BASEMENT SENDING YOU LOVE!

BASEMENT SENDING YOU LOVE!
20. Kembalinya Jeremy dan air mata


__ADS_3

"aku mencari-cari kemana kamu ternyata kamu masih betah berdiam diri di sini" ucap Josh,hening.


"Bagaimana keadaan nya?"tanya Jeremy tanpa menjawab ucapan orang tersebut. Ia meletakkan buku yang dia baca kemudian menatap pria di depan nya.


"Ku pikir kamu akan segera kembali jika berkaitan dengan kekasihmu itu" Josh mengambil tempat duduk.


"Siapa yang kau sebut kekasih?"jeremy meninggikan suaranya yang sukses membuat Josh terkejut.


"Ha... Aku lelah dengan sifat mu yang kekanakan seperti ini. Apa karena ucapan ku waktu itu membuat mu seperti ini?" Jeremy diam,lalu kembali membuka buku nya.


"Kembalilah,gadis itu menunggu mu" lanjut josh,Jeremy diam.


"Kamu tidak berpikir akan menghindari nya selamanya bukan? Pulanglah dan minta maaf dengan benar,aku yakin gadis itu akan memaafkan mu. Jika kamu tidak segera bertindak,aku bisa menggantikan mu menjadi ayah dari anak mu,ku pikir gadis itu tidak buruk juga" ucap Josh asal,ia melihat perubahan reaksi jeremy saat ia selesai berbicara.


"Jangan pernah coba-coba!" Tekan Jeremy dengan sorot mata amarah membuat Josh bergidik ngeri lalu ia menarik sudut bibirnya. Josh berjalan mendekati Jeremy lalu mendekati telinga Jeremy.


"Yahh siapa tau" ucapnya lalu ia tersenyum dan menepuk bahu jeremy. Jeremy merasa kesal sudah di permainkan Josh,ia lalu bangkit dan pergi dari ruangan itu. Josh melihat nya hanya tersenyum senang.


'ini menyenangkan' batin nya.


Selama ini Jeremy terus menghindar dari Gisel. Ia sengaja tidak pulang ke rumah karena masih memikirkan perlakuannya yang kasar hari itu. Biasanya dia tidak akan peduli dengan apa yang dia lakukan,namun kali ini berbeda. Ia sedikit menyesal sudah memperlakukan gadis itu dengan kasar. Maka dari itu,dia bertekad untuk kembali setelah mendengar ucapan Josh,ia tidak akan rela jika gadis itu di rebut Josh. Kenapa begitu? Entahlah,Jeremy sendiri juga tidak mengerti,ia hanya tidak rela.


Begitu ia sampai di depan pintu rumahnya,ia sedikit ragu untuk mulai mengetuk.


'kenapa ragu? ini kan rumah ku' celetuk nya. kemudian tangan nya berinisiatif untuk menyentuh knop pintu namun sebelum tangan nya sampai,pintu itu terbuka menampakkan gisel yang terkejut dengan apa yang di lihatnya.


"J-jeremy? Ini kamu? K-kamu pulang?"ucap gadis itu terbata-bata,sama dengan Gisel tadi Jeremy juga membeku. Tanpa menunggu jawaban Gisel langsung memeluk pria di depannya itu lalu terisak di dalamnya.


"Maafkan aku. Maaf. Aku salah. Jangan tinggalkan aku. Ku mohon. Aku...aku akan melakukan apa saja asalkan kamu jangan tinggalkan aku lagi,aku minta maaf" tangis gisel dalam pelukannya. Jeremy merasa bersalah dan juga sakit ketika mendengar Gisel terus meminta maaf atas apa yang tidak dia lakukan. Entah dasar apa tangan Jeremy mengelus kepala Gisel.


"Sudahlah, seharusnya aku yang minta maaf, kamu tidak salah apapun,jadi berhentilah menangis" ucap jeremy tulus, mendengar itu Gisel semakin mengeratkan pelukannya,ia lupa kalau dia sekarang sedang hamil.


