
Hari Minggu
Sore itu Asma datang dari MD Nurul Qodim tempat dimana ia menjadi guru cilik, dengan berpenghasilan kecil, tapi meski berpenghasilan kecil Asma sangat suka membagi ilmu sesama manusia. Seperti ilmu jariyah
"Masa pulang dari MD nggak pernah dijemput sama kak Hafids" Monolog Asma sambil berjalan memegang spidol di tangan kanannya, cewek itu menghembuskan nafas
"Asma capek jalan kaki terus" Ucapnya sambil memegangi lututnya, nafasnya pun bahkan hampir putus putus, keringatnya mulai bercucuran perlahan dengan cepat Asma mengusap keringatnya dengan punggung tangannya
"Ba5i tau gak"
Terdengar suara gaduh di depan sana
"Sini maju lo"
BUGH!
BUGH
BUGH!
"Lo semua pengecut! ****" Umpat seseorang lelaki, lelaki itu dikelilingi oleh beberapa anak genk motor
DOR!
"Gila! Tu anak punya barang ilegal. Sampah!" Ketus salah satu genk motor itu
"Cabut!" Titah salah satu genk motor itu, sepertinya ia adalah bos dari kelima genk motor itu karena dilihat dari caranya yang memerintah
Lalu semua genk motor itu pergi karena takut akan pistol yang sedang dipegang oleh korban mereka
Asma segera menghampiri jalan raya di depan sana dengan langkah cepat karena sepertinya keributannya pun mulai tidak ada
Mata Asma terbelalak melihat sosok lelaki yang sedang tersungkur ke tanah dalam keadaan yang kacau bahkan sangat kacau, pakaian lelaki itu sudah ada bagian yang sobek bahkan wajahnya banyak terdapat lebam
Tetapi bukan itu yang membuat Asma kaget luarbiasa, tapi karena lelaki itu adalah Jalu atau Arga
"Kak Arga?!"
Jalu tak bisa menjawab apa apa, ia hanya bisa meringis kesakitan, lalu tangannya mengusap sudut bibirnya perlahan yang mengeluarkan darah
"Kak Arga kenapa?" Tanya Asma dengan raut wajah khawatir
"Gue gak papa" Jawab Jalu lalu ia memaksakan dirinya untuk berdiri walau sangat sulit
Asma yang melihat Jalu hampir terjatuh pun ia langsung dengan cepat memegang tangan Jalu dan menaruhkannya ke bahu Asma, Asma menuntun Jalu
Asma tahu jika perbuatannya yang terbilang sangat dekat itu akan dosa namun ini adalah keadaan darurat bagi Jalu
Jalu ingin mengatakan sesuatu namun rasanya sulit karena semua badannya merasakan sakit yang luar biasa, Jalu lupa kalau ia juga sedang memegang pistol, dengan cepat ia membuang pistol itu ke danau yang berada tak jauh
"Ke rumahku ya kak soalnya nggak ada tempat lagi" Ujar Asma
Jalu menggeleng dan berkata "Ke-ke apartement gue!" Jawab Jalu sambil
menahan rasa sakitnya
Mendengar itu Asma mengernyitkan keningnya bingung sekaligus terkejut "Jauh kak" Ujar Asma karena ia pikir disini tidak ada yang namanya Apartement
"Lurus ajah terus belok kiri disana ada apartemen warna, shhh putih" Jawab jalu
Asma tak pernah mengira jika ia harus sedekat ini dengan Jalu, padahal ia dulu sangat yakin jika tidak akan pernah akrab dengan laki laki seperti Jalu dan mungkin juga Luke
###
Tok tok tok
Asma mengetuk pintu
"Buka ajah!" Titah Jalu pada Asma, Asma membuka knop pintu itu dengan perlahan
"Dasar lo Yan, hahah"
"Kemarin gue ketemunya sama anak konglomengrat bukan si janda anak lima " Jawab Tian tak ingin kalah karena terus saja jadi bahan tertawaan dari tadi membuat Tian harus mengumpat keras dalam hatinya
"Terus no wa yang mau lo kas..."
