BASEMENT SENDING YOU LOVE!

BASEMENT SENDING YOU LOVE!
12.Hamil


__ADS_3

Jeremy Pov'


"lagi-lagi kamu tidak ingin keluar?" Gadis itu kembali menutup dirinya dan menolak keluar ketika aku ingin membawa nya untuk sekedar mandi dan sarapan seperti biasa. Aku mendekati nya, tatapan nya kosong menatap lurus ke depan. Tepat ketika aku duduk di pinggir kasur, ia melihat ku.


"Ayolah! Sudah dua hari kamu mengurung diri seperti ini" dia masih diam


"Ayo! Aku membawakan mu makanan "


"Aku membenci mu! " Tekan nya, jelas aku mendengarnya dengan jelas, aku pun menaikkan sebelah sudut bibir ku


"hahaha bagaimana ya, membenci ku terserah tapi sekarang makan lah dulu,ayo buka mulutmu biar aku yang menyuapi mu" ucap ku sambil menyodorkan sesendok makanan ke arah nya namun dia hanya menatap nya tanpa minat


"Aku tidak butuh makanan mu, bawa pergi dari hadapan ku dan enyahlah!!" Ada kilatan kemarahan di matanya


"apa? " aku bertanya untuk memastikan, dia mengusirku? Yang benar saja


"kamu mengusirku? Mau mati? Makan dan diamlah!" Aku kesal dan memaksanya membuka mulut, meski agak sedikit susah karena dia melawan akhirnya aku berhasil, begitu makanan itu tertelan dia langsung memberikan reaksi ingin muntah.


"Tetap telan dan jangan muntahkan! "perintah ku, dia menggeleng menarik-narik baju ku, sepertinya dia memang ingin muntah, aku yang panik langsung menggendong dan membawa nya menuju kamar mandi.


Huekkk....


Dia memuntahkan semua isi perutnya ke dalam closed,aku sedikit cemas melihat nya yang pucat dan terus memuntahkan semua nya. Setelah selesai, dia terengah-engah.

__ADS_1


"apa yang terjadi? Kamu sakit?" tanya ku, dia tidak menjawab dan hanya menatap ku dengan matanya yang sayu kemudian dia pingsan dan dengan cepat aku menahannya. Dia sepertinya benar-benar kesakitan, akhirnya aku membawa nya kembali ke kamar.


.


.


.


Aku pergi ke apotik untuk membeli beberapa obat mual untuk gisel, bukan apa-apa aku hanya tidak ingin melihat nya sekarat seperti tadi.


"Apakah ini untuk istri anda,tuan?" tanya apoteker di sana,aku hanya mengangguk mengiyakan saja


"jika memang dia muntah-muntah seperti yang tuan katakan,kenapa tidak mengeceknya? Ini saya berikan tespack hanya untuk memastikan saja" ujar apoteker itu kemudian memasukkan tespack ke dalam kantong obat yang ku beli. Aku pun membayarnya kemudian pulang.


"Sudah baikan?" tanya ku dia hanya menatap ku tanpa menjawab pertanyaan ku. Aku menyerahkan obat yang sudah ku beli di apotik tadi.


"Apoteker menyuruhku untuk membeli nya siapa tau kamu butuh"ujarku kemudian dia segera membuka kantong plastik dan menemukan tespack,dia nampak mengkerutkan keningnya.


"ini?"


"iya, kamu pasti lebih mengerti cara pakainya" setelah mengucapkan itu aku langsung keluar meninggalkan nya.


Author pov'

__ADS_1


Gisel masih kebingungan sambil menatap tespack itu, ia sedang memikirkan dan mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali ia menstruasi, gejala mual akhir-akhir ini juga rasa tidak enak badan nya. Sejenak ia merasa takut untuk melihat tespack di tangan nya,keringat dingin mulai membasahi wajah nya,ia takut jika seandainya yang di pikirkan nya menjadi kenyataan. Ia tidak ingin bernasib sama dengan gadis yang waktu itu. Gisel langsung melihat ke arah pintu yang terbuka, di sana Jeremy berdiri dan menyandarkan tubuhnya sambil menyesap kopi.


"perlu bantuan?" tanya nya,gisel hanya diam membatu. Jeremy mendekati gisel dan duduk di tepi kasur setelah meletakkan gelas yang di pegang nya tadi. Jeremy mengambil tespack di tangan gisel.


"sepertinya kamu harus mengeceknya sekarang" ucapan Jeremy kembali membuat gisel ketakutan


"Kamu Kenapa? Ayo kita buktikan!" Jeremy langsung menggendong gisel yang sontak membuat gisel mengalungkan tangan nya di leher Jeremy. Jeremy membawa gisel ke kamar mandi kemudian menutup pintu nya dan keluar membiarkan gisel melakukan tugasnya.


Di dalam kamar mandi apa yang di lihat gisel benar-benar membuat nya mati rasa, dua garis biru dan itu artinya dia positif HAMIL. Gisel panik, satu sisi ia ingin melindungi anak nya satu sisi dia tidak ingin anak ini ada. Ketukan pintu membuat nya hampir menangis.Jeremy membuka pintu dan langsung melihat nya yang ketakutan.


"bagaimana?" tanya Jeremy, gisel menggeleng dan tidak menjawab.Karena tidak mendapatkan jawaban, akhirnya Jeremy merebut tespack yang di sembunyikan gisel di belakang punggung nya. Jeremy mengkerutkan kening nya


"kamu hamil?" tanya Jeremy dengan suara yang rendah. Gisel diam, dia ingin menangis saat itu juga. Jeremy kembali memandang gisel dengan ekspresi dingin nya sedangkan gisel menutup mulut nya dengan tangan nya menahan isakan tangis. Jeremy mencengkram bahu gisel dan mengguncangnya.


"KATAKAN PADAKU!!KAMU HAMIL? " teriaknya dan saat itu juga tangis gisel pecah. Dia mengangguk dan tidak berani menatap wajah Jeremy. Jeremy tercengang kemudian melepaskan cengkraman nya di bahu gisel, dia mencengkram rambutnya sendiri,mencerna apa yang sedang terjadi.


"a-apa kamu akan membunuh ku dan bayi ku seperti yang kamu lakukan pada gadis itu?" tanya gisel di sela-sela isakan nya. Jeremy berhenti mencengkram rambutnya


"apa?" tanya nya kemudian melirik gisel yang reflek mundur. Jeremy melihat gadis di depannya sangat ketakutan,matanya beralih ke perut rata gisel setelah itu tanpa menjawab apa-apa ia menggendong gisel dan membawanya kembali ke kamar.


"Tidurlah! Aku akan segera kembali " ucap Jeremy kemudian keluar setelah mencium kening gisel.Saat itu juga gisel merasa ada yang aneh dari sikap Jeremy sekaligus ia merasa takut, takut jika saat ini Jeremy merencanakan seperti apa kematian gisel nanti. Gisel mengelus perutnya sambil menangis seraya memikirkan bagaimana nasib nya nanti.


"apa yang harus aku lakukan?" pikirnya.

__ADS_1


Sementara itu di balik pintu, seorang laki-laki terdiam ketika mengetahui kabar tentang ini kemudian ia pergi menuju basement untuk menenangkan pikiran nya.


__ADS_2