
"Hidup kadang mempermainkan kita seperti lelucon."
Setelah menulis caption tersebut Ilana mengunggahnya ke WhatsApp status. Hanya dia yang tak mengucapkan apapun kepada Janice atau keluarganya lewat sosial media.
Namun disinilah ia sekarang, berdiri di samping peti yang di dalamnya terbujur kaku jasad seorang Janice. Kedua netranya nanar memandanginya.
"Lana ... " suara serak Chika mengagetkannya.
Ilana menoleh kala gadis berambut pendek itu langsung menghambur ke pelukannya lalu menangis sejadi-jadinya.
"Gue gak percaya kalau Janice bunuh diri ... " bisiknya lirih di telinga Ilana. Ia membelalak, kaget akan apa yang Chika ungkapkan.
Chika tak melepas pelukannya, "Sehari sebelum ditemukan meninggal, Janice terlihat sangat bahagia. Dia bahkan sudah nge-packing semua bajunya buat dibawa terbang. Tiket dan dokumen-dokumen juga sudah dia siapkan ... "
"Apa menurut lo mungkin? Orang yang mau bunuh diri beli tiket buat liburan ke luar negeri?" Chika berbisik, Ilana kontan melepaskan pelukannya. Mereka saling pandang untuk beberapa saat.
'Kayaknya Chika tahu sesuatu ... " batin Ilana.
"Lan ... lo pasti tahu sesuatu kan? Asye bilang kalau dia ketemu lo beberapa hari lalu ... " Chika menariknya dari kerumunan orang-orang di samping peti.
"Maksud lo gimana, Ka?" Ilana bermain aman. Lebih baik baginya untuk berpura-pura tak tahu menahu soal apapun daripada harus menanggung resiko yang mungkin saja mengancam.
"Asye bilang kalau dia habis ketemu lo, Asye juga bilang kalau dia udah lega banget setelah ngasih tahu lo tentang sesuatu ... "
"Hmmm ... emang gue ketemu Asye. T—tapi itupun cuma bentar, ia cuma bilang kalau mau nyusul pacarnya ke Belanda, " Ilana coba mengelak. Enggan terlibat terlalu dalam.
Percakapan keduanya terhenti saat salah seorang saudara kandung Janice yang bernama Zefran datang dan membuat kehebohan.
Dia mengacungkan pistol, sembari berteriak histeris seperti orang yang kehilangan kewarasan. Sontak semua yang hadir berhamburan keluar. Termasuk Ilana dan Chika yang akhirnya dimanfaatkannya untuk menjauh dari Chika sebelum perempuan itu menanyakan terlalu banyak hal padanya.
"Siapa yang bunuh adek gue?! Janice gak mungkin bunuh diri!! Pasti seseorang udah ngebunuh dia. Bangsat!!"
Terdengar riuh suara Mama Janice memohon agar anaknya menahan diri. Ia meminta Zefran agar menurunkan senjatanya.
Dari luar Ilana perhatikan kekacauan yang terjadi di dalam.
"Bangsat!!" Zefran berteriak kemudian luruh ke lantai. Sepertinya ia pingsan? Semua orang berhamburan kembali dan membantu untuk mengangkat tubuh besar Zefran.
'Merepotkan saja ... ' batin Ilana kesal.
Baru saja Ilana bermaksud untuk pergi dari tempat itu, langkahnya terhenti saat ia melihat mobil Saddam datang. Ia tak sendirian. Ada seorang bersamanya, gadis berpenampilan serba hitam dengan kacamata hitam, dan lipstick merah itu tertunduk. Wajahnya sebagian tertutup oleh kerudung hitam yang menjulur sekenanya.
__ADS_1
'Kayak gak asing?' Ilana merasa pernah mengenal sosok itu. Atau mungkin melihatnya di suatu tempat. Entahlah ... ia tak dapat mengingatnya.
Namun akhirnya Ilana buru-buru memutuskan untuk pergi, bertemu dengan pria brengsek itu tentu bukan menjadi agendanya. Sebaiknya ia menyingkir sebelum kehadirannya disadari oleh Saddam.
****
"Lah gimana sih lo Ran?"
"Ya habis, abang ditungguin dari tadi kagak dateng-dateng. Keburu pergi donk Kak Rara-nya ... " jelas Randy sambil terus memaku pandangan ke layar ponsel.
"Oiya ... Kak Rara nitip ini ... " Randy menyodorkan sebuah bungkusan kotak yang entah apa isinya.
"Apaan ini?"
