Bang Ojek I Love You

Bang Ojek I Love You
RS


__ADS_3

Ilana memaku di depan cermin untuk beberapa saat. Baru kali ini ia merasa nyaman dengan penampilannya. Tak ada keterpaksaan untuk memakai pakaian branded dan high heels.Hanya ada Ilana versi lama yang mengenakan kaus oblong berwarna pastel dipadu dengan jeans biru yang sebagian warnanya memudar di sana-sini. Rambut panjang yang sudah hampir sebulan tak tersentuh salon pun hanya ia ikat sekenanya. Dasar Ilana memang cantik, tak diperlukan make up tebal ataupun pakaian mahal untuk sekedar memancarkan pesonanya.


Ia segera memacu mobilnya ke rumah sakit yang Pak Handoko tunjukkan tempo hari. Tak lupa ia mampir ke fruit store untuk membeli beberapa paket buah. Tak enak rasanya jika datang dengan tangan kosong.


Ia belokkan mobil ke arah pelataran rumah sakit swasta yang cukup terkenal itu.Hal pertama yang terbesit dalam pikiran Ilana adalah, kenapa keluarga Rizal membawanya ke rumah sakit yang terkenal mahal. Mengingat keluarga Rizal berasal dari keluarga menengah ke bawah, tentu saja biaya rumah sakit ini tidaklah murah.


'Mungkin, Rizal punya asuransi kesehatan.' batin Ilana dan segera berjalan menuju resepsionis, menanyakan letak ruang rawat Arjuna.


"Lantai dua, Mbak. Lurus saja nanti ada petunjuknya," jelas si resepsionis ramah. Setelah mengucapkan terima kasih Ilana segera menapaki tanga yang mengular menghubungkan lantai satu ke lantai dua.


Ya, benar dari ujung tangga ia bisa melihat sebuah papan yang menunjuk ke arah ruang rawat Arjuna, tempat Rizal dirawat.


"Permisi, Suster." Ilana menyapa seorang perawat yang kebetulan lewat.


"Ya, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?"


"Apakah ini benar ruang Arjuna, ya?" tanya Ilana sambil menunjuk dua ruang yang berjejer.


"Benar sekali,"


"Apakah ada pasien dengan nama Rizal disana, Sus?"


"Oh... iya Mbak. Pasien atas nama Rizal ada di ruang Arjuna nomor dua," jelas Suster muda berseragam hijau itu sambil melihat daftar yang ada di tangannya.


"Ohh ... ok, makasihh , Suster." Sumringah, Ilana langsung meneruskan langkah menuju ruangan Rizal.


****


Lucu,entah kenapa ada perasaan aneh menghinggapi dadanya ketika ia sampai di depan pintu. Hingga ia putuskan untuk tak langsung merangsek masuk, melainkan berdiam sejenak.


Dalam hatinya ada kebingungan tentang bagaimana harus bersikap ketika menghadapi wajah dan suara menyebalkan dari Rizal. Ia baru menyadari kalau langkahnya kali ini terlalu berani, ia datang menjenguk seseorang asing yang baru ia kenal. Bahkan tak bisa dibilang akrab.


Setelah menghela nafas berkali-kali hanya untuk sekedar meringankan beban perasaan, ia putuskan untuk mengetuk pintu ruangan.


"Bismillah," gumamnya kemudian mendorong pintu dan mendapati dua ranjang dengan hanya satu yang terisi.


Tatapan mata dari seseorang yang terbaring di atasnya terlihat kaget. Jelas saja Rizal kaget.


Namun, ada yang lebih mengagetkan. Terlebih untuk Ilana karena matanya langsung menabrak sesosok gadis muda cantik yang sedang mengulurkan sendok berisi bubur ke mulut Rizal.

__ADS_1


OOPS .... batin Ilana.


Sial!.... batinnya lagi.


Entah kenapa seketika muka Ilana merah, ia malu? Atau mungkin saja marah?


Namun kenapa ia harus marah? Tak ada sesuatu yang salah.


"M—maaf, udah ganggu waktunya.S—saya kesini cuma mau ngasihin ini, Zal. Ini titipan anak-anak OB. Mereka semua titip salam buat kamu. Moga cepat sembuh katanya." Ilana tak mau berlama-lama ia langsung meletakkan sekeranjang besar buah-buahan di nakas samping ranjang Rizal.


"Maaf, Mbak siapa?" Aura berdiri menyambut Ilana.


"Ohh ... saya atasannya Rizal." Ilana kaku, lidahnya kelu.


