
Jeremy.
Sebenarnya siapa orang yang selama ini bersama ku? Aku tidak mengerti alasan dia bertanya tentang kehidupan ku dulu. Tentang aku yang sudah tidak memiliki orang tua,adikku,dan perampok di rumah ku. Maksudku,apa memang dia hanya bertanya karena simpati atau hanya penasaran saja? Sikap nya seolah sedang menyembunyikan sesuatu dari ku.
Akhir-akhir ini Jeremy jarang berinteraksi dengan ku. Aku tidak tau kenapa tetapi dia seperti sedang berhati-hati. Apa yang di sembunyikan nya aku juga tidak tau. Namun nyatanya aku merasa sedikit lega karena nya.
Suara televisi yang sedang ku tonton menjadi terganggu ketika sebuah ketukan terdengar di pintu depan kemudian di susul suara Jeremy yang membuka nya.
"Apa kabarmu Jeremy? Ugh... Di luar dingin sekali"keluh orang itu. Mereka berjalan dan duduk di sofa yang tidak jauh dari ku. Aku melihat mereka, ternyata pria itu adalah orang yang membawa mayat gadis di basement.
"Duduklah di sini! Aku akan membuatkan mu minum!" setelah itu Jeremy pergi dan aku berusaha tidak mempedulikan mereka. Sebenarnya aku sangat penasaran kemana mereka membawa mayat gadis itu. Apakah menguburnya atau membuang nya? Aku menggelengkan kepala ku kemudian kembali fokus pada layar di depan ku.
"Bagaimana? Kamu sudah menyelesaikan tugas mu?" tanya Jeremy
"Kamu tau,aku sangat kesulitan waktu itu dan itu karena mu! Coba saja waktu itu kamu segera datang saat aku menyuruh mu datang,lalu apa ini? Kamu bahkan membatalkan nya" celoteh pria bernama Drake itu.
"Hahaha maafkan aku! Aku terpaksa harus membatalkan nya karena ada beberapa masalah yang harus ku urus hari itu"
"Masalah? Contohnya? "
"Mencegah tahanan ku kabur misalnya" aku menegang,aku yakin yang dia maksud tahanan itu aku karena tidak ada siapapun lagi di rumah ini selain kami. Aku mencoba mengingat jadi hari di mana aku ingin melarikan diri itu Jeremy sengaja menunggu ku di luar? Ck...benar-benar sudah di prediksikan ya,Jeremy Sialan. Suara telepon menghentikan percakapan dua pria di belakang ku,Jeremy bangkit dan mengangkat telepon itu sedangkan Drake...dia mendekati ku
"Hey ada siapa di sini? Bukankah kamu gadis di basement waktu itu?Ternyata Jeremy masih membiarkan mu hidup ya. Kamu ingat aku? " tanya Drake, aku diam tidak ingin berurusan dengan nya karena sedari tadi saat Jeremy di dapur dia melihat ku dengan tatapan nya yang aku tidak tau bisa mengartikan nya tapi aku takut, aku melirik Jeremy yang ternyata juga melihat kami tapi masih fokus dengan telepon di genggaman nya.
"Hey! Lihat aku! Aku sedang bertanya pada mu,Jeremy sering menceritakan tentang mu,jadi nama mu gisel? Sepertinya aku tidak asing dengan nama itu" dia nampak berpikir
"Apa kita pernah bertemu?" tanya nya, aku menggeleng rasanya memang tidak Pernah.
"hemm begitu ya, tapi kamu benar- benar tidak tau siapa aku? Kamu tidak mengenalku?" Aku bingung dia sebenarnya kenapa. Dia memaksa ku untuk mengingat sesuatu tapi apa?
"Sudah cukup hentikan,Drake! Jauhi dia karena sekarang kita ada tugas " ucap jeremy
"Yahh sayang sekali percakapan kita cuma sampai di sini saja. Baiklah kapan-kapan kita bicara lagi" Kemudian Drake pergi sedangkan Jeremy mendekati ku dan menggendongku membawaku kembali ke kamar
"jangan dengarkan celotehan pria tua itu,dia memang seperti itu.Baiklah kamu diamlah di kamar ini aku akan pergi menyelesaikan tugas ku" Jeremy hendak pergi tapi aku menarik lengan nya untuk menghentikan nya
"Kenapa?"
