BATAS RASA

BATAS RASA
Surat perjanjian 2


__ADS_3

Seperti yang di fikirkan Diana semalam, hari ini dia akan menceritakan semuanya pada Clara. Hanya saja harapannya harus ia kubur sementara karena Clara tidak muncul sampai jam pelajaran selesai.


Diana berjalan keluar kampus dengan langkah lemah. Sampai di gerbang kampus Diana ingin mencari taxsi untuk mengantar nya pulang, hanya saja langkahnya terhenti saat sebuah mobil berhenti di hadapan Diana.


Pemilik mobil itu membuka kaca mobilnya, dan ternya itu adalah Elios.


"Masuklah, ada yang ingin aku bicarakan." ujar Elios.


Diana menghela nafasnya pelan lalu memutari mobil Elios dan masuk ke dalam. Setelah Diana memakai seatbel Elios langsung memacu mobilnya menuju ke suatu tempat.


_-_-_-_-_-_


Sementara itu di rumah kediaman Wijaya, Clara merasa tidak enak badan. Ia merasa pusing dan mual sejak pagi tadi. Tidak ada yang bisa ia lakukan, karena kakek Wijaya juga sedang tidak ada di tempat, hanya ada beberapa Art yang menemani Clara.


"Nona, lebih baik kita ke dokter saja, kami takut terjadi sesuatu pada nona." ucap Sindi, kepala pelayan di rumah itu.


"Tidak usah, paling saya hanya masuk angin saja. Lagi pula setelah minum obat, badan saya udah enakan kok. Pusing nya juga udah sedikit berkurang." ujar Clara.


"Baiklah, kalau begitu nona istirahat lagi, saya permisi ke bawah." ucap Sindi


Ia keluar dari kamar Clara dan tidak lupa untuk menutup pintunya.


Clara yang tadi sudah meminum obat memang sudah lebih enakan. Hanya saja ia merasa masih lemah, Clara mencoba bangun dari tempat tidurnya untuk mengambil ponselnya yang berada di atas meja.


Setelah berhasil mengambil ponselnya, Clara memeriksa ponsel itu. Dan ternyata begitu banyak Chat dan panggilan tidak terjawab dari Diana sejak pagi tadi.


Clara pun kembali mencoba menghubungi Diana hanya saja ponsel gadis itu malah tidak aktif. Karena itu Clara pun melihat-lihat pesan lainnya.


Saat Clara memeriksa yang lain ada satu nomer baru yang Clara tidak tau itu siapa. Clara membuka pesan itu lalu membacanya.


"Bisakah kita bertemu malam ini, ada hal penting yang ingin aku bicarakan."


Seperti itu lah sekiranya isi pesan itu. Clara menyeritkan dahi, berfikir siapa kira-kira orang yang memiliki nomor itu. Tapi sekian lama berfikir Clara tidak mendapat jawaban dari pertanyaan nya. Akhirnya Clara pun memutuskan untuk membalas pesan itu.


"Kalau boleh tau kamu ini siapa?"


Clara mengirim pesan itu berharap akan segera di balas. Dan benar saja, tidak lama ponsel Clara berbunyi.


"Zhak."


Mata Clara melebar sempurna melihat nama yang tertera di ponselnya. Jantung Clara berdebar kencang, ia merasa tidak nyaman. Sekelebat bayangan masa lalu kembali melintas di benak Clara, hanya saja Clara mencoba menepis kemungkinan yang ada.


Clara menarik nafas lalu mencoba membuangnya perlahan. Dengan tangan yang sedikit gemetar Clara membalas pesan dari Zhak.


"Dimana kita akan bertemu?"


"Cafe Senja, datanglah sendiri pukul 8 malam." balas Zhak.


Clara menelan ludahnya dengan susah payah lalu kembali membalas pesan suaminya itu.


