BASEMENT SENDING YOU LOVE!

BASEMENT SENDING YOU LOVE!
24. Rencana pembalasan Drake


__ADS_3

"Apa? Itu tidak mungkin!"sanggah teressa. Ia masih terlalu syok untuk mendengar berita yang baru saja di dapatinya. Pria di depannya menghembuskan asap rokok yang di hisapnya.


"Kenapa itu bisa tidak mungkin? Seseorang bisa saja berubah menjadi iblis jika ada yang mengusiknya. Pria itu memang telah menculik gadis yang sedang kamu cari dan sampai sekarang gadis itu ada bersama nya" jelas pria itu yang ternyata itu Drake.


"Tapi, tapi polisi sudah pernah ke rumah nya dan tidak mendapati Gisel ada di sana, aku juga sudah pernah ke sana tapi tidak ada Gisel di sana, kamu mau menipu ku?"


"Itu karena kamu dan polisi itu tidak becus menjalankan pekerjaan nya atau jeremy yang terlalu pintar menyembunyikan nya"


"Tapi....kenapa? Bukankah Jeremy adalah orang yang sangat baik? Ia ramah kepada semua orang, bagaimana mungkin dia bisa berperilaku seperti itu?" Sampai detik ini teressa masih tidak bisa percaya.


"Kamu tidak percaya karena belum melihatnya sendiri. Dia yang ramah bisa berbalik dengan sifatnya ketika ia sendiri"


"Kamu tau darimana kalau Jeremy melakukan nya?"


"Aku adalah orang yang sudah lama bekerja sama dengan nya jadi aku mengetahui semuanya tentang Jeremy, bagaimana pria itu dan apa yang dia lakukan"


Syok. Tentu saja. Pria di depannya menceritakan semua tentang Jeremy dan mengaku kalau ia adalah partner Jeremy.


"Lalu kenapa sekarang kamu memberitahukan informasi itu padaku? Bukankah kamu partnernya? Apa yang kamu inginkan dari ku?"


"Haish,,,,kamu tau aku sedang marah? Baru saja aku di khianati pria itu, aku ingin kamu membalaskan dendam ku lalu selamatkan gadis bernama Gisel itu" drake mulai merasa jengkel dengan teressa.


"Membalaskan dendam? Kenapa aku harus melakukannya? Kita baru saja bertemu dan kamu pikir aku akan mempercayai ucapan mu itu? Pada akhirnya kamu hanya memanfaatkan ku" marah teressa


"Kamu tidak mau mempercayai ku terserah, tapi asal kamu tau aku mengatakan yang sebenarnya. Pria itu, dia menculik Gisel dan menyembunyikan nya di basement rumahnya, jika kamu tidak percaya coba pergi sekali lagi ke rumah nya. Setelah ini aku akan mendatangi polisi dan menyerahkan diriku. Aku sudah muak hidup seperti ini" jelas drake lagi.


"Tapi pastikan kali ini kamu datang dengan polisi, jangan hanya memeriksa nya di dalam rumah nya tapi periksa juga di basement yang ada di rumah nya" lanjut Drake. Teressa terdiam, dia masih tidak bisa percaya dengan yang di dengarnya kali ini.


"Jika kamu butuh apa-apa temui aku di penjara, aku ada di sana. Mungkin aku akan mendapatkan hukuman mati atas semua yang aku lakukan. Pastikan kali ini kamu menemukan Gisel, aku pergi dulu" ucap Drake kemudian ia pun pergi meninggalkan teressa yang masih terdiam di tempatnya.


Sembari berjalan tak hentinya Drake menyunggingkan senyuman kemenangan nya. Ia yakin kali ini Jeremy akan mendapatkan ganjaran nya karena telah mengkhianati kepercayaan nya.


.


.


.


.


Di rumah Jeremy...


Gisel terlihat sibuk mengurusi bayinya yang tak hentinya menangis.


"Ha~ sepertinya kamu lapar ya sayang, maaf ya asi ibu tidak bisa keluar, kamu jadi harus minum susu kemasan deh" lirih gisel


"Ah,,air panas nya habis, Jeremy!!" Gisel mencoba memanggil Jeremy, namun panggilan pertama tidak ada sahutan lalu di panggilan kedua barulah pria yang di panggil nya muncul.


"Kamu memanggil ku?"tanya Jeremy memasuki kamar gisel.


"Iya, aku mau minta tolong sebentar"


"Tolong apa?"


"Emm,,, bisakah kamu menggendong Jessen? Aku ingin membuatkan nya susu tapi air panasnya habis"


"Kamu duduk saja biar aku yang membuat nya" jawaban Jeremy membuat gisel kaget dan senang.

__ADS_1


"Oh? bisakah? kalau begitu baiklah, tolong ya!" Ucap Gisel dengan senyum nya.


