
Seperti yang di fikirkan Diana semalam, hari ini dia akan menceritakan semuanya pada Clara. Hanya saja harapannya harus ia kubur sementara karena Clara tidak muncul sampai jam pelajaran selesai.
Diana berjalan keluar kampus dengan langkah lemah. Sampai di gerbang kampus Diana ingin mencari taxsi untuk mengantar nya pulang, hanya saja langkahnya terhenti saat sebuah mobil berhenti di hadapan Diana.
Pemilik mobil itu membuka kaca mobilnya, dan ternya itu adalah Elios.
"Masuklah, ada yang ingin aku bicarakan." ujar Elios.
Diana menghela nafasnya pelan lalu memutari mobil Elios dan masuk ke dalam. Setelah Diana memakai seatbel Elios langsung memacu mobilnya menuju ke suatu tempat.
_-_-_-_-_-_
Sementara itu di rumah kediaman Wijaya, Clara merasa tidak enak badan. Ia merasa pusing dan mual sejak pagi tadi. Tidak ada yang bisa ia lakukan, karena kakek Wijaya juga sedang tidak ada di tempat, hanya ada beberapa Art yang menemani Clara.
"Nona, lebih baik kita ke dokter saja, kami takut terjadi sesuatu pada nona." ucap Sindi, kepala pelayan di rumah itu.
"Tidak usah, paling saya hanya masuk angin saja. Lagi pula setelah minum obat, badan saya udah enakan kok. Pusing nya juga udah sedikit berkurang." ujar Clara.
"Baiklah, kalau begitu nona istrihata lagi, saya permisi ke bawah." ucap Sindi
Ia keluar dari kamar Clara dan tidak lupa untuk menutup pintunya.
Clara yang tadi sudah meminum obat memang sudah lebih enakan. Hanya saja ia merasa masih lemah, Clara mencoba bangun dari tempat tidurnya untuk mengambil ponselnya yanh berada di atas meja.
Setelah berhasil mengambil ponselnya, Clara memeriksa ponsel itu. Dan ternyata begitu banyak Chat dan Miscal dari Diana sejak pagi tadi.
Clara pun kembali mencoba menghubungi Diana hanya saja ponsel gadis itu malah tidak aktif. Karena itu Clara pun melihat-lihat pesan lainnya.
__ADS_1
Saat Clara memeriksa yang lain ada satu nomer baru yang Clara tidak tau itu siapa. Clara membuka pesan itu lalu membacanya.
"Bisakah kita bertemu malam ini, ada hal penting yang ingin aku bicarakan."
Seperti itu lah sekiranya isi pesan itu. Clara menyeritkan dahi, berfikir siapa kira-kira orang yang memiliki nomor itu. Tapi sekian lama berfikir Clara tidak mendapat jawaban dari pertanyaan nya. Akhirnya Clara pun memutuskan untuk membalas pesan itu.
"Kalau boleh tau kamu ini siapa?"
Clara mengirim pesan itu berharap akan segera di balas. Dan benar saja, tidak lama ponsel Clara berbunyi.
"Zhak."
Mata Clara melebar sempurna melihat nama yang tertera di ponselnya. Jantung Clara berdebar kencang, ia merasa tidak nyaman. Sekelebat bayangan masa lalu kembali melintas di benak Clara, hanya saja Clara mencoba menepis kemungkinan yang ada.
Clara menarik nafas lalu mencoba membuangnya perlahan. Dengan tangan yang sedikit gemetar Clara membalas pesan dari Zhak.
"Cafe Senja, datanglah sendiri pukul 8 malam." balas Zhak.
Clara menelan ludahnya dengan susah payah lalu kembali membalas pesan suaminya itu.
"Baiklah." kirim Clara
Setelah membalas pesan Zhak, Clara melihat jam Dinding yang terpasang di kamarnya. Jam itu menunjukan pukul 4 sore. Dan sekitar empat jam lagi Clara akan bertemu dengan suaminya.
Clara harap-harap cemas, dalam hatinya penuh tanda tanya. Kira-kira apa yang akan di katakan oleh suaminya itu? Apakah tentang perceraian mereka ? ataukah tentang yang lainnya?
Wajah Clara semakin pucat akibat memikirkan itu, kondisinya yang masih sangat lemah membuat Clara tidak bisa berpikir jernih. Clara benar-benar bingung kali ini, sesekali ia menghela nafas untuk menetralkan degup jantungnya yang berpacu.
__ADS_1
Tok
tok
Suara ketukan pintu sedikit membuat Clara terkejut
"Masuk." ucap Clara
Seorang pelayan masuk ke dalam kamar Clara, bukan Sindi tetapi pelayan lain.
"Maaf Nona, Tuan besar berpesan pada kami untuk tidak mengijinkan Nona kemanapun juga hari ini. Karena kondisi Nona yang masih lemah. Karena Tuan besar akan cukup lama berada di Paris, jadi kami harus selalu mengawasi Nona. "ujar pelayan itu.
"Hari ini aku ada janji dengan seseorang dan ini sangat penting. Lagi pula aku sudah tidak apa-apa, masalah Kakek biar aku yang mengatakannya sendiri. Kalian tidak usah khawatir." ujar Clara.
"Tapi Nona-
"Jangan berdebat, saya tidak suka. Kalau kamu tidak percaya aku akan membawa beberapa bodyguard yang di siapkan kakek untuk ku."
Pelayan itu sedikit berfikir." Baiklah Nona, tetapi hanya sampai jam sepuluh malam, tidak lebih." ujar pelayan itu.
"Baiklah, saya tidak akan melewati waktu yang di tentukan." balas Clara.
Pelayan itu mengangguk lalu pergi. Setelah kepergian pelayan itu Clara mencoba kembali menghubungi Diana dan tetap ponselnya tidak Aktif. Clara yang lelah melempar ponselnya ke sembarang tempat ,merebahkan tubuhnya lalu memejamkan mata, mencoba melupakan yang terjadi.
.
.
__ADS_1
.