
Aku sudah tidak tau lagi berapa lama aku menangis sehingga aku tertidur di tempat gelap,lembab,dan pengap Ini. Aku melirik gadis yang sudah menjadi mayat di samping ku kemudian melirik perut nya yang sedikit membuncit. Mengingat apa yang sudah di alami nya membuat ku kembali mengalirkan air mata.
"Semoga arwah mu tenang di sana" lirih ku sedih. Aku mendengar suara langkah kaki menuruni tangga,itu pasti Jeremy siapa lagi kalau bukan dia. Eh? Bukan? Kaki Itu Bukan Jeremy?
" Wah! Ternyata kamu benar-benar melakukan nya ya, Jeremy?" ucap pria Itu sambil memandang ke arah Mayat gadis di samping ku.
"Dan... Siapa ini? Jeremy,bukannya target kali ini hanya gadis ini? Lalu siapa gadis yang satu nya?" pria itu bertanya pada Jeremy yang sedang menuruni tangga sambil ia menatap ku.
"Jangan pedulikan dia Drake,lakukan saja tugas mu!" perintah Jeremy yang duduk di kursi yang ada di sana dan dengan santai nya ia memakan cemilan di tangan nya.
"Cih,,, selalu saja begitu" gerutu pria bernama Drake itu kemudian dia mengangkat mayat gadis Itu dan membawa nya pergi.Jeremy hendak mengikuti langkah nya hingga suara ku menghentikan nya.
"Mau di bawa kemana gadis itu?" tanya ku
"Mau di bawa kemana juga itu urusan ku, Kenapa kamu perlu tau? "tanya nya kemudian mendekati ku
"Sudah tenang,hah?" lanjutnya, aku hanya diam.
"Ini! Ku bawakan kamu roti. Dari kemarin kamu belum makan"ucap nya sambil menyerahkan Roti itu pada ku.
"Ku pikir kamu tidak lagi punya hati nurani sampai mengkhawatirkan korban mu" ucap ku.Jujur aku masih kesal dengan nya
"huh? Apa maksudmu?"
"Tentu saja, aku tidak butuh roti itu " ucap ku mana sudi aku memakan pemberian orang yang berbuat setega itu pada orang lain.Dia hanya menatap ku.
"Baik baik, mungkin roti akan terasa sangat kering setelah kamu berteriak seperti semalam, hemm bagaimana dengan ini? " dia kembali menunjukkan makanan kaleng pada ku.Apa dia mengerti kalau aku sedang tidak ingin melihat nya sekarang?
"Ini bubur,makanlah atau apa perlu aku yang menyuapi mu? " ucap nya lembut.Jika seandainya aku belum mengetahui sosok aslinya itu pasti sekarang aku akan melompat bahagia karena dia mau menyuapi ku tapi sekarang aku merasa jijik jika benar-benar melakukan itu.
"Buka mulut mu,aku akan menyuapi mu!" perintah nya,aku diam. Mendapati aku tidak merespon nya, dia memasukkan sesendok bubur itu Ke dalam mulutnya
"Lihat! Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan, ini hanya bubur ,sekarang buka mulut mu!" perintah nya lagi tapi aku enggan untuk melakukan nya. Jeremy marah,terlihat dia mengeraskan rahangnya dan urat-urat hijau mulai terlihat di keningnya.
__ADS_1
"Tidak mau? Hah? " tekannya dia mencengkram dagu ku kemudian pipi ku memaksa ku untuk membuka mulut dan tepat ketika mulut ku terbuka dia memasukkan sesendok bubur itu ke dalam mulut ku yang otomatis aku terbatuk sehingga memuntahkan bubur Itu.
"Hah? Kamu memuntahkan nya? Kamu tau harga bubur itu? Itu sangat mahal jika di bandingkan dengan jajanan ku yang lain dan kau...dengan mudahnya memuntahkan nya? "geram nya.Aku tidak terlalu mendengar karena aku masih terbatuk dan rasanya Sangat pahit.
"J-jeremy... Seperti nya aku tidak bisa memakan nya" ucap ku di sela batuk ku
"hah? "
"rasanya pahit"lanjutku
"Apa itu alasan mu? Makan!!! Ku bilang Makan!! "dia kembali memaksaku menelan bubur Itu. Pahit! Rasanya sangat pahit.Aku tidak kuat lagi hingga aku pun kehilangan kesadaran ku.
.
.
.
Klekk...
Pintu terbuka dan itu Jeremy.
"Bagaimana keadaan mu?" tanya nya kemudian mendekati ku reflek aku mundur
"Kaki mu baik-baik saja,huh?"ejek nya.Kaki? Aku langsung melihat Kaki ku yang sudah di perban ini kelihatan lebih baik daripada membiarkan luka-luka nya terbuka.
"kamu... Mengobati kaki ku? "
"Tentu saja, apalagi?"
"Kenapa?"
"Jangan banyak tanya.Aku mengobati mu bukan karena aku kasihan padamu tapi karena aku belum ada minat untuk membunuh mu. Lagipula dengan kamu hidup lebih lama semakin membuat ku bisa menyiksa mu bukan?" jelasnya.Ah, dia benar tidak mungkin dia menjadi baik seperti ini.
__ADS_1
"Nah karena kamu sudah baik-baik saja... Ayo kita kembali ke basement! "Ajak nya tapi aku hanya melihatnya.
"Kenapa?"
"Aku tidak mau kembali ke sana lagi,di sana gelap dan pengap di tambah mayat gadis Itu... " aku menggigit bibir bawah ku
"hah? Lalu sekarang kamu mau apa? " tanya Jeremy memiringkan kepalanya,aku ingin memukul kepalanya itu,sungguh!
"Aku....Aku akan melakukan apa saja asalkan jangan kembali ke basement Itu,aku takut." lirihku,dia hanya diam memandangku
"apa saja?" tanya nya, aku mengangguk
"Baiklah kalau begitu...Ayo!" dia menarik tangan ku
"Kemana?" tanya ku panik
"Mandi! Aku tidak suka sesuatu yang bau, kamu harus membersihkan dirimu dulu baru melakukan apa yang ku mau" jelasnya dan kembali menarik tangan ku tapi aku yang tidak bisa menggerakkan kaki ku malah terjatuh
"Ada apa?" tanya nya kemudian mengikuti arah pandang mata ku, dia menepuk jidatnya
"Ah, aku lupa kalau kamu sudah lumpuh"ejeknya. Hey! yang benar saja ini juga karena mu, brengsek! Maki ku dalam hati dan lewat tatapan ku, Jeremy membalas tatapan ku
"Apa?" tanya nya,aku menggeleng bisa-bisa dia akan kembali memaksaku ke basement jika dia tau aku baru saja memaki nya.
Jeremy menggendongku dan membawa ku ke kamar mandi. Di sana ia mulai melepaskan pakaian ku namun aku langsung menghentikan nya.
"Ada yang salah?"
"aku...bisa sendiri" lirihku
"Ha? Aku hanya membantu mu.Lagian juga aku tidak tertarik dengan tubuhmu" ujarnya namun aku hanya diam berharap dia segera pergi dan aku bisa cepat-cepat mandi.
"Baiklah baik lakukan sendiri aku akan pergi" kemudian dia pun pergi dan aku juga segera mulai untuk membersihkan tubuhku yang terasa sangat lengket,air ini langsung menyegarkan ku.
__ADS_1