Randy berdiri dan mengangkat bahu, "gak tau!" lalu berjalan pergi ke dalam rumah.
"Loh, Jal. Dateng kok gak pake salam sih?" Enyak melihat kedatangan putranya langsung menyambut.
"Assalamualaikum, Nyak ... " Rizal mencium tangan Enyak dengan takzim.
"Apaan tuh yang lo bawa?" tanya Enyak sambil menunjuk bungkusan kotak berwarna coklat itu.
"Gak tahu, Nyak. Kata Randy nih dari Aura buat Rizal. Apaan ya isinya kira-kira?"
"Nyak, Rizal mau ke dalam dulu ya? Engap banget, pengen mandi ... " Enyak mengangguk, " udah sholat belum?"
"Udah, Nyak. Di kantor tadi sekalian jamaah ama yang lain," tukas Rizal sambil buru-buru masuk ke kamar. Ia tak sabar ingin membuka bungkusan itu.
Setelah meletakkan tas punggung dan helm, Rizal duduk di pinggiran ranjang sambil membuka bungkusan tersebut. Yang pertama terlihat adalah kotak berwarna putih dengan bagian belakang terdapat siluet buah apel. Tak salah lagi, itu adalah ponsel berharga mahal. Yang bahkan Rizal pun tak berani untuk sekedar memimpikan untuk memilikinya. Setelah selesai merobek semua bagian kertas coklat terlihatlah dengan jelas bingkisan apa yang ada di dalamnya.
"Wahhhh ... iPhone!" teriak Randy yang ternyata dari tadi tengah mengintip.
"Sssshh ... diem kunyuk!" teriak Rizal sambil meletakkan jari ke mulutnya. Bukannya diam, Randy malah masuk ke dalam kamar. "buat Randy aja ya bang?"
"Ngapain sih lo kesini? Keluar sono ... cepetan!" usir Rizal namun Randy bergeming.
"Bang itu keluaran terbaru loh, harganya aja bisa sampek dua puluh jeti!" bisik Randy dengan mata berbinar.
"Diem gak mulut lo?" Rizal melotot.
"Kalo abang gak mau, buat Randy aja lah bang. Randy akan dengan sangat ikhlas menerima ... " Cengengesan, Randy berharap sang Abang akan memberinya ponsel mahal itu.
__ADS_1
"Loh ... loh ... kenapa dibungkus lagi, Bang?" protes Randy.
"Diem kagak lo?!"
"Iye ... iye ... Loh bang mau kemana?" Randy mengikuti langkah Rizal yang tergopoh.
"Balikin barang ini,"
"Ke siapa bang?"
"Ke yang ngasih donk. Siapa lagi?"
"Yaelah bang, lagian napa sih pake acara nolak rejeki segala?!" Randy mencoba halangi langkah Rizal.
"Ini namanya berlebihan, Nyuk! Bukan rejeki. Abang kagak mau nerima pemberian apapun yang sekiranya berlebihan. Kagak baik!"
"Yah, Bang. Sayang banget, itu handphone impian Randy Bang," Rengek Randy.
"Lo mau hape ini?" Rizal hentikan langkah dan mengulurkan benda itu ke arah Randy.
Randy mengangguk mantap, "iyalah, Bang. Mau banget!"
"KERJA!!" semprot Rizal tepat di depan muka Randy. Ia segera mengambil jaket biru yang tergantung di dekat pintu keluar.
"Bang .... " Randy meringik bak anak TK.
"Astagfirullah, Nyukk ... apalagi sih!"
"Mau kemana?" Randy memeluk pintu sambil pasang muka cemberut seolah patah hati karena si Abang menolak menerima hadiah tersebut pun menghibahkan padanya.
"Ke rumah Aura ... lah!"
"Emang abang tahu rumahnya?" Randy berkata dengan nada mengejek.
"Terus emang Abang mau keluar tanpa pake helm?" imbuh Randy. Yang kemudian disadari Rizal kalau tindakannya terlalu terburu-buru. Padahal benar juga ia tak tahu dimana rumah, kontrakan, ataupun kost-an Aura.
Sungguh lucu, kalau Randy tidak segera mengingatkannya pasti ia tak tahu harus menuju ke arah mana.
"Loh ... Jal, kok udah mau pergi lagi?" tanya Enyak ketika melihat anaknya duduk di atas motor.
"Eng—nggak, Nyak. Tadi mau masukin motor aja ... "
__ADS_1
"Yeeee ... Ngeles!!" Randy mencebik lalu segera kabur ke dalam rumah sebelum sang Abang menoyor kepalanya.