
"Loh Pak, kata Pak Opram gudangnya di jalan merdeka?" tanya Rizal bingung. Karena ia yakin betul kalau gudang Jalan Merdeka sudah terlewati beberapa blok sebelumnya.
"Udah, Zal. Kamu diem aja, yang penting ikut arahan Pak Prayitno saja," ujar Pak Handoko.
Rizal manggut-manggut, meskipun dalam hati ia mulai merasa curiga. Kedua orang ini bertingkah tak seperti biasanya. Seperti ada yang disembunyikan.
Mobil yang ditumpangi mereka bertiga kemudian berbelok ke sebuah bangunan baru yang lebih mirip gedung perkantoran mewah dibandingkan gudang barang.
"Udah sampai, kamu turun Zal."
Rizal pun ikuti arahan Pak Prayitno. Pria tinggi, kurus, dengan kumis tebal mirip Charlie Chaplin itu berjalan paling depan. Beberapa resepsionis tampak menyapanya ramah dan hangat. Menandakan kalau ini bukan kali pertamanya ia masuk ke tempat ini.
"Kamu tunggu disisi dulu," ujar Pak Prayitno sambil menunjuk sebuah sofa yang berada di pojok ruangan lantai dua. Rizal dan Handoko mengangguk bersamaan. Tak berapa lama, Pak Prayitno datang tapi ia tak sendirian. Melainkan datang dengan seorang perempuan berpakaian resmi dan rok ketat mirip seperti penampilan sekretaris di drama-drama Korea.
"Rizal, yuk kamu ikut saya dan Mbak yang cantik ini,"
Keduanya berjalan di belakang si perempuan cantik dan seksi itu, menuju sebuah lift yang terlihat beda dari yang lain. Lift yang mereka tumpangi lebih besar, dengan kombinasi warna keemasan dan karpet berwarna merah maroon. Mewah, itulah kesan pertama yang Rizal rasakan tatkala menaikinya.
"Pak Prayitno, anda tunggu disini dulu. Mari, ikut saya," perempuan itu memerintahkan Rizal agar ikut dia, yang tentu saja harus dipatuhi Rizal.
Ternyata ia dibawa menuju satu lorong panjang dengan balutan karpet merah seolah akan menuju ke sebuah perhelatan besar. Ketukan suara high heels si perempuan menggema, menandakan betapa besar dan sepinya tempat ini. Jujur, Rizal merasa ngeri sendiri saat dirinya dibawa semakin ke dalam. Apalagi tidak ada satu kata pun yang perempuan itu ucapkan saat membawanya. Tak ada petunjuk. Rizal pun tak tahu mau dibawa kemana.
Mereka berdua berhenti di sebuah ruangan besar dengan pintu otomatis yang mampu terbuka dengan sendirinya saat perempuan di depannya mengatakan di interphone kalau dia sudah berada di depan pintu.
"Silakan masuk," ujar perempuan itu untuk pertama' kalinya ia menampakkan senyum dibalik bibir berpulas merah itu. Rizal mengangguk, ia dengan ragu melangkahkan kaki ke dalam ruangan di balik pintu otomatis.
Ruangan besar itu ternyata hanya ruang kerja raksasa berdesain minimalis. Jendela besar di belakang meja kerja tampakkan pemandangan lansekap kota yang istimewa jika dipandang dari ketinggian ini. Bahkan lautan di ujung Kota dapat terlihat deburannya dari sini. Indah. Itulah yang pertama ia rasakan tatkala melihatnya. Mewah, tentu saja, tak ada barang murah yang bertengger di ruangan ini. Lantai mengkilat dibawah kakinya pun terlihat berkelas. Sangat berbeda dengan ruangan lainnya.
Rizal masih berdiri memaku, perempuan itu pun berdiri dan tak melakukan apa-apa. Keduanya dalam kebisuan. Hingga ketukan demi ketukan sepatu hak tinggi yang menggema datang dan semakin dekat.
Wanita berusia tiga puluhan itu datang lalu menyapa Rizal, "jadi ... itu kau?" hanya kata itu yang keluar dari bibirnya. Jika boleh melotot, dan itu bukan tindakan tak sopan sebenarnya Rizal ingin melotot karena ia sendiri tak percaya apa yang dilihat matanya.
Wanita yang baru saja datang itu cantik, sangat cantik. Aroma vanilla bercampur lavender menyeruak memenuhi rongga pernapasannya tatkala si perempuan memasuki ruangan besar ini.
"Syera, tinggalkan kami berdua. Ada hal penting yang harus aku bicarakan dengan pemuda ini," ujar wanita yang tak bernama itu.
__ADS_1
Perempuan cantik yang tadi hanya mengangguk takzim, lalu segera keluar dari ruangan seperti yang diperintahkan si wanita.
