
Beberapa saat keduanya larut dalam keheningan. Rizal masih berusaha mencerna apa yang kini terjadi pada Aura. Yang perempuan itu lakukan tentu saja bukan hal yang dapat ia terima. Namun, menghakimi Aura akan apa yang telah ia perbuat tentu bukanlah hal bijak.
"Zal ... " Aura meraih jemari Rizal.
"Maafin aku ... " lanjutnya.
"Kamu gak perlu minta maaf sama aku, Ra. Kamu harusnya minta maaf sama diri kamu sendiri." Rizal melepaskan jemari Aura yang terus coba menghentikannya untuk pergi.
"Zal, please, dengerin aku."
Rizal hentikan langkahnya,menoleh kembali pada Aura. Mempertimbangkan hal apa yang harus ia lakukan. Apakah ia harus berjalan pergi ataukah harus memberikan kesempatan padanya untuk menjelaskan.
"Ra, apakah kamu janji bakal jujur nyeritain tentang apa yang membuat kamu harus melakukan pekerjaan ini," pinta Rizal. Ia paling benci dibohongi, tentu saja siapa juga sih manusia yang rela menelan kebohongan.
RIzal kembali duduk, Aura menyandingnya.
"Zal, lima tahun yang lalu saat aku ninggalin kamu tanpa pamit, tanpa alasan yang jelas adalah karena paksaan dari Papaku. Mama meninggal, gak berapa lama kemudian Papa tiba-tiba aja minta mutasi dari perusahaan tempat dia kerja." Aura menjelaskan dengan pandangan kosong. Terlihat sekali kalau sekarang ia sedang membuka album lama hidupnya yang mungkin saja menyakitkan dan penuh luka.
"Sebenarnya saat itu, aku menolak untuk ikut Papa dengan alasan kalau aku terlanjur suka dengan kota ini. Dengan teman-teman sekolah meskipun alasan utamaku untuk bertahan adalah kamu ... "
"Ra ... " Hati Rizal bergetar mendengar penjelasan Aura.
"Ternyata Papa tetap gak setuu buat ninggal aku sendirian di Kota ini. Papa memaksaku untuk ikut pindah ke tempat antah berantah yang tentu saja aku gak suka. Karena benar saja, gak lama setelah Papa pindah ternyata dia menikah dengan seorang janda beranak satu. Parahnya lagi usia wanita itu gak jauh beda sama aku, Zal." Mata Aura berkaca-kaca.
"Wanita itu gak pernah memperlakukan aku dengan baik, Zal. Tiap Papa dinas luar kota, dia selalu ngundanfg teman-temannya buat datang ke rumah. Hingga akhirnya ada salah satu teman dia yang biasa aku panggil Om Jaka, tiba-tiba bersikap baik banget sama aku. Dia bahkan sering ngebelain aku kalau Mama tiriku itu pas marah-marahin aku di depan teman-temannya."
"Aku yang saat itu sedang butuh banget perlindungan tentu aja merasa kalau Om Jaka itu malaikat pelindung. T-tapi ternyata aku salah, Zal. Dia gak ada bedanya sama teman-teman Mama tiriku yang lain. "
Aura mulai terisak, Rizal tak tega melihatnya. Diambilnya beberapa lembar tisu dan ia berikan pada Aura."
__ADS_1
"Ra, kalau kamu belum siap buat nyeritain semua-"
"Gak! Zal, aku harus tuntasin ini malam ini. Aku gak mau kamu berpikiran macem-macem tentang aku."
"Apa yang Om Jaka lakuin ke kamu?" RIzal sudah dapat menangkap arah pembicaraan ini.
"Malam itu aku gak tahu kenapa tiba-tiba Om Jaka nginep di rumah. Tadinya aku ngira Papa dan Mama tiriku di ruma, ternyata mereka malah ninggalin aku sama pria tua brengsek itu." Sesenggukan Aura merasakan kesesakan menghantami dadanya.
"Ra ... minum dulu." Rizal memberika segelas air hangat pada Aura.
