Bang Ojek I Love You

Bang Ojek I Love You
The Insiden of the Konde


__ADS_3

"Mbak gimana nih helmnya gak muat! kondenya kegedean," protes Rizal ketika calon penumpang itu memintanya untuk membantu mengenakan helm.


"Aduh gimana sih, blesekin aja!" sungut Ilana kesal.


"Blesekin gimana?" lontar Rizal memprotres.


Buset! mintanya main blesek aja, cewe gaje! Lagian napa juga ke mall pake baju adat penganten gini. Padahal bulannya bukan Augustus, masa mau karnavalan.


"Udah-udah gak usah pake helm, cepetan cus aja!" Ilana langsung meloncat ke boncengan motor Rizal yang masih terparkir. Rizal melongo melihat tingkah perempuan itu yang langsung main nemplok di boncengan dengan wajah tanpa dosa. Dalam hati Rizal masih merutuk. 


Dapet customer gini amat yak, bikin gue rasanya pengen nelen helm bulat-bulat sekalian ma orangnya.


"Bisa-bisa kena semprit  kalo gini mbak," sungut Rizal kesal.


"Aduh bawel banget sih, gue boncengin mau?" gerutu Ilana tak sabar.


Nyebelin banget nih cewe, untung cantik. Kalo enggak, udah gue cancel dari tadi.


Rizal menggumam dalam hati.


"Yaudah naik gih," perintah Rizal yang seketika membuat perempuan di belakangnya berbinar.


Karena sang penumpang tak mengenakan helm, Rizal terpaksa mencari jalan tikus untuk mencapai destinasinya.


"Mas kok lewat sini, jangan-jangan mas mau nyulik saya ya," teriak perempuan itu keras-keras, padahal tanpa berteriak pun Rizal dapat mendengarnya dengan jelas.


"Kagak mbak kagak, ya Allah suudzon banget sama saya,"


"Trus kenapa lewat sini mas?"


"Karena helmnya gak muat di kepala mbak," jelas Rizal.


Motor matik Rizal meliuk-liuk mengikuti jalanan sempit yang sedikit terjal. Dia terpaksa menerobos gang kecil padat penduduk yang lebarnya hanya sekitar dua-tiga meter.


Rizal tiba-tiba mengerem motornya mendadak sehingga tubuh Ilana terhempas mengenai punggungnya.


"Mas! Jangan suka ambil-ambil kesempatan ya!" sembur Ilana dengan suara keras.


"Mbak-"


"Saya bisa laporin mas ke polisi ya!" Ilana memotong dan tak memberi kesempatan Rizal untuk menjelaskan.


"Mbak di depan ada orang meninggal, tuh mau diberangkatin." Rizal berusaha tetap bicara sesopan mungkin dengan emosi yang tertahan di kepala. Rizal menunjuk ke depan dimana iring-iringan jenazah sedang menuju ke arah mereka.


"Aaaa ... " Ilana berteriak ketakutan lalu menangkup wajah dengan kedua tangannya.


"Kenapa mbak?"

__ADS_1


"Gue takut," jawab Ilana parau.


"Yaelah kenapa takut mbak, kita semua kan camat mbak, calon mati." timpal Rizal teringat nasehat Enyaknya.


"Bukan itu, ta-tapi orang gila yang ada di iringan paling belakang," terang Ilana sembari menunjuk lelaki lusuh tanpa busana yang berjalan di belakang para pengiring jenazah.


****


"Aduh, jijay itunya terpampang jelas!" pekik Ilana sambil terus bergerak-gerak tak jelas hingga seringkali membuat Rizal hampir kehilangan keseimbangan.


"Udah lewat mbak, tenang dikit bisa gak sih!" balas Rizal berteriak yang sontak membuat mulut Ilana terkunci.


"Mbak dari tadi bawel banget, diboncengin gerak-gerak terus, ini jalanannya sempit mbak, terjal lagi. Kalo mbak gerak-gerak terus gini, trus kita jatoh gimana? siapa yang mau disalahin?" dengus Rizal panjang lebar, tak lagi mampu menahan emosi.


Duh gue kasar banget ya sama cewe.


"Mbak ma-af ya, saya gak bermaksud bentak mbak," sesal Rizal namun tak ada jawaban dari Ilana.


"Mbak, jangan marah ya. M-maaf," ujar Rizal sambil memelankan laju motor, berharap Ilana dapat mendengar dengan jelas permintaan maafnya.


"Saya buru-buru mas! cepetan!" Ilana menyahut dengan ketus dan dingin.


Perasaan bersalah seketika menggelayut di pikiran Rizal.


Duh mampus gue, kalau dia ngasih bintang satu bisa berabe nih.


***


"Ma-maaf ya mbak, jangan  m-marah ya?"


"Terserah saya donk, mau marah mau enggak. Mas tolong donk yang sopan kalo ngomong sama penumpang! Jangan seenaknya gitu!" sungut Ilana, yang sontak membuat Rizal tertunduk.


"I-iya mbak, maaf"


"Maaf, maaf! saya kasih bintang satu tau rasa kamu!" pekiknya lagi penuh emosi.


