
Rahang Zhak mengeras, tangannya terkepal erat melihat berapa tidak sopan nya adik kesayangannya itu. Zhak melangkah mengejar Clara yang di tarik paksa boleh Aka. Sampai di depan pintu utama Zhak berhasil meraih tangan Clara lalu menariknya ke belakang tubuh besarnya.
"Aka, kau memang adik kesayanganku, tapi bukan berarti kau bisa melewati batasanmu." bentak Zhak. Matanya menatap Aka seakan ingin menikamnya.
"Maafkan aku kak, tapi aku perlu bicara dengan Clara." ucap Aka tanpa rasa takut.
"Aka, jaga sopan santun mu, Clara itu kakak iparmu, tidak seharusnya kamu memanggil nama kakak iparmu." imbuh Maya. Dia tidak habis pikir dengan sikap putranya.
Aka menatap Clara yang masih berada di belakang punggung Zhak tanpa menghiraukan ucapan Maya.
"Clara-
"Aka, jangan membuatku marah." potong Zhak
Clara yang mulai melihat ketegangan di sana mulai mengambil tindakan.Clara menarik tangan Zhak, mengalihkan pandangan Zhak agar menatapnya.
"Mas Ervan, maafkan aku. Tapi sepertinya aku harus bicara dengan Dika." ucap Clara.
Semua orang yang berada di sana sangat terkejut, Clara mengenal Dika. Benarkah ini?
"Kau mengenal Aka?" tanya Zhak
Clara mengangguk."Mas pernah bilang kan, jika adik sepupu Mas satu kampus denganku. Jadi ada kemungkinan besar aku mengenal Dika. Awalnya aku sangat terkejut. Tapi Dika adalah sahabat ku Mas, aku perlu menjelaskan ini, karena aku menyembunyikan ini darinya." jelas Clara.
Zhak menghela nafasnya berat, kini dia mulai mengerti." Baiklah, aku beri waktu Sepuluh menit, setelah itu kita pulang." putus Zhak.
Clara yang tidak ingin membantah dan membuat suasana semakin buruk hanya bisa mengangguk patuh.
__ADS_1
Suasana malam itu begitu hening, suara jangkrik mendominasi malam itu. Dua insan yang terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang merajuk itu terlihat tidak ada yang mau memulai pembicaraan, mereka asyik dengan pikiran mereka masing-masing.
"Kenapa?" satu pertanyaan yang keluar dari Dika.
Clara menghela nafas pelan, dia membalik tubuhnya agar menghadap sahabatnya." Maafkan aku Dik, aku bukannya tidak ingin memberitahukan mu masalah ini. Tapi ini semua terlalu mendadak, aku bahkan tidak menyangka jika sekarang aku sudah menjadi seorang istri." Clara tersenyum membayangkan dirinya saat ini.
"Jika saat ini kamu menuntut cerita kenapa aku bisa sampai menikah. Maaf Dika, aku belum bisa menjelaskan, tapi aku janji, besok di kampus akan aku jelaskan semuanya." Clara menunduk sedih. Dia tau apa yang ada di pikiran Dika, tapi kali ini Clara tidak bisa mundur lagi, dia sudah berada di titik puncak hidupnya.
"Apa kau mencintainya."
"Apa!" Clara terkejut. tapi Clara tau jika Dika pasti akan mempertanyakan hal itu.
"Jika kau tidak mencintai kak Zhak, ajukan perpisahan kepadanya." Clara terkejut, benar-benar terkejut. Clara tidak menyangka jika Dika akan mengatakan hal itu.
"Dika-
"Aku tidak memaksakan hati ku, Dika." potong Clara.
Clara memang tidak memaksa hatinya, dia sangat iklas jika harus menikah dengan Zhak. Walau memang awalnya hatinya tidak menerima. Tapi melihat sikap yang di tunjukan Zhak membuat otaknya berfikir jika keputusan nya tidak salah.
"Dika." Clara menatap wajah Dika." Aku tidak pernah keberatan di nikahkan dengan Mas Ervan.Walau memang pernikahan kami mendadak dan terkesan di paksa, tapi Mas Ervan memperlakukan aku dengan baik." Clara menatap Dika sambil tersenyum.
"Tapi-
Sebelum Dika melanjutkan ucapannya sebuah tangan besar menarik tangan Clara."Waktu yang aku berikan sekiranya cukup untuk kalian." ucap Zhak dengan nada tegas.
Zhak menarik Clara keluar dari rumah itu. Zhak membawa Clara pulang tanpa berkata apapun. Biarkan keluarganya menganggap Zhak tidak sopan, tapi entah kenapa Zhak tidak suka dengan sikap yang di tunjukan Dika terhadap istrinya. Di dalam perjalanan pulang Clara hanya menundukan kepalanya, bahkan untuk melirik wajah Zhak pun dia tidak berani.
__ADS_1
"Mas tunggu." ucap Clara saat mereka tiba di rumah. Zhak ingin berlalu begitu saja.
"Masuk dan cepat tidur." ucap Zhak dingin lalu berlalu begitu saja.
Clara menatap punggung suaminya dengan sendu. Dalam pikiran Clara, apa kesalahannya? kenapa dia yang harus di hukum.
Clara masuk mengikuti langkah Zhak, Clara masuk ke dalam kamarnya tapi Zhak tidak ada di sana. Clara hanya bisa mendesah pasrah, mungkin dengan membiarkan Suaminya menenangkan diri itu akan menjadi lebih baik untuk esok hari.
*****
Hari ini ialah hari minggu, dan Clara pun tidak ada mata kuliah. Clara beranjak dari tempat tidurnya pelan, menatap sekeliling tapi tidak ada tanda suaminya berada di sana.
Clara Pun memutuskan untuk turun ke bawah.
"Pak, apa pak Sen melihat Mas Ervan?" tanya Clara.
Saat ini Clara sedang berdiri di ruangan yang di sebut dapur. Luasnya kira-kira setengah Are, dan hal itu cukup membuat mata Clara melebar. Tapi tinggalkan semua itu, yang Clara cari saat ini adalah suaminya.
Pak sen tersenyum ke arah nyonya muda nya."Apa Tuan muda tidak mengatakan pada nyonya, jika hari ini Tuan harus terbang ke korea untuk mengurus bisnisnya di sana." ucap Pak Sen.
"Korea? tapi Mas Ervan tidak mengatakan apa pun." seru Clara.
"Mungkin Tuan muda hanya tidak ingin mengganggu tidur Nyonya. Dan tadi tuan Max sudah berpesan agar nyonya tidak pergi ke mana pun hari ini, dan untuk satu minggu ke depan Nona tidak di perkenankan masuk kuliah." jelas Pak Sen.
Clara mengerucutkan bibirnya, dia merasa seperti tahanan rumah."Baik lah pak, saya kembali ke kamar saja." Pak Sen mengangguk, Clara pun segera naik ke kamarnya.
"Apa ini, dia pikir aku tahanan apa." gerutu Clara." Ahhh, lalu aku harus melakukan apa dong di kamar ini." teriak Clara sambil menghempas tubuhnya di tempat tidur.
__ADS_1
Clara yang bingung harus berbuat apa hanya bisa mendesah pasrah, dia mengambil buku cerita yang tersedia di kamar itu. Kamar yang dia tempati cukup lengkap, semua yang dia perlukan di sana sudah tersedia. Tapi itu semua tidak mengurangi rasa bosan Clara.