Setelah tangisan nya agak reda,Gisel melepaskan pelukannya lalu menatap Jeremy namun apa yang ia lihat, jeremy tersenyum? Namun senyuman itu hanya sebentar karena ketika Jeremy sadar ia langsung menghilangkan senyuman itu.


"Sudah selesai? Apakah sekarang kita bisa masuk?"tanya Jeremy,Gisel segera mengangguk dan mereka masuk ke dalam rumah.


"Jadi, bagaimana kabar mu?"tanya jeremy.


"A-aku baik,Josh merawat ku dengan baik" jawab Gisel sedikit takut. Suasana sekarang sangat canggung. Sekarang mereka berada di kamar gisel dengan Gisel yang berbaring di samping Jeremy dan Jeremy yang juga berbaring di sana dengan memangku kepalanya. Sesekali ia memainkan rambut Gisel.


"Jadi, meskipun aku tidak ada kamu masih bisa baik-baik saja karena Josh selalu di sampingmu?"tanya Jeremy dingin membuat gisel semakin takut. Gisel menggigit bibir bawahnya.


"Mungkin jika suatu hari nanti aku tidak ada,kamu masih bisa bersenang-senang dengan pria itu,Hem?"lanjut nya.


"Tidak! Itu tidak benar!" Sanggah gisel cepat,ia menatap wajah Jeremy kemudian kembali memalingkan wajahnya. Karena saat ini ekspresi Jeremy sangat menakutkan.


"A-aku merindukan mu. Josh hanya membantu ku merawat bayi ini,kamu tidak perlu marah seperti itu"lirih gisel kecil ketika menyesaikan kalimat terakhir nya tapi Jeremy mendengar nya.


"Kenapa aku harus marah?"tanya jeremy.


"K-karena eskpresi wajah mu seperti itu" cicit gisel lagi. Jeremy terdiam.

__ADS_1


'apakah seperti itu?'pikirnya. Ia menatap wajah gisel yang saat ini terlihat sangat ketakutan juga menggemaskan. Tangan nya menarik dagu Gisel lalu mencium bibir gadis di depannya yang sedari tadi terus dia gigit. Gisel yang tidak siap tentu sangat terkejut.


"Apakah aku terlihat seperti itu?"tanya jeremy dengan ekspresi dingin nya,Gisel tidak bisa menjawab ia hanya bisa menganggukan kepalanya.


"Baiklah,lalu bagaimana kalau sekarang kamu tidur?"tanya jeremy


"A-aku sudah tidur,aku tidak mengantuk"


"Kamu yakin?"


"Iya"


"Lalu bagaimana kalau aku memaksa mu? Aku belum tidur,jadi temani aku" pinta Jeremy yang kemudian langsung membaringkan kepalanya dan memeluk Gisel. Ia membenamkan kepalanya di leher gisel.


Gisel mengelus kepala jeremy karena hanya itu yang bisa ia lakukan dan tanpa ia sadari Jeremy tersenyum.


'ha... sepertinya aku mulai menyukai gadis ini' bisik Jeremy dalam hati.


***


"Gisel, aku akan keluar sebentar. Ada yang ingin kamu titipkan?" Tanya Jeremy yang sudah siap untuk keluar. Gisel berada di ruang tamu hanya menggeleng.


"Ya sudah,tunggu aku di rumah aku akan segera kembali" cup,,, Jeremy mencium kening gisel setelah itu dia pergi. Gisel menatap kepergian Jeremy dengan banyak pertanyaan di kepalanya.


"Pertengkaran.pembunuhan.bagaimana Jeremy bisa menanggung semua itu?" Pikir Gisel. Ia melihat perut nya yang membuncit dan mengelus nya.


"Ibu janji kamu tidak akan bernasib seperti ayah mu. Ibu tidak akan membiarkan itu terjadi" ucapnya dengan senyuman.


Klek..klek..


'Bukankah baru sekitar 10 menit lalu Jeremy pergi? Kenapa dia kembali secepat ini?' .


