
Teressa sedang berjalan pulang dari tempatnya bekerja. Semenjak kehilangan Gisel ia menjadi gadis yang kehilangan separuh hidupnya. Ia masih tidak menyerah untuk mencari Gisel yang menghilang satu tahun yang lalu bahkan polisi pun sudah menyerah dengan kasus ini. Teressa menghela nafas berat hingga akhirnya seorang pria asing memanggilnya. Ia melihat ke kiri dan kanan hanya untuk memastikan apakah benar dia orang yang di panggil pria asing di depannya itu. Pria itu terus memanggil nya tapi setelah di lihat bagaimanapun Teressa tidak mengenali pria ini namun ia tetap melangkah mendekati nya.
"Hey kamu yang di sana!" Panggil Pria itu. Teressa yang merasa terpanggil akhirnya datang menghampiri pria asing di depannya.
"Aku? Ada perlu apa dengan ku?" Tanya nya.
"Iya kamu, namamu Teressa bukan?" tanya pria asing itu membuat teressa mengerutkan keningnya.
"Iya, bagaimana anda mengetahui nya? Siapa anda?" Tanya Teressa, sedangkan pria di depannya hanya tersenyum.
"Tidak peduli bagaimana aku mengetahui nya tapi satu hal aku hanya ingin memberitahu mu sesuatu" jelas pria itu dengan senyuman yang masih berada di wajahnya. Merasa itu hanya omong kosong dan lagipula mereka tidak saling kenal akhirnya Teressa memilih mengabaikan nya dan ingin pergi. Tetapi ucapan selanjutnya pria di depannya itu malah menghentikan langkahnya.
" Ini tentang Gisel. Seorang gadis yang selama ini kamu cari" lanjutnya, mendengar nama Gisel di sebut ia langsung membalikkan tubuhnya. Ia terkejut. Bagaimana pria di depannya bisa mengenal Gisel.
"Apa maksud mu?" Tanya Teressa mendekati pria di depannya.
"Iya Gisel. Bukankah selama ini kamu mencarinya? Dia bahkan ada di surat kabar beberapa bulan yang lalu"
"Lalu bagaimana anda tau bahwa aku mencarinya?"
"Hahaha itu mudah, aku mengenal Gisel dan aku pernah bertemu dengan nya beberapa kali bahkan aku tahu di mana dia sekarang berada"
"Apa? Apakah anda serius? Apakah anda benar-benar mengenal nya? Apakah benar anda mengetahui keberadaan nya? Katakan padaku, dimana dia sekarang!" Pertanyaan Teressa langsung menggebu-gebu ketika menyangkut dengan nama gadis yang sangat di rindukannya itu.
"Hahaha tenanglah. Tapi sebelum itu aku ingin kamu melakukan sesuatu untukku"
"Katakan apa itu dan aku akan melakukannya" lanjut Teressa.
***
Sementara itu di rumah jeremy, ia nampak sibuk menyuapi makanan untuk Gisel hingga akhirnya seseorang mengetuk pintu kamarnya dan orang itu adalah Josh. Ia memasuki kamar di mana di dalamnya ada jeremy dan gisel. Namun ia masuk tidak sendiri melainkan bersama seorang bayi kecil di dalam gendongannya. Melihat bayi itu, Gisel membulatkan matanya.
__ADS_1
"Halo baby boy selamat datang dan selamat bertemu ibumu" ucap Josh pada bayi itu. Mendengar nama "ibu" di panggil semakin kuat juga keyakinan Gisel kalau itu adalah bayinya.
"Apakah itu bayiku,Josh?"tanya nya memastikan.
"Iya tentu, anak siapa lagi kalau bukan" jelas Josh membuat Gisel tersenyum senang. Ia bahagia bahkan sangat bahagia. Jeremy hanya diam dan memerhatikan reaksi Gisel saja.
"Berikan padaku Josh, aku ingin menggendong nya" pinta Gisel yang langsung di iyakan Josh lalu Josh memberikan bayi itu pada ibunya. Gisel menerima bayi itu dengan hati-hati dan perasaan senang.
"Cup cup cup...ini kah bayi ibu? Halo sayang akhirnya kita bertemu" ucap gisel yang langsung di respon bayinya dengan senyuman.
"Jeremy, lihatlah! Bukankah bayi ini mirip dengan mu? Lihatlah senyuman nya persis dengan senyuman mu" celoteh Gisel, jeremy hanya tetap diam memperhatikan namun di dalam hatinya dia sangat senang. Dia juga ikut bahagia mendapati gisel sebahagia itu di depannya.
"Ugh...dia sangat tampan,hehe" lanjut gisel memainkan jari bayinya hingga jarinya di genggam jemari bayinya itu.
"Sudahkah ia kamu beri nama?" Tanya Josh membuat Gisel berhenti bermain dengan bayinya.
"Ah iya, kamu benar. Bagaimana jeremy? Apakah kamu punya nama untuk bayi kita?"tanya Gisel pada jeremy. Mendengar pertanyaan di alihkan padanya,Jeremy hanya menggerutkan keningnya. Apalagi mendengar kata "kita" di sebutan Gisel. Padahal biasanya Gisel selalu berkata "bayi ku" bukan "bayi kita".
"Bukankah kamu ayahnya? Wajar bukan aku bertanya pada mu?"geram gisel. Jeremy memutar matanya malas,lalu menopang dagunya dengan tangannya.
