janice asal sembari berharap waiter itu segera pergi.
Ilana sengaja membuang pandangan ke luar jendela kafe. Ia sangat enggan untuk berinteraksi dengan siapapun, termasuk dengan waiter. Tujuannya kedatangannya ke kafe murbei kali ini tak lebih karena ia ingin mendengar penjelasan dari Janice. Meski ia tak yakin kalau hanya kebenaran yang keluar dari mulut pengkhianat itu.
"Lan ... s—sebenarnya, gue lah yang merencanakan buat ngegagalin pernikahan lo."
Seperti disambar petir Ilana mendengar pengakuan dari Janice.
"Sye ... bisa lo ulangin lagi kata-kata lo itu?"
"Gue yang ngerencanain buat ngegagalin pernikahan lo sama Saddam, bukan tanpa alasan Lan. Gue cuma pengen nyelametin lo dari dia,"
"Terus apa hubungannya Alvanno sama pembicaraan ini, Sye?!" Ilana bergetar.
"Sebenarnya dia juga gak lebih baik dari Saddam," Janice menyodorkan ponselnya. Layarnya menampakkan sebuah foto, seorang anak laki-laki berusia enam tahunan.
Anak kecil itu tampan, mata dan alisnya sangat mirip dengan Alvanno. Senyum polos menampakkan deretan gigi yang sebagian ompong.
Tangan Ilana bergetar, ia mengambil ponsel yang diletakkan Janice. Mendekatkan layar ke mukanya, matanya dengan jeli memindai foto itu. Jantungnya tiba-tiba berdegup tak beraturan.
Ia melihat foto itu dan Janice bergantian. Dahinya berkerut, kepalanya sudah dipenuhi ribuan pertanyaan. Namun, mulutnya tak sanggup untuk melisankan satu tanya pun.
Hingga beberapa menit berlalu dengan hening.
"S—siapa anak kecil ini?" Ilana bertanya dengan penuh keraguan.
__ADS_1
" Kayden Al Fahrizi, anaknya Alvanno."
Ponsel di tangan Ilana merosot jatuh menghentak ke atas meja. Jatuhnya bersamaan dengan lelehan bening yang mengaliri pelupuk mata.