
Mungkin terasa sangat menyakitkan ketika kamu baru menyadari kamu tidaklah penting untuk orang yang kamu beri kepercayaan padanya.
Karena orang yang benar-benar mencintaimu tidak akan pernah meninggalkanmu sekalipun kau menjadi dirimu sendriri dan bukan yang ia inginkan.
Mungkin inilah yang di rasakan oleh Clara, meski berat ia tetap harus menjalaninya. Clara harus menyembunyikan rasa sakit supaya hal itu tidak menjadi beban untuk orang lain.
Hari ini
Seperti yang di janjikan oleh Kakek Wijaya, setelah dua minggu berlalu kini Clara mulai kembali ke kegiatan nya yang dulu. Clara berharap dengan menyibukan dirinya, ia akan melupakan semua yang terjadi, mengubur semua kenangan lama dan bangkit di awal hidupnya yang baru.
Langkah kaki riang Clara melangkah memasuki halaman kampus yang sudah cukup lama ia tinggalkan. Matanya menelusuri setiap sudut kampus yang begitu ia rindukan. Clara seperti seorang murid baru yang terlihat begitu bahagia.
Dari sudut lain terlihat seorang wanita sedang terpaku melihat kedatangan Clara yang tiba-tiba.
"Clara." Panggil orang itu dengan bahagia, ia langsung berlari ke arah Clara dan berhambur ke pelukannya.
"Astaga Clara, gue bahagia banget lo balik ke kampus ini." ucap Diana penuh dengan kegembiraan.
Diana memutar dan membolak balikan badan Clara dengan perasaan bahagia.
"Aduh Di, pusing ini gue." ujar Clara sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing akibat ulah Diana.
"Hahaha, sory Cla, gue terlalu senang."
"Iya gue tau, tapi gak gitu juga kali." Clara memajukan bibirnya, ia pura-pura merenggut sambil menyilangkan kedua tangannya ke dada.
Diana mencubit pipi Clara karena gemas." Ihhhh, gumes dehh gue sama lo. Ehhh, kita ke kantin yuk. ada banyak hal yang mau gue tanyain dan lo harus jawab semuanya, gak pakek Bon." ujar Diana dan langsung menarik lengan Clara.
Sementara di tempat lain
Brak...!
Zhak menghempas tubuhnya yang lelah ke atas tempat tidur berukuran king size. Hari ini Zhak benar-benar lelah karena pertemuannya dengan Client besar.
Ting...!
Sebuah pesan masuk terdengar dari ponsel miliknya.
"Tuan muda, bisakah tuan muda pulang minggu ini, perusahaan ada dalam masalah."
Begitulah kira-kira pesan yang tertera di ponsel Zhak.
Sementara yang mengirim pesan tengah diambang kegelisahan, Zhak malah melempar ponselnya ke sembarang karena bosan dengan pesan yang di kirim oleh Max.
Ya, beberapa hari ini Max selalu mengirim pesan aneh untuknya. Tetapi yang tidak Max ketahui jika Zhak mempunyai orang kepercayaan untuk mengawasi setiap kejadian yag terjadi.
Zhak memang pergi, tetapi Zhak tidak benar-benar meninggalkan tempat kelahirannya. Alasan yang ia berikan pada Max hanyalah sebuah alasan, dia ia tidak benar-benar pergi ke America, Zhak hanya meninggalkan kota dan tinggal di kota lain. Bahkan berita tentang Istrinya yang kini tinggal di kediaman Wijaya sudah ia ketahui sejak beberapa hari yang lalu.
Awalnya Zhak sedikit khawatir karena perbuatannya terhadap Clara bisa saja membuat Kakek dari istrinya itu murka, tetapi setelah dapat laporang dari orang kepercayaannya Zhak sedikit tetang. Hanya saja ia masih memikirkan kondisi istrinya. Karena sampai sekarang Zhak belum sakalipun mendengar informasi dari orang kepercayaannya mengenai keadaan Clara.
"Hahhh." Zhak menghela nafasnya, ia mulai memejamkan matanya yang lelah.
Beberapa saat kemudian Zhak terlelap tanpa melepas pakaian yang ia kenakan.
