
Apartemen yang disebut Aura bukanlah apartemen biasa. Letaknya di kompleks hunian ekslusif dengan harga fantastis. Beberapa blok didominasi oleh kondominium mewah berharga dua belas digit. Beberapa blok lainnya berisi apartemen kelas A dengan berbagai fasilitas premium. Tentu hanya orang-orang tertentu yang bisa membeli atau menyewa hunian di area tersebut.
"Ra ... " panggil Rizal lirih saat ia bingung harus memarkir kendaraannya dimana.
"Hmmm .... " sahut Aura lirih, tangannya masih memeluk tubuh Rizal erat-erat.
"Blok berapa sih? Dari tadi udah muter-muter bingung banget nih, gak ketemu-ketemu." Keluhnya.
"Lurus aja, blok tujuh!" Aura menunjuk ke suatu arah.
"Okay,"
Selang beberapa meter, Rizal dapat melihat petunjuk arah blok nomor tujuh. Ia kemudian berhenti dan memarkir motornya di depan berjejer dengan puluhan mobil mewah. Kontras.
"Gak apa-apa nih di parkirin disini?" Rizal garuk-garuk kepala yang tiba-tiba gatal.
"Enggak!! Yuk anterin gue ... pusing banget nih pala gue" rengek Aura manja sambil tak lepaskan tangan Rizal darinya.
"Kamu gak bisa ya, Ra? Naik ke apartemen kamu sendiri?"
"Please, Zal. Gue gak kuat jalan sendiri ... " Aura memaksa Rizal untuk ikut masuk.
Hingga akhirnya meskipun dengan rasa terpaksa, Rizal mau mengantarkan Aura hingga ke unit apartemennya.
Sempoyongan dan sedikit dengan racauan tak jelas Aura memberi Rizal petunjuk lift untuk menuju unitnya. Beberapa saat kemudian pintu lift terbuka dan tampakkan pemandangan lorong yang sedikit gelap.
"Pegangin gue Zal ... " lenguh Aura.
"Iya ini udah." Canggung, Rizal sebenarnya tak pernah berdekatan seintim ini dengan perempuan. Ia tak pernah mau, dan selalu merasa risih jika harus menyentuh bagian tubuh perempuan.
"Nah ... udah sampe!" Aura berteriak kencang sembari tersenyum sendiri seperti orang kurang waras.
"Ssshh ..., Ra. Jangan keras-keras, udah malem. Tetangga apartemen kamu pasti udah pada tidur," Rizal berbisik lirih.
"BOMAT! Bodo amat!" jawab Aura yang sempoyongan kemudian membuka pintu dan langsung menghambur masuk ke dalam apartemen. Hampir ia terjatuh jika Rizal tak segera menangkapnya.
"Hati-hati, Ra!" teriak Rizal panik.
Bukannya berterima kasih Aura malah mendekatkan wajah dan hendak mencium Rizal tapi dengan sigap Rizal menghindar dengan berpura-pura batuk.
"Uhukk ... huk ... huk ... huk ... "
__ADS_1
"Zal, kamu gak apa-apa, kan?" Aura segera berlari ke arah dispenser air dan dengan cekatan mengambil air minum untuk Rizal.
"Nih, minum dulu!" Aura menyodorkan segelas air. Tangannya bergetar ketika sadar kalau yang dilakukannya telah membuat Rizal tahu kalau ia sebenarnya sudah tidak dalam keadaan mabuk lagi. Ia sudah sepenuhnya sadar.
"Kenapa kamu pura-pura?" tanya Rizal sambil mengambil gelas yang Aura berikan.
"Zal," Aura tertunduk.
"Kamu ini kenapa sih, Ra? Kamu bukan lagi Aura yang aku kenal dulu, ada apa sebenarnya?" suara Rizal melemah, kemarahannya sirna entah kenapa. Ia tak tega menumpahkan amarah itu pada perempuan di depannya.
"Zal, gue mau buat pengakuan sama Lo," jelas Aura dengan suara tertahan.
"G—gue kotor, Zal." Aura mulai menangis, suaranya parau. Terisak lalu tubuhnya lemas dan jatuh ke lantai.
Rizal meletakkan gelas di atas nakas sepatu, dipandanginya perempuan itu. Sepertinya tak mungkin meninggalkan Aura begitu saja. Rizal ingin memberinya kesempatan. Mungkin akan ada pencerahan tentang apa yang sebenarnya terjadi pada perempuan yang pernah jadi cinta pertamanya itu.
