
Gisel pov'
Matahari sudah menyapa penghuni bumi. Aku mulai terbangun dan merasakan sesuatu di genggaman ku saat aku melihat nya ternyata itu tangan Jeremy? Jadi semalam dia tidur di sini? Ah iya aku hampir lupa dia menemani ku tidur. Aku memandangi wajahnya yang tertidur pulas itu. Wajahnya damai dan sepertinya dia sangat kelelahan karena pekerjaan nya. Sebenarnya pekerjaan nya itu apa?
Aku terus menatap nya dan aku tidak mengerti diriku. Aku membenci nya tapi aku tidak bisa menolak ketika dia bersikap manis pada ku. Apa ini semacam jebakan membuat ku lengah kemudian membunuh ku? Ku yakin itu sangat mudah dilakukannya mengingat gadis itu mati di depan ku. Aku melihat cara tidurnya pasti tidak nyaman.Kenapa tidak, dia tidur dengan posisi duduk di pinggir kasur dan hanya menyandarkan punggung nya di sisi ranjang sedang tangan nya berada di genggaman ku.
Ting tong...
Ting tong...
Ting tong....
Suara bel berbunyi. Seperti nya Jeremy kedatangan tamu. Aku menggoyangkan lengan nya berharap dia segera bangun dan akhirnya usaha ku berhasil, dia terbangun.
"Ada apa?" tanya nya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Ada tamu "jawabku,Jeremy mengangguk.
"kamu diamlah di sini dan jangan membuat suara jika tidak ingin aku marah!" ancam nya dan kini giliran ku untuk mengangguk. Jeremy keluar dari kamar ku.Sayup-sayup aku mendengar dia berbicara dengan seorang gadis.
" Apa kamu melihat Gisel,Jeremy? Dia belum kembali semenjak aku menyuruhnya ke rumah mu" suara Itu? Itu suara Teressa,dia mencari ku?
"Apa yang terjadi?oh masuklah dulu! " Jeremy kenapa kamu berbohong?
"Iya. Aku sudah mencari nya kemana pun tapi aku tidak menemukan jejak nya, ku pikir dia ada di rumahmu " suara Teressa terdengar lebih dekat sepertinya dia sudah berada di ruang tamu.
"Teressa"lirih ku. Aku menggigit bibir bawah ku menahan tangis. Ingin sekali aku berlari dan memeluknya, aku sangat merindukan nya.
"Oh maafkan aku Teressa! Aku tidak tau dia ke sini.Tapi jika memang se-gawat itu aku akan membantu mu mencari kan nya. apa dia mengatakan selain ingin ke rumah ku dia kemana lagi?" tanya Jeremy
"Tidak. Dia hanya mengatakan dia ingin ke rumah mu karena dia mencemaskan mu tapi setelah hari itu dia tidak pernah kembali, aku sudah berulang kali menelpon nya tapi ponselnya bahkan tidak aktif,,, aku...aku... merasa bersalah! Seharusnya hari itu aku menemani nya" Teressa menangis? Hanya karena ku?
Aku penasaran dan perlahan turun dari kasur yah meski agak sulit tapi aku berhasil. Aku merangkak sedikit demi sedikit ke arah pintu, aku ingin melihat Teressa.
Setelah sampai,aku melihat Teressa yang di peluk Jeremy,dia sedang menangis. Aku bahkan kembali menggigit bibir ku menahan supaya aku tidak terisak dan Teressa menyadari keberadaan ku kemudian Jeremy marah dan aku takut dia juga akan melukai Teressa mengingat dia sendirian ke sini dan daerah sini juga sepi.
__ADS_1
"maafkan aku Teressa. Sekarang bukan waktu untuk kita bertemu"lirihku
"Jeremy apa kamu yakin dia tidak ke sini?"tanya Teressa lagi
"Iya, dia tidak ke sini jika memang dia ke sini seharusnya aku sudah memberitahumu" kamu berbohong Jeremy.
"ah Iya, kamu benar" Teressa mengelap air matanya dengan tissu dari Jeremy.
"Jeremy,apa kamu sudah tidak bekerja lagi di kedai? Aku tidak melihat mu lagi di sana" teressa masih sesenggukan. Melihatnya seperti itu aku ingin memeluk nya. Bagaimana pun selama ini Teressa adalah teman sekaligus kakak yang sangat mengerti akan diriku. Dia sampai se-khawatir itu karena aku? Hati ku sakit.
"tidak,,,Aku sudah berhenti"
"Kenapa?"
"Yahh karena aku masih punya pekerjaan lain" Teressa mengangguk paham kemudian dia bangkit
"Mau kemana?"
"Aku harus pergi. Jika memang Gisel tidak ada di sini aku akan mencari nya di tempat lain" Teressa aku di sini!!! Ingin sekali aku mengatakan itu tapi aku takut Jeremy marah.
"apa kamu sudah menghubungi polisi? "
Jeremy sudah kembali,dia berdiri di pintu kamar.