"Baiklah." kirim Clara


Setelah membalas pesan Zhak, Clara melihat jam Dinding yang terpasang di kamarnya. Jam itu menunjukan pukul 4 sore. Dan sekitar empat jam lagi Clara akan bertemu dengan suaminya.


Clara harap-harap cemas, dalam hatinya penuh tanda tanya. Kira-kira apa yang akan di katakan oleh suaminya itu? Apakah tentang perceraian mereka ? ataukah tentang yang lainnya?

__ADS_1


Wajah Clara semakin pucat akibat memikirkan itu, kondisinya yang masih sangat lemah membuat Clara tidak bisa berpikir jernih. Clara benar-benar bingung kali ini, sesekali ia menghela nafas untuk menetralkan degup jantungnya yang berpacu.


Tok


tok


Suara ketukan pintu sedikit membuat Clara terkejut


"Masuk." ucap Clara


Seorang pelayan masuk ke dalam kamar Clara, bukan Sindi tetapi pelayan lain.


"Maaf Nona, Tuan besar berpesan pada kami untuk tidak mengijinkan Nona kemanapun juga hari ini. Karena kondisi Nona yang masih lemah. Karena Tuan besar akan cukup lama berada di Paris, jadi kami harus selalu mengawasi Nona. "ujar pelayan itu.


"Hari ini aku ada janji dengan seseorang dan ini sangat penting. Lagi pula aku sudah tidak apa-apa, masalah Kakek biar aku yang mengatakannya sendiri. Kalian tidak usah khawatir." ujar Clara.


"Tapi Nona-


"Jangan berdebat, saya tidak suka. Kalau kamu tidak percaya aku akan membawa beberapa bodyguard yang di siapkan kakek untuk ku."


Pelayan itu sedikit berfikir." Baiklah Nona, tetapi hanya sampai jam sepuluh malam, tidak lebih." ujar pelayan itu.


"Baiklah, saya tidak akan melewati waktu yang di tentukan." balas Clara.


Pelayan itu mengangguk lalu pergi. Setelah kepergian pelayan itu Clara mencoba kembali menghubungi Diana dan tetap ponselnya tidak Aktif. Clara yang lelah melempar ponselnya ke sembarang tempat ,merebahkan tubuhnya lalu memejamkan mata, mencoba melupakan yang terjadi.


_-_-_-_-_-_


Di tempat lain Mobil Elios baru saja tiba di sebuah apartemen yang terbilang elite. Keduanya turun dari mobil lalu masuk ke dalam apartemen itu.


"Kenapa kau membawaku kesini, apa yang akan kau lakukan?" tanya Diana. Ia sedikit khawatir jika Elios akan berbuat macam-macam padanya.


Diana mencoba untuk berfikir positif. Ia masuk ke dalam apartemen mewah itu bersamaan dengan Elios yang telah menutup pintu apartemen.


"Duduklah, akan aku ambilkan minum." ujar Elios.


Diana duduk di sofa ruangan itu, matanya menelusuri setiap sudut ruangan yang terlihat begitu mewah dan elegan. Apartemen itu memiliki dua kamar tidur dan satu dapur, cukup besar untuk ukuran apartemen elite.


Elios kembali membawa dua cangkir teh di atas nampan. Ia juga membawa sebuah berkas berwarna coklat


"Minumlah." ujar Elios.


"Ini tidak isi obat tidur kan?" tanya Diana polos.


Sepertinya gadis itu benar-benar takut. Hingga pertanyaan Diana itu membuat Elios tertawan geli.


"Hahaha, kau pikir aku pria seperti itu. Lagi pula aku kan sudah bilang tidak usah berfikiran yang tidak-tidak." ujar Elios.


" Ya kan siapa tau aja, kamu melakukan hal yang buruk seperti yang ada di film-film itu." ujar Diana.