"Ra ... " panggil Rizal lirih. Suaranya pelan, ia berjongkok dan mencoba mencari dimana wajah cantik yang tertunduk dan tertutup sebagian rambut itu. Pelan ia menyisihkan rambut Aura yang menutupi dan ia selipkan di belakang telinga.
Mata penuh air itu menatap Rizal sendu. Mulutnya terbuka, tapi tak ada suara yang keluar. Hanya keheningan.
"Kenapa kamu nangis, Ra?" Rizal coba menenangkan.
"G—gue takut," isak Aura.
"Gue takut elo bakal benci setelah tahu siapa gue?" suara Aura semakin serak. Tanpa dinyana, Aura langsung meraih dan memeluk tubuh Rizal. Membenamkan wajah di dada Rizal. Sesenggukan.
"Waduh! Malah nangis," batin Rizal serba salah.
Beberapa saat setelah membiarkan perempuan itu melepaskan tangis, Rizal coba mengajaknya bicara lagi.
"Ra, kamu bisa cerita sama aku. Udah nangisnya, mending kamu sekarang istirahat. Udah malem, aku juga mau pulang dulu. Besok aku harus—"
"Zal ... please jangan pergi dulu. Kamu mau gak nemenin aku makan?"
"Loh kamu belum makan?" tanyanya, Aura menggeleng.
"Kamu mau makan apa? Biar aku beliin,"
"Gak mau beli," rengek Aura.
"Terus?"
__ADS_1
"Masih inget gak, elo dulu suka bikinin gue mi instan sama telor setengah mateng?" tanyanya dengan mata berbinar.
"I—iya,"
"Sekarang lo, ehhmm ... maksud aku ... kamu buatin lagi ya buat aku. Please, aku kangen sama masakan kamu. Biarpun seadanya, tapi rasanya gak ada yang dapat gantiin."
"Beneran nih?" balik Rizal memastikan.
"Iya, tuh ada mie instan sama telornya di kulkas."
Rizal kemudian bangkit, dan mengikuti arahan Aura tentang dimana ia bisa memasak. Serta dimana bahannya disimpan.
"Zal ... aku mandi dulu, yah?" Aura kemudian masuk ke dalam kamar setelah melihat anggukan Rizal yang kini sibuk menyiapkan mie instan rebus dan telur setengah matang.
****
Rizal bingung mencari mangkuk, dibukanya drawer satu persatu. Namun tetap tak menemukan mangkuk yang ia cari. Hingga ia beralih ke nakas putih yang terletak di dekat lemari es.
Sesaat ia terdiam setelah melihat apa yang ada di dalam nakas tersebut. Cepat-cepat ia menutupnya, berharap yang ia lihat hanyalah sebuah halusinasi karena kecapekan dan rasa kantuk.
Ia kemudian membukanya kembali, tapi benda-benda di dalam nakas itu tak berubah. Tetap benda sama yang tentu membuat nafasnya seolah berhenti. Di dalam nakas itu terdapat beberapa pak alat kontrasepsi, rokok, dan alat uji kehamilan. Aneh. Kenapa Aura menyimpan alat semacam ini di tempatnya.
"Zal, baunya enak bang—"
"Nget ... " Aura terbata.
Rizal berbalik dan menoleh pada Aura yang sedang menatapnya dengan tangan bergetar. Handuk yang ia gunakan untuk mengeringkan rambut pun jatuh ke lantai.
"Zal ... aku bisa jelasin—"
"Ra, apa ini?"
"Barang-barang ini bukan punya kamu, kan?" Kini giliran Rizal yang bertanya. Suaranya berat, seperti beban sedang menggantung di tenggorokan.
"Seperti yang udah aku bilang sama kamu, Zal ... "
"Aku kotor," Aura terduduk lemas di sofa. Tubuhnya jatuh. Wajahnya kembali tertunduk, tangisnya pecah lagi.
"Aku jadi perempuan panggilan, Zal ... terpaksa aku kerja kotor demi—"
"Demi apa, Ra? Kenapa kamu melakukan ini?" sela Rizal tak dapat menahan lagi.
__ADS_1
"Zal," Aura mengiba pada Rizal berharap laki-laki itu masih menyimpan cinta yang lalu untuk dirinya.