Bang Ojek I Love You

Bang Ojek I Love You
Pagi yang Sial


__ADS_3

"Lo gak kerja, Jal?" Enyak menatap wajah lesu sang putra sambil menaruh segelas teh hangat di meja.


"Eh ... Enyak ... " Rizal gelagapan karena ia tak tahu harus menjawab apa.


"Lo kagak kerja?" Si Enyak bertanya lagi.


"Lo sakit?" Enyak mendekat dan menempelkan punggung tangannya di dahi Rizal.


"Kagak, Nyak ... " Rizal menunduk.


"Jal, lo kalo ade ape-ape cerita donk. Jangan lo pendem sendiri, jangan kayak Babe lo. Enyak siap dengerin ape aje yang mau Lo curhatin. Mending curhat ke Enyak, Jal, daripade lo curhat kagak jelas di pesbuk."


"Yaelah, Nyak. Rizal mah kagak pernah curhat-curhat begonoan di Facebook," tanggap Rizal manyun.


"Lo lagi ada masalah ye, di kerjaan lo?"


"Bentar-bentar, Nyak ... " Rizal merogoh ponsel di sakunya yang tiba-tiba saja bergetar-getar.


Nama 'KACUNG' terpampang jelas di layar ponselnya.


"Halo, Cung?"


"Zal, besok pagi gue ama ipar gue ke rumah lo ya? Lo siap-siap, pake baju yang sopan, atasan harus kemeja putih, bawahannya celana jeans boleh asal bukan yang pensil kek punyanya babang tangvam!" Andri terus menerocos tanpa titik koma..


"J—jadi gue keterima nih?"


"Iye lah, ngucap ape dulu, Zal? Alhamdu .... "


"Lillah .... " sambung Rizal.


"Makasih ya, Cung. Gue mau kabarin Enyak gue dulu nih,"


"Iye, Zal. Sama-sama, eh ... tapi jangan lupa Lo same gue kalau udah jadi orang kantoran,"


"Iye, iye," Setelah saling mengucapkan salam Rizal menutup sambungan teleponnya.


****


"Ilana, kamu mau kemana?"


"Bukan urusan Mama!!"


"Kamu mau melarikan diri dari semua tanggung jawab kamu sama Mama ya?!"

__ADS_1


"Inget, Lana, kamu masih harus gantiin dana buat pernikahan gagal kamu kemarin!" Sasti—mama Ilana, terus saja mengekori langkah sang putri yang sedang memasukkan koper ke dalam bagasi mobilnya.


"Lana!" teriak Sasti lantang, sambil menarik paksa tangan Ilana hingga tas kecil yang ia bawa terjatuh.


"Kamu mau kemana?"


"NERAKA!!" jawab Ilana sambil membelalakkan mata.


"Jaga ucapan kamu, Lana!"


"Tenang aja, Ma. Lana udah asuransiin jiwa Lana sepuluh milyar, kalau Lana mati kan Mama enak tinggal nerima uang polisnya!"


PLAK!


Satu tamparan keras mendarat di pipi Ilana. Disusul dengan sebutir air yang menetes dari sudut mata. Ilana menatap nanar pada wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan muda itu, keduanya terdiam. Sesaat kemudian Ilana berbalik, melangkahkan kaki menuju mobil dan bersiap melajukan roda empatnya.


"Lana ... buka!!" Sasti mengetuk jendela kaca. mobil Ilana, namun sang putri tak sedikitpun mau melirik ke arahnya. Perlahan namun pasti Ilana tetap memacu mobilnya, meninggalkan halaman rumah besar itu. Rumah yang sudah ikut kehilangan nyawanya sejak kematian sang Papa.


****


Pikiran Ilana kacau, padahal hari ini dia harus mendampingi manager divisinya untuk melakukan rapat dengan orang pusat dan klien baru. Dari kaca spion tengah ia melihat pantulan wajah pucatnya yang nyaris tanpa pulasan make up. Bisa kena semprot Pak Abdel dia kalau berpenampilan seperti ini saat menghadiri rapat.


Sial! Umpatnya dalam hati, lalu ia menepikan mobil, bermaksud ingin melakukan make over kilat, agar penampilannya tak seacak-acakan miss Kunti ...


Tok tok tok tok tok


Tok tok tok tok tok


Seorang pria berpenampilan layaknya orang gila mengetuki jendela mobilnya berkali-kali sambil menyeringai.


"Buka atuh neng cantik, buka atuh, aa' mau masuk ... "


"PERGI!!" teriak Ilana kencang, tapi si pria gila tampaknya pantang menyerah. Ia terus mengetuki kaca depan sambil mengulas senyum ngeri yang menampakkan deretan gigi hitamnya.