"Kamu pulang cepat sekali. Apa ada yang tertinggal,jere-my?" Shock! Gisel terkejut,orang yang masuk ke rumah bukanlah Jeremy melainkan sosok yang paling di hindarinya. Drake.


"Apa yang...kamu ... lakukan di sini?" Tanya Gisel. Dia ketakutan melihat Drake yang berjalan mendekati nya. Drake menyeringai menambah rasa takut Gisel.


"Apa kabar Gisel? Lama tidak jumpa,hemm?" tanya Drake dengan seringai nya.


"Merindukan ku Gisel?" Lanjutnya sembari terus mendekati gisel.Gisel turun dari sofa dan mulai merangkak mundur. Sebisa mungkin ia mencoba untuk menjauhkan diri dari Drake. Tapi apa yang bisa dia lakukan dengan kedua kakinya yang masih tidak bisa di gunakan. Dia hanya bisa mengandalkan benda-benda di ruangan itu untuk membantu nya keluar dari sana.


Saat itu Gisel hanya berharap Jeremy segera pulang. Dia melihat ke belakang, Drake tidak lagi mendekati nya melainkan hanya duduk di sofa yang baru saja dia tinggalkan sembari memandang Gisel dengan tatapan yang Gisel sendiri tidak bisa mengartikan nya. Yang pasti Gisel merasa sangat ketakutan.


"Kamu mau kemana Gisel? Kenapa kamu menjauhkan diri dari ku? Aku hanya ingin menemui mu" ucap Drake sembari terus menatap gisel untuk mendapatkan jawaban namun hening.


"Ha~ aku tidak menyangka akan kembali bertemu dengan gadis kecil yang melarikan diri hari itu" curhat Drake sembari memainkan pisau kecil yang ada di tangan nya.


"Ku pikir aku tidak akan bertemu lagi dengan gadis kecil itu. Oh iya seingat ku hari itu selain kamu juga ada bayi? Ku yakin sekarang dia sudah besar,apa aku benar?" Tanya Drake dengan ekspresi senang. Gisel teringat adiknya dan menghentikan langkahnya.


"Jangan! Jangan sentuh adik ku!" Ucapnya. Drake tersenyum.


"Aku tidak bisa jamin"

__ADS_1


"Ku mohon jangan sentuh adik ku!" Mohon Gisel. Drake mengabaikan permohonan Gisel dan melihat sekeliling.


"Dimana jeremy? Apa kamu tinggal seorang diri di sini?" Gisel diam.


"Melihat eskpresi mu seperti nya aku benar" seringainya kembali terlihat. Sekarang Gisel sudah benar-benar ketakutan. Wajahnya mulai pucat. Jarak antara mereka memang sudah lumayan jauh hanya saja dengan langkah kaki Drake bisa menghapus jarak tersebut.


"Ha~ aku benci pria itu. Gara-gara dia hari itu aku gagal membunuh mu" ucap Drake sembari mendekati Gisel. Sedangkan Gisel berusaha untuk pergi dari sana. Langkah nya terseok-seok,ia menahan rasa sakit di kakinya. Air mata mulai mengaliri kedua pipinya.


'jeremy,,kamu di mana?' batin nya.


Sebuah tangan mendarat di bahunya membuatnya ingin menangis. Drake menangkapnya.


'Jeremy!!!'


.


.


.


.


Tepat di sebuah minimarket. Seorang pria sedang menunggu belanjaan nya di hitung. Ketika hendak membayar belanjaan nya ia merasa ada suara memanggil namanya. Perasaan cemas langsung menyelimuti batinnya. Setelah membayar,ia langsung pergi ke rumah nya.


Butuh waktu 15 menit untuk sampai ke rumah nya. Ketika ia tiba,ia melihat pintu depan rumah nya terbuka. Isi rumah nya berantakan. Namun sosok yang dia cari tidak lagi ada di ruang tamu. Jeremy memandang ke segala arah. Mencari sosok gadis di rumah nya. Hingga sebuah suara d*s*h*n tertahan terdengar di telinga nya. Dengan tenang, Jeremy mendekati arah suara tersebut dan suara itu ternyata dari salah satu kamar. Pintu kamar itu sedikit terbuka dan di sanalah ia mendapati gisel sedang di perkosa seseorang.