Lalu beberapa hari kemudian....


"Jeremy! Tolong!"


"Jeremy, susu nya habis!"


"Jeremy, bisakah kamu menggantikan popok Jessen?"


Setiap hari Gisel mulai merepotkan Jeremy. Sebenarnya Gisel juga tidak ingin melakukannya tapi mau gak mau dia harus mengandalkan jeremy untuk membantu nya. Merawat bayi sendirian dengan kaki yang tidak bisa berjalan dengan bebas tentu sangat menyulitkan, untung saja Jeremy tidak lagi sekasar yang dulu karena jika dia masih seperti dulu mungkin sekarang Gisel akan di hukum nya lagi.


"Jeremy!" Panggil Gisel


"Apa?" Jawab jeremy sedikit kesal, pasalnya ketika ia di panggil barusan dia sedang ada pekerjaan.


"Maaf, tapi bisakah kamu menjaga Jessen? Aku harus ke kamar mandi" ucap gisel sedikit tidak enak. Jeremy diam lalu berjalan mendekati mereka.


"Cepatlah!" Ucap jeremy yang membuat Gisel tersenyum senang.


"Baiklah, tolong jaga Jessen ya! Nak, ibu akan segera kembali kamu baik-baik ya sama ayah mu" lalu Gisel pun pergi meninggalkan Jeremy dan bayi nya yang tergeletak di kasur. Jeremy tidak mau repot-repot menggendong nya, ia terlalu malas untuk melakukan nya. Ternyata mengurus bayi bisa jadi semerepotkan seperti ini.


Jeremy terus menatap bayi itu yang terus melihatnya dengan wajah bahagia. Bayi itu tersenyum lalu tertawa seolah dia bahagia bisa berdua bersama ayahnya. Jeremy memang jarang mengurus bayinya karena menurutnya sangat merepotkan meski ia menyayangi bayinya juga. Selama ini hanya Gisel yang selalu mengurus bayi nya, jeremy hanya hadir ketika Gisel memanggil nya.


"Kenapa bayi seperti mu bisa sangat merepotkan ibu mu?"tanya Jeremy pada bayi nya yang tertawa.


"Kamu tidak lihat bagaimana ibu mu kerepotan merawatmu? Kenapa kamu tidak langsung besar saja jadi kamu tidak perlu menjadi anak yang merepotkan" celoteh Jeremy. Bayi nya tertawa setiap mendengar celotehan ayahnya. Karena tertawaan Jessen itulah membuat bayi itu terlihat sangat menggemaskan. Jeremy hendak mencubit pipi menggemaskan bayi nya sebelum akhirnya gisel datang dan menghancurkan interaksi antara ayah dan anak itu.


"Oh kamu sudah kembali? Ini jaga bayi mu, aku sibuk"ucap jeremy gugup kemudian ia pun segera keluar dari kamar gisel. Gisel hanya terpaku di tempatnya berdiri.


"Sebenarnya apa yang baru saja aku lewatkan?"lirih gisel heran.


Hmm..hmmm...hmmm..


Gisel terus bersenandung sambil memotong sayuran. Ia sedang memasak ketika Jeremy datang lalu memeluknya dari belakang. Tentu saja Gisel kaget. Jeremy memeluk Gisel dan meletakkan kepalanya di antara leher gisel.


"Kamu ngapain?"tanya Gisel


"Hmm"


"Aku sedang memasak, jeremy!" Ucap Gisel lagi berharap Jeremy mau mendengarkan nya dan melepaskan pelukan itu.


"Sebentar saja" jawab jeremy, mendengar itu Gisel hanya diam dan membiarkan nya.


"Nampaknya kamu sedang bahagia hari ini, apa aku benar?"tanya jeremy dengan masih memeluk pinggang Gisel. Gisel terkejut dan langsung menyentuh kedua pipinya.


"Oh, apakah terlihat seperti itu?"tanya nya balik


"Entahlah,aku hanya menebak. Di mana Jessen?"


"Dia sudah tidur. Lalu sekarang apakah kamu lapar? Kamu ingin makan sesuatu? Mau aku buatkan?"


"Aku lapar tapi aku tidak ingin makan" mendengar jawaban Jeremy membuat kening Gisel mengerut.


"Lalu jika kamu tidak mau makan, kamu mau apa? bukankah kamu lapar?" Jeremy diam lagi.


"aku mau memakan mu"

__ADS_1


"Apa?" Gisel terkejut mendengar jawaban jeremy namun Jeremy hanya terkekeh.


"Bagaimana kondisi kaki mu?"


