Bang Ojek I Love You

Bang Ojek I Love You
Tolak (masuk) Angin


__ADS_3

"Loh tadi kan,  Mbak udah ngusir saya?" Rizal mencoba memberi pelajaran Ilana yang terus pegangi lengannya. Ketakutan tergambar jelas di wajah ayunya. Usia Ilana memang sudah dua puluh delapan, tapi wajah imut yang dimilikinya membuat siapapun tak akan bisa menebak umurnya dengan tepat.


"S—sorry, sebenarnya aku cuma kesel aja sama keadaan. Kejadian di parkiran tadi benar-bener bikin aku down. Anyway, thanks ya? Tadi kamu udah mau nolongin," nada bicara Ilana melemah. Tangannya pun ia lepaskan dari lengan Rizal.


"Tapi, kalau kamu gak mau nolongin lagi yaudah gak apa-apa. Go ahead, kamu boleh pergi ... " Mundur beberapa langkah dan kembali ke tempat dimana mobilnya terparkir.


'Gak tega juga ninggalin nih cewek disini' batin Rizal sambil memandangi Ilana yang terlihat putus asa. Rizal memutuskan untuk tidak jadi pergi, ia lalu berjalan ke tempat Ilana sedang duduk.


"Kalau gitu kamu ikut aku dulu buat cari bantuan, mobilnya dikunciin dulu semua."


"Memangnya disini aman?" Ilana mengerutkan dahi.


"Aman, tenang aja. Lagian kita gak lama kok perginya, di kampungku ada bengkel. Ntar abang bengkelnya kuajak kesini," jelas Rizal.


Ilana berpikir sejenak, sebelum akhirnya memutuskan untuk setuju dengan solusi yang Rizal berikan. Terlebih dahulu ia mengunci semua pintu dan jendela, lalu segera mengambil tempat di jok belakang Rizal.


Rizal membonceng Ilana menuju kampungnya yang berjarak sekitar satu kilometeran dari jembatan. Dari kaca spion matanya perhatikan Ilana yang terus menggosok lengannya berkali-kali, tampaknya perempuan itu kedinginan. Rizal merasa tak enak, hingga akhirnya ia hentikan motornya di pinggir jalan kemudian ia berikan jaket yang melekat di tubuhnya untuk dipakai Ilana.


"Nih, pakai." Tanpa basa-basi Rizal menyerahkan jaket hitam itu.


"Buat aku?" tanya Ilana sambil menunjuk dirinya.


"Pinjem doank, ntar kalau udah balikin," ketus Rizal, yang hanya dibalas dengan gerakan mulut monyong oleh Ilana.


Meski perasaannya dongkol, Ilana akhirnya mau memakai jaket itu. Itung-itung daripada masuk angin kan gak asyik. Rizal kembali memutar gas dan melaju kencang menuju sebuah rumah di selatan pertigaan, rumahnya Kang Iman Bengkel. Rumah berukuran sedang dengan sebuah teras luas yang temboknya menghitam karena muncratan oli itu terlihat lengang.


"Ini ya bengkelnya?"


"Iya—"


Langit yang tadinya hanya mendung tiba-tiba menumpahkan air hujan tanpa permisi.


Refleks, tangan Rizal langsung menarik Ilana untuk berlindung di teras Kang Iman yang tak lain difungsikan untuk jadi bengkel.

__ADS_1


"Gimana sih? Udah tahu hujan bukannya cepet berteduh, malah ngedongakin kepala ke atas," protes Rizal tanpa menoleh kepada Ilana yang sebenarnya sedang menahan tangis.


"Mbak, kalau ada apa-apa sama Mbak, saya gak mau disalahin. Jadi jangan aneh-aneh deh."


"Sorry," suara parau Ilana menjawab terbata.


Rizal tak berusaha mencari tahu kenapa suara Ilana berubah parau. Ia langsung pergi begitu saja menuju pintu rumah Kang Iman.


"Assalamu alaikum, Kang Iman."


Pada ketukan ketiga terdengar suara sahutan dari dalam, tak berapa lama seorang pria berusia sekitar empat puluhan membukakan pintu.


"Loh Rizal? Kenape Zal malem-malem kesini? Motor lo mogok lagi?"


"Lah kagak Kang, motor baru masak mogok. Kan yang lama udah dijual," Rizal berbasa-basi.


"Siapa tuh?" Kang Iman menunjuk Ilana dengan gerakan kepalanya.


