BASEMENT SENDING YOU LOVE!

BASEMENT SENDING YOU LOVE!
17.Josh


__ADS_3

"mau jalan-jalan?"


Pertanyaan itu membuat gisel tercengang. Seriusan jeremy yang mengatakannya?


"Kenapa melihat ku seperti itu?ada yang salah?"


"T-tidak,,hanya saja ini terlalu tiba-tiba" jelas Gisel,Jeremy hanya diam melihatnya.


"Ayo! Aku bantu kamu siap-siap!" Ucap jeremy kemudian menggendong gisel dan membantu nya siap-siap.


Ketika semua siap, Jeremy membawa Gisel masuk mobil. Di sana Gisel hanya bisa diam mengamati kemana dia akan di bawa. Karena Gisel sendiri juga tidak tau tujuan mereka,dia hanya mengikuti instruksi jeremy.


"Kita mau kemana?" Tanya Gisel.


"Diam dan lihat saja!" Jeremy kembali fokus menyetir,Gisel tidak bertanya lagi jika Jeremy sudah berkata seperti itu,ia sendiri hanya menikmati saja.sudah lama ia tidak keluar.


Di tengah perjalanan, Jeremy menghentikan mobilnya. Gisel sedikit panik ketika Jeremy akan keluar dan meninggalkan nya.


"Kamu mau kemana?"


"Duduk saja diam di sini,ada hal yang harus aku urus" ucapnya kemudian keluar.


Kepergian Jeremy membuat gisel merasa cemas. Ia tidak tau mereka ada di mana. Ia hanya bisa berharap Jeremy segera kembali. Tempat pemberhentian mereka terlihat sepi. Hanya ada beberapa rumah dan itu juga sepi. Tidak ada kendaraan lain yang berlalu-lalang. Hujan mulai turun dan Jeremy belum juga kembali. gelapnya malam menambah kegelisahan hati Gisel.


Di tengah kegelisahan gisel,pintu mobil terbuka. Awalnya Gisel merasa senang karena mengira itu adalah jeremy tapi ternyata yang masuk bukan lah Jeremy.


"Oh siapa ini?" Ucap pria itu kemudian menutup pintu mobil.


"Dimana jeremy?" Tanya gisel khawatir.


"Jeremy? Oh dia sedang ada urusan"jawab pria itu sambil memakai sabuk pengaman.


"Aku Josh" ucap pria itu memperkenalkan diri,ia menyadari Gisel merasa tidak nyaman berada berdua saja dengan nya. Gisel hanya diam saja melihat nya.


"Kamu pasti Gisel,apa aku benar? Jeremy menyuruhku untuk membawamu" lanjutnya,Gisel hanya diam kemudian kembali memandangi jendela mobil di sampingnya. Suasana terasa sangat akward dan pria bernama Josh itu benci suasana seperti ini.


"Jadi,apa kita bisa pergi sekarang?" Tanya nya lagi dan tentu saja Gisel masih diam,dia hanya mengangguk sebagai jawaban nya. Bagaimanapun kehadiran Josh di sana masih membuat gisel tidak nyaman. Ia hanya menginginkan jeremy.


.


.


.


Sebuah mobil berhenti di samping pom bensin. Josh memarkirkan mobil mereka di sana. Ia melihat ke samping nya, seorang gadis sudah terlelap. Josh terus menatap gadis tersebut kemudian menyadari malam semakin larut serta hujan masih turun di luar sana. Ia berinisiatif untuk memberikan jaketnya kepada gadis itu agar ia tidak kedinginan.


Cukup baik bukan?.


Pintu mobil terbuka. Seseorang masuk dan itu jeremy. Ia terlihat sedikit berantakan.


"Bagaimana?"tanya Josh


"Buruk! Dia melarikan diri" keluh jeremy. Jeremy melihat Gisel sudah tertidur di kursi depan.


"Dia tidur?"tanya nya hanya untuk memastikan saja.

__ADS_1


"Ya" jawab Josh. Semula Jeremy tidak menyadari jaket yang menyelimuti gisel hingga akhirnya ia tau itu bukan miliknya.


"Hey!"


"Apa?" Tanya Josh yang sibuk menyetir.


