
Satu minggu berlalu dengan cepat, Janji yang Clara ucapkan karena papanya kini menjadi kenyataan. Saat ini Clara sedang berada di rumah mewah, bahkan sangat mewah. Meski rumah yang ia tinggali tergolong berkelas maka rumah yang saat ini ia lihat sepuluh kali lipat lebih berkelas. Clara bahkan tak henti-henti menggumam kagum.
"Ehmmm."
Suara dehaman seorang paruh baya menyadarkan Clara, dia menolah ke arah sumber suara.
"Nona Clara, mari ikut saya." ucap Pria itu dengan sopan.
"Maaf tuan, kita akan kemana?" tanya Clara ragu, tapi rasa takutnya membuat Clara harus bertanya.
Pria paruh baya itu tersenyum, melihat kelembutan dalam suara Clara membuat wajah kaku nya sedikit berubah.
"Panggil saja saya pak Sen, saya kepala koki di rumah ini." ucap Pak Sen ramah.
"Ehh, baik pak Sen."
"Mari ikut saya Nona."
Clara mengikuti langkah Pak Sen, entah kemana pak Sen akan membawanya, tapi Clara tidak perduli. Dia merasa tidak ada yang perlu ia takutkan di rumah ini.
"Silahkan Nona istirahat disini, sebentar lagi saya akan menunjukan tugas Nona di rumah ini." ucap Pak Sen saat mereka tiba di depan sebuah pintu yang sepertinya pintu kamar.
"Baik pak, terimakasih." ucap Clara cepat.
Setelah pak Sen meninggalkan Clara, dia langsung masuk ke dalam kamar itu, betapa kagetnya Clara melihat betapa besar kamar itu, bahkan kamar di rumahnya tidak sebesar itu.
"Apa kamar pembantu semewah ini."batin Clara. Dia menatap ruangan itu dengan seksama, jika dia di jadikan pembantu, apa kamar pembantu semewah ini disini? ya walau di rumahnya pembantu juga mendapat kamar yang cukup bagus. Tapi ini, ini terlalu mewah.
__ADS_1
tok tok
Clara menoleh, seorang pelayang masuk membawa beberapa barang miliki Clara.
"Nona, ini barang-barang anda, dan tuan Max menyuruh saya memanggil anda turun."
"Apa Tuan muda sudah pulang sejak tadi?"
"Maaf Nona, tuan muda belum datang."
"lalu siapa Max itu?"
"beliau asisten tuan muda, Nona. maaf nona saya permisi."
Clara terdiam setelah pelayan itu berpamitan. Setelah mengganti pakaiannya Clara segera turun untuk menemui orang yang bernama Max. Dengan berlari kecil menuruni anak tangga, Clara merasa jika dirinya kembali ke masa kecilnya yang indah saat dia masih memiliki ibu kandung. Tapi sayangnya Clara tidak mengetahui apa yang akan menantinya di depan setelah ini.
"Benarkan dia bukan Tuan muda." batin Clara sambil berjalan mendekat. Dengan perasaan ragu Clara menyapa Pria di depannya itu.
"Tu-an." panggil Clara.
Max mendongak, melihat Clara yang terlihat begitu cantik, meski penampilannya biasa saja.
"Nona, silahkan duduk." ucap Max dengan senyum ramah tapi tidak menghilangkan kesan tegas di wajahnya.
Clara duduk tepat di depan Max, ia menunjukan kepalanya karena tidak berani menatap Max.
"Apa ayah Nona sudah memberitahu surat perjanjian yang beliau tanda tangani?" tanya Max.
__ADS_1
"Surat perjanjian!"
"Iya, apa poin-poin tentang apa yang akan Nona lakukan di tempat ini. Apa beliau sudah memberitahu Nona?" Clara menggeleng, dia memang tidak tau apa perjanjian yang papanya lakukan.
"Yang saya tau, Papa sudah menjual saya. Dan menjadikan saya pembantu di rumah ini." ucap Clara yang seketika membuat Max tertawa.
"Hahaha, siapa yang bilang Nona akan di jadikan pembantu?" Clara tercengang mendengar ucapan Max.
"Lalu, kalian akan menjadikan aku apa? atau jangan-jangan kalian akan menjual aku ya?" tanya Clara dengan takut. Dia tidak bisa membayangkan jika itu sampai terjadi.
Sementara Clara dengan ketakutannya, Max malah tertawa semakin terbahak, menurut Max, ga dia di hadapannya ini benar-benar konyol.
"Hahh, anda benar-benar membuat saya sakit perut Nona." ucap Max setelah tawanya terhenti.
"Memang kenapa tuan, apa saya salah?"
"Tentu saja anda salah Nona. Surat perjanjian itu menginginkan anda menjadi istri tuan muda kami."
"A-pa, I-istri." ucap Clara terbata."Apa saya tidak salah dengar?" tanya Clara dengan keterkejutan yang semakin besar.
"Tentu anda tidak salah dengar Nona, besok anda akan melangsungkan pernikahan dengan tuan muda kami. Semua sudah di siapkan. Dan saya harap Nona menyiapkan diri Nona."
Max bangkit dari tempat duduk nya, dia berlalu meninggalkan Clara yang masih termenung di tempatnya. Clara mengangkat wajahnya, melihat sekeliling rumah besar itu, ia sama sekali tidak membayangkan akan menjadi nyonya muda disana. Benarkah akan menjadi nyonya muda? atau hanya sekedar menjadi selir untuk tuan yang terkenal akan kekejamannya. Entah lah, Clara saat ini hanya bisa pasrah, semoga saja kali ini nasib baik akan datang kepadanya..
.
.
__ADS_1