
Drapp... Drapp...Drapp...
Suara gemuruh langkah kaki bersahut-sahutan di malam yang gelap. Langkah-langkah kaki itu menuju ke sebuah rumah yang di duga tempat tinggal orang dalam laporan yang mereka terima. Mereka adalah para polisi yang mulai datang mengepung rumah itu.
Tidur nyenyak Gisel terganggu saat sebuah tangan membangunkannya. Gisel menggeliat sebentar lalu membuka matanya. Di lihatnya Jeremy berada di depannya dengan ekspresi tidak ia mengerti.
"Uhm... ada apa Jeremy?" tanyanya masih setengah sadar.
"Tidak ada waktu untuk menjelaskan nya. Sekarang cepat bangun, polisi sudah mengepung tempat ini" ujarnya yang membuat kesadaran gisel kembali.
"Polisi? Maksud mu polisi ada di sini?"
Gisel kebingungan. Harusnya dia senang akhirnya polisi menemukan tempat nya di sekap. Hari itu ketika polisi datang lalu tidak berhasil menemukannya ia sedikit kecewa dan sekarang polisi kembali ke sini tapi gisel tidak merasa senang untuk itu.
Gisel melihat Jeremy menggendong bayi nya yang terlelap kemudian membantunya berdiri. Dengan langkah tertatih-tatih ia mengikuti arah jalan Jeremy yang menuju basement rumah nya. Di sana Jeremy hati-hati membantu gisel untuk turun tanpa menimbulkan suara.
"Pelan-pelan" bisiknya. Kemudian mereka menuju pintu di sudut ruangan untuk keluar tapi sayang ketika pintu itu terbuka bukan nya jalan keluar yang mereka lihat melainkan kepungan polisi yang sampai ke tempat yang harusnya menjadi tempat yang hanya Jeremy yang tahu. Jeremy menggeram, ini pasti ulah Drake,pikirnya.
Suara gaduh di belakang nya menarik perhatian mereka dan ternyata itu adalah para polisi yang turun dari tangga basement lalu mengelilingi mereka dengan pistol tertodong ke arahnya. Selesai. Mereka terkepung. Jeremy semakin mengeratkan genggaman tangan nya pada Gisel.
"Tuan Jeremy anda di tuduh melakukan pembunuhan, penculikan, pemerkosaan dan penganiayaan, karena itu sebaiknya anda menyerahkan diri dengan baik-baik" ucap salah satu polisi di sana. Jeremy diam. Lalu satu orang turun dari tangga dan itu adalah Teressa.
"Gisel!!" Teriaknya nya. Wajahnya nampak sangat lega saat melihat gadis yang dia cari selama ini benar-benar ada di sini. Ia juga melihat bayi dalam gendongan Jeremy. Pria itu tidak membohongi nya. Teressa dengan air mata berlinang menatap gadis di depannya. Ia merasa sedih untuk apa yang menimpa nya.
"Gisel, kamu benar-benar ada di sini" ucapnya. Sementara gisel juga tidak bisa menghentikan air matanya namun ia tidak beranjak dari samping jeremy. Ia sedikit memahami keadaan saat ini dan ia tidak ingin berpisah dengan pria di sampingnya.
"Gisel, kemarilah! Kami di sini menyelamatkan mu" ucap Teressa lagi. Gisel menggeleng.
"Tidak Teressa. Aku tidak akan meninggalkan jeremy. Dia pria yang baik, kalian salah paham" jelas Gisel membela Jeremy berharap orang-orang di sana mengerti.
"Tuan Jeremy sebaiknya anda menyerahkan diri dengan baik-baik" perkataan salah satu polisi itu membuat Gisel menggeleng keras. Ia tidak mau di pisahkan dengan Jeremy. Ia masih mencintainya.
"Tidak! Itu tidak benar. Jeremy bukan pria seperti itu" Belanya lagi.
__ADS_1
"Gisel sadarlah! Kamu di kurung dan di aniaya di sini olehnya. Bahkan kamu sampai melahirkan bayi karena kesalahannya" ucap Teressa yang membuat air mata Gisel kembali mengalir.
"Tidak. Itu tidak benar. Jeremy tidak seperti itu, hiks" Gisel merasakan kepalanya berputar sementara Jeremy yang daritadi hanya diam mendengar pembelaan dari Gisel pun melepaskan genggaman nya. Merasa tangannya terlepas Gisel menatap jeremy dengan tatapan bertanya.
"Mereka benar Gisel. Aku orang yang seperti itu. Aku bahkan menghamili mu" aku Jeremy. Mendengar ucapan itu sontak Gisel menggeleng keras. Ia meraih kedua lengan Jeremy .
"Tidak Jeremy. Kamu bukan orang seperti itu. Kamu hanya terpaksa melakukannya. Aku tahu kamu. Aku juga tahu alasan mu. Jadi jangan mengatakan hal seperti itu. Mereka tidak tahu apa-apa tentang mu"
Jeremy terdiam mendengar jawaban gisel. Linangan air mata yang mengalir di pipi gisel membuat jeremy tidak tega. Ia menghapus air di sudut mata gadis itu. Kemudian ia melepaskan cengkraman Gisel di kedua tangannya lalu menyerahkan bayi nya dalam gendongan Gisel. Meski menerima nya, Gisel masih sedikit bingung dengan tindakan jeremy yang berjalan mundur menjauh darinya.
"Jeremy?"lirihnya. Tepat saat ia hendak mengikuti Jeremy sebuah tangan menariknya ke belakang membuat jarak antara dia dan Jeremy semakin menjauh.
