BASEMENT SENDING YOU LOVE!

BASEMENT SENDING YOU LOVE!
19. Maaf


__ADS_3

Di dalam kamarnya,Josh sibuk memeriksa kandungan Gisel. Ia khawatir terjadi sesuatu pada kandungan nya setelah terjadi benturan barusan. Beruntung Josh adalah seorang dokter jadi dia bisa dengan cepat menangani kasus seperti ini.


"Bayi mu baik-baik saja, sepertinya benturan tadi tidak terlalu berpengaruh pada bayi mu"jelas Josh,mendengar itu Gisel akhirnya bisa bernafas lega. Lalu Josh mulai mengobati luka di sudut bibir gisel dan mengolesi salap di pipinya yang memar.


"Aku tidak habis pikir,dimana akal sehat Jeremy. kenapa dia bisa melakukan ini padamu" gerutu Josh saat mengolesi salep di pipi dan bibir gisel.


"Ini semua karena kejadian tadi di taman.Jeremy melihat ku bersama Johan" jelas Gisel,Josh mengerutkan keningnya


"Siapa Johan?"


"Dia teman satu SMP ku,dia juga dulu pernah menyatakan perasaan nya pada ku" Gisel mulai menceritakan semua kejadian di taman tadi dan akhirnya Josh menganggukan kepalanya mengerti. Ia akhirnya tau kenapa jeremy berbuat seperti itu.


"Aku bahkan ingin menjelaskan kejadian tadi tetapi Jeremy tidak memberiku kesempatan. Aku ketakutan setiap kali melihat nya marah" cerita gisel


"Aku takut jeremy akan pergi meninggalkan ku. Padahal seharusnya aku membencinya tapi aku tidak tau kenapa sekarang aku tidak ingin jauh darinya. Apa ini karena pengaruh dari kehamilan ku? Atau apakah aku terkena penyakit stockholm syndrom sehingga aku tidak bisa melepaskan jeremy?"lanjutnya menatap Johan dengan tatapan sendu.


"Sepertinya aku masih mencintainya. Aku mencintai nya semenjak kami menjadi rekan kerja,aku mencintai nya sebelum aku mengetahui sisi gelapnya. Padahal aku sudah pernah membencinya tapi sikap nya yang kian berubah membuat ku kembali mencintai nya"gerutunya kemudian


"Katakan Josh,apakah aku sudah gila? Di saat seperti ini aku bahkan masih berharap Jeremy akan berubah menjadi sosok yang lebih baik, entah kenapa aku meyakini suatu saat Jeremy akan meninggalkan pekerjaan gelapnya". Josh hanya mendengarkan semua cerita Gisel tanpa membantah sedikitpun. Nampaknya ia sedikit mengerti dengan ucapan Gisel. Nampaknya ia juga bisa memahami keadaan mereka berdua.Sepertinya mau tidak mau ia harus membantu kedua pasangan di depannya itu.


"Yah,,aku tidak tahu seperti apa hubungan kalian sebelum aku mengenal mu tapi persis ucapan mu,aku juga berharap Jeremy akan meninggalkan pekerjaan nya yang sekarang" jawab Josh.


"Lebih baik sekarang kamu istirahat saja bukankah kamu merasa lelah setelah jalan-jalan tadi?" Lanjut Josh yang akhirnya di angguki gisel. Gisel pun mulai membaringkan tubuhnya dan tidur. Setelah Gisel tidur,Josh keluar dan menghampiri Jeremy.


"Sepertinya aku mengerti keadaan kalian sekarang" ucap Josh membuat jeremy terkejut.


"Apa maksud mu?"


"Aku tidak heran kenapa kamu sampai melakukan tindakan bodoh tadi, hanya saja aku tidak mengerti bagaimana kamu bisa melupakan Gisel yang sedang mengandung anakmu?untung saja kandungan nya baik-baik saja,jika terjadi benturan yang lebih keras apa yang akan kamu lakukan?" Marah josh sedangkan jeremy hanya diam saja merenungi ucapan Josh.

__ADS_1


"Kamu boleh marah tapi pikirkan juga keadaan Gisel yang sekarang!"lanjut Josh.


"Padahal aku ke sini hanya ingin menjenguk kalian tapi apa yang ku dapatkan benar-benar berbeda dengan apa yang aku harapkan" kesalnya


"Sementara ini jangan ganggu Gisel dulu,biarkan dia istirahat" setelah mengucapkan itu Josh keluar dari rumah jeremy meninggalkan nya seorang diri.


Setelah kepergian Josh,Jeremy memasuki kamar gisel. Di dapati nya gisel yang tertidur dengan sesekali segukan akibat tangisan yang masih belum reda. Jeremy mendekati tempat tidur Gisel dan hanya berdiri di sana menatap gisel yang tertidur.


"Ma-maafkan aku,a-ku tidak akan melakukannya la-lagi" gumam gisel dalam tidurnya. Mendengar hal itu membuat hati jeremy tidak tega,ia merasakan sakit di dadanya. Jeremy mengelus pucuk kepala gisel lalu berbisik di telinga nya.