Pukul 3 sore Zhak terbangun dari tidurnya, ia merasa lemas. Dengan rasa malas Zhak beranjak dari tempat tidurnya lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah sekian menit Zhak pun keluar, wajahnya yang tadi terlihat lemas kini sedikit lebih segar.
Zhak turun ke lantai bawah,masuk ke dalam dapur lalu membuka pintu kulkas. Ia mengambil minuman dan juga camilan untuk dirinya.
Zhak duduk di sofa sambil mengutak atik ponselnya, sebelumnya tidak ada yang aneh, sampai sebuah pesan masuk dan Zhak membukanya. Zhak menerima beberapa foto Clara sedang bersama beberapa temannya sedang duduk di halaman kampus.
Zhak mendengus kesal melihat betapa akrab istrinya dengan teman kampusnya yang sebagian dari mereka adalah laki-laki. Tetapi yang Zhak amati disana tidak ada Dika.
"Apa dia tidak berada di kampus." batin Zhak.
__ADS_1
Sementara itu di Kampus.
"Clara apa lo yakin mau ngajak gue ke rumah kakek lo? gue takut ahhh, entar kakek lo galak lagi."
Ucapan sekaligus pertanyaan Diana membuat Clara tetawa keras, temannya itu benar-benar konyol.
"Hahahaha, lo pikir kakek gue itu raja singa. Lo tenang aja Di, Kakek gue baik kok, baik banget malah. Pasti lo bakalan betah deh disana."
"Kalau gue betah, gue gak bakalan pulang dong." canda Diana.
"Kalau lo betah, lo boleh tinggal di rumah kakek gue sepuasnya." ujar Clara lalu menarik tangan sahabatnya itu berlalu dari kelas mereka.
Clara dan Diana masuk ke dalam mobil yang di kirim oleh kakek Wijaya. Sebenarnya Clara ingin naik Bis umum, tetapi Kakek Wijaya melarang keras dirinya. Dia takut akan terjadi sesuatu kepada cucunya itu.
Tak lama keduanya pun sampai di kediaman Wijaya. Seperti biasa Diana akan bereaksi sesuai kelakuannya, Diana benar-benar terpukai melihat bangunan di depannya.
"Waoww, Emazing. Ini rumah atau istana zaman Now, mewah bener coy." ujar Diana dengan pandangan mata menelusuri setiap sudut bangunan.
Sebenarnya wajar bagi Diana bersikap seperti itu, karena Diana lahir dari keluarga yang bisa di bilang kurang mampu. Diana sendiri bisa kulaih fi kampus yang sama dengan Clara karena sebuah beasiswa. Sejak SMP Diana selalu bisa menyabet juara umum, tidak di ragukan jika dirinya bisa sampai masuk ke Universitas impiannya dan mendapat beasiswa.
"Di masuk yuk." ajak Clara.
Diana tersenyum lalu mengagguk, mereka berdua pun masuk ke dalam. Sampainya di dalam Diana semakin terpaku melihat keindahan di dalamnya, Clara benar-benar beruntung memiliki kakek yang sangat kaya raya.
"Di duduk dulu ya, gue ke kamar dulu mau ganti baju."
"Ok Cla, tapi jangan lama-lama ya, gue takut."
"Cihhh, lo kayak kita di hutan aja."
Diana hanya tersenyum tengil mendengar ucapan sahabatnya.
Beberapa menit setelah Clara pergi terdengar dehaman dari arah belakang. Hal itu membuat Diana menjadi sedikit takut.
"Ehemmm."
"Kau siapa?" pertanyaan itu keluar dari mulut kakek wijaya setelah sesaat ia berada di depan Diana.
"Maaf tuan, sa- saya teman Clara." jawab Diana sedikit gugup
"Kenapa kamu menunduk, hmm? Angkat kepala kamu." ujar kakek Wijaya tegas.
Diana meremas tangannya satu sama lain, keringat dingin mulai terlihat di pelipis Diana. Perlahan Dianan mengankat wajahnya, ia memberanikan diri untuk menatap wajah Kakek Wijaya.
Kakek Wijaya mengangkat satu alisnya, ia bingung kenapa gadis di depannya seperti begitu ketakutan.
"Kau takut kepada saya?" Diana menggeleng
"Lalu, kenapa keringatmu begitu banyak? kau seperti melihat hantu di depanmu." Kakek Wijaya tersenyum samar, ia sengaja ingin mengerjai sahabat cucunya itu.
