Bang Ojek I Love You

Bang Ojek I Love You
Senja Merah


__ADS_3

Senja sore menggantung manis di ufuk barat. Hiruk pikuk kota mulai terasa detaknya saat kedua kaki Ilana menginjakkan kaki di depan gedung perkantoran. Mau tidak mau ia harus memanfaatkan transportasi umum atau taksi daring untuk pulang. Mobilnya sedang diservis. Entah kenapa Ilana tak langsung memesan taksi melainkan lebih memilih untuk berjalan-jalan sebentar sambil melihat-lihat gelaran warung makanan dan jajanan yang berjejer bak pasar malam.


Ia berhenti di depan sebuah pet shop, teringat kembali akan bagaimana nasib kucing malang yang terjebak di tembok pembatas rooftop tadi. Ia lupa tidak mengecek lagi, karena yang hadir dalam kepalanya malah senyum manis pemuda berseragam OB.


Matanya menangkap bayangan punggung seseorang yang berdiri di depan kasir dalam toko. Seorang laki-laki berjaket hitam menenteng sebuah kandang kecil, dan membeli beberapa bungkus cat foods. Sekejap segala perhatiannya terarah pada sosok itu.


Laki-laki berjaket hitam itu berbalik, dan ternyata benar dia adalah Rizal. OB yang bayangannya baru saja hadir di dalam pikirannya.


Ilana menunggu pemuda itu keluar dari pet shop.


"Rizal?"


"Loh ... Mbak Ilana, kebetulan nih ... " ujar Rizal sambil menodongkan kandang itu padanya.


"Apa ini?"


"Kucing ... yang tadi kejebak di tembok rooftop,"


Kedua mata indah Ilana berbinar dengarkan penjelasan pemuda di depannya, "serius?" Ilana mengulurkan tangan menyambut kandang kecil itu. Ia berjongkok lalu membuka pintu kandang.


Seekor hewan berbulu putih halus mengeong dan segera mendaratkan diri di atas pangkuan Ilana.


Mengeong penuh manja, kucing itu sepertinya mengenal Ilana dengan baik.


"Lucu kan?" ujar Ilana sambil mengelus bulu-bulu lembut kucing itu. Rizal membalas dengan anggukan sambil tersenyum.


"Mau kasih nama siapa nih, anak kita?" celetuk Ilana yang kontan membuat Rizal melotot hampir tersedak ludah sendiri.


"M—maksudku ... anak bulu ... gak pake kita,"


'Duh Ilana ... mulutmu yah? Kenapa blong gini sih remnya!' makinya dalam hati.


"Ohh ... maksudnya si meong ya? Hmmm ... "


"Kamu lagi buru-buru gak?" tanya Ilana tiba-tiba.


"Gak juga, Mbak."


"Jangan panggil Mbak donk, kalau diluar jam kerja gini panggil Lana aja ... " sambut Ilana ramah sambil mengulurkan tangan. Rizal membalas uluran Ilana sembari mengulas senyum hangat.


"Kalau gitu ... buat merayakan penyelamatan anabul kita—"


"Itu saya selamatkan buat kamu, soalnya saya gak terlalu suka kucing. Enyak alergi sama bulunya." Jelas Rizal.


"Oooo ... wah sayang banget ya. J—jadi kenapa kamu malah beli kandang sama makanan kucing kalau kamu gak bisa bawa pulang kucingnya?"


"Kan buat Mbak, eh ... maksud saya buat kamu."


"Baru kali ini ada cowok baik kayak kamu, Zal ... " Ilana mencubit pipi Rizal gemas, kemudian memasukkan si kucing kembali ke dalam kandang. Ia menenteng kandang dan membawanya berjalan menuju suatu tempat.

__ADS_1


"Mau kemana, Lan?" Rizal mengikuti langkah Ilana.


"Loh bukannya kamu gak lagi buru-buru?"


"Emang iya," Rizal menyusul langkah ringan Ilana. Entahlah hatinya merasa hangat ketika bersanding dengan laki-laki yang jelas-jelas lebih muda darinya itu.


"Kalau gitu, yuk ... I want to show you something!" Ilana menjawab dengan mantap menuju sebuah tempat yang kala malam dipenuhi cahaya lampu kota.


Ia menuju sebuah kafe yang letaknya memang lebih tinggi dari tempat sekitarnya. Kafe berukuran kecil yang dinamai Bukit Cahaya Bintang.


"Kamu udah pernah kesini belum?" Ilana bertanya pada Rizal. Ia menjawab dengan gelengan.


"Rugi banget,"


"Kok gitu?" Rizal mengerutkan dahi.


"Sebentar lagi, kalau langit udah benar-benar gelap, kamu akan lihat sesuatu yang menakjubkan ... " jelas Ilana sambil menyeruput cappuccino-nya.


Keduanya sejenak terdiam sambil pandangi hamparan pemandangan Kota yang terlihat berkelip. Rizal sibuk dengan pikirannya pun Ilana.


Hening.


Sepuluh menit berlalu tanpa kata, hingga langit sudah sepenuhnya gelap dan hanya meninggalkan beberapa titik kemerahan yang semakin lama semakin memudar.


Perlahan, kegelapan membuat kerlipan cahaya lampu kota tampak seperti susunan galaksi. Mata Rizal terbelalak takjub menyaksikan sesuatu yang ia kira tak bisa ditemukan di Kota metropolitan yang sibuk dan penuh polusi ini.


"Gimana?"


"Minum gih kopinya, keburu dingin ... " ucap Ilana.