"Hemm sepertinya kaki ku baik-baik saja untuk sekedar berjalan sebentar, tapi kalau berlari aku tidak yakin"


Mendengar itu Jeremy langsung mengeratkan pelukannya. Gisel terdiam. Gisel memegang tangan Jeremy di perutnya lalu ia berbalik dan menghadap Jeremy.


" Jeremy, katakan padaku, sebenarnya kamu kenapa"


"Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja"


"Apa kamu yakin? Kamu tidak terlihat baik-baik saja, kamu yakin tidak apa-apa?"


Cup ...


Jeremy mencium bibir gisel lalu tersenyum.


"Iya aku yakin, kamu tidak perlu khawatir" tutur jeremy. Meskipun Jeremy sudah mengatakan untuk tidak khawatir, tetap saja Gisel masih merasa khawatir padanya. Gisel menghela nafas lalu menganggukkan kepalanya.


"Baiklah. Lalu seka-"


"Halo, selamat pagi kalian berdua! Oh apa ini? Apakah seharusnya aku tidak perlu datang? Kalian terlihat mesra akhir-akhir ini" sapaan Josh membuat ucapan Gisel terhenti. Gisel yang menyadari ucapan Josh berusaha untuk melepaskan pelukan jeremy namun di hentikan oleh Jeremy.


"Kalau kamu tau seharusnya kamu segera pergi dari sini" ketus Jeremy kemudian ia melepaskan pelukannya dan duduk di kursi meja makan.


"Hehe maafkan aku, tapi aku tidak bisa melewatkan pengobatan yang aku lakukan pada Gisel. Gisel harus terus melakukan pengobatan nya, ini baik untuk kesembuhan kakinya" jelas Josh. Josh tidak main-main dengan ucapannya yang mengatakan akan memberikan pengobatan pada kaki Gisel hari itu. Meski awalnya Jeremy tidak menerima nya namun pada akhirnya Jeremy menyerah dan membiarkan gisel di obati Josh. Itu sebabnya kondisi kaki Gisel bisa sedikit-sedikit mulai sembuh.


"Jadi bagaimana Gisel, apakah kaki mu baik-baik saja?"tanya Josh


"Iya, berkatmu aku bisa berjalan tanpa menggunakan tongkat ku, terima kasih" jawab Gisel dengan senyum nya. Jeremy berdecak kesal melihat senyuman itu di berikan pada Josh.


"Tidak apa-apa, aku senang kamu bisa berjalan lagi. Dan ku harap pria di depan ku ini tidak akan melukai mu lagi "sindir josh


" Apa maksudmu?" kesal jeremy karena ia tau Josh sedang menyindir nya. Melihat ketegangan itu, Gisel segera menyahut.


"Apa kamu sudah makan, Josh?atau ada yang ingin kamu makan? aku bisa membuat nya" tawar Gisel


"Oh kamu baik sekali Gisel. Aku belum makan jadi aku akan makan apapun yang kamu buatkan"


"Baiklah"


Lalu Gisel pun mulai kembali memasak. Ketika masakannya selesai, ia lalu meletakkan makanan itu di atas meja makan di mana sudah ada dua pria yang menunggu untuk makan. Gisel juga langsung duduk di samping Jeremy ketika sudah selesai dengan persiapan nya.


"Gisel, di mana Jessen? Aku ingin menemui nya"tanya Josh ketika ia selesai dengan makanannya.


"Dia ada di kamar" jawab Gisel, Josh mengangguk kemudian ia berdiri.


"Dia sedang tidur, jangan mengusiknya" ucap jeremy, entah kenapa hari ini dia merasa Josh sangat mengganggu.


"Aku tau bocah bodoh"


"Apa? Bodoh? Siapa yang-" ucapan jeremy terhenti karena Josh sudah masuk ke kamar gisel untuk menemui jessen. Melihat tingkah Jeremy, gisel hanya bisa tertawa kecil.


"Apa yang kamu tertawakan?" Kesal jeremy


"Hehe..tidak ada" lalu Gisel pun membereskan piring bekas makanan mereka untuk di cucinya. Jeremy menopang kepalanya, ia sendiri heran sebenarnya ada apa dengan nya hari ini.

__ADS_1


Ia merasa tidak nyaman dengan perasaan nya. Ia merasa suatu hari nanti ia tidak akan merasakan kehangatan seperti sekarang ini. Ia merasa suatu hari ia akan jauh dari Gisel. Meskipun ia sudah mencoba mengabaikan perasaan negatif nya itu tapi tetap saja ia kadang-kadang harus memikirkannya.


Apa yang akan terjadi jika kekhawatiran nya itu benar-benar terjadi dan dia tidak akan bertemu dengan Gisel lagi? Apakah gadis itu akan baik-baik saja tanpa nya? Apakah sebenarnya ia bisa merasakan kebahagiaan seperti ini?


__ADS_2