BATAS RASA

BATAS RASA
Ketegangan


__ADS_3

Hari semakin sore, Clara masih berada di kamarnya sejak pagi, dia bahkan tidak sarapan atau makan siang. Pak Sen dan beberapa pelayan di rumah itu sudah berusaha membujuk Clara, tapi tetap dia itu tidak mau keluar kamar. Sampai akhirnya pak Sen harus memberitahu Max .


Sementara di lantai bawah sedang terjadi keributan, Clara di kamarnya baru saja membuka mata, dengan santai ia meregangkan otot-otot nya yang kaku karena terlalu lama tidur.


Brak...!


Suara pintu di buka dengan kasar membuat Clara seketika terkejut, dia bahkan sampai melompat dan menunduk di lantai karena dia pikir ada bon yang meledak di rumah itu.


"Apa yang sedang kamu lakukan?" Zhak berdiri di belakang Clara dengan memincingkan mata.


Parlahan Clara memutar kepalanya, rasa tidak percaya karena dia seperti mendengar suara suaminya.


"Aaaa." teriak Clara. Tubuhnya terhuyun ke belakang karena kaget.


"Hey, kenapa kamu berteriak? kamu pikir saya hantu." ucap Zhak yang telinganya hampir pecah karena teriakan istrinya itu.


"M-mas ada di sini!"


"Hm, kau pikir aku tidak akan datang setelah mendengar begitu banyak laporan terhadapmu." ucap Zhak dengan tangan menyilang ke dada. Wajahnya bahkan terlihat kesal setelah melihat kelakuan istrinya.


"Laporan! terhadapku?. Memang apa yang aku lakukan?" tanya Clara bingung. Dia melihat ke belakang suaminya, dan di sana sudah ada Max, pak Sen dan beberapa pelayan sedang menunduk seperti orang yang sedang mengheningkan cipta.


Zhak mendengus kesal melihat tingkah konyol istrinya, dia bahkan bersikap biasa saja saat Zhak sendiri harus terbang dari Korea hanya karena istri konyolnya itu tidak keluar dan tidak makan satu hari ini.


"Kau masih bertanya apa yang kau lakukan, hm. Apa kau tidak sadar, kau sudah membuat semua orang di rumah ini seperti cacing kepanasan." ucap Zhak cepat


Clara menggaruk kepalanya, dia semakin tidak mengerti dengan ucapan suaminya."Memang kapan aku menyalakan api. Seharian ini aku tidur, dan sekarang aku baru saja bangun." ucap Clara polos membuat Zhak semakin kesal.


"Ehemm."Zhak berdeham, itu menandakan jik semua orang harus keluar dari kamarnya.


"Jadi seharian ini kau tidur?" Clara mengangguk, dia memang tidur seharian ini.


"Bagus. Apa sekarang kau masih ingin tidur?" Clara menggeleng, tapi suara perutnya menandakan hal yang lain.


"Jadi." Zhak mengangkat satu alisnya."Sekarang kau lapar?"


"Iya." jawab Clara dengan cengiran tanpa dosa.


Zhak menghela nafas nya, dia tidak bisa marah dan hanya bisa menahan kekesalannya.

__ADS_1


"Sekarang bersihkan tubuhmu, kita akan makan di luar." putus Zhak. Zhak pun keluar dari kamar dan menunggu Clara di bawah.


Di ruang tamu sudah ada Max yang sedang menunggu Zhak. Max terlihat sedang sibuk dengan laptopnya, karena pekerjaan yang harusnya selesai hari ini harus tertunda karena ulah Clara.


"Max, besok pergilah ke Korea dan gantikan saya, saya sudah meminta keringanan kepada mereka. Kau tinggal melanjutkan yang tertunda tadi." ucap Zhak saat dia sudah duduk di depan Max.


"Baik tuan muda. Lalu bagaimana keadaan Nona, apa dia baik-baik saja?"


"Hm, kau bisa melihatnya sendiri, dia bahkan sangat baik bukan." ucap Zhak sambil mendengus kesal.


Max mengangguk setuju."Tuan, ada yang ingin saya bicarakan." ucap Max


"Apa ini penting?" Max mengangguk


"Baiklah, sepertinya Clara akan lama bersiap, kau bicaralah."


"Ini semua tentang keluarga Nona Clara tuan."


"Kau sudah menyelidikinya?" tanya Zhak yang mulai penasaran.


"Iya Tuan, dan ada satu berita yang mungkin akan membuat Tuan Terkejut." Max mengeluarkan sebuah laporan rumah sakit, seperti sebuah tes.


Zhak mengambil hasil tes itu, dia sangat terkejut mendengar fakta tersebut."Lalu?"