"Singkirkan itu!"


"Singkirkan apa?"


"Singkirkan jaket mu dari nya!" Setelah menyadari maksud ucapan Jeremy,ia langsung melihat ke arah gisel yang masih tertidur.


"Oh man! Dia akan kedinginan,tidakkah kamu lihat diluar hujan?"


"Aku tau, tapi singkirkan itu! Dia tidak butuh jaket mu dia masih bisa mengambil punya ku"


"Ck!" Decakan sebal terdengar dadi mulut Josh.


.


.


.


.


Gisel membuka matanya dan ia merasa ada yang berbeda. Ia tertidur di pangkuan jeremy. Semula dia kaget lalu mengingat kapan dia tidur di sini. Ia melihat jeremy yang sibuk memandangi pemandangan di luar mobil. Jeremy memangku wajahnya di sana. Dari arah sini,Jeremy terlihat sangat sempurna.


"Sudah bangun, hemm?" Pertanyaan Jeremy sukses membuat Gisel terkejut, sontak ia langsung bangun dan itu membuat kepalanya pusing.


"Ck,kau sungguh bodoh" ejeknya dan membuat Gisel tercengang.


"Kita ada di mana?"tanya Gisel


"Entahlah!" Jawab jeremy sembari kembali memandang keluar jendela. Gisel menyadari di dalam mobil hanya ada dia dan Jeremy.


'kemana pria bernama Josh itu?' batin nya.


Tak lama mencari tau,pintu mobil terbuka. Terlihat pria dengan jaketnya yang basah masuk. Itu Josh.


"Ugh...di luar dingin sekali" keluhnya, kemudian ia memberikan bawaannya kepada jeremy dan Gisel. Hanya jeremy yang menerimanya sedangkan Gisel hanya melihat saja. Ternyata yang di berikan Josh adalah sarapan untuk mereka. Jeremy terlihat memilih makanan di sana dan memberikan makanan tersebut kepada Gisel.


" Ini makanan mu dan ini susu untukmu,bayi mu juga butuh nutrisi"ucapnya. Bukankah ini terlalu manis? Sikap jeremy yang seperti ini sangat membingungkan nya. Namun apapun itu yang di katakan Jeremy ada benarnya juga. Gisel bahkan hampir lupa kalau dia sedang mengandung lalu bagaimana jeremy bisa seperhatian ini. Entahlah. Gisel hanya akan lanjut memakan makanan itu.


Setelah mereka menyelesaikan sarapan nya, mobil kembali melaju.


"Jadi,apa yang akan kamu lakukan Jeremy?"tanya Josh membuka suara.


"Entahlah" jawab jeremy datar


"Kamu tidak bisa seperti ini terus. Kamu tidak akan tau hal bahaya apa yang akan terjadi nanti. Kamu-"


"Iya aku tau.Tidak bisakah kita membahas nya nanti saja?Aku sedang malas sekarang" keluh jeremy,ia tidak ingin mendengar nasihat dari Josh.Gisel hanya menjadi penonton yang baik karena ia sendiri tidak mengerti apa yang sedang di bicarakan dua pria di depannya. Namun satu hal yang ia sadari, jeremy sedang tidak baik-baik saja. Ia berinisiatif memeluk lengan jeremy.


"Jeremy"panggil nya, jeremy melirik Gisel dan hanya menjawab panggilan nya dengan gumaman.

__ADS_1


"Hmm?" Gisel langsung menggeleng dan menyandarkan kepalanya di bahu jeremy. Melihat itu jeremy hanya diam saja dan membiarkan Gisel melakukan apa yang ingin dilakukannya,ia kembali memandang keluar jendela mobil.


Sejenak Gisel merasa sangat nyaman berada di posisi itu.ia sedikit tersenyum kemudian memejamkan matanya menikmati sandaran nya.


"Di depan sana, parkirkan mobilnya di sana. Aku akan keluar sebentar" perintah Jeremy dan Josh hanya mematuhi nya tanpa banyak bertanya.


Mobil berhenti dan Jeremy pun keluar meninggalkan Gisel dan Josh di sana. Dan suasana akward kembali terasa.


