Bang Ojek I Love You

Bang Ojek I Love You
Curhatan


__ADS_3

"Sayangkuuuu ... " suara centil Indah menyambut


kedatangan Rizal yang sudah beberapa hari tidak masuk. Melihat tingkah lucu teman seprofesinya itu, Rizal hanya dapat tertawa. Bagaimana tidak, tanpa ragu Indah menari ala-ala cheerleaders bak sedang menyambut kapten basket.


"Mbak Indah ... maaf ya, udah ngerepotin. Makasih lo udah cover tugas-tugas Rizal."


"C—cuma makasih doank, gak ada yang lain gitu?" tanggap Indah sambil menempatkan pipinya di lokasi paling strategis berharap agar Rizal mencium pipinya.


"Ya ... terus apalagi Mbak?" Rizal pura-pura bego.


"Gak ah gak jadi ... Rizal mah kagak peka, padahal nih pipi udah ditonyol-tonyolin juga," jawab Indah cemberut.


"Alhamdulillah .... " Pak Opram yang baru saja datang ikut menyambut Rizal dengan hangat.


"Gimana? Udah siap nih kerja lagi?" tanyanya sambil duduk di meja pantry, tangannya sibuk mengaduk secangkir kopi di depannya.


"Alhamdulillah, Pak. Lebih dari siap!" Rizal mengambil kursi dan duduk di hadapan pria paruh baya, yang terkenal relijius itu.


"Oh ya ... Pak, makasih ya buat kiriman buah tempo hari. Jadi gak enak saya ngerepotin teman-teman Ob." Rizal garuk-garuk tengkuknya yang tiba-tiba gatal.


"Repot?! Ya nggaklah, Zal. Kita adalah satu keluarga, sudah sepatutnya kalau ada yang sakit ataupun naudzubilah, sampai ada yang tertimpa musibah. Sudah sewajarnya saling membantu." Pak Opram menjelaskan sembari sesekali menyesap kopi hitamnya.


"Ya saya gak enak aja, Pak. Masa sampe dua kali dibawain oleh-oleh sama teman-teman ... "


"DUA KALI!!!" Indah yang menguping pembicaraan pun ikut teriak serentak dengan Pak Opram yang memasang wajah bingung.


"Perasaan hanya sekali, kita titipin sama Pak Handoko ... " Indah yang sedang ngemil gorengan menimpali.


"Ah ... masa sih? Terus yang titip buah ke Mbak Ilana kemarin lusa itu siapa?" Rizal bertanya entah pada siapa.


"Hahh?! Mbak Ilana?" Indah memekik hingga membuat Pak Opram hampir menelan sendok yang ia gunakan untuk makan.


"Indah! Gak usah teriak-teriak, kenapa sih? Kalau sendok ini ketelen, kamu mau tanggung jawab?!" amuk Pak Opram, "hehehe, m—maaf, Pak. Indah so sorry, Pak. Jangan marah atuh, ntar gantengnya ilang ... " salah tingkah Indah mengelus pundak Pak Opram.


"Zal, kita-kita cuma nitip buah sama sedikit uang ke Pak Handoko loh. Bahkan kita aja gak tahu kalau Mbak Ilana jengukin kamu ...."


"Ya, Pak, ya?" Indah menyenggol lengan Pak Opram agar mengiyakan. Kemudian ditanggapi anggukan mantap oleh Pal Opram.


Rizal diam sejenak, otaknya berpikir banyak hal tentang kenapa perempuan jutek itu menjenguknya. Aneh. Tapi pantas juga sih, bagaimanapun ia pernah ditolong oleh Rizal. Mungkin hanya tanda balas jasa untuk semua kebaikan yang sudah Enyak dan Rizal lakukan untuknya.


"Darurat ... darurat!!" teriak seseorang sambil menggedor pintu pantry.

__ADS_1


Ketiga orang di dalam pantry pun langsung berlari dan buru-buru membuka pintu. Didapatinya Mas Agus, sang security.


"Darurat kenapa Mas Agus?" tanya Pak Opram tak kalah panik.


"A—ada, y—yang mau bunuh diri!"


"Hah? Seriusan?"


"S—siapa Pak?" Rizal ganti bertanya.


"M—mbak cantik, yang suka ngasih makanan itu loh."


"Siapa, Mas?" Indah tak mengerti dengan penjelasan Mas Agus.


"M—mbak Ilana!" keder, suara Mas Agus menyebutkan nama keramat itu.


Tak menunggu detik berganti, Rizal melompat dan berlari menuju rooftop. Entah kenapa pikirannya langsung tertuju pada rooftop meskipun Mas Agus tak menyebutkan dimana tempatnya.


Tiga orang yang ia tinggalkan di pantry saling lempar pandang tak mengerti. Lalu dengan menunggu aba-aba Pak Opram, mereka mengikuti langkah Rizal meskipun jauh tertinggal di belakang.


Tak ada lift untuk menuju rooftop, hanya tangga darurat. Dengan sekuat tenaga, Rizal berlari menuju tempat tertinggi di gedung tersebut.


Sudah ada beberapa orang lain di depan pintu rooftop, kurang lebih enam orang. Tiga perempuan, dua laki-laki. Dan ... seorang laki-laki berperangai perempuan yang sangat diyakini sebagai admin Cangkem Ombo—sang penyebar hossyip.