"Apa bisa pulang nanti bawakan aku beberapa buku untuk ku baca? Aku merasa bosan di kamar ini " pinta ku,ku lihat Jeremy mengangkat alis nya
"Buku? Baiklah nanti aku bawakan, sekarang tidur lah! " Cup... Dia mencium kening ku kemudian keluar setelah mengunci ku di kamar ini.
Setelah kepergian nya aku merenungi ucapan pria bernama Drake itu. Sebenarnya apa maksud dari ucapan nya. Aku pernah bertemu dengan nya? Sepertinya tidak tapi aku ingat tatapan matanya. Jika tidak salah aku pernah melihat tatapan mata seperti itu tapi di mana? Sebaiknya aku tidur, tidak ada yang bisa ku lakukan di kamar ini selain hanya tidur, membosankan memang tapi ya semoga Jeremy menepati janji nya membawakan ku beberapa buku.
.
.
__ADS_1
.
Author POV'
Malam yang gelap dan sunyi. Tidak akan ada siapapun yang menyadari jika kejahatan bisa saja terjadi. Di malam yang sunyi itu terlihat dua bayangan melewati sebuah gang. Dua bayangan itu milik Jeremy dan Drake. Mereka sedang berjalan pulang setelah menuntaskan misi mereka. Namun di tengah perjalanan, Jeremy menghentikan langkah kaki Drake.
"Ada apa?" Tanya Drake bingung.
"Sebenarnya apa tujuan mu?"
"Apa maksud mu?"
"CK... Aku bukan sekali dua kali mengenal mu. Kenapa kamu mendekati gadis di rumah ku?" Tanya Jeremy kesal.
"Oh! Jadi maksud mu yang tadi? Haha tidak tidak,,,aku tidak punya tujuan apa-apa. Aku hanya merasa pernah bertemu dengan nya" jelas Drake kemudian ia berpikir.
"Jeremy! Dimana kamu menemukan gadis itu?"
"Untuk apa kamu perlu tau?" Jeremy makin kesal mendengar keingintahuan Drake.
"Oh,kamu ingin merahasiakan ini dari ku? Melihat rekasi mu sekarang, sepertinya gadis itu cukup berharga,menarik!" Drake menyeringai kemudian mendekati Jeremy dan menepuk pundak Jeremy.
"Kamu tau Jeremy? Gadis itu membuat ku penasaran" Setelah itu Drake pergi meninggalkan Jeremy yang semakin kesal dan cemas. Ia memiliki firasat yang kurang bagus. Mungkin sesuatu yang buruk akan terjadi,pikirnya.
.
.
.
Ku lihat jam sudah menunjukkan Pukul 2 malam, apa aku pergi selama itu? Aku berjalan menuju kamar gadis yang ku sekap dan membuka pintu, ku lihat sepertinya dia sudah tidur. Aku berjalan mendekatinya dengan menenteng kantong plastik berisik beberapa buku sesuai permintaan nya. Sepertinya gadis itu suka membaca dan kenapa aku harus menuruti nya? Apa karena perasaan bersalah? Entahlah.
Aku duduk di pinggir kasur dan memandangi wajahnya yang terlihat damai itu kemudian meletakkan buku di atas meja. Aku tersenyum kemudian mengelus kepalanya. Entah apa yang membuat ku menjadi seperti Ini padanya. Bersikap manis? Itu bahkan bukan sifat asli ku.
Aku masih menatap nya dan mengingat kejadian 9 tahun yang lalu.
Sepertinya malam ini aku tidak bisa tidur. Mengingat ucapan Drake yang membuat ku harus lebih waspada. Apa yang dipikirkan pria tua itu. Apa dia menyadari Gisel sebenarnya?
