BATAS RASA

BATAS RASA
Sebuah Fakta


__ADS_3

Keberangkatan Zhak sudah di pastikan, semua keperluannya untuk kepergiannya ke America juga sudah semua tersiapkan. Hari ini Zhak sudah di pastikan akan pergi. Max tidak bisa berbuat apapun, dia hanya bisa menuruti kemauan atasannya.


Sementara kondisi Clara sudah mulai membaik, dokter pun sudah mengijinkan nya pulang.


"Nona, anda sudah siap?" tanya Max


"Kak, biar Clara gue yang anter." ucap Dika


Pria itu sangat kesal mendengar kakaknya meninggalkan istrinya yang sedang sakit tanpa pertanggungjawaban.


"Maaf Dika, tapi saat ini Nona adalah tanggung jawab saya. Karena Tuan muda sedang ada pekerjaan penting."


"Cihh, penting apanya. Dia itu pria yang tidak bertanggungjawab, dan kau jangan membelanya."


"Maaf Dika, apapun itu, Nona tetap tanggungjawab saya." Kekeh Max.


Wajah Dika semakin kesal, tetapi dia tidak bisa berbuat apapun, jika di lawan Max bisa melakukan apapun terhadapnya termasuk melarang dirinya menemui Clara.


Max sengaja menjemput Clara setelah mengantar Zhak tadi. Meski tuan mudanya tidak perduli, setidaknya Max masih perduli.


Clara dan Max masuk ke dalan mobil, Sementara Dika langsung pulang karena tidak di ijinkan Mengantar .


Clara yang masih terlihat lemah hanya berdiam tanpa mengatakan apapun, di dalam pikira Clara masih banyak pertanyaan. Sekejam itukah suaminya, setelah apa yang dia lakukan ia pergi seperti pecundang.


Mobil memasuki kediaman Edwards. Max membuka pintu mobil dan membantu Clara masuk ke dalam.


"Kak." Panggil Clara saat Max ingin keluar untuk mengambil barang milik Clara.


"Tunggulah, saya akan mengambil barang Nona."


"Apakah Mas Ervan tidak akan kembali?"


pertanyaan Clara berhasil menghentikan langkah Max. Pria itu menghela nafas sebelum berbalik menatap Clara.


"Tuan muda ada pekerjaan penting, maka dari itu beliau harus terbang ke America. Tidak lama Nona, hanya beberapa bulan." jawab Max sambil tersenyum tulus.


"Kak, kau tidak perlu berbohong untuk menutupi semuanya." Clara bangkit dari duduknya, ia berlalu menuju kamar yang biasa ia tempati.


Sementara Max hanya biasa menatap punggung Clara dengan tatapan sendu.


Di dalam kamar Clara mulai terisak, dia tidak menyangka jika semua ini akan terjadi. Ia mengira jika Zhak adalah pria yang baik dan bertanggungjawab. Tetapi kenyataannya tidak, Clara mengalami rasa sakit untuk kesekian kalinya.


Kali ini Clara harus berani memutuskan untuk kehidupannya. Clara tidak ingin tersiksa lagi, dia tidak ingin lagi hidup dalam kesakitan.


Saat malam tiba, Clara mulai mengemasi barang-barang nya. Kali ini Clara akan pergi jauh, karena bagi Clara semua sudah berakhir.

__ADS_1


Malam semakin larut, kaki lemah Clara sudah berjalan cukup jauh dari kediaman Edwards. Sudah sekian kali Clara duduk untuk beristirahat.


"Ahhh, ini sangat sakit." gumam Clara sambil.memijat kakinya.


Dari jauh Clara melihat dua mobil hitam beriringan ke arahnya. Clara tidak berfikiran buruk, dia tetap dengan aktivitas nya. Sampai akhirnya Mobil itu berhenti tidak jauh dari Clara, beberapa orang ber jas hitam turun dan mendekati Clara.


"Nona, silahkan ikut kami tanpa melawan." ucap salah satu dari mereka.


"Siapa kalian, apa mau kalian?" tanya Clara dengan rasa khawatir mulai menghinggapi.


"Anda akan tau nanti, sekarang ikut kami dan jangan melawan. Kami tidak akan menyakiti anda, percayalah." pria itu meyakinkan.


Tubuh Clara bergetar, degup jantungnya semakin cepat. Clara takut, dia benar-benar takut.


"Mari Nona." pria itu mempersilahkan Clara.


Dengan langkah gemetar Clara mengikuti arahan pria itu. Sebenarnya Clara takut dan ragu, hanya saja melawan pun percuma. Clara hanya seorang wanita lemah, sementara mereka !.


"Tutup matanya."


Satu perintah dari pria yang meminta Clara ikut dengannya.