Rizal melewati orang-orang yang memenuhi depan pintu rooftop tanpa permisi. Ia khawatir ... khawatir? Pada siapa? Ilana? Perempuan aneh bin galak yang sudah membuatnya kehilangan pekerjaaan sebagai mitra Yojek? Apakah wajar mengkhawatirkan dan peduli kepada orang asing? Asing? Kata itu sepertinya tak tepat. Dalam hati Rizal selalu ada panggilan kalau sebenarnya mereka sudah bertemu jauh sebelum ini.


Mata Rizal hampir lepas ketika melihat Ilana yang menenteng sepatu high heels-nya berjalan-jalan di pinggiran tembok pembatas rooftop dengan santai seperti orang mabuk.


"Mbak!!" Panggil Rizal seolah memanggil pembantu.


"Elo, ngapain kesini?" Ilana tersenyum seolah tidak ada apa-apa. Seolah semuanya baik-baik saja.


"Kalau mau mati, kagak usah ngerepotin orang lain deh!" ujar Rizal sambil melihat ke arah Ilana yang menjawabnya dengan acungan jari tengah.


"Rese' lo!" Ilana menjawabnya seperti orang mabuk.


"Jadi gini Mbak, kalau Mbak bunuh diri disini. Lompat ... terus jatoh tuh ke bawah. Terus berceceran kemana-mana, itu sangat merepotkan kami, Mbak! Sebagai Ob yang merangkap petugas kebersihan, saya menolak keras tindakan Mbak. Soal bunuh diri mah urusan Mbak. Tapi jangan nyusahin orang lah ... dah gitu aja." Jelas Rizal panjang lebar, yang tentu saja membuat Ilana kesal.


Ilana melompat balik dan langsung menangkap Rizal yang sebenarnya sedang pura-pura akan pergi. Rizal sengaja menggunakan trik itu agar Ilana mengurungkan niatnya untuk bunuh diri.


"Songong banget lo!" Ilana menarik rambut pendek Rizal dengan gemas.

__ADS_1


"Aduh ... duh ... duh ... lepasin!" Rizal mengaduh kesakitan.


"Geblek! Emangnya siapa juga yang mau bunuh diri!"


"Pusing cyinnnnn ... " tiba-tiba saja Saipul langsung menghambur ke arah mereka.


"O. M. G. ... ternyata cuma mau caper ama OB baru yah?? We-o-we ... wow banget, turun ye cyin standart-nya. Dari anak direktur ke anak manager ehh ... sekarang jadi office boy cyinnn ... hahahhaha ...." Dengan mulut pedasnya saipul nyerocos tanpa titik koma. Sesaat Ilana ingin sekali menampar mulutnya namun tangannya dijegal oleh Rizal.


"Udah biarin aja,"


"Huuuuuuuuu .... " teriak orang-orang yang dari tadi hanya sibuk memandangi tanpa berusaha melakukan apapun.


"Jadi, kenapa lo tadi ikut-ikutan kesini?" Ilana mencegah Rizal yang sebenarnya ingin pergi dari tempat itu.


"Ohh ... Pak Agus security tadi yang ngasih tahu,"


"Emangnya dia bilang gue mau bunuh diri?" Ilana mengerutkan kening seperti tak mengerti apa-apa.


"Orang waras mana sih yang berdiri di tembok pembatas rooftop, kalau bukan mau bunuh diri? Kecuali kalau Mbak masuk ke dalam golongan orang sakit jiwa!" Timpal Rizal yang membuat Ilana berang dan menariknya ke arah pinggir tembok rooftop.


"Mbak lepasin, duh ngapain lagi sih!"


"Lo liat gak itu apa?" Ilana menunjuk sesuatu yang berada di atas tembok bagian luar. Rooftop terdiri dari dua lapis tembok, luar dan dalam.


"Kucing?" tanya Rizal yang tak memerlukan jawaban.


"J—jadi ... "


"Gue sebenarnya mau nolongin kucing yang kejebak itu. Berhubung tadi si Saipul lewat, gue punya ide buat ngerjain dia. Eh dasar mulut lebar, malah dia manggil semua orang, pake bilang kalau gue mau bunuh diri," jelas Ilana. Keduanya menumpukan tangan di atas tembok sambil memperhatikan si kucing berbulu putih, sedang kebingungan mencari jalan keluar.


"Bukannya, Pak Saipul itu suka banget ya ngomong yang gak enak ke Mbak?" tukas Rizal.


Ilana mengangguk. Kemudian matanya menerawang pandangi langit siang yang agak muram. Dipenuhi awan putih keabu-abuan.


"Gue udah kebal ... " gumam Ilana lirih.


Rizal menoleh, mata tajamnya perhatikan lengkungan garis wajah perempuan cantik di sampingnya. " Kebal? Dari apa ? " tanyanya.


"Dari nyinyiran, fitnah, dan, gunjingan orang-orang di kantor ..."


Rizal tersenyum kecut mendengar pengakuan Ilana.  Meskipun ia dapat melihat lurus ke dalam jiwa Ilana yang sebenarnya sedang menanggung luka menganga, ia lebih memilih diam dan tak mengucapkan apapun. Terkadang seseorang hanya ingin didengarkan keluh kesahnya tanpa ingin dikomentari apapun.

__ADS_1


__ADS_2