
"Jal, bangun kagak lo?! Udah jam segini masih molor aja," teriak Enyak kencang sambil menarik selimut yang menutupi tubuh Rizal.
Nampak Rizal yang sedang meringkuk kedinginan di bawah selimut, Enyak mendekat lalu meletakkan punggung tangan di dahi Rizal.
"Lo panas, Jal?" Rizal hanya mengangguk, kemudian menarik selimut untuk membalut tubuhnya lagi. Bibir Rizal tampak pucat, suhu badannya naik tapi ia menggigil.
Enyak terlihat khawatir dan segera pergi ke warung dekat rumah untuk beli obat penurun demam. Tak lama kemudian Enyak kembali dan menemukan seseorang sedang berdiri di depan rumahnya. Seorang perempuan cantik dengan jeans dan blus berwarna putih. Enyak tak mengenali perempuan itu, namun saat Enyak datang ia dengan sigap mengulurkan tangan dan mencium tangan Enyak dengan takzim.
"Neng siapa yak?" Enyak mengerutkan kening.
"Enyak lupa sama saya?" Aura menebar senyum yang menampakkan deretan gigi putihnya.
"Emang si Eneng kenal sama Enyak?" Masih tak dapat mengingat siapa identitas perempuan di hadapannya.
"Nyak cepetan, Bang Rizal pingsan!" Obrolan keduanya terhenti saat suara teriakan Randy terdengar.
Tanpa menunggu lama keduanya berlari ke dalam rumah, dan menemukan Rizal yang sudah tergeletak lemas di lantai dapur.
"Rizal kenapa, Nyak?"
"Waduh ... Jal, elo kenape sih? Ya Allah, Jal. Bangun!" Enyak panik dan langsung menarik kepala Rizal menempatkan di pangkuannya.
"Bang Rizal harus dibawa ke rumah sakit," Randy menyela.
"T—tapi Nyak kagak punya uang Ran, puskesmas aja yak? Bawain fotokopi KK dan KTP Abang elo ye? Biar dapet perawatan gratis," ujar Enyak menahan tangis. Tak biasanya Rizal sakit sampai begini, paling banter dia dulu cuma flu aja udah.
"Rumah sakit aja Nyak, lebih lengkap fasilitasnya. Nyak nggak usah kuatirin biaya, biar saya yang tanggung semua biayanya. Randy, bawa Bang Rizal ke mobil sekarang. Yuk bantuin kak Rara." Seketika Randy tercekat, ia mengmati perempuan cantik di depannya sambil terbengong-bengong.
"Kak Rara?!" Randy mengulang kata itu beberapa kali.
"Iya, yang dulu suka manjatin pohon mangga belakang sekolah." Rara menjelaskan, sesaat kemudian tanpa basa-basi Randy langsung mengikuti arahan Aura. Keduanya sangat akrab ketika Rizal masih berpacaran dengan Aura, bahkan Randy punya panggilan khusus untuk calon mantan kakak iparnya itu. Ia selalu memanggil Aura dengan sebutan Rara.
Enyak yang tak mengerti tentang duduk arah pembicaraan akhirnya hanya ikut saja arahan Aura. Mereka membopong tubuh Rizal ke dalam mobil, untuk dibawa ke rumah sakit terdekat.
****
Rizal langsung dibawa ke instalasi gawat darurat, setelah menjalani pemeriksaan ranjangnya di dorong menuju area kuning. Enyak yang was-was terlihat pucat.
__ADS_1
"Nyak jangan khawatir, Rizal sudah ditanganin kok. Kita tinggal nunggu buat kamarnya aja," Aura membawa beberapa lembar kertas lalu ia serahkan kepada Enyak.
"Nyak udah makan?" tanya Aura.
"Randy belom nih kak," Ehh ... malah si Randy yang ngejawab tanpa rasa sungkan.
"Hush diem lo!" Enyak menyela.
"Gak usah Neng, Enyak udah banyak ngerepotin. Entar kalau laper kita bisa kok beli makan di warteg depan,"
"Nyak, jangan gitu donk. Sekarang sebaiknya Enyak sama Randy beli makan dulu, soal Rizal biar saya yang urus. Nanti kalau udah dapet ruangan baru saya pulang bentar buat ambilin selimut, sama beli beberapa perlengkapan buat Rizal."
Enyak terperangah, ia tak menyangka ada gadis sebaik Aura.
