BASEMENT SENDING YOU LOVE!

BASEMENT SENDING YOU LOVE!
9. Cerita Gisel


__ADS_3

Gisel Pov'


Ah...tubuhku rasanya perih,,aku meringis setiap kali merasa luka di tubuh ku di sentuh. Aku membuka mataku dan melihat Jeremy,,sedang apa dia?


"kamu sudah bangun?" tanya nya


"apa yang kamu lakukan?"tanya ku balik,aku hendak bangkit dari cara tidur ku yang telungkup namun Jeremy menekan tubuhku


"diamlah! Aku sedang mengobati luka mu"ucapnya.Mengobati?Dia bahkan tidak segan-segan untuk membuat luka baru di tubuhku, Aku membenci nya.


"Jeremy?" panggil ku


"hemm"


"bolehkah aku meminjam ponsel mu?" pinta ku,dia berhenti mengolesi ku obat


"Untuk apa? Melaporkan ku?" tanya nya sembarang kemudian melanjutkan kegiatan nya,aku menggeleng


"Aku ingin menghubungi adikku. Aku mencemaskan nya dan aku juga merindukan nya" jelasku, dia menatap ku sejenak.


"apa bagusnya mengkhawatirkan adik mu? "celotehnya


"dia keluarga ku satu-satunya.Jadi,bisakah aku menelpon nya?" pinta ku lagi. Jeremy terlihat ragu kemudian menyerahkan ponsel nya.Aku segera menekan nomer telpon bibi yang menjaga adikku. Kemudian kembali menyerahkan ponsel itu kepada Jeremy supaya dia melihat aku tidak berbohong, dia mempercayai nya kemudian menekan tombol panggil serta mengaktifkan lospeker supaya bisa tau apa saja yang aku bicarakan.Sebegitu nya tidak percaya ya? Aku menunggu telpon ku di angkat.


"Halo! dengan siapa ya?" suara bibi, aku merindukan nya.


"Bi,ini aku,Gisel" jawabku


"Oh gisel! Sudah berapa lama kamu tidak menghubungi adik mu?Kamu tau dia setiap hari menanyakan mu? Apa kamu baik-baik saja di sana?" tanya bibi ku cemas


"Aku baik-baik saja bi, chandra mana bi? Aku ingin berbicara dengan nya"


"oh iya baiklah, dia ada di kamarnya sebentar bibi panggilkan"


Hening sesaat....

__ADS_1


"halo,kak gisel?"suara ini,aku ingin menangis saat mendengar suara yang sangat aku rindukan.


"halo?" dia kembali memanggil


"Iya dek,ini kakak. Kamu apa kabar sayang?Merindukan kakak, hemm?" celotehku


"Kakak!!! Huaaaaaa... aku merindukan mu kak!Kenapa kakak tidak menghubungi ku lagi?hiks"


Oh adikku andaikan kamu tau kakak di sini juga sangat merindukan mu.


Aku menahan air mata ku tatkala mendengar adikku menangis di sana.


"hehe maafkan kakak ya,ponsel kakak rusak dan belum ada biaya untuk memperbaiki nya, Ini juga kakak pake ponsel teman "jelasku bohong. Aku tidak mungkin nengatakan kebenaran nya, aku tidak ingin membuat nya cemas


"oo jadi seperti itu,baiklah kakak aku maafkan tapi lain kali sempatkan memberi kabar kak, aku benar-benar mencemaskan kakak. Kakak yang sehat-sehat ya di sana jangan terlalu memaksakan diri,aku di sini baik-baik saja kok,, paman dan bibi sangat baik pada ku" aku menggigit bibirku menahan tangis.


"Kak?"


"iyah,kakak pasti sehat-sehat di sini.Syukurlah jika kamu baik-baik saja di sana, kakak ikut senang mendengarnya"


"Iya, kakak menangis karena merindukan mu"


"ahhh!kakak...kapan mengunjugi ku lagi? "


"Kakak belum tau, soalnya ini masa-masanya tempat kakak kerja itu sibuk.Maaf ya!Tapi kakak akan berusaha untuk meluangkan waktu supaya bisa mengunjugi mu" Bohong! Itu semua bohong.


"Baiklah kak! yang penting kakak baik-baik di sana.Aku tutup telpon nya ya mbak soalnya aku sedang mengerjakan PR"


"oh iya! Belajar yang rajin ya jangan menyusahkan paman dan bibi"


"Iya! Aku tutup ya telpon nya,, dadah kakak! Chandra sayang kakak"


"Kakak juga,dadah"


Tutttt ....telepon di matikan, aku sedikit lega ketika mendengar suaranya. Aku melirik Jeremy yang menatap ku. Sepertinya dia sudah selesai mengobati luka ku kemudian aku pun mengembalikan ponsel milik Jeremy

__ADS_1


"Terima kasih " ucapku


"Senang sekarang?" tanya nya yang langsung ku iyakan


"Adik mu...berapa usia nya?" aku mengangkat alisku, bingung.


"sekitar 10 tahun kurasa, Kenapa?"


"Aku hanya bertanya"


"Oh"


"Dia mengatakan paman dan bibi, dimana orang tua mu?" aku diam


Haruskah aku menceritakan nya?


"Mereka meninggal"


"Oh! Karena apa?" Tanya Jeremy. Aku terdiam,dia sungguh ingin tau?


"karena melindungi aku dan adikku saat rumah kami di serang perampok "


"perampok?"


"Iya, perampok itu ingin membawa ku pergi tapi ayah dan ibu ku menghalangi dan Mereka pun di bunuh. Beruntung aku bisa menyelamatkan adikku yang masih balita dan dia sedang menangis kala Itu" cerita ku menunduk kepala ku, mengingat kejadian hari itu benar-benar menyedihkan. Jeremy masih diam mendengarkan.


"Kejadian itu sudah 9 tahun yang lalu dan saat itu aku baru berusia 12 tahun tapi aku masih mengingat kejadian itu "Aku melihat ekspresi Jeremy sedikit berubah setelah mendengar cerita ku.


"Perampok itu, berapa jumlah mereka?" tanya nya


"Dua. Mereka memakai topeng membuat ku tidak bisa melihat wajah mereka" aku kembali melihat tubuh Jeremy menegang.


"Jeremy? Kamu baik-baik saja?" tanya ku cemas


"Aku baik-baik saja! Kamu tidak perlu khawatirkan aku. Baiklah karena aku sudah selesai mengobati mu, aku akan pergi. Tetaplah di kamar ini dan jangan coba-coba untuk melarikan diri lagi jika tidak ingin aku menghukum mu!" Perintahnya,aku hanya mengangguk dan melihat sikap Jeremy yang aneh setelah mendengar cerita ku,apa mungkin dia tau siapa perampok Itu?

__ADS_1


__ADS_2