Diana melambaikan tangannya, pertanda jika bukan maksudnya begutu.
"Ti-dak tuan, Ma-afkan saya, saya hanya-
"Sudah-sudah, saya tidak suka berbicara dengan gadis penakut dan bicara tidak jelas seperti kamu." Diana kembali menunduk
"Siapa nama kamu?"
"Diana tuan."
"Umur kamu?
"23 tahun tuan."
"Status?"
__ADS_1
Diana mengangkat satu alisnya.
"Nih kakek mau cari jodoh apa, pakek nanya Status segala." batin Diana.
"Singel tuan"
"Hahaha. Bukan itu maksud saya. Kamu pikir saya mau cari jodoh." Kakek Wijaya masih tertawa geli akibat jawaban Diana.
Sementara gadis itu seperti bingung sampai ia menggaruk kepalanya yang bahkan tidak gatal sama sekali.
"Ok, maaf. Maksud saya status kamu mahasiswi atau sudah bekerja?"
Diana mengangguk sambil membuka mulutnya membentuk huruf O.
"Saya Mahasiswa satu kampus dengan Clara Tuan." jawab Diana
Kakek Wijaya mengangguk, ia sebenarnya sudah mengetahui jika Diana adalah Mahasiswa dan salah satu penerima beasiswa di kampus tempat Kakek Wijaya memberikan donatur. Ia bertanya hanya ingin sekedar mengenal sahabat dari cucunya itu
"Kakek, apa yang kakek lakukan? kakek menakuti sahabat Clara." ucap Clara saat ia melihat postur tubuh Diana yang sedang berhadapan dengan kakeknya itu.
Kakek Wijaya tersenyum." Jangan menuduh kakek sembarangan. Bukan kakek yang menakuti sahabatmu ini Clara, tapi sepertinya dia memang penakut." ujar kakek Wijaya yang langsung di sambut gelak tawa oleh Clara.
"Hahahaha, kakek benar." ujar Clara
Sementara itu Diana menekuk wajahnya kes karena ulah kakek dan cucunya itu.
Kakek Wijaya mendekati Diana lalu menepuk bahunya." Jangan kesal, kami hanya bercanda. Nikmati harimu di rumah ini, dan jangan sungkan. Kakek akan beristirahat di atas." Setelah mengucapkan itu Kakek Wijaya meninggalkan keduanya di ruang tamu.
"Hahhh." Diana menghela nafas sambil menghempas tubuhnya di sofa.
"Kakek lo bikin gue panas dingin tau gak, gue rasanya mau pingsan." ujar Diana
Clara ikut duduk di sebelah Diana, ia mengarahkan telapak tangannya ke dahi sahabatnya itu.
"Gak panas." ujar Clara
"Ihhh, gak usah becanda deh Cla. Ngeselin tau gak." ujar Diana dengan wajah kesal
"Ok, ok. Ehh makan yuk, gue laper ini." ajak Clara
"Gak ahh." Diana mengarahkan tangan Clara ke dadanya." Lo ngrasain kan, jantung gue kayak mau meledak."
"Lo itu parnoan banget sih, gak liat tadi kakek gue baik banget gitu. Ya emang dia sedikit jahil, tapi gak parah banget kan." Clara tersenyum tengil, membuat Diana semakin kesal.
"Iya tau, tapi gue gak enak sama kakek lo. Dan kenapa juga lo gak bilang kalau kakek lo itu donatur terbesar di kampus kita, gue kan jadi malu."
ujar Diana
"Apa? lo tau darimana kakek gue donatur di kampus?"
"Ya tau lah Markonah, gue jelas ngenalin beliau. kan Beliau sering berkunjung di kampus kita."
Clara benar-benar terkejut, dia tidak menyangka jika kakeknya adalah donatur di kampisnya.
"Ehhh, jangan bilang kalau lo gak tau?"
Clara mengangguk
"Astaga Cla, lo bener-bener ya." ujar Diana yang tidak habis pikir.
"Ya udah kali, mending kita makan dulu, terus kita ngobrol di taman belakang.
Diana mengangguk, ia lalu menemani Clara makam dan setelah itu mereka pun mengobrol di halaman belakang.
.
__ADS_1
.