Bang Ojek I Love You

Bang Ojek I Love You
Pertemuan kedua


__ADS_3

"Hati-hati donk, Mas!" teriak Ilana. Saat tanpa sengaja menabrak seseorang yang sedang berdiri di lobby.


"Kok saya? Kan mbak yang nabrak!" Tak kalah lantang Rizal membalas, meskipun begitu ia tetap membantu perempuan itu memunguti barang bawaannya yang sangat banyak.


"Mbak Ilana, sudah ditunggu Pak Abdel di ruangannya," seru salah seorang front officer.


"Thanks, Di. Bilangin saya udah nyampe, 5 menit saya akan kesana." Ilana memberi isyarat pada perempuan di balik meja itu.


Dengan kasar Ilana merebut setumpuk kertas berisi rancangan kerjanya untuk divisi bulan ini dari tangan Rizal.


"Makasih!" ketusnya lalu bergegas menuju lift.


"Kok gak asing sih?" batin Ilana sambil menunggu pintu lift menutup ia memperhatikan pemuda itu. Dahinya berkerut, otaknya sedang berpikir keras mengingat sesuatu.


****


"Kamu pasti anak baru?" sapa Indah, salah seorang office girl ketika melihat Rizal.


"Iya mbak," jawab Rizal.


"Kenalin, akyu Indah Dewinta Permatahati. Kamu bisa panggil aku Indah, kalau untuk nama kontak bisa pake yang keceh dikit tulisin my heart. Cucok gak? Permatahati, cucok kan?" perempuan berwajah hitam manis itu membuat Rizal hampir tersedak karena kekonyolannya.


"Eh, udah. Jangan gangguin Rizal, kasian sampek keselek gitu." Pak Opram menimpali. Indah mencebik kesal pada pria berkumis tebal itu yang makin membuat suasana jam makan siang menyenangkan.


"Kamu itu sodaranya Pak Handoko ya?" Pak Opram mendekat lalu duduk di depan Rizal yang sedang menikmati teh hangat dan nasi bungkus.


"S-saya temannya adik Pak Handoko," jawab Rizal sembari memperhatikan Pak Opram yang sedang mengaduk kopi.


"Tadi saya lihat kamu ketabrak Mbak Ilana, ya?"


Rizal mengerutkan dahi, "Mbak Ilana? Yang mana orangnya, Pak?"


"Ya yang nabrak kamu di lobby tadi,"


"Ohh ... cewek yang galak tadi ya, Pak?"


"Hush, kamu gak boleh ngomong gitu. Dia itu calon mantan mantu direktur perusahaan ini loh."


"Beneran, Pak?" Rizal meletakkan sendok dan melipat kertas bekas pembungkus nasi lalu membuangnya ke tempat sampah.


"Iya,"


"Tapi kok, calon mantan sih?"

__ADS_1


"Aduh, Pak Opram gosip aja deh. Ya jelas calon mantan lah, kan belum sampai nikah anaknya Pak Dirut meninggal."


"Hah, meninggal? Kok bisa?" Rizal makin penasaran.


"Kecelakaan sih katanya,"


"Hah kok katanya?" Rizal kembali kepo.


"Ishhhh ... udah-udah. Kok malah gosip, kerja-kerja!" Teriak Pak Opram membubarkan obrolan Rizal dan Indah.


****


"Rizal, kamu sibuk gak?" Pak Opram menepuk bahu Rizal dari belakang sambil menyerahkan sebuah bungkusan.


"Apa ini, Pak?"


"Pesenan dari lantai tujuh, kubikel nomor delapan belas. Antarin yah? Wah saya kebelet banget nih," Pak Opram meringis sambil pegangi perut.


"Ohh, siap-siap. Nomor delapan belas, kan?" Rizal memastikan.


Pak Opram mengangguk kemudian berlari menuju kamar mandi.


Rizal menggunakan lift untuk naik ke lantai tujuh.


"Ehhh ... wow endulita nih!" Seru Saipul saat kebetulan berpapasan dengan Rizal di dalam lift. Rizal tahu gelagat tak beres dari pria berperangai wanita itu memilih diam.


"Idih, ganteng-ganteng, cucok meong, sayang budek cyin ... " geram karena sikap diam Rizal, Saipul memasang wajah ketus.


Dalam hati Rizal berharap agar pria berkemeja merah itu segera menyingkir dari hadapannya. Namun sial, ternyata Saipul juga turun di lantai tujuh.


"Lo ngikutin gue?!" Saipul langsung menembak Rizal dengan pertanyaan menggelikan saat tahu kalau Rizal berjalan di belakangnya.


