
Dorr...
Tepat ketika Drake menembakkan pistol ke arah jeremy,sebuah peluru sukses menembus tangannya dan itu membuat nya berteriak karena kesakitan. Baik jeremy dan Drake,mereka melihat ke arah asal peluru tadi dan itu milik Josh. Josh sengaja menembak kan pistol nya ke arah Drake. Karena dari dulu dia memang membenci Drake.
"Kamu!!"geram Drake. Drake keluar melalui jendela kamar itu dan melarikan diri. Josh ingin mengejarnya namun di tahan oleh Jeremy .
"Kenapa Jeremy?" Tanya Josh emosi.
" daripada mengejar pria brengsek itu, masih ada hal yang lebih mendesak" jelas jeremy kemudian melirik ke arah gisel,Josh mengerti arah pandang itu. Kemudian dia menyuruh Jeremy menyiapkan alat-alat medis yang bisa di pakai nya karena kebetulan Josh adalah seorang dokter.
Setelah menyiapkan alat-alat yang di perlukan. Jeremy membiarkan Josh melakukan pekerjaan nya sedangkan dia sendiri berdiri di samping Gisel,menggenggam tangan gisel. Melihat Gisel kesakitan seperti itu membuat amarah jeremy semakin menjadi-jadi namun di saat seperti ini dia harus menahannya.
"Jeremy" rintih gisel. Ia merasakan sakit yang amat sangat di bagian perutnya.
"Iya, aku di sini" jawab jeremy sembari menggenggam erat tangan gisel.
"Selamatkan bayi ku" pinta nya, Jeremy terdiam. Di saat seperti ini Gisel malah memikirkan bayi nya daripada keselamatan nya sendiri? Melihat jeremy diam membuat Gisel kembali meneteskan air matanya.
"Ku mohon!" Pinta nya lagi.
"Aku tidak bisa berjanji. Biarkan Josh melakukan pekerjaan nya" jawaban jeremy membuat Gisel tidak bisa menghentikan air mata nya.
.
.
.
.
Satu Minggu sudah berlalu semenjak kejadian malam itu. Namun Gisel masih tidak membuka matanya. Ia nampak tertidur dengan damai nya di sana, mengabaikan seseorang yang setiap hari menunggu kesadaran nya. Seseorang yang setiap hari menemuinya. Seseorang yang setiap hari mengkhawatirkan nya. Seseorang itu adalah jeremy. Gisel koma pasca melahirkan. Untungnya bayi nya selamat meski harus lahir secara prematur.
Beruntung Josh ahli di bidang ini. Setiap hari ia membantu jeremy mengurus bayi dan merawat Gisel. Jika bertanya kenapa ia tidak membawa Gisel ke rumah sakit, jawaban nya adalah itu tidak perlu. Ia memiliki Josh yang berprofesi sebagai dokter di sini.
"Hey gadis bodoh! Mau sampai kapan kamu terlelap? Bukankah kamu bilang untuk menyelamatkan bayi mu? Tidak kah kamu ingin melihatnya?" Ucap Jeremy di depan Gisel yang masih setia memejamkan matanya.
"Apa obat mu benar-benar bekerja? Ini sudah lebih dari seminggu dan dia belum juga membuka matanya" keluh jeremy ketika Josh memasuki kamar. Josh tidak menjawab,ia hanya melihat Jeremy yang senantiasa selalu berada di samping Gisel. Selama ini ia tidak pernah melihat jeremy seperti ini.
'Gadis itu pasti benar-benar berharga baginya" batin Josh.
"Tidakkah kamu ingin bertemu bayi mu?" Tanya Josh. Kondisi bayi nya sangat lemah karena ia lahir prematur oleh sebab itu Josh membawa bayi itu ke rumah sakit. Di sana dia akan lebih terjaga. Hal ini tidak sulit bagi Josh karena rumah sakit itu miliknya.
" Apa aku harus?" jawab jeremy. Josh menaikkan alisnya heran melihat sikap jeremy seperti ini. Namun ia bisa mengerti.
"Bagaimana kondisi bayi itu?" Josh tersenyum, awalnya ia berpikir Jeremy tidak akan peduli pada bayinya.
__ADS_1
"Dia baik.Kesehatan nya juga. Beberapa hari lagi mungkin sudah bisa di bawa pulang" jelas Josh. Jeremy hanya mengangguk sebagai jawaban nya.
Ketika malam tiba, jeremy yang tertidur di samping Gisel di buat kaget karena pergerakan jemari Gisel. Ini menandakan Gisel mulai sadar. Dengan cepat jeremy memanggil Josh.
"Jeremy"panggil Gisel dengan suara nya yang lemah.
"Aku di sini"jawab jeremy sembari menggenggam tangan gisel. Gisel membuka matanya, melihat sekeliling mencoba untuk membiasakan penglihatan nya. Kemudian ia melihat pria yang berdiri di samping nya. Pria yang sudah lama tidak ia lihat. Pria itu terlihat lelah. Pria itu adalah jeremy, orang yang selalu menjaganya. Gisel tersenyum dengan kondisi nya yang masih lemah.
"Aku kembali" lirihnya kemudian senyuman itu meredup dan Gisel kembali memejamkan matanya.
"Ha? Kenapa? Apa yang terjadi? Kenapa dia kembali memejamkan matanya? Hey Josh! Katakan padaku,apa yang terjadi?" Jelas dari pertanyaan nya jeremy terlihat sangat panik dan khawatir.