"Mbak, kesini. Ngomong langsung sama Akang bengkelnya," panggil Rizal. Ilana menoleh, kemudian berjalan ke arah dua orang itu sedang bercakap-cakap. Setelah memperkenalkan diri dan menjelaskan apa yang terjadi, Kang Iman tentu saja mau dan bisa mengatasi permasalahan mobil Ilana.


"Tapi, Neng ... hmmm hujan gede gini. Gimana kalau  nunggu hujan redaan dikit?" Kang Iman meminta persetujuan Ilana.


"Ya mau gimana lagi, Kang. Yasudah kalau gitu, tapi saya boleh gak numpang ke kamar mandi?"


"Boleh, Neng. Tentu aja, itu ada istri saya di dalam."


Kang Iman kemudian mengantar Ilana ke dalam, dan menyuruh istrinya untuk menunjukkan kamar mandi kepada Ilana. Namun, tak berselang lama istri Kang Iman keluar rumah dengan tergopoh-gopoh, terlihat panik.


"Anu, itu Zal. Temen kamu, dia muntah-muntah. Pucet banget lagi, jangan-jangan masuk angin yak?" Istri Kang Iman langsung berteriak tanpa memperhatikan kalau ternyata Enyak Rizal juga sudah bergabung di teras.


"Waduh," Rizal menepuk dahi dan segera beranjak untuk mengecek keadaan Ilana.


"Biar, Enyak aje!" Tangan Enyak menahan Rizal, tanpa perlu perintah kedua Rizal langsung kembali duduk lalu membiarkan si Enyak masuk ke dalam bersama Ilana.

__ADS_1


****


"Waduh, badannya keringet dingin gini. Pasti masuk angin nih," ujar Enyak setelah memeriksa kepala dan tengkuk Ilana.


"Kamu belum makan, Neng?" tanya Enyak pada Ilana yang sekarang sedang tergeletak di kursi panjang depan TV.


"Royana, bikinin teh anget ya? Lo punya minyak kayu putih kagak?"


"Teh anget punya, Mpok. Tapi kalau minyak angin abis, adanya minyak goreng ... " Royana istri Kang Iman menjawab asal.


"Emangnye gue mau goreng ikan asin? Pake nawarin minyak goreng," protes Enyak.


Ilana sebenarnya ingin tertawa mendengar obrolan aneh dua orang tersebut, namun kepalanya terlalu berat untuk sekedar menyunggingkan senyum.


"Neng rebahan dulu, ya? Biar Enyak suruh Rizal buat beliin makan ama, ambilin minyak kayu putih?" Enyak mengelus pucuk rambut Ilana lembut, ketulusan hati tergambar jelas pada cara Enyak memperlakukannya. Meskipun dalam hati ia tak mau merepotkan siapapun, nampaknya itu hal yang mustahil untuk dilakukan sekarang. Tubuhnya lemas, perutnya sakit, belum lagi sakit kepala membuatnya semakin tak berdaya.


"Royana, pinjem selimutnya donk. Kasihan si eneng bajunya cepak gini, ntar dia kedinginan."


'Oh ****,' Ilana baru teringat kalau dari tadi ia memakai daster putih pendek yang sebenarnya kurang tepat untuk dipakai keluar rumah. Tadinya ia memang terburu-buru keluar buat beli makan, dan tak menyangka kalau ia akan berakhir di tempat ini.


****


Berselang lima belas menitan, Enyak sudah kembali dengan sebungkus mie goreng pedes dan minyak kayu putih.


"Oh iya Neng, saya lupa belum ngenalin diri ya? Tadi main nyelonong aja,"


"Gak apa-apa, Buk. Justru saya yang gak enak Buk, karena udah ngerepotin." Ilana mulai merasa baikan.


"Neng, ini makanannya dimakan dulu ya. Kalau gak habis ya gak apa-apa. Yang penting perutnya diisi dulu dikit banyak, terus ini minyak kayu putih sama tadi ma Rizal dibeliin tolak masuk angin. Diminum ya, Neng. Biar cepet baikan,"


Untuk sesaat Ilana tercengang dengan perhatian Enyak dan Rizal padanya, ada perasaan malu dan bersalah menyelinap ketika melihat kebaikan yang ditunjukkan dua orang itu padanya.


"Nama saya Ilana, Buk. Panggil saja saya Lana," Ilana mengulurkan tangan dan menyalami Enyak. Keduanya saling menatap untuk sesaat. Enyak menyadari sesuatu tersimpan di mata Ilana. Sebuah kerinduan dengan luka menganga yang belum tersembuhkan.

__ADS_1


__ADS_2