"Enggak, Mas eh Pak. Saya hanya ingin mengantarkan ini buat kubikel nomor delapan belas." Rizal cuek dan berjalan mendahului Saipul.


****


Setelah memutari ruangan, akhirnya ia menemukan kubikel nomor delapan belas. Namun di dalamnya kosong tak ada yang menghuni. Tak ingin dibilang tak sopan akhirnya Rizal memilih untuk menunggu sang empu datang. Hingga tak berapa lama kemudian seorang perempuan datang dari arah berlawanan dan duduk di dalam kubikel.


"Kamu ngapain berdiri di sini?!" Ilana ketus, ia teringat kejadian tadi pagi.


"Saya hanya mau mengantarkan ini, Mbak. Pak Opram sakit perut, jadi—"


"Makasih!!!" Ilana lagi-lagi langsung merebut bungkusan makanan itu dari tangan Rizal. Kali ini dengan kasarnya.

__ADS_1


Rizal kesal namun memilih diam dan bergegas pergi dari sana.


****


Jam sudah menunjukkan pukul enam lebih, setelah memastikan semua kerjaan beres. Rizal bergegas keluar dari pantry. Berjalan cepat menuju parkiran, tiba-tiba, langkah kakinya terhenti tatkala melihat pemandangan yang menarik perhatiannya.


Seorang perempuan yang tak asing. Perempuan ketus yang akhirnya dia sadari kalau perempuan itulah yang menyebabkan ia kehilangan pekerjaaan sebagai Yojek. Dan sudah dua kali memperlakukannya dengan kurang baik. Melihat keadaan seperti ini sebenarnya hati kecil Rizal enggan untuk membantu. Namun jika ia ingat pesan Babe agar selalu berbuat baik pada sesama, akhirnya ia memilih untuk menyelamatkan perempuan itu.


Wajahnya pucat, perempuan itu terlihat tak nyaman ketika seorang lelaki dengan kasar menggenggam tangan dan memaksanya untuk ikut ke dalam mobil.


"Ilana, kamu harus dengerin aku." Lelaki berwajah timur tengah itu memohon namun dengan suara kasar dan penuh kemarahan.


"Aku bilang enggak ya enggak, semua udah berakhir Saddam!!" Ilana berusaha melepaskan tangannya dari Saddam.


"Lepasin!!" imbuh Ilana.


Rizal berlari ke arah mereka.


"Mas tolong lepasin, ini cewek lo. Bukan buat dikasarin!" Meskipun badan Rizal kalah besar, ia tak gentar.


"Lo siapa? Jangan sok jagoan deh, apalagi lo juga gak tahu duduk permasalahannya." Saddam memekik.


"Saya ini, calon suami—"


"MANTAN!!" Ilana menyela.


"Ini memang bukan urusan saya Mas. Tapi saya sangat tidak suka melihat laki-laki kasar sama perempuan," Rizal maju mendekatkan badannya pada Saddam.


"Saya gak akan segan manggil security kalau Mas tidak mau melepaskan Mbak Ilana," ancam Rizal.


"Panggilin aja! Ini perusahaan punya Tante gue. Gue gak takut!" Balas Saddam lantang dengan wajah mengeras.


"Saya gak peduli ini perusahaan siapa Mas? Seandainya pun perusahaan ini milik Mas, tetap berbuat kasar pada wanita gak bisa dibenarkan. Kalau saya mau, saya bisa ambil video dan viralin lo Mas. Bukan saya yang akan menghakimi, tapi semua pengguna internet." Rizal kemudian mengambil ponsel di saku dan berpura-pura mengambil gambar dan video. Saddam yang merasa terpojok akhirnya melepaskan tangannya dari Ilana.


Kemarahan tergambar jelas di wajah Saddam, ia mengumpat berkali-kali sebelum masuk ke dalam mobil mewah putihnya.


"Gue akan nemuin lo lagi!" Pekik Saddam sebelum menutup pintu mobil dan memacunya meninggalkan parkiran.


"Good try," seru Ilana sedikit lebih ramah dari biasanya.


Giliran Rizal kali ini yang tak peduli, dia merasa enggan menanggapi Ilana. Tak penting juga. Rizal membantunya hanya karena semata-mata melakukan apa yang sudah diamanahkan Babe padanya sebelum meninggal.


"Hei, kamu Yojek yang tempo hari kan?" Ilana coba menghentikan langkah cepat Rizal.

__ADS_1


Rizal hanya menoleh dan tersenyum, ia kemudian segera membuka jok motor, mengambil jaket dan helmnya untuk kemudian memakainya.


"Thanks, ya?" Ilana kembali berteriak namun Rizal hanya menjawab dengan menundukkan kepalanya lalu kemudian men-starter motor dan meninggalkan parkiran.


__ADS_2