"Assalamualaikum" Asma memotong ucapan dari salah satu cowok itu dan tentunya semua cowok yang berada di dalam Apartement itu kaget dan membulatkan mata
Pertama tama yang mereka kagetkan adalah Asma bukan Jalu, mereka terkejut dengan Asma yang sedang membantu Jalu berjalan, dan yang kedua mereka kaget karena kenapa bisa Asma yang menolongnya? Dan yang ketiga kenapa Jalu masih selamat?
Ah, pertanyaan yang ketiga itu jangan dibahas lagi, dasar tidak tahu akhlak!
"Lho si Arga ngapain sama lo?" Tanya Rio dengan posisi berdiri sambil menunjuk Jalu dengan jari telunjuknya
"Nggak ada yang jawab salam?"
"Waalaikumsalam" Itu suara Jalu, mereka tidak ada yang menjawab salam
Kedelapan cowok itu mengernyitkan keningnya bingung dengan ucapan Asma
Asma menghembuskan nafas pasrah "Nggak ada yang mau bantu kak Arga?" Tanya Asma yang mana membuat mereka tersadar kalau Jalu sedang dalam keadaan kacau
Tian Ali dan Angga pun membantu Jalu lalu membawa jalu ke soffa depan tivi
"Duduk sini dulu lo, gue butuh penjelasan!" Pinta Hakim dan Asma hanya mengangguk ragu, bagaimana tidak, sekarang dia berada di apartement Jalu yang isinya hanya cowok bukankah itu sangat membuatnya tidak nyaman?
Asma mengambil satu kursi lalu duduk di barisan tunggal, sambil menatap semua cowok itu kecuali Ali yang masih membantu Jalu di soffa depan tivi
Asma duduk bersama teman teman Jalu seperti sedang berada disidang presiden
"Lo tau nggak kenapa..,"
"Kenapa Orang itu selalu ucapin salam sebelum masuk?" Potong Tian dengan pertanyaannya dan semua temannya melihat Tian dengan tatapan tajam sedangkan yang dilihatnya hanya mengangkat alis bingung
__ADS_1
"Oh ternyata nanya itu? Aku kira nanya tentang kak Arga" Batin Asma tak percaya dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Tian, ia kira mereka akan menanyakan tentang apa yang terjadi namun dugaannya salah
"Eh Markonah, nggak usah banyak bacot lo!" Tegas Angga membuat Tian makin bingung dengan tatapan mereka plus ucapan Angga yang terbilang penuh penekanan
"Lah... Gue kan cuma 'nanya" Ucap Tian dengan wajah sok polosnya ingat! Sok Polosnya
"Mengucapkan salam itu sunnah kak sedangkan menjawab itu wajib, jadi yang tidak menjawab salam itu dosa" Jawab Asma dengan pelan
"Waalaikumsalam" Tiba tiba mereka semua menjawab salam yang Asma ucapkan saat baru masuk ke apartrmen Jalu
Asma menggeleng pelan "Udah terlambat kak" Ujar Asma dengan tatapan aneh
"Setau gue di quotes yang gue baca 'Tidak ada kata terlambat bagi orang yang mau bertobat', jadi fix nggak ada keterlambatan" Timpal Tia
"Terlambat kak" Asma tak ingin kalah karena setau dia salam itu harus dijawab dengan segera bukan ditunda tunda sampai besok
"Emang ada ulama yang bilang kalo jawab salam itu harus cepet atau waktunya.." Tian menjeda kalimatnya karena melihat jam tangannya yang menunjukkan angka 15:35 "harus pukul setengah empat lewat lima?"
Pertanyaan macam apa itu?
"Pokoknya udah terlambat kak Armand!"
