BATAS RASA

BATAS RASA
Ego


__ADS_3

Tidak butuh waktu lama Dika tiba di rumah sakit milik Elios.


"Bang, apa yang sudah terjadi?" Dika bertanya dengan nafas terengah, dia sudah tidak sabar, benar-benar tidak sabar lagi.


"Duduklah Dik, gue akan jelasin saat lo udah tenang."


Elios terlihat santai. Pria itu seorang dokter, jadi dia tau bagaimana menghadapi Dika yang sifatnya hampir sama dengan Zhak.


Dika menarik nafas panjang setelah itu mengeluarkannya, tatapan Dika masih sama, terlihat tidak sabar.


"Apa yang terjadi?"


"Sebelum gue jawab, gue mau lo kasi tahu dimana abang lo?" Elios bertanya tanpa menatap Dika, dua masih begitu santai dengan berkas di depannya.


"Bang, gue gak mau tau dimana bang Zhak dan gue juga gak perduli. Yang gue mau tau kondisi Clara dan apa yang terjadi padanya."


Elios menghentikan pekerjaannya, pria itu kini menatap Dika dengan dahi berkerut." Ohh, lo itu sahabat sekaligus Adik ipar Clara, betul. Tetapi gue gak bisa ngasi tahu lo detail keadaan Clara karena lo bukan suaminya. Tetapi yang jelas wanita itu baik-baik saja, dia hanya demam biasa."


Dika menatap curiga pada Elios, Dika yakin jika ini ada yang tidak beres. Jika tidak, mana mungkin Elios mencari kakak.


"Kau yakin tidak terjadi sesuatu pada Clara?"


"Hahhh." Elios menghela Nafas pelan, dia tau jika tidak mudah mengelabui Dika yang notabene seorang jurusan pengacara. Meski dia juga mengejar gelar kedokteran. Menurut Elios anak ini terlalu banyak mau.


"Ya, aku yakin Dika. Jika kau tidak percaya, pergilah, temui sahabatmu. Tetapi dia masih belum sadarkan diri akibat obat yang gue beri. Dan disana juga ada cewek yang mengaku sahabatnya.'


"Ok, gue percaya. Tapi awas saja kalo lo bohong bang."


Elios menghela nafas lagi dan lagi


"Ya Dika."


Dika manggut-manggut


"Lo bener gak tau dimana Zhak?" tanya Elios sebelum Dika meninggalkan ruangannya


"Gak bang, gue gak tau. Dan gue udah gak mau tau.' jawab Dika


"Ok, kamar Clara ada di sebelah Selatan ruangan gue, nomor 227."


Dika mengangguk, ia lalu meninggalkan ruangan Elios.


****


Max akhirnya menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda, ia pun kembali menggunakan jet pribadi agar cepat sampai di Negaranya, karena Max baru saja mendapat pesan jika Tuan mudanya tidak hadir di perusahaan, meninggalkan beberapa Meeting penting bernilai ratusan juta.


"Nan, ada apa?" tanya Max pada Nandita, asisten pribadi Zhak yang di tugaskan di perusahaan

__ADS_1


"Tuan Muda sejak pagi tidak bisa di hubungi tuan, saya terpaksa membatalkan beberapa meeting penting bersama beberapa Client." jawab Nandita.


"Baiklah, tolong atur ulang Meeting yang kamu batalkan hari ini untuk besok, biar saya yang menghandle semuanya."


Nandita mengangguk tanda mengerti. Sementara Max mencoba menghubungi kepala pelayan kediaman Zhak.


Setengah berlari Max menuju parkir untuk mengambil mobilnya. Ada kabar mengenai Nona mudanya dan juga keberadaan Zhak. Tetapi yang paling penting sekarang memastikan keadaan Clara, setelah itu baru Max akan menemui Zhak.


Rumah sakit


"Hahhhh."


Helaan nafas itu terdengar berulang kali saat Max tiba di rumah sakit. Elios baru saja menjelaskan apa yang sudah terjadi pada Clara, dan itu membuat Max tidak bisa berfikir jernih. Jika Max tau akan terjadi hal seperti ini mungkin Max akan menolak untuk di tugaskan mengurus urusan yang tertunda.


Tetapi semua sudah terjadi, Max harus segera mencari Zhak.


"Jika lo bertemu Zhak, segera hubungi Gue. Gue bakalan hajar dia habis-habisan, enak aja dia melakukan hal memalukan dan meninggalkan istrinya gitu aja."