"Maafkan aku" bisiknya kemudian jeremy keluar. Sepeninggalan Jeremy,Gisel terbangun. Ia melihat sekelilingnya namun ia tidak menemukan siapapun.


"Sepertinya barusan aku bermimpi"ucapnya,di lihatnya jam dinding,08.30. Ini sudah pagi, sepertinya semalam Gisel tertidur sangat nyenyak. Ia tidak menyadari pagi sudah tiba.Namun ia merasa sedikit aneh, biasanya jam segini dia sudah selesai mandi. Itu pun karena jeremy yang selalu membawanya tapi hari ini jeremy tidak melakukan kebiasaannya itu.


Gisel mencoba menggapai tongkat nya namun karena jarak tongkat dan tempat tidurnya agak jauh membuat ia kesulitan dan akhirnya terjatuh. Gisel sedikit meringis,pintu segera terbuka dan Josh memasuki kamar gisel. Ia terkejut melihat Gisel yang berbaring di lantai.


"Aku baik-baik saja Josh, seharusnya kamu mengkhawatirkan tangan ku karena yang sakit adalah tangan ku"ucap gisel dengan senyum nya.


"Kamu benar-benar membuat ku panik Gisel, aku khawatir perutmu sakit"  mendengar kekhawatiran josh,gisel kembali terkekeh. Ia merasa lucu dengan sikap Josh yang seperti ini.


"Josh,di mana Jeremy?"tanya gisel saat ia sudah kembali duduk di pinggir kasur nya.


"Aku tidak tahu"jawab josh sembari mengambil tongkat untuk gisel.


"Ayo keluar dulu,aku membuatkan mu sarapan!"ajaknya dan Gisel hanya mengangguk. Begitu sampai di meja makan,mereka langsung memakan sarapannya. Setelah makan Josh memberikan gisel susu untuk ibu hamil. Gisel hanya tersenyum lalu berterima kasih dan meminumnya.


"Rasanya agak berbeda dengan buatan Jeremy"gumamnya namun masih bisa di dengar Josh.


"Iya tentu saja karena aku bukan jeremy" jawab Josh sembari mencuci piring di westafel dan gisel hanya terkekeh.

__ADS_1


Hari sudah siang namun Jeremy belum juga menampakkan dirinya. Gisel yang merasa bosan hanya bisa membalikkan buku-buku yang di beli Jeremy dan membacanya. Ia bahkan sudah menghabiskan dua buah buku dalam sekali duduk. Josh sudah pergi dan kini hanya tinggal gisel sendirian di rumah jeremy yang terbilang cukup luas. Gisel mulai merasa cemas dengan jeremy yang tak kunjung pulang. Ia mengambil tongkat nya dan berjalan ke kamar Jeremy tetapi ia tidak juga menemukan jeremy di sana.


'Jeremy kamu dimana?' bisiknya.


Pintu terbuka dan gisel langsung membalikkan tubuhnya menghadap pintu,ia segera melangkahkan kakinya mendekati pintu yang terbuka. Dengan perasaan berharap kalau itu adalah jeremy.


"Jeremy?kamu pulang?"tanya nya,namun sayang yang membuka pintu ternyata Josh bukan Jeremy. seketika Gisel merasa kecewa.


"Oh ku pikir jeremy" ucapnya lalu kembali ke ruang tamu,Josh hanya diam melihat kekecewaan gisel.


"Aku membawakan mu martabak,kamu mau?"tawar Josh,gisel hanya mengangguk dan kembali membaca buku.


Hari-hari gisel di penuhi dengan kebosanan. Ini sudah hari ke lima jeremy tidak pulang. Setiap hari Gisel hanya di bantu Josh. Dan selama itu pula mereka kian dekat. Josh orang yang sangat bisa di andalkan ketika jeremy tidak ada. Gisel pula baru kali ini merasa nyaman bersama orang lain selain jeremy. Biasanya ketika bersama Drake,Gisel lebih baik berada di dalam kamarnya daripada bertemu dengan Drake.


"Josh,kamu benar-benar tidak tahu di mana Jeremy?"tanya gisel sambil menatap sendoknya. Saat ini mereka sedang sarapan. Josh hanya diam lalu menggelengkan kepalanya. Gisel yang mengetahui itu hanya tersenyum getir, ia merasa kecewa dengan senyuman nya yang di paksa kan.


"Kamu merindukan nya?"tanya Josh


"Aku mencemaskan nya" mendengar jawaban Gisel,Josh menghela nafas berat.


"Baiklah, aku akan membantumu mencarinya" ucap Josh membuat gisel senang. Ekspresi nya tidak semuram yang tadi. Sekarang ia benar-benar terlihat lebih hidup.


"Benarkah?"tanyanya bahagia


"Iya, asalkan kamu tetap mempertahankan perasaan mu"


"Maksudmu?"


"Aku hanya berkata" ucap Josh lalu kembali memakan rotinya membiarkan gisel dalam kebingungannya.

__ADS_1


__ADS_2