"Tidak! Lepaskan aku. Jeremy kamu mau kemana? Kenapa kamu meninggalkan ku? Bawa aku bersama mu Jeremy!!!" teriak Gisel sembari ia di tarik semakin jauh dari Jeremy yang menatapnya diam. Gisel terus memberontak berharap tarikan itu terlepas dan ia bisa mengejar Jeremy lalu memeluknya. Gisel menangis sembari menatap jeremy. Ia ingin Jeremy datang dan membawanya bersama nya tapi Jeremy hanya diam tak bergeming dari tempatnya berdiri. Teriakan Gisel memenuhi ruangan itu bersamaan dengan tangisan sang bayi yang seolah ikut bersedih bersama ibunya.
"Lepaskan aku, hiks.. lepaskan ... Jeremy... Aku tidak ingin pergi. Lepaskan aku..." Teriaknya terus-menerus tapi tidak ada yang mau mendengarkan ucapan itu.
Melihat gisel yang terus memberontak di tangan polisi dan polisi yang menggenggam erat tangan gisel membuat jeremy tidak suka melihatnya. Jeremy menerjang salah satu polisi dan merebut pistolnya membuat para polisi siap siaga dengan pergerakan Jeremy.
"Kamu tidak perlu melakukan itu. Bukankah aku sudah melakukan kesalahan pada mu?" ucapnya kemudian.
"Aku... Hampir menghancurkan hidupmu kan?"
"Aku mencintaimu"
" Jadi, aku tak akan mengganggumu lagi"
"Sekarang kamu bebas"
"Tolong jaga bayi kita, meski cuma sebentar tapi aku bahagia dia lahir ke dunia ini"
"Aku harap dia tidak menyesal memiliki seorang ayah seperti ku"
"Gisel, seperti yang di katakan Josh. Kamu itu gadis yang baik. Seharusnya aku tidak menyakiti mu, tapi aku melakukannya"
__ADS_1
"Aku tidak akan meminta maaf untuk semua perbuatan ku karena aku tahu perbuatan ku itu memang tidak seharusnya di maafkan"
"Kamu sudah mengubah hidup ku, Gisel. Karena mu akhirnya aku bisa merasakan perasaan cinta seperti ini. Sekarang aku tahu kenapa ibuku menangis ketika aku membunuh ayah ku"
"Itu karena dia mencintai nya, entah sebrengsek apapun ayah tiri ku dia tetap orang yang di cintai ibu ku"
"Terima kasih untuk semuanya"
"Nanti ketika anak itu dewasa, katakan padanya bahwa aku mencintai nya"
"Lalu sekarang,,,maafkan aku gisel aku harus pergi. Maafkan aku yang tidak bisa bersama dengan mu seperti yang kamu inginkan. Kamu tidak seharusnya mencintai pria brengsek seperti ku. Kamu terlalu berharga untuk itu"
"Sampai jumpa, Gisel"
Jeremy mengerahkan pistol ke kepala nya lalu ....
Dorrr......
Suara tembakan terdengar membuat suasana sekitar menjadi hening. Semua orang yang ada di sana tercengang terlebih gisel. Ia sampai terduduk karena saking syok nya. Lalu ketika kesadaran nya kembali ia langsung berteriak memanggil nama Jeremy.
"Jeremyyyy!!!!!" Teriaknya lalu memberontak melepaskan tangannya yang akhirnya di lepas, Gisel menyerahkan bayi nya ke polisi yang menyeretnya tadi , lalu dengan langkah bergetar ia menghampiri tubuh jeremy yang sekarat. Ya, Jeremy baru saja menembaki kepalanya sendiri.Gisel memangku tubuh jeremy lalu ia menangis.
"Kenapa? hiks...kenapa kamu lakukan itu?" Tanyanya dengan air mata mengalir, jeremy hanya bisa tersenyum meski ia sedang sekarat seperti itu. Ia mencoba menggapai wajah Gisel dengan tangannya yang bergetar. Ia mengusap pipi gisel. Gisel langsung menggenggam tangan Jeremy.
"Aku baik-baik saja. Jangan menangis kamu tidak perlu melakukan nya. Tersenyumlah"ucap Jeremy lalu ia mulai menutup matanya. Tangan nya yang semula di wajah Gisel pun terjatuh.
"Tidak! Jeremy, tidak! Aku tidak ingin kamu pergi. Seseorang! Seseorang siapapun tolong jeremy. Jeremy tidak boleh pergi seperti ini. Anak kita, dia harus melihat ayahnya,,kumohon jeremy buka matamu,hiks buka jeremy, ku mohon!" Gisel terus meracau, bahkan sesekali ia memukul pelan pipi jeremy berharap Jeremy membuka matanya. Gisel melihat sekeliling dan melihat orang-orang di sana hanya diam melihat jeremy. Bahkan Josh yang baru saja tiba tercengang dengan apa yang di lihatnya. Ia terlambat.
"Kenapa? KENAPA SEMUANYA HANYA DIAM SAJA? seandainya kalian tidak kemari,Jeremy sekarang mungkin masih baik-baik saja,dan aku..hiks..dan aku tidak akan kehilangan nya" Teressa yang tidak sanggup melihat gisel menangis,ia menghampiri Gisel kemudian memeluknya.
"Aku mencintai nya Teressa. Tidakkah kamu mengetahui itu?hiks" setelah mengucapkan itu Gisel yang tak kuat menahan kesedihannya pun pingsan.
Malam itu adalah malam terakhir Gisel bisa melihat wajah jeremy. Malam terakhir Gisel bisa mendengar suara jeremy. Itu adalah malam perpisahan mereka.
__ADS_1