"Ku lihat seperti nya kalian cukup dekat,apa aku benar?"tanya Josh sembari meminum minumannya. Ia melihat Gisel dari kaca di depannya.


Mendengar pertanyaan josh,Gisel langsung memperhatikan pria itu.


"Apa terlihat seperti itu?" Tanya Gisel balik.


"Mungkin" lalu kembali menatap keluar. Suasana kembali hening.


"Jeremy itu...orang yang seperti apa?" Tanya gisel memecah keheningan di sana.


"Menurut mu bagaimana?"


"Entahlah,aku tidak tahu.Banyak hal yang tidak aku ketahui tentang nya" jelas Gisel dan jawaban itu membuat Josh tersenyum.


"Yahh...dari mana aku memulai nya. Daripada itu,kenapa kamu ingin tahu? Bukankah seharusnya hal ini kamu tanya langsung pada orangnya?" Josh bertanya dan Gisel kembali diam. Dia membenarkan ucapan Josh.


" Jeremy tidak akan menjawabnya"


"Hahaha itu mungkin saja mengingat dia memang sangat tertutup. Aku bahkan heran bagaimana caranya menyesuaikan diri di kalangan masyarakat. Aku dengar dia adalah sang idola dari tempat nya bekerja. Lalu bagaimana orang seperti jeremy menjadi idola? Aku bahkan lebih tampan darinya" celoteh josh membuat Gisel ingin tertawa. Ternyata Josh orang yang banyak bicara.


"Aku hanya ingin tahu. Selama ini aku terus bersama dengan nya tetapi tidak banyak yang ku tahu tentang dia dan selama ini juga aku melihat bagaimana dia memperlakukan kan ku. Aku hanya tidak mengerti. Sebenarnya apa yang dia inginkan dari ku.


Bayi ini...aku tidak tahu sampai kapan aku bisa mempertahankan nya.Aku takut Jeremy akan melakukan hal yang sama pada ku seperti yang pernah dia lakukan pada gadis hamil hari itu.


Aku tidak ingin berharap banyak padanya. Aku hanya ingin bayi ku lahir dengan selamat. Namun aku bahkan tidak tau sampai kapan aku bisa bertahan. Hanya waktu yang bisa menjawab kapan jeremy akan membunuhku." ucap Gisel sembari mengelus perutnya yang mulai buncit dan tersenyum dengan senyuman miris. Josh mendengar dengan sangat baik.


"sebenarnya...aku tidak membenarkan tindakan jeremy pada mu hanya saja dia seperti itu juga mempunyai alasannya sendiri. Pertanyaan mu ini mengingatkan ku pada pertemuan pertama kami. Saat itu aku juga memiliki pertanyaan yang sama dengan mu, tentang apa yang dipikirkan jeremy"


"Aku ingat hari itu ketika kami pertama kali bertemu. Drake yang membawa nya. Seorang bocah berusia sekitar 10 tahun berdiri memandangi ku dengan tatapan nya yang tajam. Sekujur tubuh nya penuh dengan darah. Awalnya ku pikir dia terluka tapi ternyata dia baru saja melakukan tindakan kriminal" jelas Josh dan tentu saja cerita itu membuat Gisel tercengang.


"Tindakan kriminal seperti apa?"tanya nya penasaran.


"Dia membunuh orang tua nya". Gisel kembali tercengang mendengar jawaban ini. Gisel bahkan sampai menutup mulutnya saking kagetnya. Dia hanya tidak menyangka.


"Ke-kenapa?"


"Kamu tahu, pertengkaran yang terus-menerus terjadi dalam rumah tangga itu bisa mengakibatkan kacaunya mental sang anak? Mungkin jeremy adalah salah satu contohnya"


Pintu mobil terbuka,Jeremy sudah selesai dengan urusannya di luar sana. Ketika dia masuk ia melihat ada yang aneh dengan suasana di dalam mobil.


"Apa yang kalian bicarakan?"tanya nya


"Bukan apa-apa. Lalu sekarang bagaimana? Apakah kita bisa pulang?" Tanya Josh mengalihkan pembicaraan, jeremy masih menatap Josh dan Gisel penuh kecurigaan lalu dia mengabaikan nya kemudian masuk ke dalam mobil. Mereka akhirnya pulang.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2