"Tidak, aku tidak mau." tolak Clara.


"Kami tidak akan macam-macam Nona, ikuti saja apa yang kami mau."


"Tidak, aku tidak mau. Lepas, jangan coba-coba sentuh aku."


Clara berteriak, kini hawa panas menyeruak ke dalam tubuhnya. Clara benar-benar takut.


"Saya sudah bilang bukan, jika anda tidak melawan maka kalo tidak akan berlaku kasar." ucap pria iyu dengan tatapan tajam.


Clara menelan ludahnya dengan susah payah, ia ingin sekali menangis, berteriak, memanggil siapapun yang bisa melindunginya. Tapi logika Clara kembali berbisik, jika itu tidak ada gunanya.


"Bagaimana Nona? apa anda punya pilihan lain."


Clara mengatur nafasnya, dia memang tidak punya pilihan. Akhirnya Clara pun pasrah, matanya di tutup rapat. Clara merasakan pergerakan yang menandakan jika mobil itu sudah berjalan.


Hampir 2 jam lamanya, akhirnya mobil yang membawa Clara berhenti. Penutup mata Clara pun di buka, butuh waktu lama untuk Clara menetralkan penglihatannya.


"Dimana ini?"


Clara melihat sekeliling tempat itu, ternyata ia di bawa ke sebuah rumah mewah berlantai 3. Clara merasa semakin bingung, ia mengira dirinya akan di bawa pada seorang germo, atau bisa saja dirinya akan di mutilasi dan di ambil organ tubuhnya.


Tetapi pikiran Clara salah, kini ia berdiri di depan sebuah rumah mewah.

__ADS_1


"Nona, mari. Anda sudah di tunggu oleh tuan kami."


"Ahh, tuan kalian?"


"Ya Nona, anda tidak usah takut."


Clara mengikuti langkah pria itu masuk ke dalam rumah. Ini bukan kali pertama Clara melihat rumah mewah seperti itu, jadi dia biasa saja.


Sampai di dalam Clara melihat makanan yang sudah terhidang begitu banyak. Melihat begitu banyak makanan perut Clara malah berbunyi, benar-benar membuat Clara malu.


Belum selesai tentang perut Clara yang lapar, terlihat seorang pria tua turun menggunakan tongkat. Clara melihat wajah kakek itu seperti tidak asing.


Kakek itu semakin dekat, wajahnya begitu terlihat bahagia.


"Malam kek." sapa Clara ramah.


"Cu-cu ku." ucap Kakek Wijaya dan langsung memeluk Clara."Hahhh, cucuku maafkan kakek nak."


Kusuma Wijaya, seorang pengusaha sukses yang terkanal seantero negri. Kekayaan kakek Wijaya tidak akan habis meski sepuluh keturunannya telah lahir. Tetapi sayang, kakek Wijaya tidak punya pewaris, hanya Clara satu-satunya. Itupun setelah susah payah ia mencari tahu soal putrinya.


"Ka-kek, maaf kakek mungkin salah. saya sudah tidak memiliki kakek."


Wijaya menggeleng lemah, air matanya tidak berhenti mengalir.


"Kamu itu cucu kakek nak, mama kamu Laras adalah putri tunggal kakek hiks."


Clara termenung, otaknya berfikir keras. Yang dia tau ibunya adalah anak yatim, dia juga tau jika ibunya adalah anak dari seorang petani, bukan anak orang sekaya ini.


"Tidak kek, kakek mungkin salah. Aku yakin, Mama pernah bilang jika orang tuanya seorang petani dari desa tidak jauh dari kota tempat kami tinggal." ucap Clara menolak kenyataan.


"Nak." Wijaya mengelus kepala cucunya yang malang."Kakek tau jika ibumu pasti tidak akan mengatakan apapun tentang kenyataan dirinya, karena saat Ibumu pergi meninggalkan Kakek. kami sedang bertengkar, dan Ibumu pergi begitu saja."


"Sampai akhirnya Kakek mendengar jika ibumu menikah dengan ayahmu, Burhan." lanjut Wijaya.


Clara menunduk, dia belum percaya akan semua ini. Tetapi jika benar, Clara akan sangat bersyukur jika dirinya masih memiliki seorang kakek.


"Nak, lebih baik kita sekarang makan dulu. Kakek tau kamu pasti lapar, setelah makan kakek akan mengantar kamu ke kamar, supaya kamu bisa istirahat. Besok kakek akan memperlihatkan sesuatu agar kamu tidak ragu lagi dengan kakek."


Clara mengangguk, dia sebenarnya juga sangat lapar. Dan semoga harinya besok akan lebih baik, dan ini bukan mimpi.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2