"Neng lupa ya, sama aa'?" Kali ini si orang gila menambah aksinya dengan mencoba membuka pintu. Menariknya kuat-kuat, yang tentu saja membuat jantung Ilana hampir melompat lepas dari tempatnya.


"Neng ... aa' tuh cinta sama neng, aa' will do anything for neng!"


"Hah!!" Ilana membeliak kaget, ini orang gila belajar English dari mana?


"I love you, neng."


Ilana menggebrak kaca jendela dan berteriak kencang mengusir si pria tak waras, tapi nihil semakin Ilana berteriak, si orang gila tampak semakin kegirangan.

__ADS_1


Aksi yang selanjutnya dilakukan pria gila tersebut membuat Ilana berteriak histeris. Si pria gila itu mulai memelorotkan celana hendak menunjukkan bagian vitalnya pada Ilana yang sontak menutupi kedua wajahnya dengan tangan.


"Aaaaaa .... " si pria gila mengerang kesakitan.


Ilana yang penasaran dengan apa yang terjadi, akhirnya membuka mata dan menurunkan tangan dari wajahnya perlahan.


Tak terlihat orang gila di depannya lagi, selain seorang pemuda berjaket dan berhelm hitam. Wajah sang pemuda tak terlihat jelas karena ia kenakan masker, hanya mata tajam serupa tanah yang menatap padanya.


"Dari matanya kelihatan ganteng!" batin Ilana tercengang.


Si pemuda mengetuki kaca jendela Ilana, sambil bilang, "Mbak gak apa-apa kan?" yang langsung diangguki mantap oleh Ilana. Namun Ilana tak berani menurunkan jendelanya.


Hanya dalam hitungan detik sang hero sudah pergi, membuat Ilana kelabakan karena tak sempat mengucapkan terima kasih.


Namun, untung saja Ilana sempat melihat nomor plat motor dan jenis motor yang dipakai sang hero.


"Kayak gak asing?" gumam Ilana dalam hati.


Tring!!!!


Ponselnya berdering keras, nama Pak Abdel terpampang jelas di layarnya. Ilana menepuki dahinya berkali-kali karena frustasi. Sudah pasti omelan yang akan didengarnya kali ini.


"I—iya, Pak?"


"Iya, iya, ini jam berapa?! Kamu harusnya sudah sampai Lana!!" teriakan Pak Abdel tak terhindarkan.


Ilana langsung melajukan mobilnya menuju kantor dengan kencang, tak peduli wajah pucatnya yang tanpa make up.


Entah kenapa sepanjang perjalanan, pikirannya terus tertuju pada kegagalan pernikahan dengan Saddam. Tuhan ternyata memang maha adil, bayangkan saja kalau ia baru tahu kebenaran itu setelah menikah. Apa tidak akan menjadi sinetron swara hati seorang istri jilid dua. Hubungan sempurna yang ia kira baik-baik saja ternyata hancur dalam sekedip mata.


Hatinya masih terasa dihantami godam ketika melihat tempat-tempat yang biasa dia kunjungi bersama Saddam. Setiap momen terekam jelas, setiap kata tertulis dalam, bahkan tangis dan bahagianya dulu selalu ia bagi dengan Saddam.


Kadang ia berpikir bahwa yang terjadi adalah salahnya. Ia yang terlalu menggebu mengajak Saddam untuk menikah karena alasan konyol, melarikan diri dari namanya yang toxic dan matre. Kepergian Papanya menyisakan luka dalam bagi Ilana. Ia bahkan kesulitan untuk memaafkan siapapun karena dia pun tak mampu memaafkan dirinya sendiri.


Seringkali ia menyangkal bahwa kepergian sang Papa adalah mutlak kehendak Tuhan. Kalau saja malam itu ia tidak melakukan kesalahan, mungkin Papanya masih ada bersamanya sekarang. Mungkin, mungkin ....


Tak terasa pipinya basah, sadar kalau jarak kantornya semakin dekat Ilana segera mengambil selembar tisu untuk membersihkan lelehan luka yang mengalir dari matanya.


Ponselnya lagi-lagi berdering,


Pak Abdel.


Ilana mendengus kesal, dan putuskan untuk tidak mengangkat panggilan itu. Toh, ia sudah berada di depan kantor. Tak akan membutuhkan waktu lebih dari sepuluh menit, untuknya sampai ke hadapan Pak Abdel.

__ADS_1


__ADS_2