"J—jangan Neng, jangan. Enyak udah banyak—"
"Nyak ... jangan kuatir soal biaya. Kan tadi Rara udah janji buat nanggung biayanya, jadi Nyak kagak perlu kuatir. insha'Allah Rara ada cukup uang. Sekarang ini Enyak ambil buat beli makan dulu. Kasihan Randy, entar masuk angin lagi." Aura memberikan sejumlah uang pada wanita yang matanya sudah basah berkaca-kaca itu.
'Ya Allah neng, kagak cuma parasnya. Hatinya pun baik banget," batin Enyak dalam hati.
"Kak, makasih ya?!" ujar Randy sebelum pergi mengikuti langkah Enyak yang dibalas anggukan oleh Aura.
****
Ilana mengendap masuk ke pantry, ia sedang mencari seseorang tentunya. Setelah melihat perempuan berkulit sawo matang di dalam pantry ia melambaikan tangan.
"Indah, sini!" panggilnya. Tak berapa lama Indah segera menghampiri Ilana.
"Iya mbak Lana, ada yang bisa saya bantu?"
"OB yang baru kemana?"
"Baru?" Indah menggaruk kepalanya.
Ilana mengangguk, "iya yang baru,"
"Oh maksud Mbak, Rizal!"
__ADS_1
"Ssshhh ... jangan keras-keras," Ilana sontak membekap mulut lebar Indah.
"Dia kan lagi di rumah sakit, Mbak. Ya jelas aja gak masuk," jelas Indah. " Hah, kok bisa? Memangnya dia sakit apa?" Ilana kaget.
"Kurang tahu saya mah, tadi tuh adiknya kesini nganterin surat dokter."
"Serius kamu?!"
"Limarius, Mbak. Kalo Darius suaminya mbak Donna," seloroh Indah.
"Di rumah sakit mana dia dirawat?"
"P—pak Handoko yang tahu, saya mah kurang tahu masalah itu Mbak." Indah segera melarikan diri sebelum Ilana mencecarnya dengan banyak pertanyaan lagi.
"Yee ... malah pergi," sungut Ilana.
Ilana memutuskan untuk langsung menemui Pak Handoko yang tak lain dan tak bukan adalah kakak kandung Miranti, istri si Andri.
Seperti seorang pencuri, Ilana mengendap sebelum akhirnya sampai di ruangan Pak Handoko.
"Ehm ... ehm ... ada apa mbak Ilana? Apakah ada yang bisa saya bantu?" Seperti seorang pencuri yang ketahuan security Ilana menjingkat kaget dengan wajah memerah. Sambil memasang wajah se-cool mungkin Ilana menanyakan tentang dimana Rizal dirawat. "Ob baru beneran sakit, Pak?"
"Loh, bukankah surat dokter dari Rizal sudah saya sampaikan ke Pak Kabag ya, Mbak?" Handoko mengerutkan kening. Menatap Ilana penuh tanya. Yang ditatap semakin salah tingkah.
"B—bukan, bukan itu maksud saya, hmm ... jadi gini Pak ... saya pengen memastikan kalau Rizal itu memang benar-benar sakit."
"Ohhh ... jadi ... Mbak Ilana pengen menjenguk dia gitu?"
"Iya!"
"Eh ... nggak Pak. Bukan begitu, saya bukannya mau menjenguk cuma mau memastikan kalau OB baru itu gak bohong. Ya gitu," Ngeles aja si Ilana.
"Ohhh ... baru kali ini lho, saya melihat kalau sebenarnya Mbak Ilana itu sangat perhatian pada bawahannya. Saya kira—"
"Di rumah sakit mana, Pak? Jangan muji saya please, saya takut jadi sombong. Saya tahu kok saya itu baik orangnya." Cengengesan Ilana hanya dapat menutupi rasa malunya dengan mencoba membohongi dirinya sendiri kalau yang ia lakukan semata-mata adalah untuk membalas kebaikan Rizal dan Ibunya yang telah rela menolongnya dengan ikhlas.
"RS Permata Indah, ruang rawat inap ... Ar—juna, Mbak." Celetuk Pak Handoko sambil menggaruk kepala mengingat-ingat ruangan tempat Rizal sedang dirawat. Entah kenapa meski tak yakin Pak Handoko tetap menyampaikan hal itu. Sambil berharap semoga Ilana tak akan tersesat karena info ngawur darinya. Dari kejauhan Handoko masih memperhatikan perempuan yang dikenal dingin itu. Apalagi sejak kepergian putra direktur perusahaan tempatnya bekerja. Belum pernah sekalipun Handoko melihat Ilana mau peduli dengan sekitarnya. Ia dulu terlihat tak lebih dari raga yang hidup tapi jiwanya mati.
__ADS_1