
"A— anaknya Alvan?" ulang Ilana, suaranya parau dan berat.
"Iya ... "
"Terus apa hubungannya anak kecil ini, Alvan, sama lo dan Saddam?"
Janice membetulkan duduknya, memberi isyarat Ilana agar mendekat. Sedikit bungkukkan badan, ia pun mendekat. Kedua tangan ia tekuk di atas meja.
"Alvan dan Saddam, sama-sama jadi member VIP di salah satu prostitusi terselubung. Hanya khusus untuk para high class," bisik Janice.
"Gak, gak, ini gak mungkin," tampik Ilana.
"Demi Tuhan ... Ilana, sekali ini saja please, lo dengerin gue ... "
"Setelah apa yang lo lakuin, lo kira gue masih bisa percaya sama lo?" tanya Ilana, Janice menggeleng.
"Please, Lan. Ini semua demi kebaikan lo ... "
"Gue berani bocorin ini pun karena gue sebentar lagi mau ninggalin kota terkutuk ini." Janice menjelaskan sembari menyedot strawberry smoothie-nya.
"Jangan bilang kalau lo—"
"Yup ... bener banget, gue ketemu Saddam disana. Gue udah kerja disitu sekitar tiga tahun terakhir."
Ilana shocked, tapi tak tahu harus berkata apa. Ia lebih memilih untuk banyak diam, dan menyerap informasi yang diberikan Janice.
"Sye, jadi lo ngegagalin pernikahan gue karena?"
"Karena gue gak mau lo nikah sama cowo brengsek macem Saddam. Gue gak rela. Karena gue yang ngenalin lo ke dia, jadi gue merasa punya tanggung jawab buat selametin hidup lo—"
"Dengan cara pura-pura hamil?" Ilana menyela.
"Gue Gak pura-pura, Lan. Gue beneran hamil, hanya saja bukan sama Saddam. Melainkan dengan pacar bule gue ... " Janice tersenyum puas.
"Soal Alvanno, kenapa gue bawa nama dia dalam obrolan kita adalah karena ... " Janice menghentikan ucapannya.
"Alvanno sebenarnya belum mati, Lan ... " bisik Janice lirih.
__ADS_1
"M—maksud lo?!"
"Sssshh ... cukup itu aja informasi yang bisa gue kasih sama lo!"
"Gue bisa aja mati kalau sampe ada yang tahu kalau gue ngebocorin hal ini sama lo. Yang terpenting bagi gue ... adalah lo tahu tentang kebenaran ini. Sudah saatnya lo memulai hidup baru. Lo berhak bahagia Lan ... " Janice meraih tangan Ilana.
Meski semua hal ini terdengar tak logis bagi Ilana, tapi ia memilih untuk tak bereaksi apapun. Janice segera berdiri dari duduknya.
"Lo Jaga diri baik-baik, ya Lan? Gue harus pergi dulu, saran gue ... lo harus menjauh dari Saddam. Bahkan kalau bisa lo resign aja deh dari perusahaan papanya Alvanno. Karena gue gak mau sesuatu terjadi sama lo, apalagi setelah lo tahu tentang informasi ini. Gue cabut dulu ya, bye ... " Janice tampak terburu-buru. Ia kemudian langsung memberhentikan taksi yang kebetulan lewat di depan resto.
Antara percaya dan tidak, ia bahkan tak sanggup mencerna apapun yang dikatakan Janice. Sungguh sangat sulit dicerna akal sehat. Laki-laki yang selama beberapa tahun terakhir ini menjadi sumber tangis, kesedihan, serta kekosongan jiwanya. Ternyata seseorang yang tak sepenuhnya ia kenal. Jika yang dikatakan Janice adalah memang sebuah kebenaran, itu berarti Alvanno adalah seorang pembohong besar. Bagaimana ia bisa memalsukan kematiannya sendiri, dan meninggalkan Ilana terkurung dalam kesengsaraan selama bertahun-tahun.
Mengapa Alvanno melakukan ini padanya, jika ia memang masih hidup dimanakah keberadaannya sekarang?
'Anak laki-laki itu .... ' hati Ilana mengatakan sebuah petunjuk.
'SIAL!'
'Bagaimana caranya menemukan anak itu, Janice bahkan tak memberi tahukan tentang dimana keberadaan anak itu ... '
Masih tenggelam dalam lamunan, tiba-tiba ponsel di kantongnya bergetar. Nama Hani terpampang jelas di layar.