"Nona Clara adalah cucu tunggal keluarga wijaya, saat Ibu Nona Clara menikah dengan tuan Burhan, beliau sudah mengandung Nona Clara."


"Apa Burhan tau tentang ini?"


"Tentu Tuan, dan tuan Burhan memanfaatkan kesempatan ini untuk menguras kekayaan keluarga wijaya. Hanya saja keluarga Wijaya tidak semudah itu untuk memberikan hartanya. Sehingga saat Tuan Burhan tahu jika rencananya gagal total, dia-" Max menggantung ucapannya.


"Dia kenapa? apa yang di lakukan Tua Ba*gka itu?" tanya Zhak penasaran.


"Dia-


"Mas aku siap." Suara Clara yang terdengar dari belakang membuat Max dan Zhak diam.


"Emm"


Zhak berdeham untuk mencairkan suasana." Max pergilah sekarang, setelah kau kembali kita bicarakan lagi." ucap Zhak yang langsung di angguki Max.

__ADS_1


Zhak dan Clara menuju sebuah restoran terkenal di kota itu, makanan yang di sajikan cukup bervariasi. Tidak hanya makanan bintang lima, bahkan restoran itu menyediakan makanan kaki lima. Mungkin terdengar aneh, tetapi yang Zhak tau pemilik restoran itu dulunya adalah seorang Janda miskin dan harus menghidupi ketiga anaknya.


"Mas, apa tidak salah kita makan disini?" tanya Clara sambil matanya melihat ke sekeliling restoran.


"Kenapa, kau tidak pernah ke tempat seperti ini?" Clara mengangguk, dia memang tidak pernah makan di tempat seperti ini.


"Baiklah, lebih baik kau lihat menunya, aku yakin kau tidak akan menyesal ke tempat ini." ucap Zhak sambil menyodorkan sebuah menu ke pada Clara.


Clara mengambil menu dari tangan Zhak, dia melihat deretan menu yang tertera di dalamnya. Mata Clara memincing saat tau ada makanan kaki lima di deretan menu yang tersedia.


"Mas, ini tidak salah kan." ucap Clara sambil mengucek matanya. ia takut Indra pengelihatannya sudah mulai menurun


"Kau tidak salah lihat. Pesanlah."


Clara mengangguk dengan mata berbinar, dia senang karena ada makanan kesukaannya di sana. Meraka pun memesan makanan yang berbeda.


Beberapa saat berlalu, tanpa sengaja Zhak melihat sosok yang sudah lama tidak pernah ia lihat. Zhak bangkit, tanpa memperdulikan Clara dia berlari keluar untuk mengejar orang itu.


"Tunggu." teriak Zhak dengan Nafas terengah. Tapi sayangnya orang itu tidak mendengar.


Zhak mengambil mobilnya, berlalu dari resto mengejar yang dia cari dan melupakan seseorang yang tengah kebingungan di dalam resto.


Resto


Clara termenung memandang makanan di depan nya, setelah keluar mengejar suaminya dan berakhir di tangkap satpam karena di kira ingin kabur, Clara saat ini hanya bisa menunggu. Dia tidak tau apa maksud Zhak meninggalkannya di resto itu. Clara bingung karena di tidak membawa uang sama sekali, nomer ponsel Zhak juga Clara tidak tahu.


"Bagaimana Mbak, apa kami harus memanggil polisi karena mbak tidak bisa membayar semua makanan ini!" ucap seorang pelayan dengan gaya sok nya.


"Aduh, jangan dong mbak, saya masih menunggu suami saya." ucap Clara yang mulai panik


"Mbak jangan pura-pura gitu, kami tidak percaya. Ini sudah jam berapa mbak, resto kami akan segera tutup." ucapnya lagi.


"Ya sudah deh mbak, bagaimana kalau saya bayar dengan tenaga saya." usul Clara. Dia sudah tidak punya pilihan lain setelah melihat arloji yang melingkar di tangannya.


Pelayang itu mendengus kesal." Kalau tidak punya uang, jangan sok gaya makan di restoran mbak. Sekarang mbak bersihkan ruangan di sini, setelah itu buang sampah yang ada di belakang."


Clara mengangguk, dia mengerjakan apa yang di perintah pelayan itu, sementara stap lain hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Clara yang menurut mereka sok seperti orang kaya.


Saat Clara tengah asyik merapikan meja, tiba-tiba ada tangan besar yang mencekal tangan Clara. Clara yang terkejut langsung saja mencoba melepaskan tangannya, tapi sayang tangan besar itu semakin kencang menggenggam tangan Clara. Sampai saat dimana pandangan mereka saling bertemu.

__ADS_1


"Kau."


__ADS_2