BATAS RASA

BATAS RASA
Sosok Tuan muda


__ADS_3

Malam pun tiba. Clara baru saja selesai membersihkan tubuhnya yang lelah dan lengket. Sampai Clara mendengar pintu terbuka dan membuatnya terkejut. Betapa tidak, Zhak masuk ke dalam kamar saat Clara sedang mengenakan pakaiannya.


"Ada apa?" tanya Zhak. Wajahnya datar tanpa ekspresi


"Em, apa anda tidak bisa masuk dengan mengetuk pintu dulu tuan!" ucap Clara ragu.


"Kenapa? ini kamarku, dan kita sudah sah menjadi suami istri, jadi apa salahnya." ucap Zhak santai.


"Iya tapi-


"Tapi apa?" tanya Zhak.


Zhak tersenyum miring, ada sesuatu yang terbesit di kepalanya. Perlahan Zhak maju ke depan mendekati Clara, tapi Clara malah mundur, Zhak semakin mendesak Clara hingga tembok di belakang Clara menghalangi langkahnya.


"Tu-uan, a-apa yang anda lakukan?" tanya Clara takut.


"Apa yang sedang kau pikirkan hmm?" goda Zhak.


"Ti-dak ada." jawab Clara semakin gugup


"Benarkah?" Zhak semakin ingin menggoda istri kecinya itu." Apa kamu sudah tidak sabar dengan malam pertama kita." ucap Zhak lagi. Wajah Clara memerah, detak jantung nya memompa semakin cepat. Clara tidak menyangka jika Zhak akan mengatakan hal itu, padahal di benak Clara tidak sama sekali terbesit hal semacam itu.


"Ti-dak tuan. Mm tuan, bisa anda lebih mundur."


"Kenapa, apa kau tidak suka hm?"Zhak menahan tawanya, dia benar-benar puas mengerjai Clara.


Sementara wajah Clara semakin memerah, kepalanya sontak menunduk dan hal itu membuat Zhak semakin tersenyum tipis. Zhak mendekatkan wajahnya ke telinga Clara lali berbisik.


"Jangan terlalu banyak berharap, karena aku menikahi mu bukan untuk menjadi pemuasku. Dan ingat, kau bukan seleraku."setelah mengatakan itu Zhak langsung pergi meninggalkan Clara.


Jantung Clara berdenyut, perasaan apa yang dia rasakan ini. ada sedikit rasa sakit yang Clara rasakan saat ini, mendengar bagaimana suaminya tidak menginginkannya.

__ADS_1


"Nona." panggilan suara dari luar membuat Clara tersadar. Clara melihat seorang pelayan sedang berdiri di depan pintu kamarnya.


"Iya."


"Nona di tunggu di meja makan oleh tuan muda." ucapnya.


"Baiklah, saya akan segera turun." pelayan itu mengangguk, setelah pelayan itu pergi Clara langsung menyelesaikan pekerjaannya dan segera turun.


Di meja makan Clara mulai belajar menjadi seorang istri.


"Anda mau yang mana tuan?" tanya Clara canggung


"Ambilkan apapun yang menurutmu enak, aku tidak pernah memilih makanan."


"Baiklah." Clara mulai mengambilkan makanan untuk suaminya dan dirinya.


"Clara." panggil Zhak


"Tidak, tapi aku ingin bertanya."


"hm, apa itu penting?"


"Kenapa kau mau menikah denganku?" Zhak bertanya tanpa menghentikan aktivitas makannya.


"Kenapa anda menanyakan hal itu?"


"jawab saja, dan jangan banyak bertanya."


"Itu karena papa sudah menjual ku." Clara menunduk sedih, tapi penyesalan itu sudah tidak ada artinya lagi. Dia hanya bisa menjalani semua dengan iklas.


"Bukankah kau bisa menolaknya, kenapa kau harus menyiksa dirimu." Zhak meletakan sendok nya, dia ingin

__ADS_1


tau dari mulut Clara langsung, walau dia sudah tau bagaimana kehidupan Clara sebenarnya.


Clara tersenyum mendengar ucapan Zhak, mungkin Zhak tidak tau betapa beratnya dia menjalani kehidupan nya selama ini." Aku merasa hidup disini akan lebih baik."


"Hahaha." Zhak benar-benar merasa lucu mendengar jawaban Clara." Benarkah kau merasa seperti itu. Kau sangat yakin Nyonya Edward."


"Saya memiliki keyakinan penuh tuan, jika pun saya harus menderita lagi disini, saya tidak akan mengeluh ataupun memberontak." ucap Clara dengan senyum tulus.


Zhak menatap Clara dengan seksama, ada rasa sakit yang Zhak rasakan saat Clara mengatakan hal itu. Apa Zhak tega menyakiti gadis sebaik Clara? apa dendamnya harus ia lampiaskan pada gadis yang bahkan sudah tersiksa sejak dia kecil.


Malam semakin larut, Clara masih belum bisa memejamkan matanya, bayangan malam pertama masih menguasai pikirannya. Zhak yang belum juga masuk ke dalam kamar membuat Clara semakin khawatir.


"Apa yang dia lakukan di luar." gumam Clara. Dia bangkit lalu berjalan menuju pintu, saat tangan Clara ingin membuka pintu tiba-tiba pintu itu terbuka hingga membuat Clara tertarik ke depan.


Bruk....!


Clara memejamkan matanya, ia tidak merasakan sakit.


"Apa kamu sangat senang berada di atas tubuhku hmm." Clara membuka matanya saat mendengar suara bariton seorang pria.


"Ah maaf tuan." ucap Clara dengan tergesa mengangkat tubuhnya dari atas tubuh Zhak.


"Pantas saja tidak sakit." batin Clara.


Zhak melewati Clara yang masih menunduk takut. Clara mengira dia akan terkena pukulan dari Zhak.


"Ini sudah larut, cepat tidur." ucap Zhak sambil berlalu ke dalam kamar mandi.


Sementara Clara hanya bisa membuka lebar mulutnya karena tidak menyangka jika Zhak akan berkata seperti itu. Tanpa pikir panjang Clara langsung menuju tempat tidur, dia langsung merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya. Clara tidak ingin Zhak sampai melihat wajahnya yang memerah.


.

__ADS_1


.


__ADS_2