
Kacung menelepon Rizal dan memintanya untuk datang ke basecamp. Katanya sih untuk merayakan tiga bulanan Miranti. Yang juga berarti Andri alias kacung akan jadi Ayah. Tentu saja Kacung menyambut berita itu dengan hati berbunga-bunga. Meskipun badannya capek, Rizal merasa tak enak untuk menolak undangan Kacung walhasil pun disinilah dia sekarang. Menyantap Korean Rice BBQ yang jarang-jarang ia makan. Tampaknya Kacung lagi punya banyak uang sampai bisa mentraktir kedua temannya
"Tumben banget sih, lo cung. Lagi banyak duit ya lo?" Bambang berceloteh dengan mulut penuh.
"Dah, makan aja. Kagak usah banyak tanya lo," Kacung enggan membahasnya.
"Bentar lagi yang beliin nih semua makanan enak bakalan dateng, lo tunggu deh." Imbuhnya.
Rizal tak bergeming, wajahnya kelihatan lesu.
"Kenapa muka lo gitu amat, Zal?" Bambang menepuk pundak temannya.
"Hah?? Eng— nggak, capek aja. Kan hari pertama gue kerja kantoran," elak Rizal yang sebenarnya sedang mengingat kejadian tak menyenangkan di kantor. Ada perasaan kesal ketika sadar kalau sekarang, ia adalah jongos dari seorang Nona yang telah membuatnya kehilangan kerjaan sebagai mitra Yojek.
"Dari tadi wajah lo gak enak banget dilihat, jangan bilang kalau lo ketemu mantan lagi ya?" Kacung bereaksi.
"Ya kagak lah, " Rizal menjawab dengan wajah masam.
"Eh itu yang bawain kita makan dah dateng," Kacung sumringah melihat sebuah mobil berwarna putih datang. Tak berapa lama seorang perempuan keluar dari mobil, Bambang langsung menghentikan makannya dan memperhatikan perempuan cantik nan ramah itu mendekat. Berbeda dengan Rizal yang justru lebih memilih untuk menikmati suapan terakhir dari makanannya.
"Hai semua, maaf ya agak lama. Antri soalnya," perempuan itu sambil meletakkan beberapa cup minuman kekinian di atas meja.
Rizal bergeming, ia masih tak sadari kalau seseorang yang sedang berdiri di depannya adalah Aura, mantan pacarnya semasa SMA.
"Zal, kamu udah lupa sama aku, ya?" Aura kemudian duduk di kursi paling ujung.
"Aura?" Rizal tampak bingung dengan kehadiran seseorang yang sudah menghilang selama beberapa tahun itu. Saat itu, mereka masih duduk di bangku SMA. Aura adalah cinta pertama Rizal, keduanya jadian saat masih dalam masa orientasi siswa. Namun jalinan cinta yang baru delapan bulan mereka jalani harus kandas, karena Aura tiba-tiba menghilang. Ia bahkan tak berpamitan pada Rizal, tak ada penjelasan yang tentu saja membuat Rizal patah hati sepatah-patahnya. Hal terakhir yang ia dengar dari sahabat Aura adalah ia pindah ke sebuah kota di pulau seberang.
Beberapa detik berlangsung dengan canggung. Rizal dan Aura hanya saling pandang tanpa ada kata yang mampu terucap dari bibir keduanya selain senyuman. Senyum penuh kerinduan.
"Zal, are you okay?" Aura membuat lamunan Rizal yang melayang pada kejadian kurang lebih lima tahun lalu itu buyar alias ambyar.
__ADS_1
"O—okay, banget!" Malu, Rizal tersipu melihat kecantikan Aura. Dia makin cantik, apalagi dengan rambut panjang tergerai. Tak lagi nampak Aura yang tomboy, sedikit urakan, dan berambut cepak ala-ala Winona Ryder.
"Kamu kok disini?" Ragu-ragu Rizal bertanya.
"Jadi gini, Zal. Mulai sekarang aku tinggal di Kota ini lagi, aku memutuskan buat nerusin kuliah di sini. Alhamdulillah, mama dan papa udah ijinin aku. Jadi mulai sekarang kita bakal sering ketemu lagi," Aura terlihat berbinar.
"Beneran?" Rizal membelalak. Dijawab anggukan mantap dari Aura.
Kedua insan itu tak dapat sembunyikan perasaan dan kupu-kupu yang berterbangan dalam dadanya.
"Ehemmm ... ehemmm ..., yang mau nostalgia dipersilakan" Kacung berdehem kencang sambil menggoda keduanya.
Pertemuan itu berakhir karena waktu sudah menunjukkan pukul sembilan, tak ingin membuat Enyak khawatir, Rizal memutuskan untuk pulang terlebih dahulu.
"Motor kamu taruh sini aja, Zal. Biar aku yang anter kamu." Aura memohon.