Armand yang menyadari namanya di panggil oleh Asma, ia pun dengan cepat menjawab "Gue Armand" Ketus Armand, bagaimana bisa Asma memanggil namanya kepada orang yang sangat jelek dan buruk menurut Armand "Dan kenapa lo bisa tau nama gue?"
"Kak Armand kan ketua basket" Jawab Asma
"Tapi kenapa lo nggak tau muka gue?"
"Aku ngak tahu juga kenapa" Asma mengengkat bahu acuh "Terus yang ini siapa namanya?" Tanya Asma sambil menunjuk Tian dengan telunjuknya
"Gue Varuqo Sebastian panggil ajah Tian anak kaya sejagat raya terganteng terkeren terhot dan ter-ter lainnya" Jawab Tian
Armand kesal karena bisa bisa cewek didepannya ini tak mengenalnya sebagai ketua basket di sekolahnya, dan herannya hanya mengenal namanya sedangkan wajahnya tidak
"Terjelek!" Celetuk Rio
Tak terima dengan ucapan Rio, Tian pun memukul meja dengan keras hingga menimbulakan bunyi
Brak
"Lo..." Tunjuk Tian namun saat ingin melanjutkan kata katanya....
"Berisik lo semua!" Tiba tiba suara Jalu mengagetkan mereka "Banyak bacot lo Yan" Lanjut Jalu sambil melotot tajam pada Tian
Tian menelan susah salivanya kasar, dugaannya memang benar, setiap kali ada keributan pastilah Tian yang selalu disalahkan. Miris
"Aku pulang dulu ya kak" Ucap Asma sambil menampilkan senyum tipisnya
"Nama lo siapa?" Tanya Angga
"Asma Az-zahra" Bukan Asma yang menjawab tapi Jalu, cowok itu sedang berkaca didepan kaca besar sambil mengusap beberapakali sudut bibirnya "Benerkan?"
"Be-bener kak" Jawab Asma "Kok kak Arga bisa tau ya?"
"Hmmmm" Asma nampak berpikir matanya melihat ke atas untuk berpikir
"Nggak us.."
"Lama lo!" Dengan cepat Tian menarik tangan Asma dan membawanya keluar
"Emang lo mau kemana?"
"Ke Masjid" Jawab Asma datar
"mau ngapain?"
Asma tak habis pikir dengan cowok yang didepannya ini kenapa sangat aneh, bukankan masjid untuk orang yang ingin beribadah kepada Sang Ilahi?
"Buat Sholat lah kak masa iya buat arisan"
Tian hanya ber-oh-ria saja dengan jawaban Asma "Ayo berangkat gue juga mau sholat" Jawab Tian setelah diam beberapa detik mencerna ucapan asma
"Gue ikut" Celetuk Jalu, cowok itu berdiri di ambang pintu dengan baju yang berbeda
"Hah?" Beo Asma
"Hm" Jalu mengangguk "Lo berdua dengerkan?"
"Kak Arga belum sembuh total" Jawab Asma sambil melihat luka luka lebam yang ada di wajah Jalu
"Lo khawatir sama gue?"
"Iya" Jawab asma dengan polosnya dan Jalu hanya tersenyum kecil sangat kecil bahkan Asma tak menyadari itu
"Lo nggak usah hawatir sama Jal eh Arga, dia udah sembuh kok" Timpal Tian sambil menepuk pelan bahu Asma
"Terus mereka yang ada didalam nggak mau sholat?" Tanya Asma
"Mereka pms" Jawab Jalu ngawur membuat Asma tertawa terbahak
Diam diam Jalu tersenyum tipis kala melihat Asma tertawa dan Tian yang melihat senyum yang terbit di bibir Jalu pun berbatin "Lo udah suka beneran sama dia apa enggak Ga? Kadang gue bingung sendiri sama lo"
"Panggil mereka sekalian biar ikut sholat berjamaah di Masjid"
"Nggak usah" Tolak Jalu mentah mentah "Ayo berangkat!"
