BASEMENT SENDING YOU LOVE!

BASEMENT SENDING YOU LOVE!
22. Flashback Masa Kecil Jeremy


__ADS_3

Flashback masa kecil Jeremy


Benar seperti kata orang. Rumah yang indah adalah rumah yang penghuninya merasa aman dan nyaman. Dimana penghuninya akan selalu merasa ada tempat untuk pulang. Pelukan hangat dari orang tua dan perhatian mereka akan sangat membantu dalam tumbuh kembang seorang anak. Anak adalah cerminan dari orang tua. Anak-anak akan selalu merasa orang tua adalah orang yang paling di kagumi nya.


Namun hal ini justru di alami berbeda oleh seorang anak laki-laki berusia sekitar 10 tahun. Dia adalah jeremy. Sedari kecil dia selalu mendapat perlakuan tidak mengenakkan dari ayah tirinya. Semenjak orang tua kandungnya bercerai, ibunya menikah lagi dengan seorang pria yang bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan. Awalnya nampak baik-baik saja namun tepat ketika ayah tirinya di pecat dari pekerjaannya, ia mulai mabuk-mabukan. Ia sering melampiaskan kemarahannya kepada istri dan anak tirinya, jeremy.


Kekerasan yang di dapati dari suami nya membuat kejiwaan ibu nya terganggu, ia juga terkadang melampiaskan nya pada jeremy. Jeremy yang masih kecil menjadi bulan-bulanan orang tua nya. Ia bahkan tidak tahu apa kesalahannya sehingga ia sering mendapatkan kekerasan di rumah nya. Ia tidak marah pada ibunya, karena ia berpikir ibunya bukan orang yang seperti itu jika bukan karena ayah tirinya itu.


Ayah ibu nya selalu bertengkar setiap kali bertemu. Bahkan tidak segan-segan ayah nya sering memukuli ibunya bahkan dia juga tidak luput dari amukan ayahnya.


Ayahnya seorang pengangguran, pekerjaan sehari-harinya hanya mabuk-mabukan dan memukuli istri dan anaknya.


Jeremy hanya merasa benci melihat ayahnya  yang selalu menyakiti ibunya karena itu ketika kesempatan tiba dia menikam ayahnya dengan pisau hingga tewas. Jeremy yang waktu itu masih kecil mengira ketika ayahnya sudah mati maka tidak akan ada yang menyakiti ibunya lagi dan ibunya akan bahagia.


Tapi ternyata hal itu salah. Melihat anaknya membunuh suaminya ibunya terkejut dan berteriak. Ia juga menyumpahi jeremy. Jeremy kala itu tidak mengerti kenapa ibunya seperti itu. Dan ketika di rasa ibunya terlalu berisik,ia pun juga menikam ibunya dengan pisau yang masih ada di tangannya.


Bahkan dia lupa kalau ibunya saat itu sedang mengandung adiknya. Seorang adik yang sangat di nantikan nya kini sudah tidak ada. Menyadari apa yang sudah di lakukan nya adalah salah membuat jeremy sangat terkejut, ia tidak menyangka akan menjadi seorang pembunuh.


Sebelum benar-benar meninggal, ibunya sempat mengucapkan maaf pada Jeremy dengan air matanya yang mengalir. Mungkin inilah penyebab jeremy selalu marah saat melihat Gisel menangis karena itu mengingatkan nya pada air mata ibunya.


"Bukan! Bukan ini yang ku inginkan" tangisnya sembari melihat kedua orang tua nya yang tewas berlumuran darah akibat ulahnya, ia yang panik segera berlari keluar.


Sepanjang perjalanan, pikiran nya kosong. Ia tidak tahu harus pergi kemana. Malam yang sunyi tidak membuat nya ketakutan meski ini sudah sangat larut. Jeremy terus menyusuri jalan setapak, tidak peduli dengan apa yang di lewatinya. Hingga tanpa sengaja ia menabrak seorang pria di depannya. Pria itu terkejut melihat jeremy berlumuran darah dengan tatapan nya yang kosong.


"Hey nak! Apa yang terjadi dengan mu?" Tanya pria itu, jeremy hanya menatapnya tanpa ada niat untuk menjawab.


"Oh kamu terlihat sangat buruk, maukah kamu ikut dengan ku?" Ajak pria itu, jeremy yang berpikir tidak ada salahnya mengikuti pria di depannya akhirnya mengangguk, toh dia juga sudah tidak ada tempat untuk kembali.


"Nama ku Drake, siapa nama mu?"tanya pria itu memperkenalkan diri nya sembari berjalan pulang ke rumah nya.


"Jeremy"


"Baiklah Jeremy,kita hampir sampai. Kamu bisa tinggal di sini selama yang kamu inginkan"


"Apa kau tinggal sendiri?"