"Makasih, Zal"
"A-aku gak tahu apa yang terjadi, Zal. Yang jelas setelah minum teh yang Mama tiriku buatin aku gak udah gak sadar hingga keesokan paginya."
"A-aku bangun dalam keadaan gak pake baju, Zal. Ada noda darah di seprai kamarku. Saat itu yang jelas aku merasakan sakit di seluruh tubuh, bahkan untuk berjalan ke kamar mandi aja aku gak bisa. Setelah bisa jalan meskipun nahan sakit, aku turun ke bawah dan melihat Papa sarapan bareng sama Om jaka, like nothing has happened. M-mereka bertiga ketawa-tawa kayak habis merayakan sesuatu ..."
"Ada seorang pelanggan yang mau membantuku lepas dai jeratan Papa. Dia juga yang beliin aku apartemen ini. Semua fasilitas mewah ini dia yang kasih, ceritanya beberapa bulan yang lalu dia minta buat break, soalnya dia mau nikah. "
"Awalnya seneng banget, itu berarti aku bisa bebas dari semua aturan dia selama ini. Namun, sialnya dia malah gagal nikah, dan akhirnya beberapa hari ini dia suka dateng-dateng lagi ke apartemen. J-jadi terpaksa, mau gak mau aku harus melayani dia lagi."
Apa yang Aura jelaskan membuat Rizal tercengang. Dipandanginya perempuan di hadapanya yang sudah basah oleh air mata.
"Lalu kenapa kamu nyari aku Ra?" tanya Rizal.
"k-karena aku masih sayang banget sama kamu,Zal."
"Ra, apa kamu tahu kalau terjun ke dunia gelap seperti ini tak akan membuat hidup kamu merasa tenang? Kamu akan selamanya di bawah kendali lak-laki itu. Kamu akan kehilanga-'
"aku tahu,zal!!" pekik Aura menyela ucapan Rizal.
__ADS_1
"Kalau kamu tahu kenapa kamu ttap melakukan ini, Ra?" Rizal menatap tajam mata Aura berharap sudah tak ada lagi kebohongan di sana.
"aku gak bisa begitu aa ninggalin ini semua,Zal!"
"Lantas apa yang sebenarnya sedang kamu kejar, Zal?'
"Fasilitas mewah ini? Mobil Sport itu
? Atau-"
"Iya, Zal ... semua hal itu. Yang bisa membuat aku bahagia, aku memang butuh duit Zal buat hidup!"
"Tapi apa ini yang hati kamu inginkan?"
"Hati? Hatiku udah mati, Zal!!" teriak Aura penuh kemarahan.
" Ooo ... baiklah, aku ngerti sekarang Ra. Selama kamu masih seperti ini, jangan harap kamu bisa mendapatkan cinta dari orang yang kamu inginkan. Karena ternyata kamu gak cinta sama diri kamu sendiri!"
Rizal kemudian menyambar jaketnya dan segera pergi sebelum mulutnya tak terkendali.
Ia tak lagi pedulikan teriakan Aura yang memintanya untuk tak pergi. Baginya ini lebih dari jelas, Aura memang bukan yang dulu lagi. Dia telah benar-benar berubah. Semuanya antara mereka berdua telah berakhir.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Rizal memacu motornya lebih kencang.Menggigil, dinginnya air hujan yang menyentuhi kulit membuatnya kedinginan. Menusuk ke dalam tulang, dan meresap ke dalam hatinya.
Bukan tentang Aura yang kehilangan kesuciannya, tapi tentang Aura yang enggan berhenti menyelami dunia gelap karena alasan duniawi.
Hati Rizal terus bergumam, Aura memang bukan untuknya. Dulu, tepatnya kemarin ia masih berpikir untuk memperbaiki semua. Namun harapan itu sepenuhnya telah sirna. Hilang tanpa sisa.
Hujan semakin deras, hingga membuat radius pandang tersisa beberapa meter. Menembus malam dan hujan Rizal sedang berusaha kuatkan hati. Dalam hati ia memaki, menyesali keputusannya untuk menolong Aura tadi. Hanya berbuah kemarahan, kekecewaan tanpa ujung.
__ADS_1