"Anyway, makasih banget ya Zal. Kamu udah banyak membantuku akhir-akhir ini ... "


"Ah nggak juga, saya hanya melakukan kewajiban seorang manusia terhadap manusia lainnya,"


Ilana menoleh ke arah pemuda itu. Pemuda yang berasal dari keluarga sederhana namun mempunyai prinsip luar biasa yang tak dimiliki banyak orang. Apalagi di jaman seperti ini. Ketika semuanya diukur dengan uang.


"Saya juga mau ngucapin makasih ... "


"Makasih lho udah mau repot-repot jenguk dan bawain buah-buahan ke rumah sakit tempo hari—"


Uhukkk ... uhuukkk .... uhuukkk ...


Ilana tersedak cappuccino-nya ketika mendengar apa yang diucapkan Rizal.


"Kamu gak apa-apa?" Rizal dengan sigap mengambil selembar tissu dan menyodorkan pada Ilana.


"M—makasih ... " ucap Ilana sambil melihat ke arah lain karena tak ingin Rizal memperhatikan wajahnya yang berubah menjadi seperti kepiting rebus.


'Mati gue! Kalau dia tahu tuh buah gue yang beliin! Duh Ilana!!!' teriaknya dalam hati sambil berusaha memasang wajah lempeng agar tak ketahuan kalau hatinya saat ini sedang dag dig dug antara malu dan penasaran dengan reaksi Rizal selanjutnya.

__ADS_1


Dering ponsel membuyarkan semuanya ...


Rizal tergopoh mengangkatnya,


"Halo ... "


"Bang kok gak pulang-pulang sih,"


"Kenape Ran?"


"Kak Rara udah nungguin lo dari jam lima!"


Rizal melompat dari kursinya setelah mendengar ucapan Randy, "maaf, ya? Saya harus pulang sekarang, udah ditungguin ... " pamitnya sebelum pergi, tangannya sibuk memasukkan ponsel ke dalam tas punggung. Terburu-buru ia memakai kembali jaket yang digantungkan di sandaran kursi.


Ilana tak sempat berkata 'ya', pemuda itu sudah tak lagi terlihat. Hanya bayangan punggungnya perlahan hilang ditelan undakan anak tangga yang menurun.


'Pasti pacarnya yang nungguin, sampai segitu paniknya ... ' batin Ilana mendengus sebal.


Kembali ia menyesap cappuccino-nya dengan kasar. Ada rasa kesal yang ia pun tak mengerti. Ia tak dapat jelaskan. Kenapa ia merasakan sesuatu yang tak seharusnya ia rasakan terhadap seseorang yang baru saja dikenalnya.


Meong ... meong ...


Kucing kecil di dalam kandang mengeong, mungkin ia kelaparan. Sehingga Ilana putuskan untuk memesan taksi daring dan langsung pulang ke kost. Tubuhnya lelah, pikirannya pun penat.


Sambil menunggu taksi ia sempatkan diri untuk membuka akun Instagram yang sudah lama tak ia sentuh. Kebetulan tadi siang ia baru saja mengunduhnya kembali. Namun, ia belum sempat login.


Instagram's feed memutar sesaat setelah ia login, menanti pembaharuan. Sesaat ia tak melihat keanehan apapun, sampai netranya menubruk sebuah postingan berisi ucapan belasungkawa yang ditujukan untuk sebuah akun dengan username @janicecann93. Untuk sesaat ia masih belum tanggap dengan apa yang terjadi.


Ilana kemudian menggeser layar ponselnya, ia menemukan beberapa postingan serupa dari unggahan teman-teman SMA-nya.


"Death takes the body.


  God takes the soul.


  my mind holds the memories.


  my hearts keep the love.


  my faith let us know we'll meet again.


  Not a goodbye, but welcome to the new life my best friend @janicecann93. May God take your soul to the best place. Love you ... "


Seperti gelegar petir rangkaian ungkapan kata itu membuat Ilana hampir melemparkan ponselnya. Ia tak percaya dengan apa yang dibacanya. Ini sangat tidak mungkin, Janice dan dirinya baru saja bertemu dua hari lalu. Teman semasa SMA-nya itu terlihat sehat dan baik-baik saja. Seluruh tubuh Ilana terasa bergetar, ada rasa takut menyeruak ketika ia ingat akan percakapan tempo hari.


Ia kemudian memanggil seorang waiter, dan memesan teh camomile hangat. Yang katanya bisa menenangkan. Sembari menunggu pesanannya datang, ia kemudian teringat grup WhatsApp alumni SMA yang selalu ia setel senyap. Sehingga tak ada satu pun notifikasi masuk meskipun ribuan pesan membanjiri grup.


"Innalillahi wa Inna illahi rojiun ... "gumam Ilana lirih dengan suara sedikit parau ketika ia lihat grup sudah dipenuhi berbagai ucapan bela sungkawa.


Tangannya berhenti menggeser layar ketika matanya menangkap sebuah pesan dari salah satu anggota grup bernama Chika, salah satu orang terdekat Janice. Kebetulan mereka masih sepupuan.

__ADS_1


"Dia adalah sahabat, saudara, kakak bagi saya. Janice Evandria sangat berarti untuk Kami sekeluarga. Kepergiannya yang tiba-tiba membuat semuanya sangat terpukul. Bagi teman-teman yang ingin melakukan penghormatan terakhir, ditunggu kehadirannya di rumah duka Ibu Magdalena Safara, jln. Bridgen Katamso no.5. Jenazah akan dikebumikan pada hari minggu, 6 Februari. Pukul 10 pagi."


__ADS_2