"Tidak,aku tinggal bersama bocah laki-laki. Mungkin dia lebih tua dari mu, namanya Josh. Nanti kalian bisa berkenalan" ujarnya,Jeremy hanya mengangguk.


Dan saat itulah pertemuan jeremy dengan Josh. Josh adalah orang yang di kagumi jeremy. Josh bertindak sebagai teman juga sebagai seorang kakak. Dia sangat perhatian terhadap jeremy. Bahkan ketika mengetahui alasan jeremy kabur dari rumah dan di bawa ke tempat nya pun, ia tetap tidak mengurangi perhatian nya pada jeremy meski awal pertemuan mereka tidak bagus karena jeremy saat itu masih irit dalam berbicara.


Semenjak saat itu pula, jeremy mengetahui pekerjaan Drake dan Josh. Ia akhirnya juga menerima pekerjaan yang sama seperti mereka berdua. Mereka menjadi agen pembunuh bayaran. Setiap hari ia terus di latih baik oleh Drake maupun Josh. Hingga siapa tau ternyata jeremy yang pintar dengan cepat mempelajari dan menguasai nya.

__ADS_1


Flashback off.


"Jangan pernah mengungkit masalah ini di depannya. Jika dia tahu aku yang menceritakan nya mungkin dia akan membunuhku hahaha" lanjut Josh mengakhiri cerita nya.


***


"apa yang sedang kamu lakukan?" Itu Josh,ia baru saja keluar dari kamar gisel dan menemukan jeremy di teras rumahnya, ia melihat jeremy yang sibuk dengan lamunannya. Jeremy tidak menjawab, ia hanya melihat sekilas lalu kembali asik dengan kesibukannya. Ia kembali menghisap rokok.


"Oh kamu kembali merokok? Bukannya kamu bilang tidak ingin melakukannya nya lagi?"


"Apa mau mu Josh?" kesal Jeremy.


"Hehe, jangan marah aku hanya bertanya" Jeremy memutar matanya dengan malas.


"Gisel itu, gadis yang baik ya"


"Hmm"


"Bukankah sebaiknya kamu jujur saja?"


"Jujur soal apa?"


"Kenapa aku harus?"


"Ku pikir kamu sudah dewasa sekarang tapi ternyata kamu masih bocah laki-laki berusia 10 tahun ya?"


"Aku tahu kamu tidak sebodoh itu bertanya, aku hanya menyarankan untuk berkata yang sejujurnya saja sebelum gadis itu menghilang" lanjut Josh


"Heh,menghilang? Siapa dan kenapa?"


"Yahh kita tidak akan tahu bagaimana kedepannya nanti, aku hanya mengatakan kemungkinan yang terjadi saja"


"Jangan terlalu mengabaikan gadis itu, dia gadis yang baik, aku yakin bahkan dia masih bisa memaafkanmu jika kamu meminta maaf dengan benar"


"soal yang barusan dia sudah bercerita pada ku. Tolong jangan di ambil hati dia hanya ketakutan. " Mendengar ucapan itu Jeremy hanya diam karena sejujurnya dia juga tahu Gisel masih merasa takut padanya. Setelah semuanya tentu saja Jeremy tidak menyukai itu.


"Ingat! Sekarang kamu itu seorang ayah, bersikaplah selayaknya seorang ayah. Ayah itu adalah tipikal laki-laki yang kuat, jadilah seperti itu" Jeremy diam mendengar nasihat dari Josh yang sudah di anggap nya sebagai kakak laki-laki nya itu. Ia mencoba untuk mencerna semua ucapan Josh. Josh yang melihat ekspresi Jeremy hanya bisa tersenyum, kemudian ia menepuk pundak Jeremy.


"Nah,karena ini sudah malam aku akan kembali dan tidur. Ha~ hari ini aku lelah sekali" ucap Josh sembari berjalan kembali ke kamar yang di sediakan di rumah jeremy. Semenjak kejadian kemarin, Josh memang sementara tinggal di rumah jeremy, itu dikarenakan jika terjadi apa-apa pada Gisel, Josh bisa langsung memberikan bantuan.


Kini jeremy kembali tinggal seorang diri. Ia merenungkan setiap ucapan yang di ucapkan Josh tadi. Ia tidak ingin berkata bahwa yang di ucapkan Josh itu salah tapi dia juga tidak ingin membenarkan ucapan nya. Ia merasa masih belum siap untuk melakukan nya.

