BASEMENT SENDING YOU LOVE!

BASEMENT SENDING YOU LOVE!
7.Rencana Melarikan Diri


__ADS_3

Author pov'


.


.


.


"Kamu masih menangis?" tanya Jeremy, dia berdiri di pintu kamar tempat gisel di kurung, hari sudah sore dan Jeremy baru saja pulang dan mendapati gisel menangis. Gisel tidak menjawab ia menyelimuti seluruh tubuhnya dan menangis. Yah bagaimana pun juga ini adalah kesalahan Jeremy yang sudah mengambil paksa mahkota gisel yang selama ini selalu di jaga nya. Jeremy mendekati gisel membuat gisel sedikit menjauh dengan masih sesenggukan ia menatap Jeremy.


Jeremy hendak mengelus kepala gisel namun karena reflek gisel memejamkan matanya dan membuat Jeremy marah,ia menampar gisel yang tentu saja gisel yang tidak siap langsung terpelanting. Ia memegang pipinya yang panas dan kembali menangis.


"BERHENTILAH MENANGIS BODOH! AKU BENCI TANGISAN!!" bentak Jeremy. Iya dia sangat benci dengan wanita yang menangis, ia akan selalu marah jika melihat atau mendengar wanita menangis karena ini hanya akan mengingatkan nya pada masa lalu yang sangat di benci nya itu. Gisel tidak ingin membuat Jeremy kembali marah,ia pun berusaha untuk berhenti menangis tapi air matanya tidak menghendaki, meski masih sesenggukan setidaknya Jeremy tidak kembali memukulnya.


"Apa ************ mu masih sakit?" tanya Jeremy dengan ekspresi dingin nya, gisel mengangguk. Jeremy menyerahkan sekantong obat padanya.


"Ini obat untuk mu,aku tidak tau bagaimana cara kerja nya tapi karena kamu perempuan seharusnya kamu paham akan hal ini,aku hanya bisa memberikan mu ini dan jangan berharap aku akan membawa mu Ke Dokter,mengerti?!" gisel lagi-lagi mengangguk dan mengambil obat itu kemudian diam.


"Kenapa?" Tanya Jeremy yang sadar dengan diam nya Gisel.


"Kamu jahat" cicit Gisel, Jeremy memejamkan mata sembari membuang nafas kesal.

__ADS_1


"Lalu?" Tanya nya ketika kembali membuka matanya,Gisel tidak menjawab,ia masih asik menatap kakinya.


"Ayo! kita makan dulu" Jeremy menggendong gisel dan membawa nya ke meja makan lalu mendudukkan nya.


"tapi aku perlu memasak" ujar gisel ketika sadar dia di dudukkan di kursi meja makan bukan di kursi roda yang biasanya dia pakai.


"duduk dan diamlah!"perintah Jeremy kemudian dia memotong sayuran dan mulai memasak, gisel tentu saja bingung bukannya Jeremy bilang memasak itu melelahkan? Tapi yang sekarang di lihat nya adalah Jeremy sedang memasak? Entah benar atau tidak tetapi gisel sedikit tersentuh melihat sikap Jeremy membuat nya sedikit melupakan kebencian nya pada jeremy karena sudah merenggut paksa mahkota nya. Bisakah ia berharap meski cuma sedikit? Gisel sedikit tersenyum.


.


.


.


Akhir-akhir ini Jeremy berbaik hati memberikan ku kebebasan di rumahnya. Selama dia juga ada di rumah aku boleh melakukan apa saja,iya apa saja. Tetapi aku harus merangkak ke sana kemari karena kaki ku sepertinya memang patah dan Jeremy tidak menyediakan ku kursi roda. Aku yang selalu merasa bosan pun merangkak sedikit demi sedikit menuju ruang keluarga hanya untuk menonton televisi,sedangkan Jeremy sedang membereskan barang di gudang. Hingga suara telpon berbunyi dan jeremy berjalan menuju telepon rumah nya yang tak Jauh dari tempat ku.


"Halo!  Iya ini aku Jeremy, apa maksudmu Drake? Sekarang juga? Baiklah " dia mematikan telepon nya dan menatap ku


"Aku harus pergi,ayo! Ku antar kamu kembali ke basement"perintahnya yang tentu saja aku menggelengkan kepala ku karena aku tidak ingin kembali ke tempat gelap dan lembab itu,dia diam dan mendekati ku. Aku langsung menatap ke bawah menghindari tatapan nya.


"Baiklah! Jagalah rumah! Aku akan kembali jam 6 nanti" ucap nya,mengecup kepala ku kemudian bergegas untuk bersiap-siap dan keluar,tunggu! Dia bahkan tidak membawa ku kembali ke kamar dan mengunci nya seperti biasa?  Ini adalah kesempatan ku untuk melarikan diri dari tempat ini, aku tidak bisa terus-terusan berada di sini. Siapa yang tau nanti aku juga akan berakhir seperti gadis malang waktu Itu. Hanya masalah waktu saja sebelum aku berakhir seperti nya.

