Bang Ojek I Love You

Bang Ojek I Love You
Bekas Kenangan


__ADS_3

Hani masih dengan sabar menunggu Ilana bersedia membuka mulutnya untuk menjelaskan kenapa ia tidak pulang semalam. Ilana yang bak orang kesurupan menyantap seporsi jumbo bakmi goreng tanpa ampun. Baik Tesa maupun Hani hanya saling lempar pandang melihat ke-absurd-an tingkah Ilana.


"Udah berapa hari lo gak makan?" celetuk Hani dengan dahi berkerut. Ilana tak menjawab, hanya melambaikan tangan agar Hani tak meneruskan kata-katanya.


"Seret banget nih, pesenin gue minum donk." Ilana terbatuk-batuk.


"Ya habis makan udah kayak orang mukbang, kesambet setan mana sih lo?!" protes Tesa.


Hani meninggalkan meja untuk memesan ice lemon tea, gak tega juga lihat wajah Ilana menahan seret di kerongkongan. Tak berapa lama Hani kembali dengan membawa segelas minuman favorit Ilana tersebut dan tanpa menanti detik berganti Ilana langsung menghabiskan minuman itu hingga tandas.


"Haiiikkkk ... Alhamdulillah ...." Setelah bersendawa dengan kerasnya hingga membuat beberapa pengunjung lain menoleh ke arahnya, tak lupa Ilana mengucapkan syukur kepada Yang Maha Kuasa.


"Okay sekarang gue udah siap buat cerita," Kedua temannya memajukan tubuh mendekatkan diri ke arah Ilana, serta memasang telinga baik-baik sebelum Ilana memulai cerita tentang kemana hilangnya dia semalaman.


"Gue nginep di rumah kang ojek yang gue report tempo hari,"


"Hah!! Seriusan!!" Serentak Hani dan Tesa berteriak kencang.


Ilana mengangguk, "jangan bilang kalau elo diculik ma tu kang ojek ya? Gara-gara elo ngasih dia bintang satu?!" ujar Tesa berspekulasi bak bola liar.


"Enggak, sama sekali enggak. Gue malah berhutang budi sama dia, soalnya mobil bekas sialan itu tiba-tiba aja bannya pecah di tengah hutan ... "


Manggut-manggut keduanya mendengar cerita dari Ilana.


"Jadi tadi lo makan sebanyak itu gara-gara kesel sama kang ojek yang nolak pemberian uang terima kasih lo?" tanya Tesa dengan heran, dijawab anggukan mantab dari Ilana.


"Lo nyadar gak sih, Lan. Yang lo lakuin tadi tuh mirip banget sama tingkah lo waktu diputusin Nicholas pas jaman SMA. Gue sama Tesa sempet kaget liat gimana tadi lo makan udah kayak orang kesurupan. Ihh ngeri tau ...." Hani monyong sambil melihat ke arah Ilana yang terlihat cuek.


"Apakah dicuekin kang ojek sepadan sama diputusin Nicholas?"

__ADS_1


"Astagfirullah mulut lo Han ..." Ilana langsung menyumpal mulut Hani dengan tahu goreng.


"Ambilin cabenya sekalian," ujar Hani sambil menunjuk rawit ijo di mangkuk.


****


Usai jam kantor Ilana yang sudah kekenyangan memutuskan untuk langsung balik ke kos. Parkiran kos tampak lengang, hanya ada dua mobil lain selain mobilnya. Kos eksklusif dengan fasilitas lengkap, terdiri dari dua lantai. Ia menempati kamar bawah di bagian pojok. Depan kamarnya terdapat pohon mangga tua yang sebenarnya terlihat menyeramkan, apalagi kalau sudah melewati waktu maghrib. Namun, karena Ilana sangat membutuhkan kos dadakan terpaksa ia mau untuk menyewa kos di tempat ini.


Keputusannya untuk pergi dari rumah bukan tanpa pertimbangan. Dia butuh waktu untuk sembuh dan mengobati luka karena kelakuan Saddam. Sang Mama yang tidak pernah memikirkan perasaannya sedikitpun tak tampakkan kepeduliannya bahkan setelah tahu kalau Ilana telah dikhianati oleh calon suaminya. Ilana sudah tak tahan lagi tiap kali mendengar celoteh sang Mama yang memintanya untuk mengganti semua biaya pernikahan.


It's fine for her. Uang bisa dicari, pekerjaaan yang ia jalani menghasilkan cukup uang untuk menyicil 'hutang-hutangnya' pada sang Mama. Namun ketenangan dan kedamaian hatilah yang jadi concern-nya sekarang. Menghadapi kenyataan itu tidaklah semudah yang Pak Vario Tegar tulis di feed Instagram. Baginya hal-hal seperti itu sudah tidak berefek sama sekali dengan keruwetan dalam hidupnya.