"Jessen" ucapnya pelan saking pelannya gisel tidak sempat mendengar nya.
"Apa?"tanya gisel memastikan.
"CK...tidakkah kamu mendengar nya?"kesal jeremy yang membuat gisel heran.
"Jessen. Itu nama nya. Kalau kamu tidak suka, lupakanlah" lanjut Jeremy dengan wajah kesalnya, sedangkan Gisel hanya terkekeh. Ia merasa lucu dengan sikap jeremy yang tidak bisa di tebak itu.
"Baiklah,Jessen sepertinya ayahmu sudah memilihkan nama yang bagus untuk mu" Gisel berbicara pada anaknya.
"Lalu bagaimana dengan mu,bukankah kamu ibunya?"tanya Jeremy
__ADS_1
"Tidak perlu, nama yang kamu berikan saja sudah lebih dari cukup. Dia mirip dengan mu dan namanya juga berawal dari huruf 'J' persis dengan nama mu, aku menyukainya" jelas Gisel yang masih asik bermain dengan jemari anaknya sedangkan jeremy tertegun mendengar penuturan Gisel.
"Hey namaku juga berawal dari huruf 'J' apakah itu berarti Jessen juga anakku?" tanya josh yang sedari tadi hanya memperhatikan drama pasangan di depannya. Mendengar candaan Josh, Jeremy langsung mempelototi Josh. Josh hanya terkekeh melihatnya.
"Ah iya,aku melupakan mu jadi anggap saja awalan namamu bukan huruf 'J', hehe" jelas gisel senang karena bagaimanapun kehadiran bayi nya ini adalah suatu hal yang sangat membahagiakan baginya setelah tidak melihatnya selama beberapa hari ini karena kondisi bayinya. Kepulangannya hari ini benar-benar sebuah kejutan. Tanpa ia sadari jeremy terus memperhatikan nya bahkan jeremy sampai menarik dua sudut bibirnya.
"Jeremy, ada yang ingin aku katakan padamu" ucap Josh
"Apa itu? Katakan saja" jawab jeremy tanpa mengalihkan perhatian nya pada gisel yang sibuk bermain dengan bayinya. Josh juga ikut memperhatikan mereka.
"Tidak, aku tidak ingin membicarakan nya di sini,ayo kita keluar" lanjut Josh yang sudah mengambil langkah untuk keluar dan mau tidak mau jeremy juga ikut keluar meninggalkan gisel bersama dengan anaknya.
"Lalu,apa yang ingin kamu katakan?"tanya Jeremy begitu mereka sudah berdiri di luar kamarnya.
"Aku ingin mengobati kaki Gisel" ucap Josh yang membuat mata jeremy membulat.
"Kenapa kamu ingin mengobati kakinya?" tanya jeremy tidak suka,Josh menghela nafas berat saat mengetahui pria di depannya itu tidak menyadari maksud dari tujuannya.
" Tidakkah kamu sadar sekarang jika gisel terus tidak bisa berjalan seperti itu hanya akan membuat nya dalam bahaya? Apa kamu tidak ingat kejadian Drake memperkosanya dan hampir membuat anak kalian mati?"jelas josh kesal. Jeremy diam dan mencerna setiap ucapan Josh. Ya,dia mengerti sekarang maksud ucapan josh. Jika saja seandainya hari itu gisel bisa berjalan mungkin dia tidak akan di perkosa drake karena dia bisa berlari. Josh diam menunggu jawaban jeremy yang masih nampak berpikir.
"Jadi sekarang bagaimana? Apakah kamu setuju untuk membiarkan ku mengobati kakinya?"tanya Josh lagi karena tidak sabar menunggu jawaban jeremy yang tak kunjung bersuara.
Jeremy masih diam dan hanya menatap Josh lalu ia beralih menatap pintu kamar yang di dalamnya ada Gisel bersama bayinya membuat Josh ikut memperhatikan.
"Apakah kamu takut gisel pergi setelah kakinya sembuh?"tanya Josh memastikan,Jeremy masih diam. Apa yang dikatakan Josh mungkin benar adanya. Entah mengapa ia memiliki firasat seperti itu. Ia hanya takut jika suatu saat Gisel meninggalkan nya.
"Ha~ kamu benar-benar bodoh Jeremy. Sudah berapa lama kita tidak bertemu sehingga kamu jadi sebodoh ini?" Geram Josh mengacak-acak rambutnya.
"Kenapa kamu harus takut Gisel akan meninggalkan mu? Tidakkah kamu melihat reaksinya tadi? Dia bahkan memberikan mu kesempatan untuk memilih nama bayinya, dia masih mengingat mu meskipun ada bayinya di sana. Dia selalu memperhatikan mu, tidakkah kamu tahu dia masih mencintai mu setelah apa yang kamu lakukan padanya? Apa sekarang kamu masih berpikir dia akan pergi meninggalkan mu?"tanya Josh lagi
"Jika kamu setakut itu kenapa kamu tidak bertanya langsung padanya?"
__ADS_1
"Sekarang entah kamu memberikan izin atau tidak aku akan tetap mengobati kakinya. Aku tidak akan membiarkan kesalahan mu membuat nya menderita lagi. Pikirkan itu Jeremy!" Lanjut Josh kemudian meninggalkan Jeremy yang masih terdiam memikirkan setiap ucapannya. Josh memang bisa di andalkan. Tidak salah jeremy menganggap nya seperti seorang kakak. Josh memang seperti itu.