"Duduklah, jangan takut."
"B—baik." Bukan rasa takut, tapi justru rasa bingung yang membuatnya tak dapat kendalikan keringat dingin.
"Berapa umurmu?" wanita cantik bermata tajam itu menatapnya penuh selidik.
"Dua puluh satu bulan November,"
"Oh ... ulang tahunmu sebentar lagi. Kita harus merayakannya,"
"Apa kau tahu kenapa aku memanggilmu kemari?" tanya wanita itu lagi. Kali ini senyum simpul menghiasi bibirnya.
"T—tidak, saya tidak tahu. Tak ada yang memberi tahu saya kenapa saya dibawa kemari,"
"Baiklah, langsung saja. Apakah kau mau bekerja untukku?"
"Apa ini sebuah tawaran?"
"Gaji?"
"Lima kali sampai tujuh kali lipat dari pekerjaanmu sekarang," jawab si wanita cepat, seulas senyum seringai muncul.
"Jam kerja?"
"Hanya enam jam, bahkan kurang dari itu. Tergantung banyaknya pelanggan dan pesanan."
"Jenis pekerjaan apa yang harus saya lakukan?"
"Aku membutuhkanmu sebagai pelayan di lounge-ku. Jika kau setuju maka kau harus menanda tangani surat perjanjian kerja ini. Datanglah kesini besok pagi, biar orangku yang mengantarmu ke tempat kerja baru. Pakailah kemeja putih yang masih bagus dan bersih."
Sejenak Rizal terdiam, tawaran ini sungguh menggiurkan. Tapi kenapa ia terpilih untuk menjalani pekerjaan ini? Tanpa berpikir panjang mengingat begitu besarnya kebutuhan hidup. Tanpa berpikir lama-lama ia segera menandatangani kontrak kerja tersebut. Lagipula menjadi pelayan bukanlah pekerjaan sulit yang membutuhkan skill tertentu.
"Baiklah, jadi datanglah kemari besok pagi. Jam sembilan." Wanita itu mengambil dua lembar kertas dari tangan Rizal.
__ADS_1
"Baik saya akan datang besok jam sembilan,"
****
Sekembalinya ke kantor, Rizal langsung mendapatkan kabar kurang sedap dari Indah. Perempuan hitam manis itu terus saja nyerocos tentang banyaknya gosip yang beredar dibalik pemecatan Ilana yang dirasa sangat tiba-tiba.
"Kalau saya mah percaya ada konspirasi besar dibalik pemecatan Mbak Ilana! Dulu gak ada loh yang berani ganggu dia. Soalnya, biar bagaimanapun dia itu mantan calon istri anak Pak direktur loh."
"Lah ... mulut kamu, pakai ngomong teori kontrasepsi—"
"KONSPIRASI! Pak Opram! Kontrasepsi!" sela Indah memprotes.
"Ya itu deh maksud saya,"
"Memangnya Mbak Ilana udah pergi dari kantor, Pak?" Rizal coba menggali info.
"Udah. Tadi pagi Zal, Bapak lihat Mbak Ilana naik taksi online. Bawaannya banyak banget, berkardus-kardus. Tapi dasar memang orang baik, tadi pas pergi aja banyak yang nangisin terutama para OB sama CS." Jelas Pak Opram sambil menyomot mendoan di meja, "sisain satu buat saya!" teriak Indah yang sedang menyeduh teh untuk teman makan siang.
"Baru aja nyomot satu," gumam Pak Opram lirih.
"Satu gimana?! Satu tambah satu tambah satu lagi keles, udah abis tiga ngakunya satu, kebiasaan!" cerocos Indah. Dua orang itu selalu seperti kucing dan tikus dalam kartun, kalau lagi barengan selalu saja berdeabat. Tapi kalau dipisahin saling kangen satu sama lain.
"Oh, ya ... tadi sebenarnya Mbak Ilana tuh sebelum pergi nyariin kamu loh kesini, tapi pas saya tanyain malah pura-pura minta kardus."
"Ah ... seriusan, Pak?" Rizal membelalakkan mata.
"Ciyeeeee ... " Indah menimpali.
"Ciye apaan sih Mbak Indah," timpal Rizal malu-malu.
"Oh ya, ngomong-ngomong mulai besok kamu dipindah ke hotel mewah punyanya anak pak bos ya?" tanya Indah kepo.
"Anak Pak bos?" Rizal balik bertanya.
"Iya ... hotel itu kan yang punya anak tiri Pak Bos. Sebenarnya hotel itu dulunya sih punyanya Mas Alvan. Tapi sejak kematian beliau, yang ngelola ganti anak tiri bos besar." Celetukan Inda tentu membuat Rizal berpikir, apakah anak tiri Pak Bos adalah wanita berparas cantik tadi?
__ADS_1