Lamunan Ilana buyar seketika, saat sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Sebuah nama terpampang di sana, untuk sesaat Ilana hanya melirik ponsel yang terus berkedip-kedip. Ia jatuhkan diri ke atas kasur. Nafasnya naik turun seolah ada beban yang menghimpitnya sekarang. Tak berapa lama ponselnya kembali meraung-raung.


Mama


| Lana, angkat teleponnya!


| Mama perlu bicara. Penting!


Kedamaian sesaat Ilana seketika buyar. Mood-nya yang baru saja membaik berjungkir balik. Ia mendengus kesal, meskipun dengan perasaan dongkol akhirnya Ilana menjawab panggilan dari mamanya.


"Halo, Ma?"


"Kamu kenapa lama banget sih ngangkatnya?"


Suara judes sang Mama seketika membuat Ilana ingin segera mengakhiri pembicaraan yang sudah dapat ditebak kemana arahnya.


'Pasti soal uang itu.'

__ADS_1


"Baru aja nyampe kos, kenapa sih Ma?"


"Kamu ngekos?!" Sasti langsung ngegas.


"Iya, Ma."


"Kamu mau melarikan diri dari Mama, ya?" tuduh Sasti.


"Ilana bukan buronan!"


"Kalau gitu, kapan kamu mau melunasi semua uang Mama?"


Sesak. Dada Ilana terasa sesak, ia tak menyangka kalau Mamanya akan berbuat setega ini padanya.


"Kalau Mama minta uangnya sekarang, jujur Ilana gak punya!"


"Mama lagi butuh banget uang itu, Lana. Mama barusan ikutan arisan berlian buat investasi. Jadi Mama minta kamu buat cepet balikin semua biaya yang udah Mama keluarin buat pernikahan kamu yang gagal kemarin. Kalau saja kamu mau dengerin apa kata Mama, pasti sampai sekarang kamu dan Saddam baik-baik aja. Kamu kan gak perlu semarah itu, semua bisa dibicarakan baik-baik.  Kalaupun Saddam harus menikahi perempuan yang dia hamili kamu akan tetap jadi istri sah perta—"


Klek ... tut ... tut ... tut ...


Ilana sudah tak tahan lagi mendengar ocehan Mamanya. Bisa-bisa ia gila kalau terus mendengarkan ceramah sesat sang Mama.


Ilana membanting ponselnya, kemudian menangis sejadi-jadinya. Ia tak habis pikir kenapa Mamanya sama sekali tak memikirkan perasaannya. Bahkan Mama menganggap kalau hal yang Saddam lakukan adalah sesuatu hal biasa, sehingga seharusnya Ilana membicarakan itu baik-baik. Pada kenyataannya tidak ada yang baik-baik saja, tidak hanya hatinya, saat itu harga dirinya juga hancur.


Belum lagi cemoohan teman sekantor yang harus terus ia terima. Gagal menikah satu kali sudah cukup berat, tapi Ilana harus menghadapi kegagalan i


Alvanno, lelaki yang menjadi cintanya dulu, harus ia relakan pergi selama-lamanya dua minggu sebelum hari pernikahan.  Kecelakaan mobil di sebuah jalanan sepi puncak setelah sesi foto pre-wedding itu masih menyimpan ribuan misteri hingga sekarang. Tak pernah ada yang tahu kenapa mobil Alvanno bisa terjun bebas ke jurang sedalam puluhan meter, padahal setelah dilakukan penyelidikan dan olah TKP tak ada keganjilan yang ditemukan. Keadaan mobil sesaat sebelum terjadinya kecelakaan dipastikan baik-baik saja.


Alvanno adalah lelaki yang begitu baik dan sangat mencintainya. Membutuhkan empat tahun untuk Ilana berkabung, ia pernah berpikir untuk tidak akan  menikah. Namun tekanan dari sang Mama-lah yang membuatnya mau menikah dengan Saddam yang tak lain adalah sepupu Alvanno. Pelan tapi pasti, saat dia sudah mampu untuk membuka hati dan mencintai lagi, lelaki pilihannya justru menghancurkan harapan dan hatinya. Ia tak menyangka satu tahun penjajakan ternyata tak cukup untuk mengenal sosok Saddam dengan baik. Ia tertipu wajah tampan dan sikap sopan Saddam. Ternyata ia suka bercocok tanam dengan banyak wanita, terbukti dari selentingan yang ia dengar dari teman sekantornya kalau Saddam adalah member VIP di sebuah striptease club.

__ADS_1


__ADS_2