Jeremy memasuki kamar tersebut dengan berusaha tenang. Dari belakang,ia tau siapa pemilik tubuh pria yang berani memperkosa gadisnya.  Gisel menyadari adanya Jeremy di kamar itu. Air mata tak henti nya keluar dari matanya. Gisel mengulurkan tangan nya berharap Jeremy bisa menggapai nya.


Jeremy tidak ingin bersikap gegabah. Ia menepuk pundak pria di depannya.


"Sudah cukup! Hentikan sekarang!" Ucapnya dengan suara dinginnya. Karena saat ini,Jeremy menahan amarahnya. Pria di depannya cukup kaget namun hanya tertawa melihat Jeremy sudah tiba.


"Oh Jeremy, akhirnya kamu pulang. Bagaimana?" Tanya Drake dengan ekspresi mengejek sembari terus menusukkan miliknya.


"AKU BILANG HENTIKAN!!!!" Di sini amarah Jeremy sudah tidak bisa ia tahan. Jeremy menarik tubuh Drake dan melempar nya. Jeremy marah besar. Matanya menatap Drake dengan tajam. Sedangkan Drake,dia hanya tertawa.


"Hahahahahahaha.... Jeremy...Jeremy... hahahaha"


"Apa? Kamu marah? Kenapa? KENAPA KAMU MARAH??" Teriak Drake.


"Kenapa aku marah? Kamu menyentuh apa yang menjadi milik ku,haruskah aku menjelaskan nya?" Tanya jeremy


"Milikmu?Apa yang menjadi milik mu? Dia? Gadis itu bahkan sudah ku tiduri. Dia bukan gadis suci seperti yang kamu bayangkan. Lihat! Ku yakin sekarang lub*ng nya masih menginginkan sentuhan"


"Kamu!!!" Geram jeremy. Ia menghampiri Drake dan memukulnya. Baku hantam pun terjadi. Jeremy memukul sekuat tenaga. Ia benar-benar sangat marah. Memar dan darah pun tak luput menghiasi keduanya. Namun luka Jeremy tidak separah milik Drake yang mendapatkan pukulan cukup menyakitkan dari Jeremy.


Jeremy menghentikan pukulannya, nafasnya ngos-ngosan. Ia melihat kondisi Drake yang lebih parah darinya.


"Jeremy...apa kamu lupa siapa yang dulu menampung mu? Siapa yang dulu mengajarkan mu bertarung? Siapa yang dulu melindungi mu? Itu AKU! Itu aku jeremy! Kamu lupa,hah? Harusnya kamu berterima kasih pada ku, lalu apa ini? Apa kamu sudah gila? Semenjak gadis itu hadir kamu sudah bukan kamu yang dulu lagi. Kenapa Jeremy? Kenapa dulu kamu membantu nya melarikan diri?" Emosi Drake merasa tidak terima dengan tindakan jeremy.


"Sepertinya kamu salah paham Drake. Aku tidak pernah berterima kasih pada mu. Aku juga tidak pernah meminta mu untuk menampung ku. Kamu sendiri yang membawa ku. Dari dulu aku tidak pernah setuju dengan rencana mu menghampiri keluarga Gisel. Kamu mengatakan aku gila? Kamu bahkan tidak menyadari kalau KAMU SENDIRI YANG LEBIH GILA!!!"

__ADS_1


Jeremy menatap geram pria di depannya yang berdiri seolah mengejeknya. Ia ingin sekali menghabisi pria di depannya itu jika saja ia tidak mendengar rintihan gisel memanggil namanya. Jeremy bangkit dari tubuh Drake. Ia melihat Gisel yang terlihat sangat kesakitan. Darah mulai membanjiri selang*angan nya. Namun tepat ketika ia ingin mendekati Gisel,Drake menembakkan pistol ke arah jeremy.


Dorr...


__ADS_2