Rizal tak tahu harus menanggapi apa, atau harus bereaksi seperti apa? Kedatangan Ilana tentu saja membuatnya kaget. Apalagi ia hanya datang seorang diri.


"M—makasih, Mbak Ilana." Rizal terbata.


"Oh, iya, saya Aura. Pacarnya Rizal, Mbak Ilana." Aura mengulurkan tangan seraya memperkenalkan diri pada Ilana yang terlihat bingung.


"Ohhh ... pacarnya. Wah ... cantik banget ya Zal. Kapan nikah?"


"Hahahaha ... " Rizal menanggapi pertanyaan itu dengan tawa yang dipaksakan.


"Soon ya, Sayang?" Aura dengan santai menjawabnya.


"Hah?!" Rizal melotot.


"Ohhh ... wahhh ... congratulations lo ya, Zal. Yaudah, kayaknya udah siang. Saya pulang dulu, ya? Cepet sembuh ya, kru kita kurang soalnya." Ujar Ilana sembari melihat ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


"Terima kasih, Mbak Ilana." Aura menutup percakapan canggung itu, sudut bibir atasnya naik.


****


"Kok aneh ya, Zal." Aura menyeletuk sesaat setelah kepergian Ilana.


"Aneh kenapa?" Rizal menyahut.


"Temen-temen OB kamu kan udah kemarin kesininya," Aura cemberut.

__ADS_1


"Terus kalau gitu, emangnya kenapa?"


"Bisa saja kan, atasan kamu itu suka sama kamu. Makanya dia bela-belain datang ke sini,"


"Hahahaha ... kok kamu sih yang jadinya lucu, Ra?!" Rizal terkekeh.


"Lucu gimana?"


"Mbak Ilana itu usianya beda jauh kali sama kita."


"Oh ... jadi seumpama dia seusia kita, kamu mau gitu sama dia?"


"Astagfirullah, Aura. Ya nggak gitu, maksudku tuh, dia wanita dewasa yang usianya jauh diatas kita. Dia bahkan baru saja gagal nikah, kalau dilogika apa ya mungkin dia suka sama Ob macem aku. Masih bocil lagi, hahahhaha ... kamu tuh imajinasinya terlalu tinggi. Wanita dewasa mapan macam dia akan memilih laki-laki sekelas untuk disukai. Jadi kamu jangan khawatir berlebihan ya ... " Rizal mengelus tangan Aura pelan. Mata manja Aura seketika berbinar.


"Ternyata ada dua hal yang gak pernah berubah dari seorang Aura, ya?!"


"Apa coba?" Aura bertanya, sambil merebahkan kepala di samping Rizal.


"Satu, rasa sayangnya sama cowok bernama Rizal. Dan yang kedua, rasa cemburunya yang gede."


Aura meringik sambil mencubiti lengan Rizal dengan gemas. Keduanya kemudian larut dalam kebahagiaan. Dapat bersama lagi dengan Aura tentu membuat hati Rizal bahagia. Meski sudah lama berlalu, keduanya masih tetap menyimpan perasaan itu dengan baik.


"Ra ... makasih ya, kamu udah banyak bantuin aku. Teruratama beberapa hari ini. Aku janji, akan balikin semua biaya yang kamu keluarkan buat aku. Aku tahu biaya berobat disini pasti gak murah,"


Aura bergeming, tangannya mengelus lembut dagu Rizal. " Kamu gak perlu ganti biaya apapun buat ini. Yang perlu kamu lakukan cuma satu.Kamu harus selalu sayang sama aku. Udah itu aja cukup, uang tabunganku lebih dari cukup buat bayarin semua tagihan rumah sakit," ia memainkan dagu Rizal yang mulai ditumbuhi bulu halus.


"Kenapa kamu gak manjangin jambang sih?" celetuk Aura tiba-tiba.


"Hah?"


"Seksi tau," Aura menambahi.


"Maksud kamu, biar kayak Jason Momoa gitu?"


"Ya kagak kayak gitu juga, Zal ... " ringik Aura manja kemudian tanpa ragu Rizal melayangkan kecupan kecil di dahi gadis itu.


Sontak keduanya terdiam, saling memandang. Untuk beberapa saat tanpa ragu, Aura mendekat dan membalas kecupan dahi Rizal dengan kecupan di bibir.


Campur aduk, Rizal tak menyangka Aura membalasnya dengan cukup berani. Matanya terbelalak tak sanggup tutupi rasa herannya. Detik berlalu dengan canggung, "m—maaf, Zal." Aura kemudian dengan sedikit berlari meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2