Bang Ojek I Love You

Bang Ojek I Love You
PHK


__ADS_3

Ilana berangkat lebih awal pagi ini. Bukan tanpa sebab, karena hari ini, untuk pertama kalinya, Ilana mau tidak mau harus naik komuter line. Dia tak lagi memiliki kendaraan pribadi. Naik transportasi umum, yang tentu saja jika tak ingin terlambat itu berarti ia harus berangkat pagi-pagi sekali.


Suasana kantor masih lengang. Dengan menenteng seporsi bubur ayam dan teh hangat  ia langsung menuju kubikelnya untuk melahap menu sarapan favoritnya. Ya isilah pagimu dengan sarapan bukan harapan yang kosong apalagi palsu. Begitu kata para penyebar semangat di jejaring sosial bernama Facebook.


Belum sempat ia membuka bungkus bubur ayam, matanya langsung curiga terhadap sebuah amplop putih yang diletakkan di atas keyboard-nya.


'HRD?' batin Ilana dengan kening berkerut.


Perasaan tak enak langsung menyergapnya kala menyentuh amplop tersegel itu. Pelan-pelan ia buka, entah kenapa hatinya berkata kalau ini adalah bukan hal yang terlalu buruk, justru sebaliknya. Ini adalah hal yang baik untuk dirinya.


'Perihal Surat pemberhentian kerja ... '


Ilana menutup kertas itu kembali. Tak lagi menunggu ia langsung mendatangi Pak Andrew Bagaskara, pimpinan divisinya. Langkahnya cepat dan mantap. Ilana tahu harus bersikap apa dan bereaksi bagaimana.


Tok... Tok... Tok...


"Masuk!"


"Selamat pagi, Pak Andrew," sapa Ilana tenang.


"Oh... silakan duduk."


"Terima kasih,"


"Kedatangan kamu kesini pasti karena surat yang kemarin sore dikirimkan HRD pada saya." Tak berbasa-basi, Pak Andrew langsung membuka percakapan tepat sasaran.


"Iya, Pak. Sebenarnya saya tidak ingin menanyakan apapun tentang pemecatan saya, tapi menyembunyikan kebenaran tentu bukanlah karakter dari seorang yang dikenal sebagai pimpinan yang punya integritas tinggi seperti Bapak."


"Lalu?"


"Apakah Bapak tahu siapa dalang  dibalik pemecatan saya yang ... saya rasa sedikit tidak wajar?"


Pak Andrew tampak gusar dengan pertanyaan yang Ilana lontarkan. Berkali-kali Ilana berusaha untuk melakukan kontak mata dengan Pak Andrew, tapi pria berusia tiga puluh sembilan tahun itu selalu menghindar. Seperti seseorang yang sedang berusaha menyembunyikan bau bangkai. Tak nampak tapi insting Ilana dapat menciumnya.


"Maafkan saya Lana. Tapi .... saya tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu kamu." Pak Andrew menunduk sedih. Pemecatan yang dilakukan perusahaan terhadap Ilana begitu tiba-tiba dan tanpa alasan yang jelas.


"Tidak apa-apa, Pak. Saya sangat paham dengan dilema yang Bapak hadapi. Bapak tidak perlu khawatir, saya lebih dari siap untuk menerima keputusan ini." Ilana tersenyum lalu meninggalkan ruangan Pak Andrew.


"Lana ... " panggil Pak Andrew sebelum sempat Ilana memutar kenop pintu.


"Ya, Pak?" Ilana menoleh pada pria berwajah blasteran itu.

__ADS_1


"Kalau kamu butuh bantuan bilang saja sama saya. Jangan sungkan-sungkan ..., saya akan bantu kamu semampu saya."


"Pekerja berkompeten dengan kemampuan baik seperti kamu pasti akan mudah untuk mendapatkan pekerjaan lain ... yang lebih layak." Imbuh Pak Andrew berusaha membesarkan hati Ilana.


"Terima kasih, Pak." Ilana mengangguk pelan. Lalu menutup pintu ruangan Pak Andrew, sebelum air mata yang sedari tadi ia tahan, jatuh bertubi-tubi.


****


'Apakah ini mimpi?' tanyanya dalam hati.


Ia berhenti sejenak di balkon  yang menghadap ke gedung-gedung pencakar langit lainnya. Disanalah ia bertemu, Alvanno. Lelaki yang dulu ia pikir, ia mengenalnya. Tetapi sekarang, berubah menjadi sosok misterius tak tersentuh. Bahkan ia meragukan kematian Alvanno yang dulunya menjadi sumber tangisan malam-malamnya.


'Kenapa setelah dipecat, gue malah merasa lega? Bukankah seharusnya gue marah? Kecewa? Sakit hati?' bertubi pertanyaan yang ia lemparkan untuk hatinya sendiri tak mampu ia jawab.


Pemecatan Ilana tentu saja menjadi hal yang sangat ganjil dan misterius, namun tak satupun petinggi perusahaan berani untuk mengubah keputusan yang berasal dari pusat tersebut.