"Saya mohon jangan ya mbak, i-ini saya balikin. Buat ganti rugi , m-maaf mbak." pinta Rizal sembari menyerahkan balik uang yang dipegangnya.


Ilana menepis tangan Rizal hingga uangnya terjatuh di tanah. Tubuh Ilana dengan cepat berbalik dan meninggalkan Rizal yang galau setengah mati.


Ilana terus berjalan sambil meracau tak jelas. 


"Lana!" teriak seorang perempuan muda sambil melambaikan tangan.  Ilana mengeliling mencari asal panggilan tersebut,  inderanya seketika berbinar setelah menemukan sang pemilik suara.


"Sori ya gue telat, lo udah lama nunggu?" tanya Ilana sambil berjalan mendekati perempuan muda yang berdiri di depan sebuah restoran cepat saji.


****

__ADS_1


"Hah , jadi lo tadi kesini naik ojek ?"  pekik Tesa dengan mata membelalak, ia adalah sahabat sekaligus teman sekantor Ilana yang sudi mengemban misi mustahil demi kelangsungan hidupnya. Dengan cara menyelinap masuk kamarnya secara diam-diam dan mengambil beberapa helai pakaian, dompet dan charger ponsel yang terpaksa ia tinggalkan.


Ilana menyedot mangoes float di depannya sambil mengangguk-angguk mantap.


"I have no choice, Sa. Mau pake mobil, mobil gue juga lagi di garasi, gimana ngeluarinnya coba? lagian gue cuma bawa lima puluh ribu hasil minjem dari Pak Yadi, kang kebon gue."


Tesa manggut-manggut mengerti maksud dari sahabatnya.


"Mama lo gimana?" tanya Tesa lagi Kali ini dengan nada serius.


"Gue udah telepon, gue bilang kalo calon mantu kesayangannya ngehamilin anak orang." urai Ilana santai.


"Gila lo, terus gimana  reaksi mama lo ?" Tesa geleng-geleng kepala dengan  sikap  yang ditunjukkan Ilana.


"Ngamuk donk mama gue, bukan masalah gue ngebatalin kawinan sih. Tapi karena  uang ratusan juta  buat biayain kawinan gue," imbuh Ilana lagi,  ada pancar kesedihan di wajah ayunya.


"Terus ... terus?" sergah Tesa kepo, sembari condongkan tubuhnya kedepan.


"Ya gue bilang, bakalan gue ganti," pungkas Ilana sambil mengembus nafas berat lalu menghempas punggungnya ke kursi berbahan metal itu.


"What!!" Tesa memekik tak percaya.


"Terus mama lo  gimana?" tanya Tesa tak percaya.


"Apanya yang gimana?" balik Ilana mengerucutkan bibir.


"Ya dia senenglah gue bilang gitu, lagian gue yakin Saddam gak akan diem aja. Saddam pasti kasih mama gue duit buat gantiin semua biaya yang udah dikeluarin. Kemarin aja pas lamaran dia ngasih dua ratus juta buat mama gue. Gitu bisa-bisanya, Sa, mama gue bilang kalo Saddam gak ngasih apa-apa. " sungut Ilana tak mampu sembunyikan kekesalannya.


Tesa menatap iba pada Ilana, tak tahu harus mengatakan apa, Tesa memilih untuk menggenggam erat jemari Ilana. Berusaha menguatkan.


Keduanya kini terdiam, Tesa sibuk memakan beberapa potong pizza yang masih tersisa di pan. Sedangkan Ilana menatap jauh menerawang dari jendela kaca besar di lantai lima mall ini. Memperhatikan kendaraan yang berjubel, saling meneriakkan klakson hingga terdengar riuh.  Beberapa pengendara motor berjaket Yo-jek tampak mangkal di tempat yang tak jauh dari mall, bahkan sebagian memarkir kendaraannya sembarangan. Memakan badan jalan.


Yo-jek


Ilana teringat sesuatu, tangannya kemudian meraih ponsel yang dari tadi belum disentuhnya. Ia melihat layar ponselnya untuk beberapa saat dengan mimik muka serius, yang kontan membuat Tesa kepo.


"Ngapain lo, Na.  Serius amat muka lo?!" protes Tesa yang berbicara dengan mulut penuh. Sehingga ucapannya tak terdengar jelas.


"Gue hampir kelupaan ngereview Yo-jek yang gue tumpangin," jelas Ilana tanpa melihat wajah Tesa.


"Emang penting banget ya ngasih review buat kang ojek?"


"Gue mau ngasih bintang satu buat dia. Pelayanan yang dia kasih bener-bener  jelek. Udah  gak sopan, pake nyolot pula mulutnya."  gerutu Ilana kesal masih dengan mata yang terpusat pada layar ponsel.


"Ihh ... kok lo gitu sih, Na. Kasian donk kalo akun dia sampe kesuspend, trus gak bisa cari duit, trus anak bininya mau dikasih makan apa coba?"  cecar Tesa berusaha mencegah.


Ilana tak menggubris celotehan Tesa, huruf demi huruf ia ketikkan disana. Setelahnya tanpa rasa berdosa Ilana menunjukkan layar ponsel pada Tesa sembari tersenyum puas.

__ADS_1


__ADS_2