Asma pun menghampiri mereka yang masih sibuk didalam "Kakak kakak nggak ada yang mau sholat?" Tanya Asma membuat ketujuh cowok itu menatap Asma yang sedang berdiri di ambang pintu
Farhan dan Fatah yang mendengar Asma menyebut 'Kakak' pun berkata "Gue belum tua kale" Ketus Fatah dan Farhan mengangguk, Asma tetap acuh
"Udah solat" Jawab Hakim datar "Benerkan?" Tanya nya pada teman temannya dan mereka semua kompak menganggukkan kepala
"Masa sih, perasaan Ashar baru lima menit yang lalu"
__ADS_1
"Gue gak tahu tapi pokoknya gue udah sholat"
"Beneren tuh kata Farhan" Timpal Fatah
________
Kini ketujuh cowok itu harus mengikuti perintah Jalu si Pak bosnya karena Jalu mengancam mereka jika tidak sholat ke Masjid maka Jalu tidak akan membolehkan mereka lagi ke Apartement miliknya dan tentu saja ketujuh cowok itu terpaksa mengiyakan permintaan pak bosnya ini
Terlihat dari wajah wajah mereka, mereka sangat terpaksa menjalankan perintah si pak bosnya itu, wajah wajah yang penuh dengan hampa itu sedang menatap datar masjid di depannya ini
"Ada yang tahu baca qunut?" Tanya Rio. Rio memang paling malas diantara mereka untuk mengerjakan sholat, bahkan Rio tidak tahu satu bacaan pun dari sholat. Astaghfirullah
"Emang kita mau sholat apa?" Beo Angga, mereka semua menganga tak percaya dengan kebodohan Rio dan Angga
"Subuh Ga, kita ini mau sholat subuh makanya tadi gue tanya bacaan qunut" Rio menjawab pertanyaan Angga, Rio terlalu percaya diri menjawab itu semua membuat Asma menggeleng tak percaya dengan teman teman Jalu
"Sholat ashar kak bukan subuh" Timpal Asma dan mereka semua mengangguk dengan mulut terbuka berbentuk 'O'
"Kalian ada yang tahu baca sholat?" Tanya Asma lagi dan mereka hanya menggeleng mins Jalu
"Gue tahu, pas imam nya baca 'Waladzāallim' kita kudu jawab Amin" Jawab Jalu sambil melipat tangannya dengan nada datar ia menjawabnya "Benerkan?"
Asma cengo. Apa ia tidak salah mendengar dengan jawaban Jalu
"Ha Ha Ha" Semua tertawa dengan jawaban Jalu
Kening Jalu mengkerut "Kenapa lo semua ketawa, hm?" Tanya jalu dengan sorot mata tak biasa dan mereka pun mendadak berhenti tertawa karena melihat sorot mata Jalu yang sangat tajam
Kecuali Hakim yang masih tertawa karena tidak sadar dengan tatapan jalu "Baru kali ini si Arga beg.."