"Tenang jeremy tenang! Gisel baik-baik saja. Dia hanya kembali tertidur karena pengaruh obat. Mungkin nanti atau besok dia akan bangun. Sekarang khawatir kan dirimu, akhir-akhir ini kamu jarang beristirahat"
"Aku tidak perlu itu. Aku akan pergi" ucap jeremy sembari mengambil jaket nya.
"Kemana?"
"Ke tempat bayi nya. Aku ingin melihat sendiri perkembangan anak itu" setelah itu jeremy pergi.
.
.
.
"Welcome baby boy!" Ucapnya.
Suara dering telepon berbunyi. Mendengar itu jeremy langsung menjawab nya. Itu panggilan dari Josh.
"Ada apa?"
"Jeremy,kamu di mana?"
"Aku di rumah sakit,kenapa?"
"Gadis itu bangun,dia mencari mu.Pulanglah!"
"Aku akan segera tiba" ucap jeremy lalu mematikan ponsel nya dan langsung pulang.
Di rumah jeremy melihat gisel yang terduduk. Ia terlihat habis menangis. Merasa cemas akhirnya ia menghampiri.
" Ada apa Gisel?" Tanya nya.
"Bayi ku! Dia ada di mana?" Tanya Gisel dengan ekspresi akan menangis.
__ADS_1
"Dia..." Jeremy diam,dia menunggu reaksi Gisel. Gisel yang melihat pria di depannya diam malah berpikir negatif.
"Jangan bilang dia..." Gisel tidak sanggup melanjutkan perkataannya. Air matanya mulai mengalir deras. Dia menangis. Jeremy panik dan langsung memeluk nya.
"Tenanglah Gisel, bayi mu baik-baik saja. Dia ada di rumah sakit" tangisan Gisel langsung berhenti dan menatap ke arahnya.
"Kamu serius?hiks"
"Iya aku serius. Tapi kamu belum bisa bertemu dengannya. Bayi mu lahir prematur jadi dia butuh perawatan yang lebih baik lagi di sana" jelas jeremy. Gisel diam menatap harap jeremy lalu menangis lagi. Jeremy kembali terkejut.
"Kenapa?"
"Aku pikir..hiks..aku pikir kamu sudah membunuh nya..hiks" ucap Gisel sesegukan,ia menutup wajahnya dengan kedua tangan nya.
"Membunuh nya? Untuk apa?" Heran Jeremy.
"Ka-kamu bahkan bisa membunuh gadis yang hamil waktu itu. Bukan hal mustahil jika kamu melakukan nya lagi" jeremy diam. Ini sudah satu tahun lebih dan kejadian itu sudah lama lewat namun yang di pikiran gadis di depan nya hanya itu saja. Tapi entah kenapa hal ini malah membuatnya tak suka.
"Kamu benar. Seharusnya aku membunuh bayi itu."ucapnya dingin lalu bangkit dan keluar dari kamar itu. Tapi sebelum ia keluar,Gisel menahan baju belakang Jeremy. Jeremy melihatnya dengan ujung matanya.
"Kenapa?" Suara dingin jeremy membuat Gisel takut.
"Ku mohon! Jangan sentuh bayi itu. Dia anak ku." Mohon Gisel. Jeremy diam lalu melepaskan tarikan Gisel dan keluar meninggalkan gisel dengan kecemasan nya.
Kepergian jeremy di gantikan dengan kehadiran Josh. Josh sempat berpapasan dengan jeremy namun dia merasa ada yang salah dengan nya.
"Aku melihat Jeremy keluar. Dia kelihatan marah apa yang terjadi?" Tanya nya pada Gisel.
"Sepertinya aku berkata sesuatu yang salah" jelas Gisel. Josh memperhatikan gisel yang terlihat cemas lalu duduk di samping nya.
"Jadi apa yang baru saja kamu katakan padanya?" Tanya Josh dengan suaranya yang tenang. Gisel pun menceritakan kejadian tadi. Mendengar cerita Gisel,Josh mengela nafas berat.
"Lain kali jangan katakan hal seperti itu lagi. Jeremy tidak menyukai perkataan itu. Karena dia sendiri sebenarnya juga tidak ingin melakukannya." Jelas Josh.
"Aku tau seharusnya aku tidak mengatakan itu" jawab Gisel membenarkan. Gisel menunduk.
"Dulu sebelum kejadian dia membunuh orang tuanya, seharusnya jeremy memiliki seorang adik. Seorang adik yang sangat di nantikan nya"
" Tapi sayangnya sampai sekarang penantiannya itu tidak berjalan dengan baik.Mungkin kehadiran bayi mu sekarang bisa menjadi obat baginya. Aku tidak pernah melihatnya panik dan cemas seperti sekarang ketika ia melihat mu kesakitan hari itu"
"Setiap hari dia selalu menjaga mu. Memastikan kamu dan bayi mu aman. Aku tidak pernah melihat jeremy seperti itu. Jadi ku harap kamu bisa mengerti. Jeremy tidak ada niat untuk membunuh mu dan bayi mu" jelas josh kemudian dia tersenyum dan memberikan obat untuk Gisel minum nanti.
"Josh, bisakah kamu menceritakan apa yang terjadi di masa lalu jeremy?" Tanya Gisel penasaran.
"Kamu yakin?"
__ADS_1
"Iya"
"Hemm...dari mana aku harus memulainya?"