"Hahhh." Elios menghela nafas." Makanya janga kebanyakan nonton film yang gak jelas." ujarnya


"Baiklah, begini saja. Aku tidak ingin banyak membuang waktumu karena ini juga sudah sore. Baca berkas ini, jika kamu setuju kamu boleh menandatangani nya. Jika tidak aku tidak masalah." ujar Elios sambil neyodorkan berkas kepada Diana.


Diana mengambil berkas itu lalu membukanya. Ia membaca setiap detail yang tertulis di lembaran kertas itu. Memang tidak banyak poin yang tertulis, hanya saja Diana tidak setuju dengan poin terakhir.

__ADS_1


Surat perjanjian PraNikah antara


Pihak pertama


(Dr. Elios Dharma Sanjaya. SPD)


Pihak kedua


(Diana Anastasya Kusuma)


Dengan ini menyatakan persetujuan atas perjanjian tertulis Hitam di atas putih dengan poin tersebut.


Poin 1 ( Pertama)


Setelah satu tahun pernikahan, perceraian akan di laksanakan tanpa ada yang ke beratan.


Poin 2 (Dua)


Setelah pernikahan berlangsung pihak pertama akan tetap memberi nafkah secara material dan tidak termasuk yang lainnya.


Poin3 (Tiga)


Tidak mengikut campuri urusan masing-masing dan bebas seperti sebelum menikah.


Poin 4 (Empat) Terakhir.


Setalah pernikahan berakhir pihak pertama akan tetap memberikan harta gono gini berupa cek sebesar yang di tentukan pihak pertama.


Sekian dan terimakasih


Diana melempar berkas yang ada di tangannya ke atas meja


"Aku tidak setuju dengan poin terakhir." ujar Diana


"Kenapa, itu hak mu setelah perpisahan terjadi?" tanya Elios


"Kau pikir aku ini gadis murahan apa! Se enaknya saja menentukan nilai. Tuan Elios yang terhormat, saya itu mau menikah denganmu bukan karena uang. Tetapi karena menghormati keinginan ayah saya. Jika menurut anda saya mau menikah dengan anda karena uang, Maaf saya tidak bisa." Diana berdiri dari tempatnya. Perjanjian yang di tulis Elio sangat menyinggung hatinya.


Diana ingin meninggalkan tempat itu tetapi Elios menahan lengan Diana.


"Jangan pergi, kita belum selesai membahas ini." ujar Elios.


Diana menghempas tangan Elios dengan kasar." Bukan kah ini sudah jelas tuan Elios. Saya tidak menyetujui permintaan anda dan juga perjodohan ini." ujar Diana dengan wajah kesal.


"Ok baiklah, saya salah. Saya minta maaf. Tapi coba pikirkan keadaan Ayahmu Diana, jika kau membatalkan perjodohan ini di saat kita berdua sudah menyetujui nya, apa yang akan terjadi dengan Ayahmu. Tolong pikirkan resiko terburuk nya. Dan masalah poin terakhir, kamu bisa mencoret itu. Karena saya tidak akan memaksa kamu untuk menyetujui semuanya." ujar Elios meyakinkan Diana.


Diana memikirkan ucapan Elios, sebenarnya ia masih sangat kesal. Karena Elios menganggapnya wanita murahan yang mau di jodohkan hanya demi uang.


"Baiklah, jika poin itu bisa di hapus, aku setuju. Tetapi ingat satu hal, aku tidak akan pernah tinggal diam jika harga diriku kau rendahkan seperti ini lagi." ancam Diana.


"Baiklah, aku tidak akan mengulang nya lagi." ujar Elios.


Setelah Diana menandatangani surat perjanjian itu, Elios memberinya satu lebar, dan untuk dirinya satu lembar. Itu hanya karen Elios ingin sama-sama adil, dan Diana tidak merasa di curangi.


Setelah pukul 6 sore Elios pun mengantar Diana pulang. Di dalam perjalanan Diana dan Elios lebih banyak Diam. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing.

__ADS_1


.


.


__ADS_2