Setidaknya kata itu yang masih terngiang di telinga Max. Dia tidak menyangka jika Tuan muda Zhak bisa melakukan hal itu.


Ting..!


Pintu lif terbuka, Max berlari menyusuri lorong. Tepat di depan pintu kamar nomor 709 Max berhenti, ia menarik nafas lalu membuangnya. Max mencoba meyakinkan diri jika semua akan baik-baik saja.


Beberapa kali Max mengetuk pintu apartemen mewah itu, tapi nyatanya tidak ada respon dari pemiliknya.


Max menghela nafasnya saat ia hendak berbalik, tetapi pintu kamar itu pun terbuka.


"Kenapa kamu kesini Max?"


"Maaf tuan muda, bisa saya masuk dan bicara suatu hal penting."


Sebenarnya Zhak masih ingin sendiri, dia tidak ingin di ganggu.


"Baiklah. Masuk."


Max masuk ke dalam lalu duduk di sebuah sofa yang ada di dalam ruangan itu. Sesekali Max memperhatikan keadaan Atasannya yang terlihat kacau meski tidak begitu.


"Apa yang ingin kamu bicarakan Max?" Zhak memulai percakapan.


"Masalah Nona Clara Tuan." jawab Max


"Kenapa dengan dia? dan apa tidak ada hal yang lebih penting dari itu !"


"Menurut saya Nona juga cukup penting untuk di bahas tuan."


Brakkk...

__ADS_1


Zhak menggebrak meja di depannya, tidak terima dengan apa yang Asistennya katakan.


"Maaf tuan jika saya lancang. Tetapi perbuatan tuan itu tidak di benarkan, tu-


"Jangan melampaui batasanmu Max." potong Zhak. Zhak menatap tajam pria yang hampir 30 tahun menemaninya.


"Maafkan saya Tuan muda." Max menunduk hormat." Tetapi tuan harus tau jika karena perbuatan tuan membuat Nona masuk rumah sakit. Dan Elioslah yang membawanya."


"Elios." gumam Zhak terkejut


"Ya tuan, pelayan di rumah tidak tau harus berbuat apa saat saya dan Tuan tidak ada di rumah. Dan saat itu keadaan Nona sangat buruk, mereka pun akhirnya menghubungi Elios, karena yang mereka tau Elios adalah dokter priabadi tuan muda."


Mendengar penjelasan Max, Zhak merasa semakin bersalah. Tetapi egonya membuat pria itu tidak mau mengakui kesalahannya.


"Itu semua bukan salahku, kau urus saja dia. Dan besok urus kepergianku ke America, aku akan tinggal disana beberapa bulan."


"Tapi tuan, tuan tidak bisa-,


"Jangan membantahku Max." Zhak melayangkan tatapan tajam pada Max." Dan jangan pernah kau ikut campur tentang hal apapun." tegas Zhak.


****


"Kau disini? bagaimana keadaan Clara?"


"Ya. aku tidak sengaja melihat Clara saat aku mengambil obat untuk adikku. Clara masih belum sadar, suster bilang itu masih pengaruh obat yang di beri."


Dika duduk di depan Diana, menatap wajah pucat Clara.


"Trimakasih sudah menjaga Clara Di, tetapi dia kakak iparku, kau boleh pulang sekarang. Biar aku yang menjaganya." ucap Dika tanpa melepas tatpannya pada Clara.


"Hahhh." Diana menghela nafas panjang, dia tau bagaimana perasaan Dika pada sahabatnya itu, tetapi ini salah, bagaimana pun juga Clara sudah menikah.


"Gue tau lo khawatir Dik, gue juga ngerti perasaan lo, tetapi bagaimana pun juga ini tidak pantas. Clara sudah menikah, dan lo harus terima meski pahit. Sampai suami Clara dateng, gue gak akan ninggalin lo dan Clara berdua."


Dika menatap Diana, Dika tau pasti Clara sudah menceritaka semuanya." Abang gue gak akan dateng Di, gue yakin."


"Kenap?'


"Gak ada alasan, gue hanya yakin aja."


Diana mengangguk."Ok, kalau gitu gue gak akan pergi."


"Tapi-


"Gak ada tai Dika, gue sahabat sekaligus saudara Clara yang dia punya sekarang, jadi gue lebih pantes buat jaga dia. Lo paham."


Keputusan di ambil, akhirnya Dika mau mengalah. Karena yang dikatakan Diana benar, sekarang posisi Dika adalah adik ipar, meski semua tau sejak dulu mereka sudah bersahabat.

__ADS_1


.


.


__ADS_2