"Kenapa itu harus kamu?" lirih ku, melihat nya mulai menggeliat tak nyaman di tidurnya membuat ku menghentikan elusan di kepalanya.
Pikiran ku benar-benar buntu, sepertinya aku butuh sesuatu untuk menenangkan diri. Berpikir dan akhirnya melihat kuas dan beberapa alat lukis di meja belajar sana.
Aku berjalan ke meja belajar dan mulai mempersiapkan lukisan. Di saat sedang melukis aku mendengar gadis itu memanggil nama ku.
"Jeremy? Apa itu kamu?" Aku hanya melihat nya.
"Kamu sedang apa? " tanya nya dengan suara khas bangun tidur.
__ADS_1
"Apa aku membangunkan mu?"tanya ku dan dia menggeleng, ah wajahnya yang sayu itu membuat ku tersenyum tanpa sadar
"kalau begitu tidurlah lagi,aku hanya akan menyelesaikan ini kemudian pergi"ucapku,dia kembali menggeleng
"aku tidak ingin tidur lagi"ucapnya,aku menaikkan sebelah alis ku
"Kenapa?"
"Aku bermimpi buruk,aku melihat orang tua ku di bunuh di depan ku dan itu sangat mengganggu ku " keluhnya,aku terdiam.
"lalu sekarang apa yang ingin kamu lakukan?"tanya ku
"Entahlah,menemani mu mungkin "
"Baiklah! Ayo temani aku! "aku pun bangkit dan berjalan mendekati nya kemudian membawanya ke tempat ku tadi. Dia langsung mengalungkan tangan nya di leherku. Aku mendudukkan nya di pangkuanku.
"Wah! Ini lukisan mu? "tanya nya
"kamu suka?"
"Tentu saja! Ini benar-benar bagus"ucapnya semangat menatap kertas lukisan ku kemudian melirik ku
"Aku tidak tau kalau kamu juga bisa meluk-" Aku menghentikan ucapan nya dengan ciuman di bibirnya. Aku tidak bisa menahan diriku saat melihat nya semangat seperti itu.
Aku melepaskan ciuman ku dan ku lihat dia terkejut. Aku terkekeh merasa gemas dengan ekspresi nya itu.
"Apa yang kamu lakukan?"lirihnya, dapat ku lihat rona merah di pipinya membuat ku kembali terkekeh.
" Bukan apa-apa. Kamu bisa melukis?"dia menggeleng
"apa kamu suka dengan lukisan?"
"tentu saja"
"Baiklah, aku akan mengajari mu" ucap ku kemudian mengambil kuas dan menyuruhnya untuk memegang dengan benar dan setelah itu aku menuntun tangan nya untuk menggambar garis-garis hingga menghasilkan sebuah gambar yang...
"Hahahaha aku tidak tau kamu ternyata bisa juga melakukan nya " Aku tidak bisa berhenti tertawa. Gambarnya memang tidak sebagus dan serapi milik ku tapi untuk seorang pemula ini sudah lebih dari cukup,dia memukul dada ku.
"Berhentilah mengejek ku! Aku tau gambar ku jelek"dia menggigit bibir nya seraya menatap ke bawah. Ku ulurkan tangan ku menghentikan nya menggigit bibirnya.
"Hey! Jangan menggigit nya kamu hanya akan membuat mereka terluka " dia menatap ku
"Sudah sangat larut sekarang. Ayo kita tidur! " Ajak ku tapi dia menggeleng
"Aku tidak ingin tidur. Aku takut mimpi itu kembali datang"keluhnya
"Aku akan di sini menemani mu,bagaimana?" tawar ku,dia menatap ku senang kemudian mengangguk,aku ikutan tersenyum saat melihat nya seperti Itu. Akhirnya aku kembali menggendong nya dan membawa nya ke tempat tidur. Aku hanya duduk di pinggir kasur dengan tangan ku di genggaman gadis Itu.
__ADS_1
Andai saja aku bisa mengulang masa lalu. Aku ingin memperbaiki nya.