"Lo gak ilang di pantai selatan, kan?" ketus Hani.
"Oh my ... asinan lo!" teriak Ilana sambil melompat dan segera kembali ke warung Nyak Niah.
Setelah mengantri hampir tiga puluh menit, dua bungkus asinan akhirnya di tangan. Ilana segera memacu mobilnya menuju rumah Hani. Begitu banyak hal yang ingin ia bagi dengan sahabatnya itu.
****
"Waduh neng, maafin Nyak ya? Gak bisa ngasih apa-apa buat semua kebaikan yang udah Neng lakuin buat Rizal. Nyak sebenarnya sungkan banget lho Neng, duh ... gimana ye ngomongnya?" Enyak duduk di samping Aura sambil berceloteh ucapkan terima kasih tanpa henti, sembari memegangi kedua tangan Aura.
Rizal yang aslinya tersipu melihat keakraban sang Enyak dengan perempuan yang baru jadi pacarnya lagi itu, coba sembunyikan wajah memerahnya.
"Nyak, kawinin aja dah. Lebih cepat lebih baik ... " cerocos Randy dengan mulut penuh. Hari ini Rizal sudah diijinkan pulang. Aura menjemput mereka di rumah sakit, bahkan ia juga memesan beberapa makanan untuk Rizal sekeluarga.
Duagh ... Rizal tanpa aba-aba menampol kepala Randy yang mulutnya jalan tanpa rem.
__ADS_1
"Bocil, masuk kamar lo! Sana ... " usir Rizal yang tak ditanggapi serius oleh Randy. Ia malah cengengesan tak jelas merasa menang karena sudah berhasil membuat abangnya tersipu.
"Ayo Ran, ke belakang bantuin Enyak. Biar abang lo yang nemenin Neng Aura ... " Enyak menarik tangan Randy dengan paksa yang tentu saja tak bisa ditolak.
Sepeninggal Randy dan Enyak, keheningan malah menyelimuti keduanya. Setelah kejadian kemarin Aura dan Rizal saling diam. Bukan marah, tapi Rizal merasa yang ia lakukan dengan Aura bukanlah hal terpuji. Jika mengingat ajaran Babe agar tak melakukan tindakan diluar batas, Rizal jadi merasa bersalah karena telah berani mencium kening Aura.
"Ra ...."
"Zal ...."
Keduanya bersamaan membuka mulut, namun bersamaan pula menghentikan kata-kata. Kelu. Lidah Rizal tak tahu harus mengucapkan apa.
"Kamu duluan ... "
"Kamu duluan ... "
'Duh berabe,' batin Rizal.
"Aku dulu ya," Aura menimpali, yang dijawab anggukan oleh Rizal.
"Aku minta maaf ya, buat kejadian kemarin ... aku—"
"Justru aku yang harusnya minta maaf sama kamu, Ra ... " potong Rizal.
"Aku takut, Ra. Takut ... kalau hal yang kulakuin nglewatin batas. Aku pengennya menjaga kamu, Ra ... "
Aura mendekatkan diri kepada Rizal, tangannya meraih jemari Rizal.
"Zal ... aku sayang banget sama kamu. Aku bahkan rela kalaupun kamu minta hal itu ... " lirih Aura.
Rizal terbelalak, mendengar ucapan Aura.
"Nggak ... Ra. Aku sama sekali gak minta kamu untuk melakukan hal diluar batas sama aku ... cinta itu harusnya menjaga, bukan merusak. " Rizal menatap ke dalam mata Aura, mencoba meyakinkan perempuan yang ia sayangi itu kalau ia sama sekali tak berpikiran ke hal seperti itu.
"Kalau ... seandainya, hmmm ... gak jadi deh," Aura terdiam, sebuah pertanyaan kembali ia telan karena tak mampu lagi melisankannya.
"Apa Ra?" Rizal bertanya.
__ADS_1
"Eng-nggak ... nothing Zal. Aku cuma mau bilang kamu harus istirahat dulu ya, jangan langsung kerja. Udah jam empat lebih, aku harus balik sekarang. Ada tugas kuliah yang harus aku kerjain. Jangan lupa minum obatnya, ya? Hmm ... pamitin Enyak ya?" setelah berpamitan Rizal mengantar Aura sampai ke halaman depan. Melambaikan tangan dan menunggu mobil yang dikendarai Aura menghilang di belokan gang.