Alasannya dibuat seolah-olah Ilana adalah karyawan yang buruk dan tydak berkompeten sehingga tidak lulus masa percobaan sebagai wakil pimpinan divisi kerja yang bahkan baru ia jalani dua bulan terakhir.


Sejenak ia pejamkan mata, hirup udara dalam-dalam untuk melegakan perasaan. Meninggalkan tempat penuh kenangan ini tidaklah mudah, bukan soal uang, tetapi memori yang membuatnya tak mudah. Hatinya masih menolak percaya akan apa yang Janice ungkapkan.


Ia bertekad untuk mencari tentang kebenaran itu, apakah itu berarti Ilana harus masuk ke dalam dunia yang Janice katakan. Itu terlalu beresiko, tapi apa yang harus ia lakukan agar tahu kebenaran tentang kematian Alvanno? Saddam tidak lagi menjadi urusannya.


***


Pintu lift terbuka lebar, tanpa ragu lagi ia langkahkan kaki menuju ke pantry. Ia tahu siapa yang ia tuju. Dibukanya pintu, matanya memindai ruangan berukuran empat kali tiga tersebut. Sepi. Tak tampak siapapun disana.


"Mbak Ilana cari siapa?" suara Pak Opram hampir membuat Ilana menjingkat.


"Pak Opram! Bikin kaget aja," protes Ilana.


"Ya habis, dari tadi saya panggilin Mbak Ilana gak denger."


"Masa sih, Pak?"


"Lagi ngelamun apa lagi fokus nyari seseorang nih Mbak?" Cengengesan, Pak Opram menggoda Ilana.


"Yee ... sok tahu deh. Rizal kemana, Pak?"


"Loh bener kan, dugaan saya. Mbak Ilana kesini buat nyariin si Rizal. Ehehehhehe...."


"Ssst ... jangan keras-keras," ujar Ilana sambil menempelkan telunjuk ke bibirnya.

__ADS_1


"Anu Mbak, Rizal lagi pergi, ikut Pak Handoko sama Pak Prayit buat ambil peralatan kantor di gudang yang di jalan Merdeka Mbak. Biasanya juga saya yang diajak, gak tahu kenapa tadi tumben malah Pak Prayit ngajak Rizal. Harusnya sih mereka udah balik, Mbak. Gak tahu kenapa udah jam segini kok belum muncul juga," jelas Pak Opram sambil garuk-garuk kepala.


"Ooh ... yaudah deh kalau gitu. Kira-kira di pantry ada kardus bekas gak Pak? Kalau ada, saya minta dua ya?"


"Ada donk, Mbak. Sebentar biar saya ambilin." Pak Opram kemudian bergegas masuk dan tak lama kemudian membawa dua kardus berwarna coklat.


"Ngomong-ngomong buat apa sih Mbak kardusnya? Kalau saya boleh tahu," tanya Pak Opram kepo.


"Buat ngemasin barang-barang saya, Pak." jawab Ilana singkat.


"Berkemas? Lha memangnya Mbak Ilana mau kemana toh?"


"Ohh ... hari ini kebetulan hari terakhir saya kerja disini, Pak."


"Loh ... lohh kok bisa?!" seru Pak Opram dengan mata melebar.


"Hmmm ... udah dulu ya, Pak. Saya mau beberes, makasih buat kardusnya Pak." Enggan membahasnya lebih jauh, Ilana memilih segera pergi dari pantry.


****


"Kita perlu party nih!" teriakan Saipul menggema saat Ilana memasuki ruangan besar yang dipenuhi puluhan kubikel itu.


"Hah?! Party?" para pengikut saipul menimpali. Mereka bergerombol dengan sengaja seolah menunjukkan kalau mereka sedang berbahagia karena hengkangnya Ilana dari perusahaan. Sehingga patut untuk mereka rayakan.


"Ya iyalah, party! Buat buang sial, sebelum party kita wajib tumpengan sama bikin nasi kuning cyinn ... " Saipul dengan mulut lemesnya menambah kegaduhan yang disambut sorai empat pengikutnya.


Ilana tak mau menggubris mereka, dan lewati begitu saja seolah mereka adalah makhluk tak kasat mata.


Hani dan Tesa tak tahu menahu tentang apa yang sedang terjadi langsung mengekor langkah Ilana.


"Lan, ada apaan sih?" Hani yang pertama kali berani bersuara.


Ilana sepertinya tak ingin menjawab hal itu sekarang, " bantuin gue beresin meja donk," pintanya sambil menyodorkan kardus berukuran besar pada Hani.


"Lan, lo gila ya?!" Tesa menimpali sambil merebut kardus dari tangan Hani lalu membuangnya.


"Emang elo. Gila!" Ilana masih bisa menimpali pertanyaan serius Tesa dengan guyonan.


"Jelasin sama kita! Kenapa lo resign dari kantor gak pake bilang sama kita-kita dulu?!" Hani hentikan tangan Ilana yang sudah mulai memasukkan barang-barang di atas meja secara serampangan.


"Gue .... DIPECAT!" jawab Ilana dengan nada sengau.

__ADS_1


__ADS_2