"Jangan, Ra. Aku gak mau ngerepotin kamu," tolak Rizal halus.
Pun Rizal, meskipun Aura pernah meninggalkannya tanpa kejelasan. Disaat dia masih sangat menyayanginya, tapi tak ada sedikitpun rasa benci timbul karena hal itu. Aura masih menempati ruang khusus di hati Rizal. Selalu ada tempat dimana tak ada seorang pun yang mampu menggesernya.
"Ohh ... yaudah kalau gitu, Zal. Kamu hati-hati ya? Maaf buat surprise noraknya," Aura terkekeh sambil menatap langit yang hanya menampakkan beberapa bintang redup.
Rizal pun berpamitan pada Bambang dan Kacung. Ia harus segera pulang sebelum terlalu larut.
****
Jalan utama menuju rumah Rizal masih tampak ramai, pasar malam yang diadakan sebulan dua kali itu tampak ramai pengunjung. Rizal mau tak mau mengurangi laju motornya. Sampailah ia di jalan besar yang menghubungkan langsung dengan kampungnya. Dia harus melewati jembatan sebelum sampai kampung. Baru saja memacu motornya dengan kencang, hingga seorang perempuan menghentikannya. Perempuan berdaster putih dengan rambut panjang yang acak-acakan itu membuatnya bergidik. Ragu, ia tak tahu apakah harus berhenti ataukah tabrak saja.
"Mas, tolong!" teriak perempuan itu.
"Mas, berhenti donk!" lantangnya lagi. Keadaan gelap, penerangan jalan seadanya membuat Rizal tak begitu jelas melihat wajah perempuan yang menghentikannya.
__ADS_1
"Masssss!!!" Jarak mereka semakin dekat, hanya tinggal beberapa meter saja. Rizal memicingkan mata, memastikan kalau perempuan itu bukan Mrs. Kun. Gila aja kalau dia harus berhenti dan menolong Nona tak kasat mata.
Perempuan berdaster putih itu bukannya beralih me pinggir jalan, melihat motor Rizal makin dekat justru ia makin ke tengah aspal.
"Mas!! Tolong ban mobil saya bocor," perempuan itu sambil menunjuk sebuah mobil hitam yang terparkir di kanan jalan. Mobil yang semula tak terlihat dalam pandangan Rizal, akhirnya terlihat jelas. Rizal menghentikan motornya tanpa mematikan mesin. Kalau-kalau yang menghentikannya bukan manusia paling gak dia bisa langsung tancap gas. Begitu pikirnya.
"Kamu?" perempuan itu menunjuk Rizal dengan tatapan heran.
"Astagfirullah Mbak, saya kira kuntilanak!" sungut Rizal kemudian memarkir motor dan melepas helmnya.
"Enak aja kamu ngomong," perempuan berdaster putih tak lain adalah Ilana.
"Ya habis, malam-malam pake daster putih. Udah gitu rambutnya gitu lagi, deket jembatan, udah gitu gelap gini. Kalau bukan saya, pastinya gak akan ada yang mau bantuin Mbak!"
"Saya baru mandi, kelaperan, kebetulan habis keramas juga. Ya wajarlah kalau masih acak-acakan."
"Ya tapi gak gitu juga kali, tempat yang Mbak pilih untuk pecah ban terlalu serem," Rizal mencebik sambil mulai memeriksa ban mobil Ilana yang pecah.
"Ada ban cadangan gak, Mbak?" tanya Rizal, tapi Illana menggeleng.
"Waduh! Susah kalau gitu, harus diderek donk. Malam-malam gini apa bisa? Bengkelnya jauh lagi," ujar Rizal.
"Yaudah kalau kamu gak bisa bantu, pergi aja! Biar saya cari solusi sendiri!" usir Ilana kasar.
Rizal tercengang dengan sikap Ilana. Untuk beberapa detik ia terdiam, sebelum akhirnya memutuskan untuk menjawab dengan sarkasme.
"Kalau di kantor, Mbak memang atasan saya. Tapi, berhubung ini di jalanan super lengang Mbak tak lebih dari perempuan yang terjebak di tengah kebon sepi. Jangan salahin saya ya kalau ada yang gangguin Mbak. Entah yg kasat ataupun yang tak kasat. Soalnya kebon ini selain terkenal karena banyak dedemitnya, begal pun biasanya suka Mbak beroperasi di daerah sini."
Nyali Ilana seketika ciut teringat kalau ponselnya tertinggal di kost-an. Dia menelan ludah, wajahnya memucat.
"J—jangan pergi kalau gitu, k—kamu temenin aku dulu ya?" Ilana tiba-tiba memegangi lengan Rizal bak anak kecil yang butuh perlindungan. Dalam hati Rizal puas karena telah berhasil membuat perempuan galak di hadapannya ketakutan.
__ADS_1