"apa yang kamu lakukan?"tanya nya dingin,aku menatap nya dengan mata yang sudah basah
"Kenapa kamu berbohong? Jelas-jelas aku ada di sini"
"Kenapa? Karena Ini memang pekerjaan ku"
"Pekerjaan? Pekerjaan apa yang mengurung seseorang dan menjauhkan nya dari publik, Hah?!" Aku berteriak padanya,aku benar-benar marah. Ku lihat Jeremy diam,dia berjongkok dan dengan cepat mencengkram rambut belakang ku dengan kuat sehingga membuat ku mendongak menatap nya yang juga menatap ku tajam
"Bukankah aku sudah pernah mengatakan kalau aku benci tangisan?" ucap nya penuh penekanan.Jeremy kembali marah. Aku meringis saat merasakan rambut ku seperti akan terlepas dari kepala ku.
Jeremy menyeret ku dengan menarik lengan ku,dia membawa ku sampai pinggir kasur kemudian mengangkat ku dan mendudukkan ku di atas kasur sedang aku masih terus menangis.
__ADS_1
"Berhentilah menangis!"ucap nya datar sambil memijit kening nya, tapi aku tidak bisa menghentikan tangisanku, hati ku benar-benar sakit saat mengetahui sahabat ku Teressa mencari ku. Padahal aku ada di sini tapi tidak bisa bertemu dengan nya.
"BERHENTILAH MENANGIS, SIALAN!!!" Jeremy berteriak di depan wajah ku dengan tangan nya mencengkram kuat bahu ku.
"Ku mohon! Berhentilah menangis! Itu membuat ku sakit"lirihnya putus asa.Aku ingin berhenti menangis tapi aku tidak bisa. Jeremy terlihat sangat putus asa.
"kamu tidak mendengar ku? HAH!!"dia kembali menatap ku marah. Aku takut. Dia mendorong ku dengan kasar dan menindih tubuhku. Aku yang takut membayangkan apa yang akan terjadi langsung memberontak.
Plak....
Jeremy menamparku
"Bisakah kamu diam?" Tekan nya,aku memegang pipi ku yang terasa panas
"Lepaskan aku,jeremy!" mohon ku
"melepaskan mu? Jangan bermimpi.Selama aku masih di sini kamu tidak akan bisa kemana-mana,gisel!"
"apa aku mengundang mu? Apa aku memaksa mu ke sini? Apa aku yang menyuruhmu untuk mengkhawatirkan ku? KATAKAN GISEL!!! Apa aku pernah berharap hal seperti itu terjadi?Tentu saja tidak dan sekarang kamu meminta ku untuk melepaskan mu? " aku terdiam
""Kamu tau Gisel.Aku membenci mu. Aku benci masa lalu ku. Aku benci mengetahui gadis itu adalah kamu.Aku benci dengan semua itu. Selama ini aku selalu merasa bersalah. Aku ingin melupakan semuanya nya. Lalu,kenapa kamu harus kembali hadir di depan ku, hah?"
"apa maksudmu?"aku benar-benar tidak mengerti apa yang sedang di ucapkan nya namun jeremy tidak menjawab ku. Dia mulai mendekati wajahnya ke leher ku dan menjilati nya. Aku menegang saat dia melakukan nya,aku kembali mengeluarkan air mata saat mengingat di mana dia akan kembali memperkosa ku. Segera ku pukul dia
"Kenapa kamu sama sekali tidak bisa diam? Huh? Diamlah! aku sedang menginginkan nya "ucapnya lagi kemudian kembali melanjutkan kegiatan nya yang tertunda.
Aku! Tidak mau melakukan nya! Aku berusaha mendorong nya kemudian menamparnya,dia kelihatan syok sambil melihat ku.
"KAU!! "geram nya
"Aku tidak ingin melakukannya, Kenapa kamu tidak menyadari nya juga, hah? Kenapa kamu selalu membuat ku menderita? Kamu selalu memikirkan dirimu sendiri dan menyuruhku menuruti kemauan mu Kenapa kamu tidak bunuh saja aku? KENAPA?!! " teriakku dan Jeremy terlihat terkejut, aku menangis setelah mengatakan itu.
Jeremy mencekik leher ku, aku merasa sakit di bagian leherku.
"katakan sekali lagi!!! Kamu ingin aku membunuh mu? Baiklah aku akan melakukannya sekarang juga" matanya menampilkan kilatan kemarahan dengan terus mencengkram leherku kuat. Aku merasakan pasokan udara mulai menipis dan pandangan ku mulai kabur tapi tepat di saat aku akan pingsan, dia melepaskan nya. Aku terbatuk-batuk merasakan sakit di leher ku. Aku melihat nya yang menatap ku tajam.
__ADS_1
"kenapa? "tanya ku terengah-engah
"Aku hanya ingin melakukannya.Diamlah! Aku sedang menginginkan mu" Dia mendekati ku lagi.Aku tidak punya tenaga lagi untuk melawan ketika ia sedang mencium tubuh ku, mata ku terasa sangat berat dan akhirnya aku tidak tau apa-apa lagi.