
"Loh ... ngapain lo disini? G—gimana lo bisa tau tempat gue?" tunjuk Ilana pada seorang pemuda yang sedang berdiri di depan pagar kosnya.
"M—mbak—"
"Panggil gue Lana!" solotnya.
"Ehh ... m—maaf, iya Lana."
"Bukannya harusnya lo kerja?!" kedua alis Ilana bertaut menatap Rizal penuh spekulasi buruk.
'jangan-jangan nih cowok stalking gue ... '
"Ehh ... i—iya, kebetulan hari ini saya ijin setengah hari. Lha ... k—kamu sendiri kenapa gak kerja?" tanya Rizal sambil menggaruk tengkuknya kikuk.
"Gue juga ijin!!" teriak Ilana. "Nih bawain! berat banget nih kandang kucing lo!" seru Ilana sambil menyodorkan kandang kucing itu ke depan Rizal.
Kemudian langsung melenggang masuk. Rizal tergopoh mengekori langkah cepat Ilana.
"Taruh situ aja!" suruh Ilana ketus.
Rizal bukannya marah, entah kenapa kegalakan Ilana malah menambah kecantikan parasnya. Hingga tak sadar ia terbengong kala menatap wajah ayu itu.
"Ngapain lo senyum-senyum liatin gue?! Jangan mesum lo ya!"
"Astagfirullah, Mbak—"
"Panggil gue Lana!" potong Ilana.
"Lana ... iya, Lana ... saya cuma sedang melihat mata lebam habis nangis itu kok," celetuk Rizal ngeles.
Sambil memutar-mutar anak kunci Ilana menjawab, "sok tahu lo!" mulutnya mengerucut.
"Mata itu bisa bicara banyak, melebihi yang kamu sadari ... "
Ilana tertegun sejenak, ia kemudian menoleh pada pemuda yang kini malah sibuk membersihkan bagian luar kandang dengan sapu yang ia temukan di teras kos Ilana.
"Masuk ... gih! Bawa kandangnya juga," ikuti aba-aba dari sang pemilik kamar kos Rizal menaruhnya di salah satu sudut ruangan yang tak terisi barang.
"Lo mau minum apaan?" tanya Ilana sambil melongok ke dalam lemari es yang terlihat lengang.
"Hmmm—"
"Gak ada apa-apa, jangan milih. Adanya cuma ini ... " potong Ilana sambil menaruh dua kaleng softdrink berwarna merah dan hijau.
__ADS_1
"Gue yang lemon, yang merah buat lo!" ujar Ilana sambil membuka kaleng dan langsung menenggak minuman dingin itu tanpa ampun.
Rizal merasa lucu sendiri saat melihat bagaimana sikap Ilana yang sebenarnya baik tapi galak. Entahlah mungkin galak tapi baik. Perempuan cantik kan selalu segalak macan.
Ilana menjatuhkan diri di sofa, "ngomong-ngomong, ngapain lo kesini? Ada keperluan apa ama gue?" sambung Ilana ketika teringat kalau ia belum menanyakan apa alasan Rizal berada di depan kos.
"Saya?" Rizal yang baru saja duduk setelah selesai merakit beberapa bagian kandang yang terpisah.
"Iyalah ... elo! Memangnya ada yang lain selain elo disini?"
"Saya kesini bukan buat ketemu kamu kok," jawab Rizal kontan membuat Ilana memicingkan mata kepadanya penuh curiga.
"Jangan bohong!!" pekik Ilana seolah sedang melakukan investigasi.
"Suer deh ... saya gak bohong. Saya kesini tuh mau nganterin ini," jelas Rizal sambil menunjukkan sebuah bungkusan kecil dari dalam saku jaketnya.
"B—buat siapa?" Ilana salah tingkah.
'waduh malu banget nih kalau gue tadi ternyata salah sangka ... ' batin Ilana sembari berusaha bersikap normal.
"Bu Mira, yang ngurusin tempat ini. Dia kan temen Enyak saya. "
"Emangnya itu isinya apaan?"
"Saya tadi tuh sebetulnya kaget lho. Kamu datang-datang nyolot, terus nyuruh saya bantuin bawa kandang buat si meong—"
"Mio-mio, itu nama anabul kita sekarang!" sela Ilana tetap dengan gaya galaknya.