__ADS_1


''Bersikap baik? Sifat seorang ayah?heh, bisakah aku? Josh terlalu mengada-ada"


Tak lama kemudian, jeremy memasuki kamar gisel. Ia melihat gadis itu terlelap dalam tidur nya. Ia meneliti setiap bagian wajah gadis di depannya itu lalu wajah nya berubah. Ia seperti mencemaskan sesuatu. Ada rasa yang sangat menyakiti hatinya. Ia belum pernah merasakan rasa sakit seperti sekarang. Jeremy mengusap surai hitam milik Gisel dengan lembut berharap ia akan terus merasakannya. Sejenak ia terdiam lalu mengecup dahi gisel lama sebelum akhirnya melepaskan nya.


"Ugh... Jeremy?" Gisel terbangun, ia berbicara dengan suara nya khas orang baru bangun.


Merasa mengingat sesuatu secara langsung mata Gisel terbuka sepenuhnya. Ia memeluk pinggang jeremy yang berdiri di samping nya.


"Jeremy! Jeremy aku minta maaf, aku gak akan ngucapin sesuatu yang bikin kamu marah lagi. Aku yang salah aku minta maaf, ku mohon maafkan aku!" Ucap Gisel dalam pelukan nya. Di lihatnya jeremy yang menatapnya terkejut. Sejenak ada perasaan bersalah di lubuk hati jeremy, ia tidak menjawab dan hanya mengelus rambut Gisel.


"Tidurlah!" Ucap jeremy.


"Tapi kamu mau memaafkan ku?"tanya Gisel lagi dan akhirnya jeremy mengangguk kemudian kembali menyuruh Gisel untuk tidur yang kemudian dibalas dengan anggukan Gisel hingga akhirnya ia kembali tertidur. Jeremy mulai membaringkan tubuhnya di samping Gisel. Ia memeluk pelan gadisnya itu seolah tidak ingin kehilangannya.


"Ha~ apa yang sudah aku lakukan? Sepertinya aku sudah gila sekarang" ucapnya pada dirinya sendiri. Jeremy memandangi langit-langit kamar sejenak sebelum akhirnya pandangan nya jatuh ke wajah Gisel yang tertidur sangat pulas. Wajah gadis di depannya terlihat sangat cantik ketika ia sedang tertidur. Jeremy tidak bisa menyembunyikan senyuman nya lalu ia pun memejamkan matanya dan tidur.


***


"Drake!"


"Buat apa kamu ke sini?"


"Aku hanya ingin bilang kalau aku berhenti. Aku berhenti dari pekerjaan ini dan mulai sekarang aku dan kamu tidak lagi memiliki hubungan. Berhenti mengganggu kehidupan ku dan aku juga tidak akan mengganggu mu jika kamu mengiyakan perkataan ku"Jeremy menjelaskan tujuan nya dengan suara nya yang dingin seolah dia menahan amarahnya. Dia sudah cukup baik menahannya jika mengingat hubungan masa lalu mereka dan apa yang pria di depannya lakukan pada gadis yang sedang di jaga nya.


"Hah... hahahaha sudah ku duga kamu akan berkata seperti itu"


"Kalau kamu sudah tau itu akan lebih baik. Aku tidak perlu menjelaskan semuanya lagi"


"Jeremy, kamu pikir aku akan mendengarkan ucapan mu itu? Urusan kita masih belum selesai, kenapa aku harus menuruti ucapan mu?" Drake tentu tidak menerima ucapan Jeremy. Dia sudah sekali kehilangan anak didik nya yaitu Josh. Maka dari itu dia tidak ingin kehilangan anak didik nya satu lagi, Jeremy. Seharusnya jeremy adalah miliknya sebelum gadis itu datang dan mengubah segalanya termasuk kepribadian Jeremy.


Jeremy naik pitam. Ia menggertakkan giginya.


"Di bagian mana urusan kita belum selesai Drake? Aku tidak ingin mengganggu mu, ku harap kamu mengerti maksud dari perkataan ku. Aku hanya akan mengatakan ini, sekarang urusan ku sudah selesai dan aku pergi".


Merasa berbicara dengan Drake adalah sia-sia akhirnya jeremy memutuskan untuk pergi saja. Meski ia sendiri sudah tahu itu memang akan sia-sia tapi dia harus memastikan sendiri jika Drake tidak akan mengganggu kehidupan nya lagi.


Begitu kepergian Jeremy. Drake marah lalu memukul meja di samping nya.


"Brengsek!!! Ini semua gara-gara gadis itu. Lihat saja suatu hari nanti aku akan membuat hidup mu menderita jeremy, lihat saja!"


Besoknya Drake berdiri di depan sebuah toko. Ia menunggu seseorang di sana. Setelah lama menunggu akhirnya seseorang yang di tunggunya pun datang dan seseorang itu adalah Teressa.

__ADS_1


__ADS_2