Hakim menghentikan ucapannya tiba tiba ketika melihat Jalu dengan wajah yang tak bisa dideskripsikan lagi, Hakim hanya cengengesan dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
"Orangtua kalian nggak ada yang ngajarin kalian?" Tanya Asma karena melihat Kesembilan cowok itu yang sangat tak mengenal sholat
"Gue pernah diajarin tapi cuma sampe ba' " Jawab Tian
"Itu alfabet Yan bukan sholat!" Geram Semua kecuali Jalu yang hanya berdiri menatap datar kedepan
"Bukan alfabet kak tapi huruf hijaiyah" Timpal Asma
"Sambel ijo" Jawab mereka kompak dan ngawur
"Terus kita mau ngapain berdiri disini dari tadi? Pak Holil lagi nggak ngehukum kita"
"Lu kira ini sekolah, noh liat noh, itu masjid ****" Ketus Armand
"Gue nggak tahu caranya sholat" Kini Jalu buka kata, cowok itu menengadah keatas langit, memandang burung burung yang beterbangan, hatinya terasa tidak nyaman bahkan terasa bersalah entah kenapa
Mereka yang melihat Jalu pun mulai sadar dengan perkataan Jalu, mereka yakin jika Jalu merasa dirinya sangat bersalah sebagai orang islam
Asma menghembuskan nafas pelan melihat kesembilan cowok itu, Asma tersenyum kecil melihat Jalu yang masih menatap ke langit "Aku bisa kok ngajarin kalian" Jawab Asma dan semua cowok itu beralih menatap Asma tak terkecuali Jalu
"Besok sore" Ucap Asma lalu ia melangkah ke dalam Masjid
"Kalo diliat liat si Asma cantik juga" Cicit Tian setelah kepergian Asma dan semuaanya menatap Tian "Itu menurut gue sih" Lanjutnya lagi lalu duduk di kursi yang berada di belakangnya itu
Entah mengapa hati Jalu terasa berbeda ketika mendengar perkataan Tian namun ia segera membuang jauh perasaan itu
Astrit
Hanya kata itu yang berada di hatinya sekarang, ia tak tahu harus sampai kapan memendang rindu itu sendirian
"Tau ah, sambel ijo lo semua" Timpal Armand sebelum akhirnya ia pergi menuju ke arah motornya dan pergi dari situ
"Dari pada lo sandal tua" Itu suara ketusan dari Hakim
Semua menatap Hakim setuju "Bener. Bener tuh kata Hakim" Semua kompak meneriaki Armand dengan kata pedas lainnya dan Armand dengan cepat menghidupkan mesinnya agar mereka tak memakan habis habisan dirinya
Jalu terus saja menatap kearah langit sambil melukis nama namanya yang bergandengan dengan nama Astrit, dirinya sangat rindu dengan canda tawa bersama Astrit, hatinya masih saja mengharap gadis yang telah meninggalkannya itu
Sakit. Rasanya sakit dihianati bahkan rasa sakit yang berada di tubuhnya ini belum seberapa dengan rasa sakit yang berada di hatinya
"Dilarang ribut!" Itu suara salah satu jamaah masjid yang selesai sholat
###
Malam malam yang dilewati Asma adalah malam yang sangat sulit karena dirinya harus bergadang setiap malam untuk belajar, tak heran jika Asma selalu dibangunkan oleh kakaknya ataupun abinya karena ia sangat kelelahan
Padahal Hafids sudah memarahi Asma karena selalu tidur malam, untung saja Hafids tak memberitahu Abinya kalau tidak Asma bisa bisa dimarahi mati matian oleh Abinya itu
"Hoam.." Asma menguap, cewek itu sedang duduk di meja belajarnya dengan menaruh kepalanya ke atas meja yang berisi tumpukan buku dan kertas yang berserakan
Sekarang pukul 11:35
Krek
Hafids membuka perlahan pintu itu untuk melihat Asma, ternyata benar dugaannya, Asma pasti tertidur di meja belajarnya, entah sudah beberapakali Hafids melihat itu setiap malam
Hafids berjalan menuju Asma, niatnya ingin membangunkan Asma namun ia urungkan karena tidak tega dengan adiknya yang sudah tertidur pulas
Hafids menggeleng pelan sambil tersenyum kecil lalu ia membopong tubuh adiknya dan menaruh tubuh Asma ke kasur dan menyelimuti Asma dengan selimut
•
•
•
•
Ada yang mau kakak kayak Hafids gak? Kalo Author sih pasti nggak bisa karena Author anak ke satu, hehe....
Author pengen tahu para readers itu anak keberapa? Sekali kali lah cerita sama Author tentang pribadi kalian
__ADS_1
@rezhazulfa