"Iya, mio-mio ... " Rizal menanggapi.
"Yaudah kalau gitu lo pergi, gue kira lo kesini buat ngambil mio-mio dari gue! Lagian gue juga capek banget pengen istirahat!"
"Saya tuh jelek-jelek gini bukan cowok yang suka ingkar janji. Kan saya udah ngasih mio-mio ke kamu, ya itu berarti udah saya ikhlaskan. Toh saya ngambilin itu juga buat kamu, saya tahu kamu sayang banget sama kucing itu."
"Oh iya, makasih lho ya buat minuman gratisnya, permisi ... kalau gitu saya pergi dulu." Rizal beranjak lalu segera keluar dari kamar Ilana.
Masih dengan mempertahankan egonya yang besar Ilana pura-pura tak peduli dan hanya melambaikan tangan sekenanya saat Rizal keluar dari kamarnya.
Meskipun dalam hati ia malu setengah mati karena sudah salah mengira kalau kedatangan Rizal adalah untuknya.
****
"Makasih ya, Zal?!" ucap Bu Mira pada Rizal setelah penyerahan barang titipan misterius itu.
__ADS_1
"Zal ... " panggil Ilana yang ternyata sedang bermain dengan mio-mio di depan kamarnya.
"Loh, katanya tadi mau istirahat?" Rizal menyapa balik.
"Berisik deh!" Ilana merengut.
Meong ... meong ... meong ...
sepertinya kucing berbulu seputih salju itu mengenalinya. Terbukti saat ia datang mendekat, si kucing langsung menyambutnya. Berputar-putar di antara kakinya. Mengendus, melihat dengan manja seolah ingin digendong.
"Tuh kucing sayang banget tuh ama bapaknya!" celetuk Ilana yang segera disesali karena ucapannya seolah mengandung makna lebih.
Rizal pun berjongkok lalu menggendong mio-mio.
"Kalau saya bapaknya, emaknya siapa coba?" balas Rizal menyeletuk dan kontan membuat pipi Ilana memerah.
"Eh ... Zal, lo laper gak?" Ilana mengalihkan pembicaraan.
"Ya laper lah, dari tadi siang cuma makan sama kentang goreng ples burger."
"Hah? Emang itu makanan? Itu mah cuma cemilan!" Ilana bangkit lalu mengajak mio-mio untuk masuk kandang.
"Loh ... mau kemana Lana?"
"Kita pergi makanlah! Makanan yang sesungguhnya, yang bikin kenyang! Kalau kentang goreng sama burger mah itu namanya cemilan Rizal!" Ilana tak lagi ragu menarik tangan Rizal untuk membimbingnya keluar.
Tanpa Ilana sadari, Rizal bergetar ketika tangannya bersentuhan dengan telapak tangan Ilana. Baru kali ini ada perempuan cantik yang ternyata begitu apa-adanya.
"Oh iya, gue udah gak ada mobil. Lo malu gak nih pergi beli makannya jalan kaki?"
"Emang kamu kira saya kesini naik apa?" balik Rizal seketika membuat senyum tersunging di bibir tipis Ilana. Matanya pun ikut tersenyum, Rizal bisa melihat dan merasakan bahwa kesedihan yang tadinya menguasai keindahan netra perempuan itu perlahan memudar.
"Kalo gitu, yuk! Gaskeun!" Ilana menggenggam erat tangan Rizal dan membimbingnya ke arah halte.
"Memangnya kita mau makan kemana sih?" Rizal bertanya lagi.
"Dahlah ... jangan banyak tanya. Lo kuat makan sambel kan?"
"Hmmm ... siapa takut?" tantang Rizal. Lalu keduanya terbahak hingga mengundang perhatian beberapa orang lain yang juga sedang berada di halte.
"Tangan saya kesemutan ... " bisik Rizal lirih.
Sadari kalau dari tadi tangannya terlalu nyaman menggenggam jemari Rizal seketika Ilana melepasnya. Sembari menahan malu, ia malah tampakkan senyum cengengesan salah tingkah, begitupun Rizal. Sebelum akhirnya kedua anak manusia yang terpaut umur jauh itu saling membuang pandangan untuk sekedar meredam perasaan aneh yang canggung. Hangat tapi terasa canggung.
__ADS_1