__ADS_1


Aku melihat Jam dinding,pukul 15.34. Butuh waktu sekitar 3 setengah jam lagi dia akan pulang. Aku menunggu beberapa menit lagi, khawatir dia masih belum Jauh dari tempat ini. Dengan perasaan gelisah, aku kembali memandang jam dinding,15.46,tidak! Itu masih belum terlalu membuktikan kalau dia sudah jauh dari rumah ini.


Aku ingin pergi tapi aku takut. Takut jika Jeremy tau dan akan membunuhku. Samar-samar aku melihat bayangan ku yang leherku sudah di gorok oleh Jeremy. Dia terlihat sangat senang,tawanya terdengar pecah kemudian dia melihat ke arahku dan mulai mendekati ku.


"Mau kemana gisel? Sudah bosan hidup, huh? "ucapnya dengan suara berat dan seringai nya yang membuat ku kembali ketakutan, di tangan nya ada pisau yang sudah berlumuran darah dari leher ku. Tapi jika yang di sana adalah aku kenapa dia masih berjalan ke arah ku yang di sini? Jeremy mengangkat pisau itu bersiap untuk menusuk ku.  Reflek aku berteriak.


"JANGAN!!!" aku pun terbangun.Tadi itu mimpi?  Kapan aku tertidur?  Aku panik kemudian segera melirik ke arah jam dinding.  17.26. Aku tertidur selama itu? Dan sebentar lagi Jeremy akan pulang.Aku harus cepat-cepat pergi dari sini.  Dengan langkah yang lamban karena aku hanya bisa merangkak menuju pintu keluar,, di luar terdengar hujan turun dengan deras.  Sedikit lagi aku akan sampai dan benar-benar keluar dari sini, iya sedikit lagi.Aku berhasil meraih kenop pintu dan aku beruntung pintu tidak di kunci. Aku membuka pintu itu dengan perlahan namun tiba-tiba aku menghentikan kegiatan ku, keringat dingin mulai membasuh ku,aku ketakutan.


Jeremy.Dia ada di sana duduk dengan santai nya membelakangi pintu dan sedang menghisap rokok.


"Senang karena sudah bisa meraih kenop pintu?"ejek nya, ia mematikan rokok nya dan melihat ke arahku dengan ekspresi nya yang dingin. Aku yang sudah ketakutan hanya menatap nya,takut-takut dia akan menghukum ku.


"Apa? Bukannya kamu ingin keluar dan pergi dari sini?" seolah bisa membaca aksi ku. Jeremy bangkit dan memberiku jalan untuk keluar. Aku yang memang ingin segera pergi perlahan menyeret tubuhku untuk keluar, Jeremy hanya melihat dan tidak ada niatan untuk menghentikan ku, benarkah semudah itu?  Aku tidak peduli yang ku inginkan sekarang aku harus pergi dari sini. Begitu sampai di pagar halaman rumahnya, aku membuka pagar dan langsung berteriak.


"TOLONG!!! TOLONG AKU!!! SIAPAPUN TOLONG AKU!!! "teriakku berharap seseorang dapat mendengar nya,namun suara ku kalah dengan air hujan yang turun dengan sangat deras.


"TOLONG!!! Siapapun TOLONG AKU!!! "teriakku lagi.sempat ku lirik Jeremy yang terkekeh di belakang ku. Aku tidak peduli dengan susah payah aku terus menyeret tubuhku hingga sedikit menjauhi halaman rumah Jeremy.  Aku masih terus berteriak hingga tenggorokan sakit tapi tidak ada satupun orang yang dapat mendengarkan ku.Aku hampir putus asa ketika tiba-tiba Jeremy jongkok di samping ku.


"Sudah selesai?" aku tertegun.


"Seharusnya kamu berteriak lebih keras lagi supaya orang-orang bisa mendengar mu"ujarnya tersenyum lebih tepat nya mengejek ku.

__ADS_1


"Ayo! Kita masuk! Kamu sudah lihat bukan tempat ini sepi tidak akan ada yang akan mendengar teriakkan mu itu" Jeremy kembali menggendong ku, aku berontak dan dia menamparku.


"Berhentilah merengek dan kembali ke dalam, aku sudah memberimu kesempatan untuk keluar dan waktu mu sudah habis" dia kembali menggendongku di bahunya seperti membawa karung beras, aku hanya bisa pasrah sembari menatap halaman luar yang mungkin menjadi hari terakhir aku melihat nya.


__ADS_2